
“Kau menyembunyikan sesuatu Tuan Ayaz?” tanya seorang pria paruh baya yang bertamu ke rumahnya.
“Bukan urusanmu!” sahut Ayaz dingin.
“Menjadi urusanku, kita adalah partner yang saling menguntungkan, pekerjaan, bisnis, tidak jauh dari ranah pribadi.”
“Urusanku, bukan urusanmu, tau batasanmu!”
“Anak muda yang tidak mengenal takut sepertimu, seharusnya tidak menyembunyikan sesuatu, kecuali kau takut jika aku mengambil milikmu?” ucap pria tua itu menantang.
Ayaz geram, entah kenapa darahnya mendidih saat mendengar lelaki tua di hadapannya ini ingin mengambil Yaren, lebih geram lagi mengapa Yaren harus keluar dari kamar hingga menimbulkan kecurigaan.
“Bedebah, sebaiknya kau pergi!” berang Ayaz.
“Ow ow ow, Tuan Ayaz.” Pria tua itu berdecak menatap remeh Ayaz yang tampak marah, “Tuan Marco mengirimkan aku ke sini untuk membantumu, namun kau mengusirku, kau sama sekali tidak menghargainya.” sindir orang itu.
“Aku tidak butuh bantuan dari orang menjijikan sepertimu!”
Tangan Ayaz mengepal, jika saja pria tua ini berani berbicara lagi tentang Yaren, mungkin Ayaz tidak akan lagi bisa menahan kepalan itu untuk tidak mendarat di wajah keriputnya.
“Menjijikan? Ck, kau kentara sekali Tuan Ayaz, siapa yang kau sembunyikan? Seorang wanita? Jangan terlalu berlebihan, ini akan menjadi lebih menarik, seorang pembunuh bayaran, orang yang sangat dipercayai Tuan Marco Arash, terlibat asmara!” ucap pria tua itu semakin menjengkelkan.
“Apa Tuan Marco tau tentang ini? Bagaimana jika...”
“Tidak ada siapapun di sini, pergilah!” usir Ayaz.
“Ini benar-benar menarik!”
“Bughhh!”
Tangan yang tadi mengepal kini sudah mendarat mulus di pipi keriput lawan bicaranya. Ayaz tidak bisa sesabar itu menghadapi orang yang meremehkannya.
__ADS_1
“Pergilah, atau kubuat kau menjadi santapan harimau di hutan ini!” ucap Ayaz dingin, aura menakutkan begitu kentara di wajahnya.
“Sialan, kau harus membayarnya, aku tidak terima penghinaan ini!” ucap pria paruh baya itu sebelum berlalu pergi.
Jelas saja memilih pergi, tenaganya tidak akan cukup kuat untuk melawan Ayaz, faktor usia mungkin akan membuatnya mati di tangan Ayaz jika ia mencoba melawan.
“Katakan pada Marco, aku tidak butuh bekerja sama dengan orang menjijikan sepertimu, katakan juga kalau kau sudah tua dan harus segera beristirahat, jangan memilihkan lagi orang yang payah sepertimu! Kalau kau tidak mengatakan sesuai apa yang aku keluhkan ini, maka kau tau sendiri akibatnya.” Ucap Ayaz santai namun dengan setengah berteriak.
Sebentar lagi pria paruh baya itu mungkin akan segera kehilangan pekerjaannya.
“Memang mau mati Yaren!” gumamnya bergegas menuju dapur, karena dilihatnya tadi Yaren berlalu menuju tempat itu.
Sesampainya Ayaz di dapur, sayangnya ruangan itu tampak sepi, tangannya terulur membuka pintu belakang, sepi tidak ada tanda-tanda Yaren berada di sana.
Ayaz mencari Yaren di kamar mandi, namun tidak juga menemukan, tangannya mengepal, Ayaz tidak akan melepaskan Yaren dengan mudah kali ini, Yaren sepertinya ingin bermain-main dengannya, baiklah akan dirinya turuti.
Kembali ke kamar, mengambil senjata api yang dirinya simpan di lemari, langkah kakinya menuju keluar rumah, mencari Yaren, membawa wanita itu hidup ataupun mati.
Semalam, Ayaz pasti sudah gila, berfantasi dalam mimpinya Yaren berada di bawah kungkungannya, bercinta hingga peluh membasahi keduanya, Yaren mengatakan bahwa dia mencintai Ayaz, dan akan selalu bersedia melayani Ayaz.
