Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa...


__ADS_3

Amla merasakan ada yang aneh saat dirinya sudah sampai di rumahnya, kediamannya itu tampak sepi, di luar tadi tidak ada satupun penjaga yang bertugas, hal itu semakin menambah tingkat kemarahannya.


Lalu bertemu dengan seorang pelayan, ia menyergah langkah pelayan itu dan menatapnya tajam. "Mau ke mana kau?" tanyanya sinis.


"Kami mau berkumpul di aula!" ucap pelayan wanita itu.


"Aula? Berkumpul?"


Pelayan itu, tanpa menghiraukannya malah sudah bergegas pergi, Amla yang penasaran pun segera beranjak menuju Aula.


Namun setelah sampai di aula, matanya menatap kaget sesuatu yang terjadi di sana. Semua orang sudah berkumpul, dan dilihatnya orang-orang kepercayaannya sedang kesulitan menenangkan banyaknya pekerja yang bagai seperti ingin melakukan demonstran padanya.


"Nyonya Amla!" teriak kepala pengawal. Ia yang kemarin pernah di cambuk tanpa ampun oleh Amla itu, kini sedang menguatkan tenaganya untuk berteriak, ia siap memaki wanita itu hari ini karena dia dan seluruh pekerja di kediaman Sian telah memutuskan untuk mengajukan pengunduran diri, disetujui atau tidak maka mereka akan tetap pergi dari kediaman Tuan mereka ini, yang rasanya masih tidak mereka percayai, kemarin tempat inilah yang menjadi penopang hidup mereka, tempat inilah yang menjadi sumber penghidupan mereka. Namun, hari ini tempat ini harus mereka tinggalkan dengan sejuta kenangan di dalamnya.


Bukan tanpa perhitungan, bahkan sebagian dari mereka ada yang sudah puluhan tahun bekerja di kediaman Sian Huculak itu. Dan hari ini harus rela melepaskan pekerjaan mereka.


"Apa-apaan kalian? Hei, apa maksud kalian semua melakukan ini!"

__ADS_1


Dengan tertatih dan didampingi kedua anak buahnya, kepala pengawal itu melangkah mendekati Amla.


"Hari ini, Saya... Ardan Araulan, ketua pengawal yang diangkat oleh Tuan Sian Huculak pada tahun 2017 lalu, saya mengatakan dengan sangat sadar... Mulai hari ini, saya akan berhenti dari pekerjaan saya, karena saya tidak sudi bekerja sama dengan orang yang telah membunuh Tuan Sian Huculak."


"Saya, Tommy Heizer, juga memutuskan mengundurkan diri, dengan alasan yang sama!" ucap pengawal di sebelahnya yang tengah membantu ketua mereka berdiri.


"Saya Caka Yazar , juga memutuskan mengundurkan diri, dengan alasan yang sama." kali ini pengunduran diri itu terucap dari mulut pengawal di sebelah kiri.


Amla tidak bisa berkata apa-apa, yang pasti ia terkejut, bagaimana bisa?


Amla benar-benar panik, sepanjang perjalanan tadi ya tak hentinya mengutuk para pengawal yang dianggapnya berkhianat padanya itu dan berencana akan menyiksa lagi seluruh pengawal itu dengan tanpa ampun. Tapi apa yang terjadi setelah dirinya sampai di kediamannya ini sungguh tidak pernah dirinya duga, ini benar-benar gila semua pekerja di kediamannya serentak mengundurkan diri.


"Heh!" Amla tersenyum miring, "Jadi kalian ingin mengundurkan diri?" tanyanya tak kalah berteriak.


Tidak ada sahutan namun para pekerja di kediamannya itu bersikap seolah tidak menghargainya lagi.


"Kalian!" teriak Amla pada orang kepercayaannya,

__ADS_1


"Tangkap mereka semua dan kurung!" ucapnya memerintah.


Orang suruhan Amla yang berjumlah tak kurang dari lima puluh orang itu bergegas ingin melaksanakan perintah Tuan mereka, namun langkah mereka terhenti kala salah satu pengawal menembakkan senjata api ke arah atas. Kemudian dengan sigap para pengawal yang sayangnya berjumlah lebih banyak dari mereka menodongkan senjata api masing-masing.


"Jangan lakukan Apapun atau kalian benar-benar menginginkan pertumpahan darah di sini!" ancam salah satu dari para pengawal.


Amla melihat itu, ia tidak tahan dan lagi-lagi memerintah, "Jangan hiraukan mereka, lakukan apa yang aku perintahkan, tangkap dan kurung semua orang yang berkhianat!" kita hanya tanpa peduli dengan peringatan yang diberikan pengawal yang melawannya.


Orang suruhan Amla ingin menuritinya pun nyatanya tidak bisa, mereka sadar jika dihitung dengan nyawa mereka memang kalah banyak, tidak akan mungkin dengan jumlah mereka yang hanya lima puluh orang ini bisa berhasil menangkap semua orang yang berada di aula.


Pelan namun pasti kedua tangan orang suruhan Amla itu juga terangkat ke atas menandakan tanda menyerah.


"Apa..." gumam Amla tidak percaya dengan yang disaksikannya.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2