
“Hoek... Hoek!” sudah dua pagi Raisa mengalami muntah-muntah, apapun yang dimakannya untuk sarapan pasti akan dirinya keluarkan lagi setelahnya.
“Sayang, kenapa sih!” tanya Wana, kebetulan dirinya sedang ingin menanyakan tas import yang cocok untuk dirinya pakai arisan nanti siang, koleksi tas branded Raisa cukup memuaskan matanya, sehingga Wana berniat untuk meminjam salah satunya.
Namun sesampainya di kamar Raisa, Wana malah mendapati putrinya itu sedang muntah-muntah di kamar mandi.
“Tau nih mah, aku keknya nggak enak badan deh!” adu Raisa pada Mamanya.
“Ah, iya kah?” refleks punggung tangan Wana terulur menjamah dahi putrinya, tidak panas, tidak ada tanda-tanda putrinya itu sedang demam.
“Nggak panas sayang, kamu sarapan apa sih tadi?” tanya Wana.
“Aku sama kek Mama, sarapan yang dibikinin Bi Ati, nasi goreng telor ceplok!” jawab Raisa. Dirinya juga heran dengan reaksi tubuhnya yang akan mengalami muntah jika pagi hari, sudah dua pagi dia mengalami itu.
“Gimana rasanya?” tanya Wana lagi.
“Pusing Ma, pengen muntah!”
“Hemmm, mau ke dokter?” tawar Wana.
“Nggak usah deh Ma! Tapi, emmm Mama punya permen asam nggak?” tanya Raisa.
“Permen asem, ya nggak adalah!” jawab Wana.
“Aku keknya kalau makan yang asem bisa deh ngurangin mualnya.” Ucap Raisa.
“Dih, aneh kamu sayang, kek orang ngidam aja.” ucap Wana, namun wanita itu tetap saja menurut, bergegas pergi ke luar untuk menyuruh salah satu pembantu di rumahnya membeli permen asam di minimarket.
...***...
Yaren begitu bosan, yang dirinya lakukan sedari tadi hanyalah menonton televisi, Ayaz belum juga kembali meski haru sudah lewat tengah hari.
“Sebenarnya ke mana dia?” gumam Yaren.
Tidak ada yang dirinya bisa lakukan, menanyakan keberadaan Ayaz pun dirinya tidak bisa. Ponsel, satu-satunya barang berharga yang sempat dirinya bawa saat meninggalkan rumah, benda itu sudah tidak berfungsi lagi karena sudah lama kehabisan daya.
“Bagaimana aku lupa... Aaaa, benar! Kira-kira di mana aku bisa mendapatkan charger ponsel?”
Yaren menghubungi pihak hotel dan memesan lagi makanan, kali ini makanan ringan untuk mengisi perutnya di kala sungguh bosan.
“Kira-kira mengapa di sini tersimpan pakaian wanita, bahkan ukurannya pas denganku!” tanya Yaren sembari tangannya membuka lagi lemari yang berisikan beberapa stel pakaian yang bisa dirinya gunakan.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Yaren mengherankan itu, badannya yang kecil dan mungil seharusnya sedikit sulit untuk mencari pakaian yang pas di tubuhnya. Namun di lemari itu semua pakaian bagai memang teruntuk dipakainya.
“Apa Ayaz menyiapkan semuanya?” tanya Yaren lagi, mulai berpikiran baik lagi terhadap suami menyebalkannya itu.
“Dia bahkan mengetahui semua tentangku, tapi aku tidak tau apapun tentangnya, sungguh curang!” gerutunya lagi.
...***...
“Maka, kau pun juga harus menjadi musuhku!” ucap Ayaz tepat di hadapan Sam.
“Ayaz...” bagai sebuah tamparan, mendengar perkataan itu terucap dari mulut Ayaz mengapa rasanya Sam begitu sakit.
“Kenapa?”
“Ayaz, kita bisa bicarakan ini baik-baik!” bujuk Sam.
“Baik-baik, setelah bertahun-tahun aku dan Ibuku menanggung derita?”
“Katakan, di mana sekarang wanita bernama Daslah itu!” tanya Ayaz menggebu.
“Hentikan!” teriak Tuan Donulai.
“Anak kurang ajar ini!” berang Tuan Donulai lagi.
“Kurang ajar? Kau mengatakanku kurang ajar?”
“Kau tau aku bahkan harus sembunyi-sembunyi untuk bisa bersekolah! Kau tau aku hanya diberikan makanan basi oleh Sian sialan itu sebagai pengganjal perutku setiap hari, bagaimana makanan yang lebih buruk dari makanan anjing seperti itu bisa memberikanku nutrisi, tidak mengalami keterlambatan pemikiran dan gangguan mental saja itu sudah sangat beruntung.” Pekik Ayaz tak kalah keras.
