
"Apa yang..."
Rymi menganga tidak percaya, kala dua orang office boy sudah menyusun beragam makanan di meja kerjanya.
Sementara tidak jauh dari itu, berdirilah seorang pria yang begitu menyebalkan bagi Rymi.
"Kau berencana untuk melewatkan makan siangmu, jadi mana mungkin aku bisa mengabaikannya." jelas Sam.
Mendengar Rymi yang akan melewatkan makan siangnya tadi membuat Sam bertindak diluar akalnya, oh mungkinkah Sam sungguh jatuh dalam pesona seorang Rymi.
"Anda tidak seharusnya melakukan ini Pak!" tolak halus Rymi.
"Kalian bisa pergi!" titah Sam pada kedua office boy yang membantunya tadi.
"Baik Pak!" keduanya menyahut serempak.
"Haaahhh!" Sam merentangkan kedua tangannya, sejenak dia menghilangkan sedikit penat yang sedang ia rasakan.
"Aku tidak peduli!" ucap Sam arogan.
Rymi membuang muka, tidak menanggapi kehadiran Sam, wanita itu kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Sementara Sam, pria itu tampak terlihat memulai acara makan siangnya.
"Kau tidak makan?" tanya Sam.
"Saya tidak lapar!" sahut Rymi.
"Benarkah?" selidik Sam.
Rymi diam tidak menyahut, bukan maksudnya untuk tidak sopan, tapi dia benar-benar tidak mau terlibat masalah hati dengan Bosnya itu. Sebisa mungkin dirinya membentengi.
"Makanlah meski sedikit!" suruh Sam.
"Tidak apa Pak, silakan Bapak saja yang menghabiskannya."
"Baiklah!" sahut Sam.
Rymi bernapas lega, namun hal itu tidak berlangsung lama karena ternyata Sam menarik kursinya mendekati Rymi, pria itu mengambil satu sendok makanannya kemudian hendak menyuapi Rymi.
"Aku bisa melakukan ini, bukankah aku sungguh calon pacar yang penyayang." ucap Sam.
Rymi melotot tidak percaya, bagaimana bisa si Bos menjadi tidak tau malu begini.
"Pak..."
Hap! Saat Rymi membuka mulutnya untuk berucap, Sam tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, satu sendok makanan yang dirinya suapkan sudah mendarat mulus di mulut Rymi.
"Sudah kubilang kan, aku benar-benar bisa melakukannya!" ucap Sam percaya diri.
__ADS_1
...***...
"Kau dari mana?" tanya Yaren hati-hati, bukan maksudnya untuk terlalu mengurusi, namun Ayaz sudah sering kali meninggalkannya tanpa pamit begini.
"Aku ada sedikit urusan!" jawab Ayaz.
Tidak acuh seperti biasanya, Yaren sedikit banyaknya memang sudah melihat perubahan pada diri Ayaz saat memperlakukannya.
"Ayaz..." seru Yaren meragu.
"Ya!"
"Emmhh, tidak apa? Kau istirahatlah, kau pasti lelah!" ucap Yaren, dirinya hendak menanyakan lebih lanjut sebenarnya apa pekerjaan Ayaz, apa yang Ayaz kerjakan di luar sana, ke mana suaminya itu yang selalu datang dan pergi tak kenal waktu.
"Kenapa?" tanya Ayaz.
"Eh..."
"Kenapa? Aku tidak lelah, apa lagi jika kau menginginkannya!"
Yaren menunduk malu, bagaimana bisa Ayaz berpikiran seperti itu.
"Aku!"
"Aku dari mengurus pekerjaanku, untuk menafkahimu aku harus bekerja kan." jelas Ayaz lagi, namun Yaren belum juga puas mendengar jawaban dari suaminya itu.
"Kau... Ayaz bisakah kita bicara?" tanya Yaren lagi.
Yaren semakin tertunduk malu, wajahnya sudah memerah bak tomat, sungguh meski sering kali dirinya memproklamirkan bahwa ia begitu membenci Ayaz, bayangan Ayaz yang sudah berapa kali menyelamatkan hidupnya membuatnya selalu berpikir bahwa Ayaz sebenarnya adalah orang baik.
Wajah Ayaz mendekat, tangannya memegang rahang Yaren, kemudian dengan lembut membuat Yaren mendongak menatapnya.
"Suamimu di sini, apa yang kau lihat di bawah sana?" tanya Ayaz, menggoda Yaren sepertinya akan menjadi hobi baginya mulai kini.
