
"Kakak mengenalinya?" tanya Yaren, ia menyelidik pada wajah itu.
"Ya, aku rasa!" jawab Jovan.
"Lalu?"
"Tidak ada yang lalu, biasa saja! Ah ya, rasanya bukankah aku terlalu kejam pada kalian?" tanya Jovan tiba-tiba.
Yaren mengeryit heran, apa maksud kakaknya itu, Yaren tidak mengerti, ini Kakaknya sedang berbicara tentang apa? tentang dokter Amri atau tentang isi hatinya yang saja bisa terbaca oleh Jovan.
"Wajahmu tidak bisa membohongi Kakakmu ini, bukankah sepanjang perjalanan pikiranmu itu pasti hanya tertuju pada satu orang?" jelas Jovan.
"Aku merasa menjadi kakak yang kejam, maafkan aku ya! Jadi, apa kau ingin menghubunginya?" tanya Jovan, kali ini ia bersungguh-sungguh. Yah, dirinya memang masih belum bisa memaafkan Ayaz namun rasanya ia terlalu kejam jika harus memisahkan Ayaz dan Yaren, kedua orang itu saling mencintai, jadi rasanya sangat tidak adil jika harus terpisah begini. Jovan mulai menyadari itu.
"Kakak..." Yaren begitu terharu, apa itu artinya Jovan sudah memaafkan Ayas? Pikirnya mulai berharap.
"Eits! Jangan kau berpikir aku sudah menerimanya, di sini aku hanya tidak mau menjadi penyebab keretakan rumah tangga seseorang, kau hubungi sajalah dia dan bicara apa saja yang ingin kau bicarakan.
Jovan memberikan ponselnya pada Yaren, Yaren menerima ponsel itu dengan senang hati, ia begitu bahagia akhirnya ia bisa berbicara dengan suaminya itu.
Sungguh satu hari rasanya sudah seperti satu tahun Yaren benar-benar merindukan suaminya itu.
Jovan tersenyum saat melihat Yaren tersenyum bahagia, meski ada kegundahan dalam hatinya namun itu tidak sebanding saat melihat kebahagiaan yang diperlihatkan Yaren, nyatanya Ayaz memang kebahagiaan adiknya, jadi rasanya ia memang terlalu kejam jika sampai memisahkan kedua orang itu lagi.
Jovan meninggalkan Yaren, ia pergi ke kamar Cemir, dia ingin melihat apa yang sedang dilakukan adiknya itu.
Tok tok tok, pintu diketuk, terdengar jawaban dari dalam "Masuk!"
"Kak Jovan!" seru Cemir.
"Sedang apa adikku sayang?" tanya Jovan.
"Tidak sedang apa-apa! Jawab Cemir, "Ah iya, tadi siang ada kurir menyampaikan ini, sebentar!" Cemir bangkit dan lalu membuka laci nakasnya, "Ini!" ucapnya sembari tangannya memberikan Jovan sebuah surat undangan.
"Apa ini?" tanya Jovan.
"Sebuah undangan pernikahan, Raisa! Mungkin orang penting, Kakak kan begitu banyak rekan bisnis." jawab Cemir.
Jovan mengangguk, begitu cepat rasanya baru saja Tuan Harun dan Raisa berkenalan, mengadakan janji temu keluarga, namun undangan sudah dicetak lalu dikirimkan padanya. Miris!
__ADS_1
Apa argantara sedang mencoba membuatnya menyesal? Jovan tersenyum smirk, ia menyeringai, bodohnya jika Argantara berpikiran seperti itu.
Ia sama sekali tidak akan menyesal meski kekayaannya dan kekayaan Tuan Harun berbanding, namun baginya sungguh ia sama sekali tidak akan menyesal, karena pada awalnya saat ia mendekati Raisa benar-benarlah bukan karena cinta. Kalau bukan karena Yaren, mungkin dia tidak akan pernah mau terlibat asmara dengan wanita manja itu.
Yang hanya tahu kekayaan dan kesenangan, Jovan sudah muak akan wanita semacam itu.
"Kau tidak mengenalnya?" tanya Jovan pada Cemir.
Cemir menggeleng pelan, sejujurnya ia pernah mendengar nama Raisa namun ia juga tidak yakin akan pemikirannya.
"Dia adalah adiknya Yaren!" jawab Jovan.
Cemir tidak percaya apa yang dipikirannya tadi ternyata benar, kalau tidak salah ia juga pernah mendengar Yaren memang memiliki adik bernama Raisa.
"Apa Yaren juga diundang?" tanya cemer lagi.
"Entahlah!" Jovan mengangkat kedua bahunya tidak tahu.
"Dunia belum mengetahui kalau aku dan Yaren adalah adiknya Kak Jovan jadi keluarga Yaren yang sombong itu mungkin belum shock jika mengetahui itu kan." ucap Cemir.
"Pintar kau sudah pintar ternyata!" puji Jovan membalas.
