Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Temukan dia!


__ADS_3

"Rymi..." lidah Yaren tiba-tiba menjadi kelu, bagaimana mungkin Rymi bisa membaca apa yang dirinya pikirkan tentang cemburu.


"Aku bukan anak kecil Yaren, yang bisa kau bodohi, aku tau sejak awal saat kau hadir diantara kami, kau bahkan takut aku mengambil Ayazmu!" sentak Rymi.


"Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk berdebat." Rymi meneruskan kegiatannya, ia mulai meretas data siswa sepuluh tahun yang lalu, dari mulai kelas satu, dua, dan tiga, ia akan menggunakan hal itu jika saja dirinya tidak bisa mendapatkan petunjuk saat sudah berusaha mencari.


Suasana menjadi hening, rasa tidak nyaman Yaren rasakan, bahkan dirinya saja tidak berani untuk memandang ke arah Rymi. Sementara Rymi, wanita blak-blakan dengan tanpa perasaan itu terang saja mana bisa peduli akan hidup orang lain, Rymi masoh bisa bersikap santai saja.


"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Rymi. Dia sudah kembali ramah, Yaren saja tidak percaya Rymi bisa kembali bersikap biasa padanya setelah apa yang terjadi.


Yaren menggeleng, "Aku akan mencari lebih teliti." ucapnya.


Rymi mematikan komputer itu, datanya sudah ia salin di laptop miliknya, jadi ia akan mencari lewat kepunyaannya saja.


Yaren yang mencari data itu secara manual jelas saja merasakan jenuh, kepalanya sudah mulai pusing, mengambil satu arsip lalu membukanya, dilihat secara teliti, lalu menutup kembali, entah sudah berapa arsip yang diperlakukannya begitu namun tidak juga menemukan dokumen tentang donor darah masal delapan tahun lalu.


"Seingatku memang ada, tapi mengapa mencarinya sulit sekali?" gumam Yaren.


Sudah tiga jam keduanya mencari, namun tidak juga menemukan petunjuk. Rymi meregangkan otot tangannya, ada suatu nama yang dirinya curigai, seorang siswa dengan golongan darah AB, namun di data tertulis siswa itu bahkan mendonorkan darahnya, sementara Yaren mengatakan kalau siswa yang mereka cari tidak bisa mendonorkan darahnya waktu itu.


Namun entah mengapa Rymi begitu tertarik, dengan kemampuannya ia mulai meretas data siswa yang memiliki darah AB itu, namanya Dennis Aksan, namun setelah Rymi berhasil meretas sayang sekali tempat tinggal siswa itu berjarak lumayan jauh dari kota, pria itu sepertinya sudah menikah dan meninggalkan kota ini, wajar saja ini sudah sangat lama sekali.


Rymi mulai berpikir, dirinya harus segera memutuskan sesuatu, namun sebuah panggilan telepon membuyarkan konsentrasinya.


"Ya..."


^^^"Rym, cepatlah! Ayaz... Telah terjadi sesuatu dengannya, cepatlah!"^^^

__ADS_1


Rymi langsung saja bangkit, wajahnya berubah panik, Yaren yang melihat itu langsung saja bertanya, ia takut terjadi sesuatu dengan Ayaz mengingat Rymi yang baru saja menerima panggilan telepon. "Apa terjadi sesuatu?" tanyanya cemas.


"Ayo kita pergi!" ajak Rymi.


Yaren mengangguk tanpa banyak bertanya lagi, ia juga tidak kalah khawatir, pikiran buruk sudah menghampirinya, meski ia mencoba untuk melawan semua itu namun entah mengapa rasanya tetap saja tidak bisa.


...***...


Seorang wanita tampak diseret paksa oleh kedua pengawal, wanita itu harus menelan bulat nasibnya yang nyatanya harus kembali menghuni penjara bawah tanah itu.


"Aku mohon, katakan, di mana suamiku?" tanyanya.


"Suamimu itu sangat payah, Samudra bahkan berhasil melumpuhkannya, mungkin saat ini suamimu itu sudah dibunuh oleh Samudra, kami tidak bisa berharap padanya, kami juga tidak bisa melepaskanmu, Tuan Samudra akan marah dan tidak akan mengampuni kami, tolong mengertilah sedikit!" ucap salah satu pengawal itu, sepetinya Amla sudah lihai melatihnya untuk berdusta.


