Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bujuk rayu Sam.


__ADS_3

Ayaz masih berada di kamar mandi, sudah hampir satu jam dirinya tidak keluar, membuat Yaren begitu khawatir.


"Ayaz..." panggil Yaren yang entah kesekian kalinya.


Tidak ada sahutan, pikiran Yaren menjadi tidak tenang, tadi saat Ayaz datang dirinya melihat wajah yang tidak bersahabat dilayangkan suaminya itu. Dengan tanpa berkata sepatah katapun Ayaz langsung saja masuk ke kamar mandi.


"Ayaz..."


Tak lama Ayaz keluar, dengan wajah yang masih begitu kacau, Yaren bisa menebak mungkin telah terjadi sesuatu. Namun diluar dugaan, Ayaz langsung saja memeluknya saat sudah keluar dari kamar mandi.


"Biarkan seperti ini!" pinta Ayaz.


Yaren pasrah, meski dirinya ingin bertanya mengapa bisa begitu, namun dia urungkan, biarkan Ayaz tenang dulu.


Lama, Ayaz memeluknya erat sekitar lima belas menit, kaki Yaren mulai pegal sehingga Yaren terpaksa mendongakkan wajahnya.


"Cup!" sebuah kecupan mendarat di bibir Yaren saat ia mendongakkan kepalanya. Serangan tiba-tiba yang dilayangkan Ayaz berhasil membuatnya salah tingkah.


"Manis sekali!" ucap Ayaz. Matanya mengerling genit pada istrinya.


Yaren lagi-lagi tertunduk, namun tangannya berusaha melepaskan pelukan Ayaz.


"Kau sudah makan?" tanya Ayaz.


"Sudah!" jawab Yaren.


"Mau keluar?" tanya Ayaz lagi.


"Ke mana?"


"Menemaniku mencari makan. Aku lapar, belum makan."


"Ya sudah!"


Yaren mencari baju di lemari, lalu berganti pakaian dengan segera.


"Sudah siap?" tanya Ayaz.


"Sudah!" jawab Yaren.


Keduanya keluar kamar, ini kali kedua Yaren mengikuti Ayaz berjalalan di kota.


"Ayaz!" seru Yaren.

__ADS_1


"Hemmm."


"Kita mau ke mana?" tanya Yaren.


Kaget karena Ayaz tidak memakai mobil untuk mengajaknya keluar, apa mereka akan berjalan kaki?


"Di seberang sana, aku lihat ada warung ayam bakar, sepertinya makan itu malam ini cukup enak." jawab Ayaz.


Yaren mengangguk, dirinya juga sudah lama tidak memakan makanan yang satu itu.


"Ayaz!" serunya lagi.


"Kenapa?" Ayaz menoleh ke arah istrinya.


"Aku capek!" keluh Yaren, Yaren memakai heels saat ini, tentulah berjalan kaki bukan hal yang mudah baginya, apalagi mereka berjalan sudah cukup jauh.


"Naiklah!" titah Ayaz.


Yaren terkejut, Ayaz memberikan punggungnya tiba-tiba, mengisyaratkan untuk Yaren naik di atas sana.


"Ahh tidak-tidak, aku kuat kok! Nih, lihat...Yuk jalan lagi." tolak halus Yaren.


Ayaz tidak tinggal diam, tangannya mulai mengangkat tubuh Yaren, menggendong istrinya itu ala bridal style. Dirinya sadar Yaren sedikit kesusahan berjalan, dan entah mengapa dia menjadi sepeduli itu.


"Tidak ada orang!" tolak Ayaz yang masih terus melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan Yaren.


Jalanan sudah tampak sepi, jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, hotel mereka menginap memang letaknya di pinggiran kota sehingga waktu larut malam begini hanya ada beberapa kendaraan yang lewat.


Yaren menyembunyikan wajahnya di dada Ayaz, dan terlihat mulai mengalungkan tangannya di leher sang suami, malu! Bukan hanya pada orang yang melihat tingkahnya dan Ayaz, namun juga malu pada Ayaz sendiri.


...***...


Sam baru saja pulang dari kantornya, dilihatnya sang Ayah nampak termenung.


"Yah!" panggilnya.


"Hemmm."


"Maafkan aku!" ucap Sam, langkahnya mulai mendekat kemudian mengambil tangan Tuan Donulai dan menggenggamnya erat seolah ingin memberikan kekuatan.


"Mengapa dia keras kepala?" tanya Tuan Donulai pelan, Sam mengerti pertanyaan itu menyangkut siapa.


"Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan di hampir seluruh hidupnya, aku mohon Ayah, jangan salahkan Ayaz, aku yakin Ayaz akan mengerti jika saja kita bisa mendiskusikan semua ini secara baik-baik." ucap Sam.

__ADS_1


"Seumur hidup, tidak ada yang berani melawanku!" ucap kesal Tuan Donulai tidak percaya.


Seumur hidup memang tidak pernah ada yang berani melawannya, semua orang akan takluk dengannya, bahkan saat mendengar nama Donulai saja rasanya begitu membanggakan, jangan pernah bermasalah dengan Donulai itu adalah hal yang sangat mengerikan.


Namun kini, seorang anak manusia, keturunannya sendiri, berani melawannya, menentangnya.


Ayaz Diren, pria itu tidak mudah diambil hatinya.


"Yah, bukankah aku sudah pernah menceritakan tentang Ayaz padamu, masa-masa kelam Ayaz, benar apa yang Ayaz katakan di seumur hidupnya dia tidak pernah menghiraukan apapun selain cara untuk bertahan hidup." Sam lagi-lagi menyertakan pendapatnya yang bisa Tuan Donulai simpulkan bahwa anak angkatnya itu jelas membela Ayaz.


"Seberapa penting dia bagimu?" tanya Tuan Donulai.


"Dia sangat penting Ayah bagiku, aku adalah saksi perjalanan hidupnya, bagaimana mungkin aku bisa membiarkannya begitu saja, masa remaja Ayaz, tidak ada yang lebih mengetahui masa kelam itu dari pada aku."


"Saat dia harus menyelamatkan aku dari tuduhan pencuri, hanya karena aku ingin makan roti yang sudah berjamur, dia bahkan rela dihukum untukku, saat aku melihatnya disiksa, dipukuli hingga lebam di wajahnya masih membekas meski sudah hampir mau sebulan, saat aku melihatnya harus memakan makanan basi, nasi yang sudah berbau, bahkan makanan anjing saja masih lebih bagus dari pada makanan yang diberikan Sian padanya."


"Saat dia tiap kali berdoa, berharap supaya keluarga Ibunya peduli akan hidupnya, berharap ia dibebaskan akan siksa kebrutalan Sian, namun sayangnya kalian sudah sangat terlambat datang."


"Saat aku menemaninya di tiap tahun peringatan kematian Ibunya, begitu banyak harapan dan doa yang dirinya panjatkan di makam itu, salah satunya Ayaz pernah berharap supaya dirinya cepat menyusul Nona Nindi."


"Saat Sian membuat kedua matanya buta, saat dia diasingkan dan beruntungnya aku juga diikutsertakan untuk menjaganya, harapan hidupnya sungguh sangat kecil, Ayaz sungguh sangat ingin mendatangi kematian saat itu juga. Sering kalinya Ayaz berputus asa."


Sam menjelaskan lagi ceritanya dengan air mata yang menetes tak terhindarkan, berharap ayah angkatnya itu akan mengerti, bahwa kepedihan yang ditanggung Ayaz bukanlah bisa dibayar dengan kedudukan di kerajaan bisnis keluarga Donulai, Sam yakin sekali Ayaz tidak menginginkan itu, mungkin jika diizinkan memilih Ayaz akan lebih memilih untuk membalaskan dendam dari pada menikmati seluruh harta kekayaan Donulai.


"Kau benar, tapi aku masih belum bisa menerimanya." tanggap Tuan Donulai.


"Ayah, aku tidak akan membela Ayaz mati-matian, mengatakan Ayaz adalah orang yang baik, ataupun membanggakannya, namun perlu Ayah ketahui bahwa Ayaz, tidak mudah mengambil hatinya, jadi jika Ayah masih menggantungkan harapan padanya, setidaknya Ayah harus bisa mengalah." ucap Sam.


Hanya itu, hanya itulah yang bisa dirinya lakukan, kalau tidak dikatakan seperti itu, Tuan Donulai pasti akan tetap pada pendiriannya.


Menjunjung kekuasaan, menganggap dirinya bagai Tuhan, tidak ada yang berani mengenai dirinya, begitulah manusia jika sudah dibutakan akan dunia.


"Kau, cari tau mengenai dirinya." titah Tuan Donulai tiba-tiba.


"Apa Ayah sudah menerima Ayaz?" tanya Sam antusias.


"Bukankah aku tidak punya pilihan lain, bodohnya kau masih bertanya." geram Tuan Donulai.


"Akan aku usahakan Ayah." ucap Sam bersemangat.


Dirinya bisa bernapas lega, setidaknya Ayaz akan baik-baik saja.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2