
Brakkk!
“Aw!”
“Kamu tidak hati-hati, ini kantor. Diharapkan untuk jangan terburu-buru, apalagi di tempat yang lumayan ramai seperti ini!” ucap Sam kesal saat dirinya harus terjatuh di hadapan banyaknya staf kantor karena tertabrak oleh seorang wanita.
“Maaf! Saya sedang terburu-buru, saya berjanji tidak akan melakukannya lagi.” Ucap Rymi. Hari ini, adalah hari pertamanya bekerja, semoga tidak menunjukkan tanda-tanda kesialan.
“Hei, kau! Kau tidak tau siapa beliau?” tanya ajudan pribadi Sam.
“Maaf, tapi kan saya sudah minta maaf, saya benar tidak melakukannya secara sengaja, saya baru di sini dan jujur saya juga tidak mengetahui siapa beliau ini!” jawab Rymi, lugas sekali. Sam sedikit kagum karena wanita di hadapannya ini bisa bersikap tenang.
“Beliau adalah Pak Rangga Donulai! Pemimpin di perusahaan ini.”
“Oh, kalau begitu sekali lagi saya akan meminta maaf, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik!” ucap Rymi. Tak disangka, ternyata targetnya sudah berada di depan mata.
“Hah!”
Apa maksudnya wanita ini, bukannya kata seperti itu harusnya aku yang mengatakan. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Konyol!
“Saya adalah orang yang bertugas untuk menggantikan Sekretaris Yan! Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati Pak!” ucap Rymi.
“Sekretaris Yan?”
“Iya Pak!”
“Bagaimana bisa orang itu tidak mengabari soal ini? Ivan, selidiki ini?” titah Sam.
“Baik Pak!”
Sam lalu melangkah meninggalkan Rymi, sementara Rymi, wanita itu tersenyum smirk sembari menatap punggung targetnya yang semakin menjauh.
“Aku sepertinya punya cara yang lebih mudah untuk membawa dia dalam genggamanku!” gumamnya.
Rymi mengambil ponselnya di tas, mengirimkan pesan singkat pada Ayaz, merencanakan untuk bertemu saat jam makan siang.
...***...
Pagi ini Yaren bangun sangat kesiangan, semalam dirinya tidak bisa tidur karena rumah yang dirasanya begitu sepi. Ayaz benar-benar sesuai pesan, tidak akan pulang.
Saat siang begini sebenarnya Yaren cukup lega jika tidak ada Ayaz, tidak ada ancaman pria itu yang begitu membuatnya takut.
“Enaknya ngapain ya?” tanya Yaren pada diri sendiri.
Yaren membuka lemari, mencari-cari tentang Ayaz, siapa tau saja Yaren menemukan sesuatu yang bisa membuatnya berbalik mengancam Ayaz.
__ADS_1
Memeriksa laci dan apapun, Yaren benar-benar menggeledah rumah Ayaz.
“Sebenarnya siapa Ayaz? Aku harus tau dulu siapa dia, apa pekerjaannya!”
Brakkk!
Sebuah map yang tertumpuk di lemari terjatuh, begitu banyak hingga menimbulkan suara cukup keras. Beruntung saja Ayaz sedang tidak di rumah, kalau tidak, sudah dipastikan Yaren pasti akan mendapatkan hukuman lagi.
“Apa ini?”
Yaren membuka salah satu map itu, sampulnya berwarna pink terang, sebuah dokumen perusahaan yang berlokasi di kota Z, sepertinya map ini berisi dokumen kerja sama antar perusahaan. Yaren kurang mengerti dengan masalah perkantoran, namun dirinya tau secara garis besar.
“Apa sebenarnya pekerjaan Ayaz?”
Tangan Yaren membuka lagi map lainnya, beragam nama perusahaan dirinya baca pada setiap masing-masing map.
Hingga sebuah laporan keuangan menarik matanya untuk meneliti. Asosiasi perdagangan, Ayaz terlibat di dalamnya dan yang membuat Yaren lebih tidak percaya. “Pengedaran uang palsu!” Tangan Yaren bergetar, apa maksudnya?
Aku bukan orang baik Yaren, tak seharusnya kau mengenalku.
Mencari-cari tentang Ayaz di map-map lainnya. Narkoba, obat-obatan terlarang, persenjataan ilegal, persaingan bisnis, prostitusi, kasus pembunuhan dengan berbagai nama yang ditargetkan di dalamnya, denah lokasi berbagai perusahaan, apa maksudnya semua ini?
“Ayaz, apa dia?”
“Tidak, tidak mungkin Ayaz sekejam itu!”
“Pembunuhan atas nama Ali Yarkan, pewaris hotel ternama di negara ini, Ayaz yang membunuhnya! Tidak... Tidak mungkin.”