“Jadi, selama aku hidup, beginilah aku, aku tidak tau caranya sopan santun terlebih dengan orang kaya sepertimu, aku tidak pernah belajar tentang sopan santun namun meskipun begitu, sekali lagi aku tegaskan, Kau! Ahmad Donulai, bagiku kau bukan siapa-siapa! Dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa, jadi... Simpan keprihatinanmu itu, aku tidak butuh pengajaran dari orang sepertimu!”
“Kau tau, selama aku hidup di dunia ini, aku hanya tau bagaimana cara untuk bertahan hidup, selebih dari itu... Aku memang tidak mengetahui segalanya.”
“Kau, ataupun Sian, sama brengseknya, kalian adalah jiwa-jiwa dengan keserakahan luar biasa! Jika aku seorang perempuan, mungkin kau tidak akan menyempatkan diri untuk mencariku seperti ini! Cih, menyedihkan!”
“Kau!”
Ayaz berdiri tegak di hadapan Tuan Donulai, tanpa rasa takut wajah itu menampakkan penentangan.
“Jika kau berpikir aku akan begitu bahagia bisa bertemu denganmu! Kau salah besar Tuan, nyatanya baik di sini ataupun di sini, hanya ada kebencian yang aku tanamkan untukmu!” Ayaz menunjuk mata dan dadanya.
“Kau tidak bisa membenciku!” tantang Tuan Donulai.
__ADS_1
“Luka, kepedihan, rasa sakit. Aku yakin, di usia setua ini, dengan kekayaan dan kuasamu, kau belum pernah merasakannya.”
“Namun aku, kehadiranku di dunia ini bahkan adalah sebuah kesalahan yang akan menggores luka di seumur hidup Ibuku hingga kematian menjemputnya.”
“Jadi, Tuan Donulai yang terhormat, bukankah tidak begitu salah jika aku menanyakan di mana kalian?”
“Di mana kalian saat Ibuku terpuruk, apa tidak bisa kau tunjukkan sedikit kuasamu, aku yakin dibandingkan Sian, sebenarnya kau lebih mematikan!”
“Ayaz, Tuan Donulai tidak tau tentang dirimu dan Ibumu! Bibi Daslah...”
“Sebenci apapun diriku terhadap orang yang telah menelantarkan kami, namun aku masih berniat untuk mencarinya, ingin melihat bagaimana mereka hidup, jika bahagia maka aku akan merusak segalanya.” Potong Ayaz langsung pada ucapan Sam.
“Kau tau Sam, apa yang paling menyakitkan dari berpisah?”
Sam termangu, ditatapnya wajah Ayaz, pria itu tampak begitu menyedihkan, Sam memang tidak pernah bertemu dengan Nona Nindi Rowans, Ibunya Ayaz. Namun dirinya tau mengenai penyiksaan Ayaz dan Ibunya, Ayaz sering mencurahkan ketakutan, kegundahan, bahkan rencana balas dendamnya. Lalu, bagaimana mungkin saat ini dirinya tidak bisa berpihak pada Ayaz?
“Berpisah karena kematian, bahkan sudah kukatakan berkali-kali padamu tentang itu!”
“Ayaz, aku mengerti, namun keadaan yang sebenarnya bukan seperti itu, Tuan Donulai...”
“Kau tentu akan membelanya, kau sudah terlalu banyak makan dengan memakai sendok perak di rumah megahnya.” Sindir Ayaz.
“Kau tidak bisa membenciku! Pengawal, tangkap dia!” titah Tuan Donulai.
Namun kecepatan mata dan ketangkasan Ayaz tidak bisa dianggap remeh, dengan cepat Ayaz menghindari serangan keempat pengawal itu, perkelahian pun tidak bisa terelakkan.
“Bugh, bugh!”
Sam begitu kaget melihat cara Ayaz berkelahi, dulunya bahkan Ayaz tidak bisa berlari cepat dengan benar, lalu apa ini, yang dilihatnya kini sungguh Ayaz yang sangat berbeda. Bertarung bak lelaki sejati.
Amarah Tuan Donulai semakin menjadi kala semua pengawalnya yang berbadan tegap dan besar itu tumbang berhasil dikalahkan Ayaz seorang.
“Bodoh, kalian berempat sementara dia hanya sendirian!” umpatnya.
“Sam, bawa dia untuk bertekuk lutut di hadapanku!” Tuan Donulai lagi-lagi memerintahkan Sam.
“Ayah...”
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1