Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kau harus menutup jendelanya!


__ADS_3

Pagi menjelang, Ayaz menatap jendela kaca di kamarnya, tinggal di lingkungan yang lumayan padat penduduk membuatnya bisa merasakan keramahan para tetangga.


Sebenarnya, Ayaz juga ingin bergabung sembari melemparkan tawa di sana, namun ia begitu takut jika saja wajahnya ini terlalu banyak menemui wajah lainnya, Ayaz cukup tau diri dan selalu saja waspada, entah apa yang akan terjadi padanya suatu hari nanti, namun semakin banyak orang mengenalnya, maka semakin pula akan membahayakan hidup Yaren kedepannya.


"Kau mau makan?" tanya Yaren tiba-tiba, sudah datang saja ke kamar tanpa mengetuk pintu.


"Aku masih belum selera makan. Apa yang kau bawa?" tanya Ayaz saat Yaren membawa sebuah nampan yang mungkin berisikan bubur atau semacamnya.


"Hanya bubur ayam, ini beli saat aku sedang menyapu di teras tadi kebetulan yang jualannya lewat." jawab Yaren. Ia cukup tau diri, tidak akan berani jika harus membuat sendiri makanan untuk Ayaz, jangankan makanan untuk orang sakit, untuk dirinya sendiri saja Yaren masih sering gosong.


"Hemmm, sepertinya enak!" ucap Ayaz, ia hanya ingin menghargainya Yaren.


"Makanlah, setelahnya minum obat." suruh Yaren.


"Baiklah," lalu Ayaz mengambil tangan Yaren, mengecupnya sembari berkata, "Apa kau tidak berniat menyuapiku?" tanyanya.


"Eh!" Yaren gugup, selalu saja seperti ini, Ayaz selalu bisa membuat jantungnya berdetak lebih cepat kala bersentuhan. "Ii iya, kau mau di suapi, akan aku lakukan." ucap Yaren cepat, tanpa sadar ia langsung saja menyetujuinya.


Ayaz mengangguk, tangan yang masih memegang tangan Yaren itu terus saja menarik tubuh wanitanya, menempatkan Yaren untuk duduk di pangkuannya.


"Ayaz, emmhh jangan seperti ini, kau... Kau masih sakit!" ucap Yaren gugup. Berdekatan seperti ini apa tidak menyulitkan Ayaz, lukanya saja baru mengering pikir Yaren.


"Duduklah dengan tenang, dan mulai suapi aku!" titah Ayaz.


Yaren memalingkan muka, sebenarnya jantung Yaren semakin sulit dikondisikan, namun apa daya, selama menikah dengan Ayaz dia memang diharuskan untuk menurut saja.


Lalu, tangannya mulai meraih sendok, menyendokkan bubur ayam di mangkok dan memberikan suapan pertama itu pada Ayaz.


"Rasanya enak!" ucap Ayaz, seolah memberikan nilai atas apa yang dirasainya. "Apa lagi di suapi istri begini." lanjutnya lagi menggoda Yaren.

__ADS_1


Yaren, tidak bisa menahan senyum simpulnya, jujur saja ia bisa semakin gila, semenjak menikah Ayaz memang memperlakukannya dengan sangat baik.


Rasa itu datang lagi, rasa yang membuatnya dilema, untuk mempercayai Ayaz sepenuhnya atau hanya sekadarnya.


Tidak Yaren, kemarin Ayaz sudah mengatakan, benar-benar berkata kalau dia mencintaimu, kau harus mencoba percaya untuk kali ini.


"Lagi." pinta Ayaz.


Yaren menyuapi lagi Ayaz, ini sangat romantis, menyuapi makan orang yang kita sayangi dengan sesekali saling menatap penuh cinta, duduk di pangkuannya serta tangan Ayaz yang melingkar di perutnya, rasanya bisakah dunia berhenti saat ini juga, Yaren ingin seperti ini saja, Ayaz yang mengatakan mencintainya, dan perlakuan ini rasanya sudah cukup saja membuatnya bahagia.


Suapan demi suapan berganti, hingga akhirnya bubur itu pun habis masuk di mulut Ayaz, sebenarnya bukan tanpa alasan Ayaz melakukan itu.


Pria itu sama sekali tidak mempunyai selera makan, maka ia beranggapan mungkin saja bermesraan dengan Yaren bisa sedikit membantunya dalam menyelesaikan makanan itu, jika ia bilang tidak berselera untuk makan atau tidak menghabiskan bubur itu, Ayaz takut saja membuat Yaren kecewa.


