Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bisa anda jelaskan apa yang baru saja kami temukan ini?"


__ADS_3

"Tim! Hancurkan!"


Tim penyidik pun segera menghancurkan sebagian rumah Amla yang terkena akses jalan menuju pintu rahasia itu dengan alat berat.


Kemudian disaksikan oleh Amla sendiri, alat berat itu menghancurkan pintu itu hanya dengan satu kali hentakan, buka. hanya pintu dinding ruangan itu pun juga ikut hancur.


"Pantas saja begitu sulit dibuka, lihatlah lapisan luarnya saja yang kayu, sedang di dalamnya besi yang begitu kuat seperti ini!" ujar salah satu tim penyidik saat melihat temuannya.


Amla mulai ketar ketir, di ruangan itu mulai terlihat bahwa ada satu akses jalan menuju belakang, sekitar dua kilometer dari sana barulah akan menemui pintu lainnya untuk menuju ruang bawah tanah.


Apakah sebentar lagi mereka akan mengetahui rahasia dirinya dan Sian? Ah tapi tidak apa, meskipun begitu mereka juga tidak akan bisa menemukan apapun! Pikirnya mencoba menenangkan diri.


"Ruangan apa ini Nyonya?" tanya ketua penyidik menatap curiga Amla. Ia mengedarkan pandangannya ke sini ruangan, namun tidak menemukan apapun hal yang mencurigakan.


"Entahlah! Ini adalah ruangan suamiku, aku tidak pernah membukanya." dusta Amla.


"Benarkah?"


"Untuk apa juga aku menjelaskan, karena kalian pun belum tentu akan mempertimbangkannya!"


"Baiklah, tim! Cepat geledah ruangan ini, dan temukan apapun yang mencurigakan!" perintah ketua penyidik lagi.


Amla masih duduk dengan tubuhnya yang ditahan oleh penjaga dari pihak kepolisian, ia benar-benar akan melihat serangkaian proses penggeledahan rumahnya ini.


"Kalian akan bertanggung jawab, jika apa yang aku katakan ini benar, maka kalian pasti akan menanggungnya!" ancam Amla.


"Tentu Nyonya, anda tidak perlu khawatir, kami akan mengurus segalanya jika perkataan Nyonya memang benar, kami sendiri yang akan memperbaiki dan mengembalikan nama baik nyonya!" ujar salah satu tim penyidik yang menjaganya.


"Heh, kita lihat saja nanti!"

__ADS_1


Ketua penyidik juga ikut dalam pemeriksaan ruangan itu, lalu matanya tertuju pada tirai yang menurutnya sedikit mencurigakan, tertutup beberapa barang namun masih bisa terlihat olehnya.


Ketua penyidik menyingkap tirai itu, lalu memindahkan satu persatu dus yang tertumpuk di sana, di luar dugaannya nyatanya tumpukan kardus itu malah menutupi sebuah jalan yang berbentuk lorong.


"Apa ini?" gumamnya tidak percaya.


"Tim! Periksa bagian sini!" perintahnya pada rekannya.


"Baik Komandan!"


Lalu beberapa orang memasuki lorong yang cukup sempit itu, berjalan sekitar dua kilo meter, dan berhasil menemukan sebuah pintu.


"Komandan! Ada sebuah pintu lagi!" ucap tim penyidik.


Ketua penyidik segera menuju ke sana, dalam pikirannya sungguh tepat apa yang dikatakan oleh pelapor kemarin, benar adanya sebuah pintu rahasia yang berada tidak jauh dari dapur.


"Apa bisa dibuka?" tanyanya saat sudah sampai di sana.


"Dobrak!" titahnya.


"Baik Komandan!"


"Braakkk!"


"Braakkk!"


Dalam dua kali dobrakan akhirnya pintu itu terbuka, dan alangkah terkejutnya semua orang yang menyaksikan itu, melihat apa yang terjadi di dalam sana.


"Apa-apaan ini?" tanya ketua penyidik geram.

__ADS_1


"Apa mereka adalah kedua orang tua Tuan Rangga?" tanya anak buahnya.


"Bawa Nyonya Amla ke sini! Dia harus menjelaskan semuanya!"


"Tolong!" ucap Romi, wajahnya dipenuhi lebam, ia langsung saja meminta pertolongan pihak penyidik karena itu adalah sebagian dari drama.


Sementara Erra yang sudah berganti peran menjadi dirinya yang sebenarnya hanya bisa terbaring lemah tidak berdaya, karena itu juga bagian dari skenario yang harus mereka perankan.


"Siapa kalian?" tanya salah satu tim.


"Kami, kami adalah pelayan tuan Sian, tapi kami disekap di sini olehnya selama bertahun-tahun." jujur Romi, namun kali ini dia benar-benar berperan sebagai ayahnya Samudra yang sama sekali tidak gila.


"Aahhh... Mungkin benar Komandan, mereka adalah Saudara Romi dan Erra."


"Benar, kami... Itulah kami!" ucap Romi membenarkan.


Tak lama Amla pun datang, dengan sedikit paksaan ia yang terlihat masih saja memberontak kala penyidik membawanya ke ruang bawah tanah itu.


"Lepaskan!" teriaknya menggema.


"Lepaskan, kalian ini... Benar-benar tidak memiliki rasa hormat!" gerutunya marah.


"Nyonya Amla!" panggil tegas ketua penyidik saat Amla sudah sampai.


"Bisa anda jelaskan apa yang baru saja kami temukan ini?" tanyanya sembari menahan emosi yang seakan hampir meledak.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


... ...


__ADS_2