
Jovan melihat beberapa tamu sedang berkumpul, tampak seperti berdesak-desakan. Awalnya ia tidak peduli, namun setelah mendengar sebuah teriakan ia pun terang mendekat.
"Hei sialan! Kau pikir kau siapa? Kau pikir aku akan takut denganmu? Jangan terlalu bangga, aku... Tidak akan pernah tunduk pada siapapun! Lihat saja, kau akan menyesali kesombonganmu ini"
Jovan semakin mendekat, lalu ia akhirnya tau apa yang membuat wanita itu berteriak menantang begitu.
"Kapan mereka kembali?" gumam Jovan bertanya sendiri, ia melihat adiknya itu sudah kembali dari Itali, dan sayang sekali tidak mengabarinya.
Jovan menonton apa yang terjadi selanjutnya, dan saat ia melihat Ayaz yang menjambak rambut Wana dirinya pun mulai benar-benar memahami situasi.
Melihat Yaren yang menampilkan wajah serba salah membuatnya sedikit bingung harus melakukan apa, baginya ini adalah urusan keluarga Yaren dan Ayaz, rasanya tidak begitu berkenaan dengannya, namun sayangnya hatinya ini tidak bisa berdiam diri saja, tangan Jovan juga mengepal dan seolah setuju tentang tindakan Ayaz.
Jovan mulai melangkahkan kakinya, lalu tangannya dengan cepat menahan tangan Ayaz yang masih menjambak rambut Wana.
"Hentikan Ayaz!" cegahnya.
Ayaz menoleh, mendapati Jovan yang mencoba menghentikannya ia tersenyum remeh. "Kenapa? Kau kasihan?" tanyanya.
Jovan menggeleng, "Kau tidak melihat istrimu!" bisik Jovan, "Lihatlah, dia begitu serba salah!"
Ayaz menghentikan jambakannya, ia kemudian beralih menatap Yaren yang memang tampak tidak nyaman.
"Dan juga, jangan kau kotori tanganmu untuk bersentuhan dengan iblis seperti dia!" lanjut Jovan berbisik.
Argantara dan Wana tampak terkesima saat dilihatnya Jovan yang membela mereka, tidak tau saja kalau sebenarnya Jovan tidak ada bedanya dengan Ayaz sama-sama membenci mereka.
Jika Ayaz benci karena Yaren yang selalu terkucilkan, lain halnya Jovan, karena kakak kandung Yaren itu merasakan kebencian lebih dari itu, selain karena Yaren, hal yang lebih membuatnya benci adalah bagaimanapun Argantara baginya adalah penyebab Papa dan Mamanya berpisah.
"Jovan!" pekik Wana kegirangan. Meski pernah membenci karena Jovan yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan yang menimpa Raisa, tapi melihat Jovan yang kini membelanya Wana sungguh terpukau, ia dengan pasti akan berada di pihak Jovan.
Jovan tersenyum smirk, sepertinya keluarga iblis ini telah salah paham mengartikan maksudnya.
"Ini adalah salah satu hadiahku!" ucap Jovan, "Untuk pernikahan Raisa!" lanjutnya.
"Apa?" Argantara dan Wana terkejut hampir bersamaan.
__ADS_1
"Ya... Apa kalian tidak merindukan anak sulung kalian?" tanya Jovan, nadanya menyindir sengaja ia keraskan supaya para tamu bisa mendengar perbincangan mereka. Maka dengan itu, orang akan mengetahui wajah keluarga Argantara yang sebenarnya.
Wana tersenyum kecut, sementara Argantara sudah cukup mengerti, "Tentu saja!" ucap Argantara mengimbangi pertanyaan Jovan.
"Setelah menikah, Yaren sama sekali hilang kabar, kami sekeluarga jadi tidak bisa menghubunginya!" lanjut Argantara meski tidak sepenuhnya berdusta.
"Oh yaaa?" kali ini Ayaz, ia sungguh muak dengan wajah Argantara yang mahir berakting ini.
"Aku bahkan masih ingat saat kau mengusirnya dari rumah!" keras Ayaz.
Yaren mencubit pinggang Ayaz sedikit keras, hingga terdengar rintihan dari sang empunya, "Aww!"
"Ayaz, jangan lagi lanjutkan, aku tidak mau, kasihan Raisa, meski bagaimanapun ini adalah hari bahagianya!" ucap Yaren mengiba.
