
"Kau sudah bangun?" tanya Ayaz pelan, ia menatap penuh cinta Yaren dengan hasil karyanya, sedari tadi ia tidak pernah bosan menatap wajah pulas Yaren. Masih tidak menyangka kalau ia akan secinta itu dengan sang istri. Seluruh tubuh Yaren bahkan ia sudah tergila-gila dengan tubuh yang pernah diremehkannya dulu.
Sifat lembut Yaren membuatnya perlahan kukuh, istrinya itu bisa menenangkannya, ia juga merasa begitu banyak perubahan terhadap dirinya semenjak ia mengenal Yaren. Kalau saja saat ia mengetahui Marco adalah ayah kandungnya saat ia belum mengenal Yaren, entah apa yang akan terjadi Ayaz tidak bisa membayangkannya. Dirinya yang dididik dengan seluruh rasa egois, pastinya tidak akan bisa dengan mudah memaafkan.
Yaren langsung saja terkesiap, ia mengedarkan pandangannya, hari sudah sangat cerah, apa ia kesiangan?
"Jam berapa sekarang?" tanyanya panik.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Ayaz.
"Tidak, maksudku... Maafkan aku, aku lagi-lagi kesiangan." Yaren tertunduk merasa dirinya suka semaunya akhir-akhir ini.
"Memangnya kenapa kalau kesiangan? Bukankah aku yang membuatmu jadi kesiangan setiap harinya?" tanya Ayaz genit, lalu ia kembali berbaring di samping Yaren.
Ayaz, aku merasa sangat dicintai... Kau, mengapa selalu berhasil membuatku jatuh cinta lagi dan lagi, perlakuanmu ini, membuatku semakin tidak ingin kehilanganmu...
"Ayaz, kau bilang kau ingin ke panti paginya?" tanya Yaren lagi, ia mengalihkan pembicaraan.
"Emmhh, kau ingin ikut?"
"Memangnya boleh?"
"Kenapa tidak boleh?"
"Ayaz, kau ini sama saja dengan Rymi, kenapa kalian berdua selalu saja menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lainnya, tidak bisakah langsung menjawab saja?" Yaren memberengut kesal, ia ingat Rymi juga begitu, saat ia bertanya pasti selalu saja bertanya balik bukannya langsung menjawab.
"Hahahaha..." Ayaz tergelak karena melihat wajah kesal Yaren.
"Kau masih cemburu dengan Rym?" selidik Ayaz.
Yaren tercekat, mengapa Ayaz bisa tau, meski nasihat Marco kemarin membuatnya sedikit bisa memudarkan rasa cemburunya, namun jujur saja rasa itu masih ada. Bahkan kali ini ia berpikir sifat Rymi dan Marco yang begitu sama, mengapa keduanya begitu terlihat cocok tanpa cela apapun.
__ADS_1
"Ayaz..."
"Apa aku menebak benar?" goda Ayaz.
"Ayaz... Sebenarnya, aku bukannya cemburu..."
"Tapi?" sergah Ayaz, pria itu mengambil bantal dan menaruhnya di paha Yaren, ia mulai lagi ingin bermanja dengan sang istri. Berbaring, tangannya langsung mengambil tangan Yaren dan ia letakkan di kepala.
Yaren menetralkan rasa canggungnya, Ayaz memperlakukannya seperti itu lagi, seperti ingin menegaskan bahwa suaminya itu dan Rymi tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar saudara.
"Kau tau kan, aku hanya mencintaimu?" tanya Ayaz. Ia mengecupi tangan istrinya berkali-kali.
"Haahhhh..."
Rasanya sulit sekali...
"Mau aku ceritakan sesuatu?" tanya Ayaz.
Yaren menunduk, menatap Ayaz yang berbaring di pahanya, "Kau ingin menceritakan apa?" tanyanya.
Yaren terdiam, ahhh sudahlah ia benar-benar cemburu, bukan hanya sedikit.
"Istriku ini, sangat menggemaskan jika cemburu begini!" Ayaz, seolah-olah mendapatkan hal yang mengasikkan saat melihat wajah istrinya yang memerah karena terus dirinya goda.
"Aku dan Rym memiliki banyak kesamaan, aku jujur saja, aku mengakui itu, bahkan... Jikapun nanti aku mati, aku hanya harus mati di tangan Rym!" ucap Ayaz memulai bercerita.
