
"Kalian!" berang Amla, ia benar-benar tidak habis pikir, mengapa semua pekerja di kediamannya ini yang pada awalnya adalah orang-orang yang sangat setia pada suaminya. malah bisa berbalik menyerangnya.
Dan orang-orang yang direkrutnya itu kini malah tanpa melakukan apapun langsung saja menyerah begitu saja.
"Dasar tidak berguna!" umpatnya.
"Nyonya Amla, kami tidak berharap banyak, ini terakhir kalinya kami meminta pada Nyonya, lepaskan kami semua maka kami tidak akan lagi mengganggu kehidupan Nyonya!" ucap ketua pengawal meski enggan, namun ia masih bisa menjaga sikap karena dirinya yang tidak mau membuat kerumitan ini menjadi semakin panjang.
"Kau ini bicara apa? Sudah gila ya?" tanya Amla meremehkan, "Dengan tidak tahu malunya menjadi seorang penghianat dan menghasut mereka semua, Aku tanya, apa maksudmu melaporkan semua tuduhan yang sama sekali tidak benar itu? Kau lah orangnya kan, yang melaporkan tuduhan palsu itu?" sergah Amla.
"Kalian semua dengar, meski kalian mengetahui bahwa aku malam itu menugaskan salah satu pengawal kalian yang bernama Dale Adrie untuk membawa Erra menuju tempat pengasingan, tapi bukankah kalian juga tahu bahwa aku tidak pernah sekalipun punya pemikiran untuk mencelakai suamiku sendiri!"
"Apa yang kalian harapkan? Tuan kalian bisa kembali hidup dan menjelaskan semuanya? Kalian tau, aku juga sama, aku berharap dia bisa ada di sini dan menjelaskan bahwa yang membunuhnya bukanlah aku!" Amla berteriak, percayalah sebenarnya ia hampir frustasi.
"Kalian yang tidak tahu apa-apa ini, tanpa sadar telah dibodohi olehnya!" tunjuk Amla pada ketua pengawal itu.
__ADS_1
Semua orang yang berada di aula terdiam, Amla tersenyum menampilkan wajah sinisnya melihat itu.
"Jika kalian ingin pergi, maka mencegah pun bukankah itu bukan urusanku, di sini aku tidak akan bisa melakukan apapun, perlu kalian ketahui, kalian semua ini juga bukan orang-orang penting bagiku, lalu mengapa aku harus menahan kepergian kalian? Dasar bodoh!"
"Jika kalian ingin pergi, itu adalah pilihan kalian. Silakan saja, aku tidak akan menghalanginya, namun jika kalian berubah pikiran suatu hari nanti karena mendengar kenyataan yang sebenarnya, maka kalian... Setuju atau tidak, aku akan selalu mengingat wajah tidak tau diri kalian ini, aku akan tetap menganggap kalian sebagai seorang penghianat!" teriak Amla mengancam.
"Suamiku di sana, belum juga tenang karena pembunuh yang sebenarnya belum juga terungkap!"
"Bukankah sebagian dari kalian juga sudah lama bekerja di sini, tentu kalian mengetahui siapa sebenarnya musuh terbesar Tuan kalian? Apa aku?"
"Ini bukanlah pembelaan diriku, aku sama sekali tidak berpikiran bahwa perkataanku ini adalah sebuah pembelaan diri karena aku merasa aku tidak bersalah. AKU BUKANLAH PELAKUNYA!" teriak Amla keras, ia rasanya ingin membunuh orang-orang yang secara tidak langsung sudah dengan berani menuduhnya ini.
"Meski Nyonya Amla bukan pelakunya, tapi kami tetap saja ingin berhenti dari pekerjaan ini." ucap ketua pengawal itu, mungkin dirinya terdengar begitu egois namun mau bagaimana lagi setelah disiksa oleh Amla kemarin, menanggung segala kesakitan ini, rasanya jika ia masih tetap bekerja dan bertahan di sini bukankah itu sama sekali dirinya bagai tidak punya harga diri. Terlebih Amla sudah mengetahui bahwa dirinya lah salah satu pengawal yang melaporkan tindak kejahatan Amla.
Amla tersenyum remeh, melihat sebentar ke arahnya, menatapnya dengan tajam kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Amla memanggil orang-orang suruhannya untuk segera mengikuti nya.
Ilham berjalan mendekati ketua pengawal itu, "Tidak apa, kau sudah melakukan hal yang benar!" ucap Ilham menenangkan. Diikuti anggukan dari para anak buahnya yang lain.
"Rasanya aku benar-benar tidak percaya, pengabdianku setelah sekian lama harus berakhir hari ini, dan yang paling membuatku bersedih kita bahkan tidak bisa mengucapkan salam perpisahan pada Tuan Sian!"
"Sebenarnya, sungguh benar apa yang dikatakan Amla, dengan kita memberontak seperti ini mungkin jiwa Tuan Sian di sana tidak akan tenang. Aku menunggu hari itu tiba, siapapun pelakunya... Entah itu Amla ataupun bukan, tapi aku benar-benar menunggu hari itu tiba!" ucap ketua pengawal itu menggebu, dadanya sesak kala mengatakan itu.
Ilham mengusap pelan pundak ketua pengawalnya, "Aku juga menunggu hari itu tiba?" ucapnya.
Maafkan aku, semua ini terjadi akibat sandiwaraku, mungkin aku begitu egois namun jika aku tidak melakukan ini maka sayangnya akan begitu banyak nyawa yang menjadi korban, kami tidak bisa berbuat apapun... Mungkin satu persatu dari kami akan menemui kematian dan mungkin juga keturunan-keturunan kami pun nantinya akan menjumpai kesengsaraan. Aku tidak mau itu terjadi, dalam hidup bagiku hidup susah bukanlah apa, masih bisa aku terima, namun aku tidak akan bisa membiarkan orang-orang yang aku kasihi tidak bahagia. Merasakan kehilangan orang-orang terkasih, bagaimana bisa aku membiarkan itu."
Tapi karena aku telah melakukan ini, maka satu-satunya nyawa yang akan dikorbankan di sini hanyalah Amla dan aku rasa dengan perbuatannya selama ini kepada kita, dengan perbuatannya kepadamu kemarin, aku rasa Amla memang pantas menerima semua ini...
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...