Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Mudah sekali yaaa!


__ADS_3

Dokter Amri baru saja selesai menemui Nil, pemuda tampan itu tampaknya sedang menjalani masa kasmarannya.


Dia menatap gemas pada box makanan yang terlihat sangat menggemaskan juga, Nil memang pandai dalam urusan mengambil hatinya.


Tapi sayangnya gadis itu mengatakan tidak bisa menemaninya makan siang, karena harus bekerja untuk sebuah pemotretan. Akhir-akhir ini permintaan jasa endorsenya meningkat, Nil juga sempat menggerutu mengapa kariernya harus melejit bersamaan dengan cintanya yang sedang manis-manisnya itu. Hal itu membuatnya sedikit kesulitan untuk membagi waktu.


Dokter Amri melihat ada sebuah kursi kosong di sebuah taman, tampak teduh karena dahan yang rindang menutupi cahaya matahari.


Gegas ia melangkahkan kakinya ke sana, makanan yang dibuatkan oleh Nil sepertinya sudah tidak sabar untuk dirinya nikmati.


Namun, Dokter Amri sungguh tidak menyangka akan kejadian yang dialaminya, saat ia sudah hampir sampai di kursi itu langkah kakinya ditabrak oleh seseorang, dan "Brakkk!" ia pun terjatuh menyisakan makanan spesial buatan Nilnya juga jatuh berserakan.


Dokter Amri mendongak, dilihatnya wajah tanpa bersalah seseorang, bahkan pria itu sepertinya juga tidak berniat untuk meminta maaf padanya, sungguh membuat Dokter Amri semakin kesal saja.


"Hei!" pekiknya saat pria itu hendak berlalu pergi.


Pria itu menoleh, kemudian mengamati wajahnya sebentar dan siapa sangka setelahnya benar-benar berlalu.


"Hei sialan!" umpat dokter Amri tak tertahankan. Pria ini benar-benar tanpa perasaan pikirnya.


Namun, tidak terdengar jawaban, peduli pun tidak.

__ADS_1


Dokter Amri melihat lagi makanan spesial dari Nil yang sudah berserakan di tanah, ia benar-benar kesal dan sangat menyayangkan itu.


Lalu, melihat pria yang menabraknya tadi sedang berbaring di sebuah kursi yang sempat diincarnya tadi, Dokter Amri langsung saja menghampiri.


"Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali?" tanyanya dengan nada menyindir.


Pria itu masih terlihat santai berbaring, menutup kedua katanya dengan satu tangan, sementara tangan satunya ia gunakan sebagai bantalan.


"Hei! Kau dengar tidak?" pekik Dokter Amri.


Pria itu mengubah posisi, membuka matanya dan duduk kemudian menatap Dokter Amri acuh.


"Apa harus?" tanya balik Ayaz. Yah seorang pria itu adalah Ayaz. Ia pergi ke taman ini hanya untuk menenangkan diri, namun siapa sangka bahkan dirinya tidak bisa berbaring dengan aman.


"Lihatlah itu!" tunjuk Dokter Amri ke arah makanan yang berserakan.


Sebenarnya, ini juga kali pertamanya Dokter Amri bersikap begitu, memperpanjang masalah hanya karena sebuah makanan yang jatuh tidak disengaja.


Mungkin karena makanan itu adalah makanan yang spesial dibuat oleh pujaan hatinya, sehingga cinta bisa mengubah dirinya dengan mudah, atau mungkin juga karena pria dihadapannya ini yang dilihatnya begitu acuh dan tanpa rasa bersalah tidak sedikitpun berniat mengucapkan kata maaf.


Ayaz menoleh ke arah tunjuk Dokter Amri, ia mengakui makanan berupa nasi goreng dan nugget itu memang dirinyalah yang menjatuhkan, tidak sengaja namun dirinya juga tidak memedulikan itu.

__ADS_1


"Berapa biayanya?" tanya Ayaz langsung, tanpa berpikir.


Dokter Amri cukup tercengang, orang kaya sombong jenis apa lagi yang akan dirinya hadapi kali ini. Bekerja sebagai dokter ternama di salah satu rumah sakit swasta yang juga terkenal, dirinya telah menghadapi beragam sifat manusia, tentunya sudah begitu banyak orang kaya sombong dari berbagai jenis yang bertemu dengannya. Dan kali ini, whooo... Dokter Amri tersenyum smirk.


"Apakah aku terlihat seperti pengemis?" tanya dokter Amri, ia menatap tajam Ayaz.


Ayaz pun tak kalah menatap wajah itu, sudut bibirnya tertarik, "aku bisa melihatnya!" ucapnya menyetujui.


"Kau terlihat begitu sombong!"


"Aku hanya menyetujui apa yang kau tanyakan! Aku memang melihatnya!"


"Bukan masalah uang, tapi... Kau menjatuhkan makanan orang lain dan tanpa sedikitpun merasa bersalah, dengan acuh saja tidak memedulikan itu sama sekali!"


"Dan kau! Apa kau benar-benar pengemis, hanya sebuah makanan, dan juga... Aku rasa jika kau bukan pengemis, makanan yang sudah jatuh begitu, mengapa harus sangat disayangkan!"


"Oh ya, mudah sekali yaaa!" sahut dokter Amri. Matanya semakin menatap tidak suka pada Ayaz.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2