
"Selamat siang Pak!" sapa seorang pria pada Ayaz, Ayaz mendongak untuk memastikan siapa yang menyapanya.
Pria yang sudah tua, seingatnya Rymi mengatakan bahwa Rangga Donulai adalah seorang pria yang seumuran dengannya, lalu kenapa si tua bangkotan ini yang menemuinya.
"Siang!" sahut Ayaz.
"Pak Rangga sedang keluar, baru saja beliau menerima panggilan telepon dari Tuan Donulai untuk menjemput orang tuanya itu di Bandara." jelas pria tua itu.
"Oh, begitu!"
Rymi tidak memberitahukan ini, apa benar-benar mendadak?
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya pria itu.
"Emh, saya mau menyampaikan ini. Tapi lebih baik nanti saja saat Pak Rangga sudah kembali." ungkap Ayaz.
"Kemungkinan Presdir tidak akan kembali ke kantor dengan cepat, sekretarisnya juga diikutkan tadi, jadi kemungkinan mereka akan menghadiri janji temu langsung dengan beberapa kolega bisnis setelah menjemput Tuan Besar Donulai." jelas pria tua itu lagi.
"Ah begitukah? Baiklah, mungkin aku akan kembali ke sini besok saja." putus Ayaz, yah lebih baik begitu. Dirinya tidak mau berakhir di kotak sampah lagi dokumen kerja sama yang diajukannya ini, harus sebisa mungkin dirinya memastikan Rangga Donulai itu membaca isi keseluruhan proposalnya.
"Baiklah, maaf telah membuat anda menunggu!"
"Iya tidak apa, bukan masalah!" sahut Ayaz.
Dengan lemas tak bersemangat Ayaz mengayunkan langkahnya menuju parkiran, menghubungi Rymi namun wanita itu juga tidak menjawab panggilannya, mungkin rekannya itu sedang berada dekat dengan Rangga Donulai jadi sedang tidak bisa mengangkat telpon.
Ayaz menghubungi Marco, mengatakan apa yang baru saja dialaminya, terdengar ******* dari arah seberang, Marco mengatakan untuk menunda semuanya, besok saja dan pastinya mereka harus mengatur ulang rencana.
Ayaz memasuki mobil, tidak bertujuan namun tanpa dirinya sadari mobilnya malah melaju ke arah hotel tempat Yaren dirinya tinggalkan.
"Tuan!" sapa resepsionis hotel tersebut.
Ayaz langsung saja menuju kamarnya dan Yaren. Dia ingin beristirahat sejenak melepas penat yang ada, dengan secepat kilat dirinya menuju DN Company, berharap akan bisa bertemu dengan Presdir perusahaan tersebut, namun apa kali ini dirinya harus mengecap kegagalan lagi.
Tok tok tok.
Tak lama, Yaren membukakan pintu untuknya, dilihatnya istrinya yang masih berbalutkan bathrobe menandakan wanita itu mungkin baru saja selesai mandi.
"Ayaz!" seru Yaren.
Ayaz tidak menyahut, hanya mengangguk kemudian melenggang masuk, merebahkan tubuh lelahnya di kasur matanya mulai terpejam namun telinganya masih bisa mendengar dengan jelas.
__ADS_1
"Kau butuh sesuatu?" tanya Yaren.
"Tidak usah!" sahut Ayaz dengan mata yang masih terpejam.
"Apa aku harus menyiapkan air hangat?" tanya Yaren lagi.
"Tidak usah Yaren, aku hanya mau istirahat sebentar." sahut Ayaz lagi.
Setelahnya Ayaz rasa Yaren duduk di hadapan di meja rias, mengeringkan rambutnya yang masih basah, setelah itu Ayaz tidak tau lagi apa yang Yaren lakukan karena dirinya sudah tertidur pulas.
Yaren memandangi wajah suaminya, Ayaz begitu tampan, dirinya bahkan bersyukur bisa menjadi istri dari seorang Ayaz Diren. Namun jika saja hidup Ayaz tidak penuh dengan misteri, apa lagi Yaren pernah mendapati sebuah kenyataan bahwa Ayaz adalah seorang penjahat. Yaren tidak bisa begitu saja mengatakan beruntung memiliki Ayaz.
"Wajah setampan ini, apa mungkin?" gumamnya pelan.