"Tidak, bukan seperti itu yang terjadi!" Argantara kalut, mendengar perkataan Ayaz, beberapa tamu mulai berbisik keras, ada yang mulai mengumpati keluarganya, kebanyakan dari mereka seolah tidak percaya bahwa keluarga Argantara bisa melakukan itu pada anak sendiri.
Wana pun demikian, ia tidak menyangka kalau suami dari Yaren akan seberani itu.
"Lalu? Bagaimana kejadian sebenarnya?" tantang Ayaz.
"Apa kau akan mengatakan bahwa Yaren dihamili olehku dan kau merasa tidak terima hingga berkata 'Pergi dari rumah megahmu itu!' Begitu?" ucap Ayaz tanpa malu.
"Atau kau akan berkelit dan mengatakan kebohongan bahwa putrimu sendirilah yang memutuskan untuk kabur dengan lelaki lain?"
"Hahahaha! Miris sekali!"
Ayaz benar-benar puas melabrak Argantara, ini belum seberapa baginya, masih ada begitu banyak hal tentang betapa busuknya keluarga Argantara yang tidak diketahui orang banyak. Dan dia sangat siap untuk membeberkan semuanya.
Hari ini, hari pernikahan bagi Raisa, dan juga hari kehancuran untuk Argantara.
"Cukup!" pekik Wana, ia tidak terima segala penghinaan yang seolah tiada hentinya ini, "Saat itu suamiku dan aku sedang marah, bayangkan saja orang tua mana yang akan terima jika anak perempuannya dihamili, bahkan tanpa rasa bersalah mengakui dan bangga akan perbuatannya!" bela Wana untuk keluarganya.
"Ah ya? Benarkah?" tantang Ayaz, "Apa kau baru saja mengatakan, orang tua mana yang tidak akan marah jika anak perempuannya dihamili?"
Ayaz melirik ke arah Jovan, lalu tersenyum smirk, Jovan menjadi serba salah, Ayaz ini sepertinya memang ingin menjebaknya dalam situasi sulit. Salahnya juga yang bodohnya ingin ikut campur.
__ADS_1
Wana dan Argantara saling pandang, mereka memang menyembunyikan sesuatu dan mereka berpikiran salah satu dari orang-orang yang dihadapinya ini mengetahui rahasia mereka, apa kemungkinan terburuk akan segera terjadi.
Bagaimana ini, mau menghindar pun mungkin tidak akan bisa lagi, mau menghadapi tapi rasanya sudah tidak sanggup menanggung malunya jika saja rahasia besar mereka benar-benar terungkap di sini.
Yaren beberapa kali berniat menghentikan Ayaz, namun tetap saja Ayaz tidak mau peduli, dan lagi saat ini Jovan kakaknya juga terlihat mendukung tindakan Ayaz, jadi Yaren tidak bisa untuk meminta bantuan.
Yaren hanya bisa berdoa, semoga saja keadaan tidak semakin memburuk.
"Hahahaha!" Ayaz tergelak keras, para tamu undangan yang melihat kejadian itu dibuat heran olehnya, "Hei kalian!" teriaknya pada orang-orang di sana.
"Apa kalian mau mendengar sesuatu yang menggemparkan?" tanyanya masih dengan sedikit berteriak.
Argantara dan Wana semakin kalut, keduanya melirik Jovan meminta bantuan namun Jovan sama sekali tidak menanggapi.
"Pa! Apa dia tau yang terjadi?" bisik Wana.
"Entahlah, tapi jika melihat gelagatnya itu sungguh menakutkan!" sahut Argantara.
Wana menarik napasnya berat, bagaimanapun ia harus sesegera mungkin menghentikan ini.
"Pa, mohon lakukan sesuatu!" pinta Wana.
"Iya, tapi apa?" Argantara tampak bingung.
Di saat Wana dan Argantara serta para tamu undangan begitu bingung akan pertanyaannya, tak lama Ayaz menepuk kedua tangannya sebanyak dua kali. Lalu dari pintu utama masuklah seorang wanita dengan membawa seseorang yang sepertinya sedang menjadi tawanan.
Menggunakan kursi roda dengan kedua tangan dan kaki terikat.
Semakin mendekat, kemudian para tamu undangan pun memberikan jalan. Mereka juga sebenarnya penasaran, di hari bahagia ini mengapa bisa terjadi hal semacam itu.
Wana semakin tercekat, ia mematung tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seseorang yang berada di kursi roda itu jelas saja ia mengenalnya.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1