"Kau ingin melihatnya?" tanya Jovan. Matanya mengerling.
"Tentu! Dan aku akan menantikan itu dengan senang hati!" jawab Cemir.
"Ternyata, kau sangat berbeda dengan yaren!" ucap Jovan.
"Begini, aku akan baik terhadap orang yang baik padaku, lalu aku juga akan jahat pada orang yang jahat padaku. Bukankah itu adil?" jawab Cemir simpel tapi kenyataannya memang begitu.
"Hidup di Panti Asuhan mengajarkanku menjadi seperti itu, mungkin yah, aku di Panti Asuhan diperlakukan begitu baik tapi Kakak mungkin juga tahu, kalau di luar sana dulunya aku mendapat begitu banyak cemoohan, bullyan, sebenarnya aku sudah biasa dan tidak terlalu menanggapi mereka yang mengatakan ku anak haram, sakit memang... Tapi karena bukankah benar memang itulah kenyataannya. Aku tidak akan melawan selama mereka tidak menyakitiku tapi jika mereka sudah menyakitiku maka tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain melawan bukan?" Cemir menjelaskan bagaimana caranya menangapi masalah selama ini, benar-benar berbeda dari Yaren pikir Jovan.
Jovan mengangguk, adiknya ini ia rasa bisa dirinya percayakan untuk sebuah perusahaan nantiny, namun untuk Yaren bukannya ia ingin pilih kasih, Yaren terlalu bermurah hati pada orang lain, pada orang yang sudah menyakiti saja, Yaren bisa memaafkan mereka dengan hati lapang, sedang pemimpin tidak seharusnya mempunyai sifat seperti itu, ada kalanya seorang pemimpin harus tegas dan bersikap tak terkalahkan.
Jovan mengambil undangan itu, ia mengusap puncak kepala Cemir, "Kau pasti akan sukses nantinya!" pujinya pada adik satu ayahnya itu.
Cemir tersenyum, perlakuan hangat itu selalu bisa membuatnya tenang. Satu hal yang masih mengganjal di hatinya, bagaimana caranya ia bisa menyembuhkan penyakit ibunya yang saat ini sedang berada di rumah sakit jiwa.
"Kakak!" seru Cemir tiba-tiba, ia menatap dalam Jovan.
__ADS_1
"Ya!"
"Apa suatu hari nanti Kakak bisa menemaniku lagi menemui Ibu?" tanya Cemir hati-hati.
Jovan tersenyum, ia mengusap lagi puncak kepala Cemir lagi, "Kapanpun!" jawabnya begitu penuh perhatian.
Cemir langsung saja memeluk kakaknya itu, "Terima kasih!" ucapnya.
Jovan membalas, ia mengusap punggung adiknya itu dengan sayang.
...*** ...
Ayaz begitu senang saat Jovan menghubunginya, karena ia pikir mungkinkah sang istri yang menelpon. Dan ternyata memang benar saja suara yang sangat dirinya rindukan itu kini sudah terdengar di telinganya.
Tidak banyak yang mereka bicarakan, Yaren mengatakan sangat merindukannya dan Ayaz pun juga hanya bisa mengatakan hal serupa, sungguh demi apapun ia benar-benar merindukan istrinya itu.
Ayaz juga mengatakan kalau bisakah ia meminta izin pada Jovan untuk membawa istrinya itu bersamanya, dan Yaren mengatakan akan membantu mengatakan itu pada Jovan, istrinya itu akan mencoba melakukan apapun yang dirinya bisa.
Setelah itu, tidak ada lagi yang mereka bicarakan jadi Ayaz menutup teleponnya, cukuplah untuk mengobati rasa rindunya mendengar suara Yaren bagai mendapat sebuah kekuatan untuk menghilangkan rasa gundahnya.
Di balik pintu Marco mendengar percakapan antara putranya dan Yaren, ia meringis tertahankan, tidak tega melihat apa yang terjadi pada putra dan menantunya itu.
Bagaimanapun jika keduanya memang saling mencintai seharusnya tidak bisa terpisahkan begitu saja, dirinya sudah merasakan itu, begitu sakit saat dirinya harus menerima kenyataan berpisah dari Nindinya, meskipun Nindi yang menginginkannya namun tetap saja hal itu begitu menyakitkan. Menurutnya Jovan tidak seharusnya seperti itu.
Ayaz membuka pintu, ia menatap heran ke arah Marco, sejak kapan kiranya pria paruh baya yang nyatanya adalah ayahnya itu berada di depan kamarnya ini, apakah sedari tadi? apakah Marco mendengar perbincangannya ditelepon dengan Yaren? Pikir Ayaz.
“Dasar penguping!" umpat Ayaz pelan namun Marco masih bisa mendengarnya.
Hening,
Hening,
Hening,
Lalu, saat Ayaz hendak berlalu pergi,
“Mengapa kau tidak mencoba menemuinya?" tanya Marco tegas.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...