Yaren sudah selesai dengan kegiatannya, dirinya berganti pakaian dengan pakaian santai yang ternyata telah disediakan oleh pihak hotel tadi.
Apa iya pihak hotel memberikan pelayanan seperti itu, sungguh sangat perhatian.
...***...
"Apa saya juga harus ikut ke bandara Pak?" tanya Rymi saat mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara.
"Cuma sebentar!" sahut Sam.
Sungguh kesempatan langka baginya, nanti dirinya harus mengatakan informasi ini pada Bosnya dan Ayaz.
Tak lama mobil Sam sampai di bandara, Sam langsung turun sementara Rymi di cegahnya saat akan mengikuti turun.
"Kau di sini saja, aku hanya sebentar." ucap Sam. Memberikan pesan juga pada sopir pribadinya untuk menunggunya saja di parkiran Bandara.
Rymi hanya bisa menurut, meski dirinya begitu penasaran namun bisa apa, akan menyulut kecurigaan jika dirinya benar-benar ngotot untuk ikut dengan Bosnya.
"Apa Tuan Donulai itu ramah?" tanya Rymi pada sopir pribadi Bosnya.
"Saya juga baru Mbak, berharap saja begitu!" sahutnya.
"Oh, berarti kita sama dong Pak!" ucap Rymi.
Wanita itu memang begitu mudah akrab dengan orang lain, pembawaannya yang ceria membuatnya mudah sekali mendapatkan teman.
Keduanya malah tertawa, sopir pribadi Rangga Donulai memang masih cukup muda, bahkan jika Rymi menebak dari wajahnya mungkin usianya masih tuaan Rymi, namun sepertinya sopir itu cukup ramah dan supel dalam bergaul.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, Rangga dan seorang pria tua nampak mendekat ke arah mobil, Rymi begitu memperhatikan, mungkinkah itu dia Tuan Besar Donulai? tanyanya membatin.
"Kau pindah ke depan!" titah Sam pada Rymi.
"Baik Pak!"
"Sekretarismu?" tanya Tuan Donulai.
"Iya Ayah." jawab Sam.
"Kemana sekretaris Yan?"
"Dia mengundurkan diri, entahlah seseorang mengatakan bahwa ada urusan keluarga yang tidak bisa dirinya tinggalkan." jawab Sam.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Tuan Donulai lagi.
Sam menggeleng pelan.
"Ke mana anak itu?" gumam Tuan Donulai pelan, rasa sesal menyeruak di dadanya.
"Aku akan berusaha Ayah, sebentar lagi dia pasti ditemukan!" ucap Sam mencoba menenangkan.
"Kau sudah pernah melihat ke desa tempatnya diasingkan dulu?"
"Belum Ayah, perlu banyak pertimbangan untuk pergi ke sana, daerah itu termasuk wilayah kekuasaan Sian, aku rasa dia juga tidak mungkin mengunjugi desa itu." sahut Sam.
"Yah kau benar, secara logika memang tidak mungkin, tapi bagaimanapun kau harus menemukannya."
"Ada urusan apa Ayah ke sini?" tanya Sam.
"Besok adalah peringatan hari kematian suami adikku, kau taulah Bibimu sedang sakit keras saat ini, dia memintaku untuk mengunjungi makam suaminya." jawab Tuan Donulai.
Rymi masih menyimak, sebuah silsilah keluarga Donulai yang dirinya dengar ini bisa dirinya anggap sebagai informasi dan akan dirinya beberkan nanti pada Bosnya dan Ayaz.
"Mengapa kau tidak langsung menyerang Sian, debgan begitu kau bisa lebih tenang mencari keberadaan anak itu."
"Belum saatnya Ayah, tapi akan aku pastikan secepatnya setelah kita memulihkan DN Company." jawab Sam.
"Ah iya, apa Ayah juga akan mengunjungi makam Nona Nindi?" tanya Sam, dirinya juga sudah lama tidak mengunjungi makam Ibu dari sahabatnya itu.
"Yah kau benar, aku juga seharusnya ke situ, pastikan pengawalan ketat saat aku berziarah ke sana, aku tidak mau sampai orang-orang Sian mengetahui gerak-gerik kita, Sian harus hancur menjadi debu, barulah dendamku terbalaskan." ucap Tuan Donulai tampak begitu marah.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...