"Ayaz, mengapa kau bicara begitu? Apanya yang harus mati?" kesal Yaren, Rymi dan Ayaz ini, selalu saja mengatakan kematian seolah-olah adalah hal yang begitu mudah, mengatakan kematian dengan tanpa keberatan begitu, sebenarnya bagaimana cara keduanya menyikapi hidup pikir Yaren.
"Kau kesal lagi?" tanya Ayaz kembali menggoda.
"Kau ini..." Yaren mendorong kepala Ayaz supaya beralih dari pahanya, ia tidak ingin bermanja-manja lagi. Membicarakan kematian, dasar tidak berperasaan gerutu Yaren dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku mengatakan sebenarnya!" ucap Ayaz. Ia menahan tubuh Yaren, memeluk istrinya itu dengan kepalanya yang ia telungkupkan di perut Yaren.
"Iihhh..." risih Yaren.
"Kau tidak berani mendengarnya?" goda Ayaz lagi.
"Ayaz..." Yaren memberontak minta dilepaskan.
"Aku tidak memiliki perasaan pada Rym seperti perasaan yang aku miliki pada istriku ini!" ucap Ayaz.
Yaren menghentikan rontaannya, ia mendengar itu dari mulut Ayaz, apakah itu sebuah pengakuan cinta?
"Kau dan Rym, adalah dua wanita yang sama-sama aku butuhkan, jadi tolong jangan beri aku isyarat untuk memilih siapa diantara kalian berdua? Aku bukan ingin memiliki Rym seperti aku memilikimu, tapi jika rasa cemburumu ini mengharuskan aku untuk menjauhi Rym, aku juga tidak bisa, karena dia adikku, dia seseorang yang berharga bagiku, sama sepertimu, hanya posisi dan porsinya saja berbeda." jelas Ayaz.
"Aku berencana untuk pindah dari rumah Marco, kita akan tinggal hanya berdua, setidaknya kau tidak melihatku berinteraksi dengan Rym, maaf jika kedekatanku dengannya menyakiti hatimu!"
"Tapi, jika kau bisa meneguhkan hatimu untuk percaya, kami sudah berbagi makan dan minum, dia adalah orang yang paling mengetahui hidupku sebelum aku menemukanmu, kami saling menjaga, selalu melakukan semuanya berdua, bagaimana bisa aku kehilangannya, bagaimana bisa aku tidak bertegur sapa dengannya, aku sudah berjanji dalam hatiku akan melidunginya, yah meski kadang ia juga tidak memerlukan perlindungan!" ungkap Ayaz.
"Ayaz, mengapa kau tidak bisa menjauhkan diri dari Rymi?" tanya Yaren, "Apa hanya karena kalian sering terlibat pekerjaan yang sama, sehingga kalian merasa sudah sangat dekat? Tapi, kedekatan kalian..."
"Maaf..."
"Ayaz, maaf jika aku egois, tapi..."
"Aku dan Rym pernah hampir mati karena pekerjaan kami yang kadang sering kali melibatkan nyawa, kau tau apa yang biasanya aku ucapkan pada Rym?"
Yaren masih menyimak, meski nantinya ia tau, masalah kecemburuannya ini tidak akan pernah Ayaz perhitungkan, Rymi tetap harus menyertai hubungan mereka sampai kapanpun.
"Aku harus dengan tega mengatakan padanya, 'Rym, sebagiannya sudah kuselesaikan, sebagian lainnya aku serahkan padamu, kau harus menjaga dirimu sendiri, karena akupun tidak akan bisa menyelamatkanmu jika kau gagal' Kau tau betapa sakitnya saat aku mengatakan itu? Dia adalah sahabatku, saudaraku, dia adalah segalanya bagiku waktu itu, apa karena aku sudah menikah denganmu maka aku harus melupakan apa yang pernah telah kami lalui bersama? Hidup dan mati, harus kami pertaruhkan berdua, berdua saja..."
"Jangan paksa aku untuk menjauh darinya, dia adalah saudaraku, jika kau bisa percaya padaku maka aku juga akan memegang janjiku, hanya kau... Hanya kaulah wanitaku, istriku satu-satunya, satu-satunya yang aku cintai, aku memang menyayangi Rym, tapi aku menyayanginya dengan cara yang berbeda." ucap Ayaz seperti memohon pada Yaren.
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...