
"Jovan!" sapa Jovan memperkenalkan diri.
"Anda cukup terkenal, sebenarnya saya sudah mengetahui itu, tapi seperti tidak percaya saja hari ini bisa bertemu anda di sini." ucap Nil.
Lalu keempat orang itu berbincang, Jovan juga sudah selesai memesan makanan dan mengatakan semua makanan yang dipesan kali ini dirinya lah yang akan membayarnya termasuk pesanan untuk dokter Amri dan Nil.
"Suamimu kerja apa Yaren?" tanya dokter Amri, sebagai seorang saudara apalagi sempat memiliki perasaan lebih terhadap Yaren, tentulah dirinya ingin memastikan bahwa Yaren berada di tangan yang tepat. Dirinya juga sedikit banyaknya bersyukur Yaren bisa lepas dari jerat Argantara dan Wana, namun itu tentu saja jika Yaren bertemu dengan pria yang tepat.
Hening, jika ditanya begitu tentu saja Yaren tidak tau harus menjawab apa, pekerjaan seperti apa yang dilakoni Ayaz, tidak mungkin kan dirinya mengatakan yang sebenarnya, Yaren saja tidak ingin suaminya seperti itu.
"Ehmm!" Jovan berdehem untuk menetralkan perasaannya, sebagai Kakak dirinya juga tau apa yang tengah dirasakan Yaren. "Suaminya memiliki beberapa hotel di berbagai kota, dan beberapa bisnis lainnya." sahut Jovan mengalihkan.
Yaren menoleh ke arah Jovan, matanya mengisyaratkan pertanyaan mengapa Kakaknya harus berbohong.
Namun di samping itu Yaren juga sebenarnya cukup lega karena pertanyaan Dokter Amri sudah terjawab.
"Oohh, saya tidak mengenalnya Pak Jovan, ah ya Yaren kiranya di mana tempat tinggalmu sekarang, sebagai saudara itu bisa memudahkanku nanti untuk mengunjungimu, benarkan Nil?" ucap Dokter Amri, ia juga mengerti perasaan Nil yang mungkin sedikit tidak enak hati, namun ia harus menegaskan bahwa Yaren adalah wanita yang sudah menikah dan mereka juga adalah saudara.
Nil mengangguk. Hanya itu yang bisa dirinya lakukan saat terlibat kondisi tidak terlalu mengenakkan ini.
"Yaren sementara tinggal di rumahku, kebetulan suaminya sedang mencari tempat tinggal yang baru untuk mereka karena rumahnya yang lama sempat kebakaran beberapa hari lalu, dan saat ini suaminya juga sedang berada di luar kota, jadi sementara Yaren harus tinggal bersamaku." jelas Jovan, lagi dan lagi dirinya harus pandai membuat alasan, yah meski tidak sepenuhnya berbohong.
"Kebakaran?" tanya Dokter Amri panik, "Apa terjadi sesuatu denganmu Yaren? Kau tidak apa kan?"
Yaren menggeleng pelan, "Tidak apa Kak Amri, untungnya semuanya selamat." sahutnya.
...***...
"Apa sudah lega?" tanya Rymi pada Marco, Ia mengunjungi Ayaz dan Marco yang memang sekarang berada di tempat yang sama.
"Yah, ternyata aku bisa juga melewatinya." ucap Marco.
Ayaz masih berada di kamar, Marco juga sudah menyiapkan kamar sendiri untuk putranya itu, ia hanya berharap semoga Ayaz bisa menerima dirinya.
__ADS_1
Sedang ia dan Rymi sedang berada di ruang olahraga, Marco juga tidak peduli jikapun Ayaz mendengar percakapan antaranya dan Rymi, menurutnya semua yang dirinya lakukan adalah benar, mengakuinya dan mencoba memberikan yang terbaik, lalu apa lagi yang harus dirinya takutkan.
Jikapun Ayaz masih tidak bisa menerimanya, maka ia juga sudah siap akan konsekuensinya, palingan dirinya harus mati di tangan anak sendiri.
"Bagaimana dia?"
"Sepertinya sulit, tapi entahlah!" jawab Marco.
"Daddy harus lebih sabar, jangan menyerah!" ucap Rymi menguatkan.
"Ah ya Rym, kau memastikan hidup Yaren supaya lebih baik kan?" tanya Marco. tiba-tiba ia teringat akan menantunya itu, sayang sekali Jovan sepertinya kecewa dengan Ayaz sehingga orang yang saling mencintai harus berpisah sementara.