"Aa aku..."
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ah iya, apa kau makan sarapannya?" tanya Ayaz.
"Iya, terimakasih ya!" sahut Rymi.
"Hahahaha, bukan masalah, aku hanya tidak ingin membuatmu kelaparan, itu akan mengganggu konsentrasimu saat melayaniku."
Yaren menunduk lagi, menarik napasnya dalam, menyesal tentang apa yang pernah dirinya pikirkan.
Berhenti berharap Yaren, dia masih Bajingan...
...***...
"Selamat datang Tuan Argantara!" sapa Jovan, dirinya sudah mengira Ayah dari Raisa, wanita yang pernah dipacarinya itu pasti akan datang menemuinya. Dan itu tepat sekali.
__ADS_1
"Saya ke sini, tidak akan menyapamu dengan baik, dasar bajingan, bagaimana bisa kau melakukan semua itu pada putriku?" tanya Argantara geram.
"Kiranya, apa yang sebenarnya tengah anda bicarakan? Maksudnya melakukan apa?" tanya Jovan, berlagak keheranan seperti tidak mengetahui apapun.
"Raisa!" Argantara menatap wajah Jovan tajam. Ingin sekali rasanya ia mendaratkan beberapa bogem mentah untuk pria yang dipercayainya telah menghamili Raisa.
"Kau, merusak masa depannya, beraninya kau!" berang Argantara.
"Katakan, apa maksudnya Pak?" tanya Jovan.
"Jangan berlagak tolol di hadapanku, kau tau bahkan kau terlihat begitu menjijikan."
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik, saya sungguh tidak mengerti maksud perkataan Bapak, datang kemari dan langsung marah-marah, saya rasa itu sama sekali bukan sifat seorang Argantara, apa ada yang salah dengan perkataan saya?" sindir Jovan.
"Kau..."
"Kau menghamili purtiku!" jelas Argantara, dengan mata yang menyala ia melayangkan permusuhan pada Jovan.
"Putrimu?" tanya Jovan, ekspresi wajah macam apa yang dilayangkannya itu, Jovan malah tersenyum remeh menatap Argantara. "Siapa yang mengatakan kalau aku yang telah berbuat? Istrimu? Opininya hanya berdasarkan karena aku yang sering bersama putrimu bukan?" tanya Jovan. Baiklah, saat musuh sudah menyerang, maka jalan satu-satunya hanyalah melawan.
"Apa pengakuan semacam ini juga keluar dari mulut putrimu?"
"Cari tau kejelasannya dulu Tuan, baru kau bisa mendatangi kantorku seperti ini, jika kejadian seperti ini terulang lagi mungkin aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah!" ancam Jovan.
Argantara tak kalah sengit menatap Jovan, sungguh dirinya tidak percaya, mengapa pacar dari anaknya itu bertindak seolah tidak bersalah sama sekali.
"Kenapa?" tanya Jovan lagi.
"Apa putrimu tidak pernah mengatakan kalau aku ayah dari bayinya? Hahahaha, sungguh miris, kau membuang putrimu yang bagai berlian, tapi apa ini? Kau bahkan membela mati-matian anak j*lang yang sama sekali bukan anakmu!"
"Mencari siapa Ayahnya? Hahaha, kau lucu sekali Argantara!"
"Hentikan omong kosongmu, beraninya kau..."
"Kenapa? Kau terlihat cukup terkejut?"
"Wana... Wana, sebenarnya aku cukup mengenali nama itu, kiranya... Apa kau tidak berniat menanyakan sesuatu padaku?" tawar Jovan.
"Hentikan omong kosongmu!" pekik Argantara, sebuah kenyataan gila macam apa yang baru saja didengarnya ini.
"Silakan pergi, percayai saja apa yang kau anggap benar!" ucap Jovan yang secara sengaja mengusir Argantara.
"Bedebah, kau harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab seperti apa Tuan, kau bahkan menuduhku tanpa membawa sebuah pembuktian? Apa kau gila, konyol!" berang Jovan, dirinya bukanlah orang yang sabar, kalau saja hari itu ia tidak melakukan sebuah kerja sama dengan seseorang, mungkin Argantara sudah habis ditangannya kali ini.
"Tanyakanlah dulu detil kejadiannya pada putrimu, kemudian setelahnya aku akan dengan senang hati menyambutmu di sini untuk sebuah permohonan maaf." ucap Jovan sebelum mengarahkan beberapa pengawalnya untuk benar-benar mengusir Argantara.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...