Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kasus Ali Yarkan.


__ADS_3

Kadang, ada kalanya orang hidup hanya untuk memuaskan orang lain, dituntut untuk patuh meski rasanya begitu menyesakkan.


Melihat kaca hari ini, menyadarkan bahwa sebenarnya... Tidak ada yang bisa mengerti kita selain diri kita sendiri.


Dan, sepertinya hari baru sudah dimulai.


"Kau terlambat?" tanya Sam, dia menatap garang sekretarisnya itu.


"Maafkan saya Pak!" Rymi hanya bisa berkata maaf, sedang hatinya tidak selaras, nyatanya dia masih belum puas mengumpat.


"Jangan kau pikir aku menyukaimu, sehingga kau bisa bertindak sesukamu!" pekik Sam.


"Saya tidak pernah berpikir seperti itu, sungguh!" sahut Rymi.


"Apa alasannya?" tanya Sam, sebenarnya dia enggan marah-marah begini pada Merve, tapi Merve bahkan sudah telat dua jam dari jam masuk, bagaimana dia bisa mengabaikan itu, sebagai seorang pemimpin dia dituntut untuk memperlakukan semua pekerjanya sama. Tidak memspesialkan satunya.


"Saya harus pergi ke suatu tempat, dengan menggunakan Bus, saya sudah memprediksi supaya saya terhindar dari keterlambatan, namun Bus yang saya tumpangi nyatanya mengalami sedikit masalah." dusta Rymi.


"Apa kau bisa dipercaya? Apa kau bisa mempertanggungjawabkan alasanmu itu?"


"Iya Pak!"


"Percaya diri sekali kau!"


Hendak rasanya Rymi mencekek leher itu, atau mengeratnya dengan dasi yang masih terpasang tapi itu, namun percayalah ia masih mencoba menahan diri.


Sungguh menyebalkan, saat jam makan siang tiba nanti padahal dia akan pergi ke ruanganku menjelma menjadi kucing yang imut sekali, dasar!"


"Apa yang kau pikirkan? Hei, kembalilah bekerja sana!" suruh Sam.


...***...


"Jadi... Apa kau mengenalnya?" tanya penyidik, saat ini pihak kepolisian tengah mengintrogasi seorang yang digadang mengetahui sesuatu tentang kasus pembunuhan Ali Yarkan.


"Saya sempat berbicara dengan pria itu pada malam Pak Ali Yarkan ditemukan tewas."


"Di mana? Tepatnya pukul berapa?"


"Di loby hotel, dia sedang berbicara dengan seseorang pada waktu itu lewat telepon, namun perbincangannya terhenti karena saya menyapa dan kemudian kami sedikit akrab."


"Punya hubungan khusus?"


"Tidak ada, hanya saja dia pernah mengantarkan beberapa file ke kantornya Pak Ali Yarkan."


"Sering?"


"Pernah beberapa kali Pak!"


"Beberapa kali ya... Hemmm, informasi lainnya?"

__ADS_1


"Saya tidak mengetahui lagi tentang itu Pak, saya berbincang padanya sekitar pukul sembilan malam, dia juga masih mengenakan pakaian kantor, dan saat itu Pak Ali berada di salah satu kamar VIP di hotelnya."


"Kau mengetahui namanya?"


"Dean Pak!" jawab seseorang itu.


"Dean?" heran penyidik.


"Iya Pak, pria di foto itu, dia adalah Pak Dean Aries."


Sebuah fakta baru, pihak kepolisian mencoba meneliti sebuah nama yang lagi-lagi mencuat di penyidikan kali ini, terlalu rumit bahkan beberapa bukti pun sulit ditemukan, ada pun yang telah ditahan pihak kepolisan namun sulit untuk dipercayai.


"Tunggu sebentar, kami akan mencocokkan datanya."


"Baik Pak!"


Dua puluh menit berlalu, pihak kepolisian sudah selesai meretas data seseorang yang bernama Dean Aries, seorang warga negara Singapura yang berdomisili di negara ini, penampilannya memang cukup mirip dengan apa yang beredar di foto.


"Dia?"


"Masih belum pasti Pak!"


"Retas segala tentang pria ini, hubungi dia segera." titah ketua penyidik.


"Baik Pak!"


"Racun itu, racun yang sama yang kami temukan di gelas wine milik saudara Ali Yarkan, racun itu juga ditemukan di sebuah kamar hotel yang ditinggali oleh pria itu, dan sayangnya Ali Yarkan yang memesankan khusus salah satu kamar hotelnya untuk pria itu, sehingga kami tidak bisa mendapatkan informasi terkait data-datanya."