"Jovan pasti memperlakukannya dengan baik." sahut Rymi.
"Kau bisa melakukan sesuatu?" tanya Marco lagi.
"Dad!"
"Rym!"
"Aku tidak janji!"
"Apa kau meragukan kemampuanmu sendiri?"
"Daddy! Jovan pastinya begitu kecewa, aku hanya tidak ingin menambah keadaan menjadi semakin rumit, kalau menurutku biarkan saja semuanya seperti ini, mencoba meresapi kesalahan dan kegundahan masing-masing, kadang manusia juga butuh waktu untuk mendewasakan diri, ayolah... Jangan terlalu memaksa semuanya, ini menyangkut sebuah keluarga!" terang Rymi.
"Tapi, jika saja kita bisa membuat Yaren berada di sini tentulah beban pikiran Ayaz setidaknya sedikit berkurang."
"Itu menurut Daddy!"
"Hemmm!"
Sementara seseorang yang sedang berada di kamar,
__ADS_1
Ia memandangi foto seorang wanita, yang sudah ada saat dirinya menempati kamar ini sesuai permintaan Marco.
Wanita itu sangat cantik, di sebelahnya terdapat juga foto wanita itu dengan seorang pria, yang tak lain adalah Marco pada saat masih muda.
"Apakah benar kalian saling mencintai?" tanya Ayaz bergumam.
Hatinya memilih untuk mempercayai Marco. Namun tidak dengan egonya.
Jika sekilas dilihat, Marco di waktu muda nyatanya memang begitu mirip dengannya saat ini, dari hal itu saja sudah cukup membuktikan bahwa Marco benar-benar Ayah kandungnya.
"Apa jika aku menerimanya, kau akan senang Bu?" Ia bicara pada foto Nindi, yah foto seorang wanita itu adalah foto Nindi Rowans, ibunya.
"Ini bukan dendam, aku hanya marah!" gumam Ayaz lagi.
Yah mungkin lebih tepatnya, dirinya tidak lagi dendam, namun hanya sebatas amarah, marah mengapa dirinya harus begitu menderita dulunya.
Coba saja waktu itu Ibunya bilang, jujur akan kehamilannya pada Marco, meski apapun rintangannya Ayaz percaya Marco tidak akan tinggal diam, atau coba saja Marco tidak mencoba melupakan Ibunya dan pergi, mungkin masih ada secercah harapan untuk dirinya selamat dari penyiksaan.
Atau yang paling mudah supaya tidak menyulut kesalahpahaman semacam ini, mengapa Ibunya tidak mengatakan saja siapa ayah kandungnya, itu begitu sangat membantu dari pada bertahun-tahun Ayaz harus menahannya.
Namun sekali lagi, segala yang terjadi sudah terjadi, masa sekarang kita harus melihat ke depan, apa yang harus kita lakukan, menerima dengan ikhlas mungkin adalah jalan yang lebih baik.
"Sebenarnya, dia memang sudah kuanggap sebagai Ayahku, bahkan meski aku belum mengetahui kalau dia memanglah Ayahku."
"Apa aku terlalu berlebihan? Rasanya ini begitu pelik, dia yang menyelamatkanku, dia yang memberikanku kehidupan, dia yang membuatku menjadi seperti ini, berkat didikannya aku bisa membalaskan dendamku, aku berhutang begitu banyak padanya, apa ini sebuah takdir dari Tuhan?"
"Bu, aku akan menerimanya, tapi mungkin butuh waktu untuk benar-benar menerimanya, semoga itu memang yang terbaik, semoga kau bahagia dengan keputusanku ini."
"Nanti akan aku tanyakan padanya, apa kalian benar-benar saling mencintai dulunya, apa saja yang sudah kalian lalui dulunya, Ibu tidak pernah menceritakan tentang pria ini, tapi pria ini seolah begitu mengetahui tentang Ibu."
Ayaz mengedarkan pandangannya, ini adalah kamarnya, Marco mengatakan begitu, dan juga berkata untuk membawa Yaren tinggal bersama mereka, rasanya... Jika bukan karena dirinya ini adalah seorang penjahat, tentulah ia dan Yaren pasti sudah hidup bahagia.
Semoga Yaren bukanlah wanita seperti Ibunya, meninggalkan orang yang dicintai hanya karena orang tua, atau karena takutnya menghadapi dunia.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...