Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Mungkin untuk itulah Ayaz tidak melakukannya.


__ADS_3

"Apa kau menyesalinya?"


Yaren memalingkan wajahnya, menyesal? Sama sekali tidak, namun ia hanya menyayangkan itu, bukan karena ia yang menikah dengan Ayaz, namun mengapa ia bisa jatuh cinta pada lelaki itu, dia tidak bisa kehilangan Ayaz.


Tangis Yaren meluruh, wanita itu benar-benar menangis, menangisi Ayaz, menangisi nasibnya yang seolah tidak pernah mendapatkan kebahagiaan.


"Kau yang membuatku seperti itu, jadi hanya kau lah yang bisa memperbaikinya."


"Apapun yang aku dengar dan lihat tentangmu nanti, aku hanya akan mempercayai Ayaz yang berada di hadapanku saat ini!"


"Terimakasih, terimakasih Yaren!"


"Aku mempercayai kamu seperti pertama kali kita bertemu."


"Jadilah ratuku, tidak usah mencemaskan tentang hutang atau apapun, aku hanya ingin kau tinggal lebih lama lagi bersama pria brengsek ini, selain itu aku tidak akan meminta lebih!"


Bagaimana bisa, bagaimana bisa kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu, lalu apa kita akan berpisah nantinya? Sedang setiap hari perlakuanmu semakin membuatku nyaman saja.


Yaren mengingat beberapa potongan percakapan antaranya dan Ayaz, sungguh jika begini kenyataannya ia benar-benar tidak akan sanggup.


Cinta, namun juga kecewa.


"Mengertilah, mengertilah Yaren, aku tidak punya pilihan lain, aku yang terlalu egois ini hanya tidak ingin kita berpisah." ucap Ayaz.


"Hiks hiks!" tangis Yaren terdengar semakin keras, wanita itu tampaknya kesulitan dalam menahan perasaannya, terdengar begitu pilu, Ayaz sungguh merasa sangat bersalah kali ini.

__ADS_1


Itulah sebabnya ia tidak pernah siap untuk menceritakan tentang hidupnya pada Yaren.


"Aku mencintaimu... Aku sudah mencintaimu, aku sangat mencintaimu, mengapa? Mengapa aku harus mencintaimu sedalam ini, mengapa kau membuatku merasakan indahnya jatuh cinta, indahnya kehidupan rumah tangga bersama denganmu, mengapa kau buat kenangan yang semakin hari semakin membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, mengapa kau seolah-olah sangat mencintaiku hingga aku memaksakan diri untuk berpegangan padamu, mengapa? Mengapa Ayaz..." ratap Yaren dengan masih terduduk. Air matanya luruh, penampilannya kacau berantakan.


"Mengapa kau hilangkan rasa sakit ini, mengapa aku yang awalnya begitu membencimu namun malah tidak bisa kehilanganmu, MENGAPA?"


"Dosa apa aku, dosakah aku jika aku mencintai seorang bajingan seperti dirimu? Mengapa kau lakukan ini padaku Ayaz..."


"Yaren, Yaren tenangkan dirimu, aku hanya mencintaimu, aku juga mencintaimu!" Ayaz mendekap paksa tubuh istrinya, keduanya menangis bersamaan, Ayaz sakit melihat kekecewaan yang dilayangkan Yaren.


Nyatanya melepaskan, tidak semudah apa yang dikatakan.


Pada awalnya, Ayaz tidak peduli jikapun ia harus tertangkap, Yaren bisa dirinya lepaskan dan mungkin bisa memulai hidup baru tanpanya, namun saat ini membayangkan kemungkinan dirinya dan Yaren akan berpisah saja, Ayaz tidak sanggup. Ia benar-benar mencintai istrinya itu.


"Aku... Cinta bukanlah sebuah kesalahan, aku tidak pernah salah jika aku mencintaimu!" ratap Yaren seolah tidak ada habisnya.


Yaren terus saja menangis, rasanya air matanya harus dirinya habiskan saat itu juga supaya ia bisa mencapai kepuasan. Supaya ia tidak perlu lagi menangis mengeluarkan air mata setelah ini.


...***...


"Haaaahh!" Marco menghembuskan napas berat. Kali ini ia mendapatkan jawaban atas apa yang mengganjal di hatinya.


