
"Kau di sini?" tanya Jovan, ia cukup kaget saat melihat Rymi berada di ruangan penyekapan Sian.
"Aku dari tadi menungguimu, mengapa baru datang, dari mana saja?" tanya Rymi tidak sabar.
"Kau tidak bilang, tentu saja aku harus menikmati waktu santaiku!" ucap Jovan santai, "Hei, jadi di mana Ayaz?" tanyanya lagi.
"Dia sudah pulang, istrinya membutuhkannya!" jawab Rymi.
"Yaren? Ada apa?" Jovan mulai serius.
"Rumah mereka kebakaran, dan Yaren sedikit shock..."
"Apa? Kau bilang apa? Lalu bagaimana keadaan Yaren?" tanya Jovan panik.
"Aisshhh, kau menyela pembicaraanku, bisakah kau mendengarnya sampai habis?" kesal Rymi.
Jovan mengelus dadanya, "Jadi bagaimana?" tanyanya setelah tenang.
"Tidak usah terlalu khawatir, dia sudah ditangani Dokter Mike, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu dengan tenang!" ucap Rymi, lalu ia bangkit dari duduknya dan hendak pergi.
"Sudah yaaa, aku rasa di sini bukan tempatku, setidaknya kau memang lebih cocok berada di sini!" lanjut Rymi.
"Rym!" cegah Jovan.
Rymi mendongak, jangan bilang si Jovan sialan ini ingin bergantian dengannya, pikir Rymi menebak.
"Aku harus ke sana, Rym bisakah kau menggantikanku sebentar?" tanya Jovan dengan sangat memohon.
"Aku?" Rymi berpura-pura terkejut.
"Kau sudah tau bukan, Yaren adalah adikku, sama seperti kau yang mengkhawatirkan Ayaz, aku juga sama, Yaren begitu berarti bagiku!" Jovan melanjutkan niatnya.
"Aisshhh!" Rymi tampak kesal, mengapa ia harus memedulikan banyak orang dan beberapa hari ini, memuakkan untuk orang yang tidak biasa peduli akan sesama sepertinya.
Rymi menatap Jovan sinis, wanita itu memperlihatkan deret giginya, "Ku harap kau bercanda!" ucapnya kemudian.
"Rym, aku mohon!" Jovan malah menunjukkan reaksi sebaliknya, Rymi benar-benar hilang dukungan.
__ADS_1
"Kemarin Samudra sialan dan kali ini dirimu, kalian semua benar-benar tega terhadapku!"
Rymi kembali duduk, Jovan merasa lega atas keputusan Rymi, "Aku akan mentraktirmu setelah ini!" ucapnya senang.
"Kau harus membayar mahal Jovan!" sahut Rymi.
"Pasti Rym, terimakasih, kau adalah temanku yang paling baik."
Yah, agung-agungkan saja, merayu gadis manis di hadapannya ini, supaya Rymi bisa lebih mantap menolongnya kali ini.
...***...
Wana menggeram frustasi saat satu-satunya petunjuk untuk mereka menemukan siapa ayah dari bayi yang dikandung Raisa harus menemui jalan buntu.
Begitupun Argantara, ingin rasanya ia menyerah, namun jika ia membiarkan ini maka lawannya yang ia taksir pasti sudah merencanakan kehancuran untuk keluarganya ini tentu saja akan tertawa keras.
Sekarang saja, mungkin siapapun itu, pasti sedang menertawainya habis-habisan karena melihatnya yang kebingungan.
"Pa, ini tidak bisa dibiarkan Pa!" ucap Wana.
"Papa tau Ma, tapi mau bagaimana lagi, hotel otu, bahkan tidak bisa memberikan apapun, kita hanya berkutat di seputar ini saja, ini benar-benar sudah di rencanakan dan Raisa harus menanggung semuanya." berang Argantara.
Sementara Wana, wanita licik itu sudah memikirkan masak dan memutuskan akan melakukan sesuatu jika saja dua sampai tiga hari ini mereka tidak menemukan titik terang, ia tidak rela, tidak akan pernah rela jika Argantara hancur, harus bertopang pada siapa dia, kembali ke mantan kekasihnya itu, untuk makan saja susah!
"Aarrgghh!" erang Argantara, ia benar-benar benci keadaan ini, dan lebih benci lagi saat ia tidak bisa melakukan apapun.