Yaren pernah mendengar berita itu, berita yang beredar sekitar tiga bulan yang lalu. Bahkan mungkin kasusnya sedang diusut tuntas, pewaris hotel ternama itu diberitakan telah diracun oleh orang yang saat ini masih belum diketahui siapa namanya, hanya sebuah foto yang belum diketahui kebenarannya. Hingga sebagian pihak menyimpulkan mungkin saja Ali Yarkan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Publik terpecah menjadi dua kubu, ada yang percaya dan ada juga yang masih berharap pelaku pembunuhan itu akan segera ditemukan.
Yaren segera mengemas semua map itu, mengembalikan ke tempat semula dengan rapi, tangannya bergetar saat mengetahui sebuah kenyataan.
Yaren berlari menuju ranjang, air matanya mengalir deras, wanita itu memeluk lututnya mencoba untuk menguatkan diri. Sebenarnya, manusia semacam apa yang bersamanya kali ini? Penjahat, Ayaz benar-benar seorang penjahat.
Tubuh Yaren lemas, pemikirannya tertuju pada Ayaz, dan Yaren mulai mengingat awal mula pertemuannya dengan Ayaz, saat pria itu sedang dikejar oleh sekelompok orang dengan membawa senjata tajam. Seharusnya dari situ saja Yaren bisa berpikiran bahwa Ayaz bukanlah orang baik.
“Aku harus keluar dari rumah ini!” gumamnya, seketika rasa takut mulai menguasai dirinya.
Jangan sekali-sekali berniat untuk meninggalkan rumah ini lagi, kau tidak akan tau jalan keluar dari hutan ini, dan aku tidak akan bisa menolongmu jika saja sampai terjadi sesuatu padamu.
“Tapi bagaimana caranya?”
...***...
__ADS_1
“Sudah kau kerjakan semuanya?” tanya Rymi, saat ini dirinya sedang berada di sebuah cafe untuk makan siang, tujuan pertamanya adalah menemui Ayaz.
“Sudah!”
“Kapan kau akan mengirimnya?”
“Aku tidak perlu mengirimnya, buat apa mempunyai orang dalam jika aku juga harus masih mengirimkannya, selanjutnya giliran kau!” ucap Ayaz dengan kerlingan mata genitnya.
“Ya baiklah, serahkan saja padaku!”
“Apa rencanamu?” tanya Ayaz lagi.
“Aku rasa ini cukup menarik!” Rymi tampak bersemangat.
“Ada apa?”
“Aku kira Presdir DN Company adalah pria tua yang buncit dan sudah keriput, tapi kau tau, dia seumuran kita, pembawaannya tegas tapi sepertinya sulit ditaklukan, tapi yah kau tau lah!”
“Hahaha, lakukan saja apa maumu! Hanya saja jangan memakai perasaan, kau tau Marco tidak akan mengampunimu!”
“Iya, mulai bawel anda!” dengus Rymi.
“Ayaz, sebaiknya kau tidak berkeliaran, atau kau samarkan saja wajahmu, aku takut kasus yang belum tuntas akan membahayakanmu!” ucap Rymi khawatir. Tadi saat dirinya hendak pergi ke kantor, Rymi tidak sengaja berpapasan dengan beberapa anggota kepolisian di jalan, Rymi melihat anggota kepolisian itu menuju cafe di seberang jalan tempat Ayaz menghabisi Ali Yarkan, mungkinkah akan diadakan investigasi lebih lanjut. Rymi hanya bisa menebak begitu.
Dan karena sebab itu jualah dirinya harus terlambat untuk masuk kantor di hari pertamanya bekerja, dan malah dengan cerobohnya menabrak sang pemimpin perusahaan.
Sayang saja itu adalah Rymi yang tidak tau malu, jadi dirinya masih bisa bersikap biasa saja atas ketidaksengajaannya.
“Haahh!” Ayaz menghembuskan napas berat, “Aku sudah bersembunyi, mereka belum menyerah, sepertinya aku harus menumbuhkan jambangku!”
“Terserah kau saja, kau tidak bisa mengambil risiko, mereka tidak akan semudah itu menutup kasus itu.”
“Kau tenang saja, dari sidik jari semuanya aman, entah mengapa mereka bisa menyimpulkan bahwa akulah pembunuhnya.” ucap Ayaz mencoba menenangkan dirinya dan Rymi.
“Fotoku juga ada masuk koran, menurutmu... Apa aku harus menyelesaikannya, aku sedikit lelah jika terus bersembunyi.”
“Ck, harus ada tumbal jika kau memilih keluar dan menuntaskannya. Ini tidak bisa ditutup begitu saja.” Saran Rymi.
“Yah kau benar, setelah misi pertama kita ini, nanti akan aku pikirkan siapa yang akan aku korbankan.” Ayaz tersenyum smirk.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1