"Apa lagi yang pernah kau bincangkan padanya, meski diluar pekerjaan pun silakan katakan?"


"Tidak ada Pak, Pak Dean orangnya cukup berwibawa, dia hanya bicara seperlunya, lagi pula dia hanya setidaknya dua kali datang ke kantor Pak Ali."


"Apa kau tau ada hubungan apa selain rekan kerja antara Ali Yarkan dengan si Dean ini?"


"Tidak Pak!"


"Kau, jangan berani memberikan keterangan yang tidak sesuai untuk penyidikan ini, jika kami mendapatkan bukti yang tidak sesuai akan pernyataan anda kali ini, maka anda bisa saja dinyatakan terlibat." ucap penyidik itu lagi, membuat seseorang itu tertunduk dan sekalian lemas.


"Apa kau yakin keterangan yang kau berikan ini bisa dipertanggungjawabkan?"


"Yakin Pak!"


...***...


"Mau makan siang denganku?" tanya Sam.


Heh, mati saja sana kau!


"Saya rasa, saya harus mengejar keterlambatan saya Pak, maaf sudah membuat anda tidak nyaman, namun dua jam yang saya lewatkan tadi, sepertinya saya berniat menggantinya dengan jam makan siang ini!" sahut Rymi. Wanita itu masih berkutat dengan sejumlah laporan yang akan dirinya berikan pada Sam sore nanti.

__ADS_1


"Baiklah!" sahut Sam acuh.


Kenapa dia, biasanya dia akan merengek meminta aku menurutinya, mengancamku dengan mengandalkan nama Donulai.


Namun Rymi cukup senang, karena istirahat kali ini dirinya tidak akan dipengangkan oleh ocehan dari Bosnya itu, yang tak berhenti mengejarnya meski sudah berapa kali Rymi katakan 'tidak'.


Rymi kembali berkutat dengan pekerjaannya, meski Marco memerintahkannya untuk dekat dengan pria itu, namun itu masih belum juga dirinya lakukan, wanita itu takut, takut menyakiti seseorang yang katanya berharga bagi Ayaz.


Kau harus membuat dia bergantung padamu, cari kelemahannya, cari kelemahan perusahaan itu, aku yakin kau bisa diandalkan.


Kata-kata itu selalu saja mengganggunya, Marco benar-benar tidak membiarkannya hidup tenang.


Dalam kesibukannya, ponsel Rymi bergetar, dilihatnya wajah Ayaz menghiasi panggilan pada aplikasi hijau miliknya itu.


"Ya!"


^^^"Kau mengirimkan sesuatu?"^^^


"Aku tidak bisa tinggal diam saja."


^^^"Kau tidak perlu terlibat Rym."^^^


"Bagaimana aku tidak terlibat, hei bodoh! Hari ini seorang saksi lagi-lagi di panggil, pria yang pernah menyapamu waktu itu, dia bahkan membocorkan identitasmu, untunglah kau selalu berjaga-jaga."


^^^"Aku sungguh tidak ingin melibatkanmu!"^^^


"Aku juga andil, kalau kau ditanggap, tidak peduli apapun, aku tetap akan menyerahkan diri."


^^^"Rym, dengar... Apa kau tidak percaya padaku, hingga kau begitu merasa ketakutan?"^^^


"Yang kau hadapi kali ini, bukan hanya keluarga Ali Yarkan ataupun pihak kepolisian, tapi juga Marco, lalu sialan... Bagaimana aku bisa duduk diam hanya menonton pertunjukannya?


^^^"Terimakasih sudah mencemaskanku Rym, tapi tidak perlu sejauh ini."^^^


"Apa itu artinya kau mulai menganggapku orang lain, heh aku... sulit kupercaya Ayaz!"


^^^"Rym, aku mohon hentikan! Jika sesuatu terjadi padaku, kau satu-satunya harapan untuk aku menitipkan Yaren, aku tidak percaya pada siapapun di dunia ini, bagaimana bisa kau mengatakan aku menganggapmu orang lain?"^^^


"Tidak akan ada yang akan terjadi, baik kau ataupun kita, aku tidak akan membiarkan seseorang mengungkap kasus ini."


"Berhati-hatilah Ayaz, Marco... Aku tidak menemukan sisi baik dalam dirinya lagi kali ini."


^^^"Rym... Mengertilah, aku tidak ingin membahayakanmu, ini juga bukan tentang mereka, ini tentang kau dan Marco, aku tidak ingin kalian mengalami keretakan, seumur hidupnya selama aku mengenal kalian, dia sangat menyayangimu!"^^^


"Dasar bodoh!"


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2