"Pa, apa menurut Papa, ini semua ada hubungannya dengan Jovan?" tanya Wana mengungkapkan pendapatnya, hal itu sungguh mengganjal di pikirannya beberapa hari ini, pasalnya setelah mengetahui Raisa hamil pria itu bahkan tidak lagi terlihat batang hidungnya.
"Apa mungkin?" tanya Argantara balik, ia juga memikirkan itu setelah Wana mengatakan begitu.
"Mama merasa kehadiran Jovan beberapa bulan lalu bukan benar-benar ingin mendekati Raisa, mungkin saja pria itu mempunyai maksud tersendiri untuk keluarga ini, bisa saja kan Pa!" lanjut Wana lagi.
Argantara tampak berpikir keras, diingatnya kembali awal mula kedatangan Jovan, sebenarnya tidak ada yang mencurigakan, namun tidak menutup kemungkinan jika Jovan memang mempunyai niat tidak baik mendekati keluarganya tempo hari.
Argantara memikirkan sesuatu, langkah kakinya kemudian beralih menuju kamar Raisa, ia ingin memastikan sesuatu.
"Pa!" panggil Wana, ia takut suaminya itu akan marah-marah lagi pada Raisa.
__ADS_1
Brakkk, pintu dibuka keras oleh Argantara.
Raisa yang sedang memainkan ponselnya terkejut karena kedatangan Papanya yang tiba-tiba.
"Papa!" serunya, ia khawatir dan berniat melindungi dirinya, karena terakhir kalinya saat Argantara menatapnya begitu Raisa mendapatkan tamparan di pipinya.
Argantara mendekat, ia duduk di tepian ranjang, menatap Raisa penuh permohonan, "Katakan bagaimana pria itu?" tanya Argantara.
"Pria itu?" tanya balik Raisa, sudah berapa kali ia katakan kalau ia tidak mengetahui siapa yang menghamilinya, mengapa masih terus saja menanyakan hal itu padanya.
"Jovan!" ucap Argantara, "Apa dia memperlakukanmu dengan baik selama kalian berpacaran waktu itu?" tanya Argantara.
Mendengar nama Jovan disebut, Raisa sedikit meringis, ia masih sangat mencintai mantan pacarnya itu, tapi entah mengapa Jovan seolah hilang ditekan bumi, ia tidak pernah sekalipun lagi mendapat kabar bagaimana keadaan lelaki yang masih dicintainya itu.
Pelan Raisa mengangguk, "Dia laki-laki yang baik!" jawab Raisa.
Andai saja ayah dari bayi ini adalah Jovan, aku mungkin akan sangat senang menghadapi kehamilan ini, meski ia tidak bertanggung jawab pun, tidak apa, setidaknya yang entah bersamaku saat ini adalah hadiah darinya.
"Benarkah?" tanya Argantara lagi, ia harus benar-benar memastikan.
"Mengapa? Apa Papa sedang mencurigai Jovan?" tanya Raisa.
"Siapapun yang pernah berhubungan denganmu patut untuk dicurigai, lalu apa masalahnya jika itu Jovan?" sinis Argantara.
"Pa!" kesal Raisa. Tidak taukah Argantara kalau ia juga berpikir andai saja, namun andai saja itu kembali mengecewakannya saat kenyataannya Ayah dari bayi ini bukanlah Jovan.
"Raisa!" Wana masuk dengan tergesa, dilihatnya Raisa dan Argantara sedang terlibat perbincangan, baguslah, itu menandakan suaminya tidak melakukan suatu yang kasar pada putrinya.
"Aku dan Jovan berpacaran selayaknya pacaran anak muda, dia bisa mengimbangi meski umurnya lebih tua tujuh tahun dariku, Mama juga melihatnya kan, selama ini Jovan begitu baik terhadap keluarga ini." jelas Raisa membela laki-laki yang dicintainya itu.
"Raisa, kau harus tau, baik belum tentu tulus, kita tidak pernah tau dibalik kebaikannya entah dia benar-benar tulus mencintaimu atau tidak." ucap Wana lagi-lagi memberikan pendapatnya.
"Apa selama kalian berpacaran, dia pernah menanyakan seputar informasi pribadi keluarga kita?" tanya Argantara lagi.
"Jujur saja Raisa, itu akan sangat membantu!" sambung Wana.
"Ma, Pa, kalian ini kenapa sih, mencurigai Jovan? Itu nggak masuk akal banget Ma Pa!" sementara Raisa tetap pada pendiriannya, ia sangat mempercayai Jovan, dan baginya tidak mungkin Jovan adalah dalang dibalik kehamilannya.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...