Kasus Ali Yarkan yang menyeret putranya itu, namun Ayaz sama sekali tidak mengatakan padanya tentang perkembangan, Marco tau perihal rumah yang kebakaran yang mungkin besok atau lusa harus diselidiki, Marco juga tau kali ini Ayaz lebih memilih melibatkan Yaren dan Jovan untuk membantunya, jika Ayaz tidak mau melibatkan dia, tapi setidaknya Rymi, Rymi dan Ayaz adalah dua orang yang ia rasa sebelumnya begitu saling memahami, dan juga Rymi adalah orang yang mengetahui bagaimana perkembangan kasus Ali Yarkan karena Rymi juga sedikit banyaknya tentu terlibat. Jadi jika Ayaz sudah tidak melibatkan Rymi atas apa yang menimpanya kali ini, maka bisa dipastikan bahwa Ayaz sudah mengetahui tentang apa hubungan mereka yang sebenarnya. Marco cukup peka akan hal itu.


"Daddy, are you okay?"

__ADS_1


"Harus bagaimana Rym, entah apa yang ada di pikiran Ayaz, tapi aku rasa dia benar-benar tidak mengharapkan kehadiranku." jawab Marco.


"Ini tidak mudah bagi Ayaz Dad, mungkin Daddy juga sudah mengetahui semuanya dari Tuan Raihan, Ayaz tidak mudah untuk menerima."


"Tapi mengapa dia tidak marah? Tidak melampiaskannya, aku akan lebih senang kalau dia mengajakku bertarung dari pada harus pelan-pelan menjauh seperti ini." kesal Marco.


"Daddy, mungkin Ayaz punya cara sendiri untuk menyikapi setiap masalahnya, beri dia waktu mungkin Ayaz butuh ketenangan, dia butuh pertimbangan, semua itu tidaklah mudah Dad!" sahut Rymi.


"Tapi dia..."


"Akan lebih baik jika Daddy jujur saja, Daddy berbicara pada Ayaz dari hati ke hati, jelaskan apa yang sebenarnya dulu terjadi, bukan Daddy yang meninggalkan Nindi, tapi Nindi yang meninggalkan Daddy untuk Sian, dan Daddy katakan saja kalau Daddy tidak mengetahui kalau saat itu Nindi tengah mengandung." usul Rymi.


"Sebelum semuanya terlambat, sebelum Ayaz tidak mau mendengar apapun!" lanjutnya.


"Aku tidak tau bagaimana memulainya Rym! Kau tau, aku bahkan sudah berapa kali ingin mengatakan hal itu padanya, namun entah mengapa lidah ini seolah kelu saat akan bicara, aku pengecut, pecundang, aku tidak bisa menjelaskan itu, aku terlalu takut akan kemarahannya."


"Hemmm," Rymi mengusap pelan bahu ayah angkatnya itu, "Semua akan takluk pada tempatnya!" sindir Rymi.


"Aku cukup mengerti, di sini kalian adalah dua orang yang sama-sama takut untuk menerima dan memulai, Daddy tidak bisa menjelaskan pada Ayaz siapa Daddy sebenarnya, dan Ayaz tidak bisa menerima kalau Daddy adalah ayahnya, jadi dia seakan bersikap tidak mengetahui apapun." ungkap Rymi menyertakan pendapatnya.


"Tanpa kalian sadari, tindakan kalian, jika tidak ada yang mau mengalah dan mengakhirinya, maka hal itu akan semakin menyulut kesalahpahaman, Daddy yang saat ini berharap Ayaz akan marah dan setidaknya bertarung, karena Daddy menganggap dengan itulah Daddy bisa meluapkan emosi, tapi Dad, ingat, meskipun kalian sedarah ayah dan anak namun bukan berarti cara kalian menyelesaikan masalah itu harus sama adanya."


"Sementara Ayaz, yang bisa aku lihat, mungkin dia terlalu takut untuk menerima kenyataan, sebenarnya Daddy adalah salah satu orang yang berharga dalam hidupnya. Dengan nama Marco Arash, orang yang telah menyelamatkan hidupnya, memberinya banyak pengalaman dan pembelajaran, membuatnya yang semula lemah menjadi kuat untuk menjalani hidup, memberinya kehidupan, Daddy adalah panutannya, seseorang yang memiliki arti dalam bagi Ayaz, yang sudah memiliki tempat tersendiri di hati Ayaz. Jadi aku rasa bukan perkara mudah Ayaz harus meluapkan emosinya pada Daddy, apa dengan marah dan bertarung mencoba mengalahkan Daddy, maka semua hal yang sudah didengarnya itu bisa ditarik kembali? Atau bisakah mengubah keadaan bahwa kalian adalah ayah dan anak? Tidak kan! Mungkin untuk itulah Ayaz tidak melakukannya."


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2