Wanita itu menganga tidak percaya, kelapanya tiba-tiba berat dan seluruh penglihatannya menjadi gelap, tubuh kurusnya meluruh, ia pingsan.


Amla benar-benar geram, karena tubuhnya yang terluka, geraknya menjadi lamban dalam mengatasi masalah.


"Nyonya, apa Nyonya tidak akan mencari Tuan?" tanya salah satu orang kepercayaannya.


"Untuk apa?" tanya Amla balik.


"Saat ini Tuan sedang berada dalam genggaman Ayaz, jika publik mengetahui Tuan Sian menghilang..."


"Aahh, kau benar! Hemmm, aku sepertinya terlalu larut dalam permainan, bagaimana aku bisa melupakannya?" ucap Amla menyela tiba-tiba.


"Panggil beberapa media untuk datang, aku akan memberikan kabar tentang menghilangnya suamiku, namun sebelum itu, aku harus menghubungi pihak kepolisian, ya ya ya benar sekali."

__ADS_1


"Aku akan sedikit bermain-main lagi untuk membuat semuanya sempurna! Hahahaha!" tawa Amla menggelegar, bibirnya tersenyum smirk membayangkan apa yang akan terjadi.


"Baik Nona!"


Orang kepercayaannya itu langsung saja bergegas melaksanakan apa yang Amla perintahkan, Amla yang saat ini masih berada di kursi roda karena pinggangnya yang patah harus memaksakan diri untuk mengunjungi kantor polisi, dia akan berakting sebagai istri yang berbakti dan amat sangat merasa galau atas menghilangnya sang suami.


Di kantor polisi,


"Apa anda yakin suami anda menghilang, waktu saat ini belum sampai dua kali dua puluh empat jam, apa anda memiliki bukti bahwa Tuan Sian memang menghilang, maksud saya bisa saja kan Tuan Sian sedang bepergian ke luar kota, mengingat beliau adalah orang yang cukup sibuk di negara ini." tanya seorang polisi yang akan mengetikkan laporan.


"Aku sebenarnya juga ingin berpikir seperti itu, tapi... Kami tidak bisa melepaskan komunikasi begitu saja, kau tau kan bagaimana harmonisnya keluarga kami, harus kuakui rumor beredar memang sesuai akan faktanya, aku bahkan tidak bisa tidur tanpa mendengar suaranya terlebih dahulu, seharian tanpa kabar darinya, rasanya benar-benar gila, aku sungguh frustasi." Amla menyela air mata buayanya yang sedikit menetes, wanita itu menunduk dalam seolah begitu bersedih.


"Nyonya, kapan kiranya komunikasi terakhir anda dengan Tuan Sian?" tanya polisi itu lagi.


"Pagi kemarin!" Amla bahkan dengan segera mengambil ponselnya, beruntung saja Sian memang mengirimkan pesan singkat padanya pagi kemarin, tertulis di sana Sian yang begitu perhatian padanya, mengingatkan jangan lupa sarapan dengan emoticon hati sebanyak tiga biji berwarna merah menghiasi. Hingga, Amla tidak perlu repot-repot untuk membuat polisi di hadapannya ini percaya.


Hal itu juga bisa memperkecil kemungkinan keterlibatan dirinya dalam hilangnya Sian.


"Aku bahkan menatap pesan ini setiap satu jam sekali, tapi... Sianku tidak juga memperhatikanku lagi, nomornya sudah tidak aktif, katakan... Katakan, sebagai seorang istri, aku harus bagaimana selain melaporkan hilangnya suamiku pada pihak yang berwajib, aku... Aku sungguh meminta bantuan kalian, mohon bantulah aku!"


"Nyonya Amla, tenanglah, saya akan membuatkan laporannya, dan tim kami akan berusaha sebaik-baiknya untuk menemukan Tuan Sian, anda bisa menenangkan diri anda di rumah sembari menunggu kabar, dan juga jangan lupa jaga kesehatan!" ucap polisi itu.


"Hiks hiks, kau tau, ini sungguh sangat menyiksaku... Temukan dia, aku mohon!" ucap Amla sembari menangis terisak.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2