Mata itu saling pandang lagi, hingga sebuah suara berhasil memutuskannya, "Kalau mau mesra-mesraan, mungkin jendelanya bisa ditutup dulu Mbak, Mas!" ucap salah satu tetangga mereka yang sedang berlalu lalang, masih muda, Ayaz bisa menebak mungkin pemuda itu masih duduk di bangku SMA "Banyak jomblo di sini, mohon pengertiannya." kemudian berlalu setelah merusak moment.


Jelas saja Yaren langsung turun dari pangkuan Ayaz, dengan sigap menutup jendela kaca itu, lalu langkah kakinya menjauhi Ayaz dan duduk di tempat tidur, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ia malu.


Sementara Ayaz, pria itu bukannya merasakan hal yang sama seperti Yaren, ia malah menggerutu karena kesal karena moment mesranya bersama Yaren harus terganggu.


Coba saja masih tinggal di rumah hutan, kejadian seperti ini pasti tidak akan terjadi.


"Sudahlah Yaren, berhenti menyembunyikan wajahmu." ucap Ayaz.


Yaren membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya, "Ini juga karenamu Ayaz, kau tidak merasakan malu sedikitpun saat dipergoki orang begitu?" tanya Yaren.


"Aku?" Ayaz sedikit heran, "Kenapa aku harus malu, apa ada perbuatan kita yang melanggar hukum negara ini? Aku bermesraan dengan istri sendiri, sungguh konyol jika sampai kau merasa tidak senang."


"Ayaz kita ini hidup bertetangga, jadi..."

__ADS_1


"Mereka akan mengerti kalau kita masih pengantin baru." potong Ayaz langsung.


"Iya sebagian, sebagiannya lagi?"


"Jomblo memang seperti itu, ada yang tipe sensitif." lanjut Ayaz lagi.


Yaren menghela napasnya, sudahlah berbicara dengan Ayaz tidak akan pernah ada habisnya, Ayaz selalu saja semaunya dan tidak bisa mendengarkan pendapat orang lain, yah ini juga salah satu hal yang disayangkan oleh Yaren, jika ia benar-benar serius membangun rumah tangga dengan Ayaz, maka suaranya nanti pasti tidak akan pernah didengar saat hendak berdiskusi menghadapi suatu masalah. Oh itu terlalu jauh, bisa-bisa Ayaz bahkan tidak akan meminta izin padanya untuk melakukan apapun. Sungguh bukan rumah tangga seperti itu yang Yaren dambakan.


"Sudahlah, kau terlalu perasa Yaren, abaikan saja!" Ayaz bangkit dari duduknya, langkah kakinya menuju Yaren yang sedang duduk di tepian ranjang.


Lalu tangannya dengan pasti mengambil tangan wanitanya itu dan lagi mengecupnya singkat, "Apa kau tidak mau bermesraan denganku?" tanya Ayaz, tatapannya sengaja dibuat kecewa.


"Bu bukan begitu Ayaz." gugup Yaren.


"Lalu?"


Yaren tertunduk, "Aku tidak pernah mengalami hal seperti tadi, kepergok sedang bermesraan denganmu, aku hanya malu, rasanya tidak tau bagaimana menghadapinya." tuturnya.


"Tidak usah dihiraukan, anggap saja angin lalu!" ucap Ayaz.


"Aku tidak bisa Yaren, hanya berdiam diri saja sementara di hadapanku ini ada seorang wanita yang sangat cantik, apa lagi, wanita itu sudah sah menjadi milikku, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan." lanjutnya lagi.


"Maafkan aku Ayaz."


"Kita ini sudah sah, jika mereka tidak sengaja melihat kita sedang melakukan kegiatan panas saja tidak berhak untuk protes, apa lagi hanya bermesraan seperti tadi, aku rasa pemuda tadi sedikit berlebihan tentang perasaannya."


"Apa benar begitu? Kita tidak melakukan kesalahan kan?" tanya Yaren memastikan, bahwa kesalahan yang lupa menutup jendela tadi adalah bukan kesalahannya.


"Lupa itu wajar, manusiawi, mengapa harus merasa bersalah, palingan nanti jika kita mau seperti ini," Ayaz mencium lembut bibir Yaren, menye*ap candunya itu penuh has*at, tangannya menahan tengkuk Yaren untuk memperdalam ciumannya. "Jika tidak lupa, kau harus menutup jendelanya!" bisik Ayaz setelah melepaskan ciumannya.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2