Dalam hentakannya, Yaren tidak berhenti menyebutkan nama Ayaz, membuat Ayaz begitu bangga atas pencapaiannya.
Ayaz begitu menerima niat baik Yaren, mereka melakukannya lagi dan lagi, namun sialnya semua hal indah itu harus sirna kala sinar mentari yang masuk melalui ventilasi di kamarnya mengenai mata Ayaz.
Ayaz terbangun saat Yaren masih terlelap, Ayaz bisa menebak kalau wanita yang dimintainya menjadi teman ranjang itu pastilah habis menangis semalaman, mungkin dengan alasan menungguinya pulang.
Semalam Ayaz pulang begitu larut, harus meninjau pekerjaan yang dirinya buat tanpa sepengetahuan Marco, saat dirinya bisa bebas dari Marco suatu hari nanti, dirinya berencana untuk hidup damai, enggan berurusan dengan yang namanya darah, tidak mau lagi berurusan dengan perang yang mempertaruhkan nyawanya.
Ayaz tidak munafik, sisi pedulinya masih juga ada, meski kenyataannya juga dirinya sulit untuk peduli akan sesama.
Ayaz mencari di tempat yang mungkin, sudah hampir tiga tahun dirinya hidup di hutan ini, membuatnya bisa mengenali jalan dengan mudah.
__ADS_1
Jalan yang bisa membuat orang lain tersesat, karena jalan dari rumahnya menuju persimpangan menuju kota tidaklah mudah dimengerti, begitu banyak kelokan dan persimpangan yang sama, hal ini sengaja Ayaz dan Marco lakukan untuk mengecoh lawan, awalnya tempat ini adalah tempat untuk Marco bersembunyi saat kelompoknya diserang, tempat untuk mereka menyimpan banyaknya narkoba dan senjata api. Namun seiring berjalannya waktu dan Marco sudah merasa nyaman tinggal di markas, Marco menyerahkan rumah di tengah-tengah hutan itu untuk Ayaz tinggali.
Ayaz tidak keberatan, rumah itu cukup nyaman meski jauh dari keramaian, dan begitu mencekam saat malam hari.
“Duarrrr!” satu tembakan Ayaz tujukan ke atas, Ayaz pikir Yaren pasti bisa mendengarnya, menakuti Yaren menegaskan untuk jangan pernah main-main padanya.
Suara binatang pun semakin riuh, mereka melarikan diri mencari tempat aman, ketakutan akan suara tembakan yang Ayaz layangkan.
“Kau tidak akan pernah bisa hidup dalam ketenangan Yaren!” gumamnya.
Ayaz masih terus mencari, dendamnya pada Yaren yang melanggar kata-katanya membuatnya begitu membenci wanita itu. Siksaan, diirnya juga sudah menyiapkan siksaan semacam apa yang akan dirinya hadiahkan untuk Yaren.
Apa lagi mengingat pria paruh baya itu menginginkan Yaren, Ayaz semakin membenci akan keadaan, baginya tidak ada yang bisa menyentuh Yaren kecuali dirinya.
Sebenarnya, tanpa Ayaz sadari, Ayaz sudah memilih Yaren, hatinya sudah bertaut pada wanita itu, dia menginginkan Yaren untuk menemani hidupnya, namun Ayaz selalu saja berpikir masih terlalu dini untuk menyadari itu.
Dirinya yang tidak pernah satu kalipun jatuh cinta, mengenal Yaren membuat rasa itu kian menjadi, namun Ayaz tidak bisa mengungkapkannya. Ayaz tidak tau bagaimana posisi antaranya dan Yaren, sudah sedekat mana? Perlukah dia membawa hatinya untuk kisahnya dan Yaren, sifat kerasnya membuat Ayaz mengabaikan itu, dirinya hanya tau kisahnya dan Yaren bisa dikatakan hanya sebatas take and give, tanpa mau memahami dan saling mengerti.
Tanpa cinta, padahal Ayaz tidak pernah tau apa itu yang dinamakan cinta!
Dirinya terlalu kulot untuk urusan asmara, mengajak Yaren menjadi teman ranjangnya, yang tanpa dirinya sadari hal itu membawanya ke dalam perasaan hendak memiliki, membawanya pada rasa cemburu untuk pertama kalinya.
Suatu hari nanti, Ayaz akan sulit mengendalikan itu, suatu hari nanti Ayaz akan kesusahan jika Yaren benar pergi darinya.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1