Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa karena Rangga?


__ADS_3

"Aku, sebenarnya..."


"Dia wanita yang hebat, mendampingi Ayah dari titik terendah, tanpa mengeluh sedikitpun."


"Apa kau punya banyak kenangan manis dengannya?" tanya Yaren.


"Setidaknya, sampai umurku tujuh tahun, karena sejujurnya keluarga kami memang keluarga bahagia." jawab Jovan.


"Lalu, bagaimana Mama bisa bertemu dengan Papa Argantara?"


"Apa yang kau pikirkan? Setelah sekian bulan orang tuaku berpisah, lalu Ibu bertemu dengan Argantara kemudian mereka saling jatuh cinta! Begitu?"


Yaren tertunduk, "Apa benar begitu?"


"Aku menyelidiki semuanya setelah aku dewasa, ternyata Argantara adalah orang yang menjebak ayahku, sehingga tanpa sadar ia mengkhianati Ibuku, dan dipaksa harus berpisah, Ibuku kecewa meski Ayahku tiada henti meminta maaf saat itu."


Yaren menutup mulutnya tidak percaya, apa benar Papanya bisa melakukan hal sehina itu?


"Kau akan menyangkalnya?" tanya Jovan. Menilik keraguan di wajah Yaren.


Jovan menggeleng pelan, "Kekuasaan, harta, yang didapatkan dari sebuah kebohongan, mengambil hak orang lain, tidak akan bertahan lama."


"Itu juga alasan, mengapa Ayaz ingin menghancurkan perusahaan itu, karena aku yang meminta."


"Tapi..."


"Kau tidak akan percaya dengan orang yang baru saja kau temui, aku tidak akan memaksamu." Jovan duduk di samping Cemir, membelai puncak kepala wanita yang juga adiknya itu.


"Apa kau pikir seseorang yang dengan lapang dada menerima persaudaraan kita, bisa semudah itu menyatakan kebencian? Kalau orang itu bukan aku, mungkin tidak akan mencari kalian berdua, saat istana sudah berdiri dengan megahnya, tidak ada yang kurang dalam diriku, untuk apa aku mencari kalian?"


"Tapi bagiku, darah lebih kental dari air, meski sudah terlambat, tapi aku benar-benar mengharapkan kalian berada di sisiku, bisa melihat kalian hidup dengan baik, tidak perlu menjadi orang lain untuk menemui adik-adikku, bagiku sudah cukup, kita akan bertukar kasih dan sayang mulai saat ini."


Yaren melihat kasih sayang yang ditunjukkan Jovan pada Cemir, sepertinya tidak bohong.

__ADS_1


"Jangan membencinya, dia juga hanyalah korban, aku tidak pernah menyalahkannya." ucap Jovan lagi, Cemir terang saja menangis, ini begitu sulit baginya yang selama bertahun-tahun menantikan kehadiran orang tua, minggu lalu bahkan ia menemui Ibunya yang berada di rumah sakit jiwa, wanita bernama Darinah itu mengutuknya dengan seluruh rasa benci, mengatakan ia tidak seharusnya terlahir dari rahimnya. Sementara, seseorang yang disebut-sebut adalah Ayahnya, sudah berbaring dengan tenang dibawah tanah, Cemir hanya bisa mengusap pelan batu nisan itu. Bagaimana hatinya tidak hancur terkoyak, dan sekarang, dalam dekapan itu, ia mendapati Jovan, sang kakak yang terlihat begitu menyayanginya, tidak... Cemir tidak akan meminta lebih.


"Heh!" Yaren tersenyum miris, saat kepercayaan dibalas dengan kebohongan, saat itulah kita berada di suatu nama yaitu kecewa.


"Aku harap kau bisa melupakan segala masa lalu, hiduplah bahagia bersama kami." ucap Jovan, sarat akan bujukan.


Yaren semakin miris melihat pemandangan itu, untuk pertama kalinya ia tidak menangis saat mendapati kenyataan Argantara bukanlah orang tua yang baik baginya.


"Tapi aku berencana tidak akan melupakan apapun." ucap Yaren, matanya berkilat menatap Jovan.


"Jika aku membiarkan masa lalu berlalu, maka tidak akan ada yang bisa kupersiapkan untuk masa depan, jika memang begitu kenyataannya, aku ingin menemui seseorang yang telah dengan beraninya menjadi Papaku, aku akan bertatap muka dengannya, jika dia melihatku... Bagaimana jika dia melihatku, menatap mataku, entah tatapan itu masih sama atau tidak, hanya akulah yang bisa membedakannya." ucap Yaren.


Menemui Argantara, berbicara dengan pria paruh baya itu, apapun perlakukan Papanya, baik ataupun buruk, Yaren berencana untuk menerima saja, hal itu juga bisa dijadikannya sebagai acuan, pada siapa dirinya harus percaya, pada siapa dirinya harus berpegangan.


"Aku tidak punya hak untuk itu, seseorang telah memiliki hak yang kuat atas dirimu." ucap Jovan, matanya melirik Ayaz yang masih tetap tidak terganggu di kursi kesehatan.


Ayaz menyunggingkan senyumnya, "Seorang istri yang baik, bukankah harus menurut pada suaminya." ucapnya kemudian.


"Ayaz..."


"Tapi aku..."


"Kau benar-benar ingin menemuinya?" tanya Ayaz.


"Aku akan melihat perlakuannya padaku satu kali lagi."


"Meski itu untuk menerima hinaan?" tanya Ayaz.


Yaren tertunduk, bagaimanapun terakhir kalinya ia bertemu dengan sang Papa, hanya ada hinaan yang keluar dari mulut pria paruh baya itu untuknya.


...***...


"Aku tidak bisa mengatakannya!" ucap Marco, matanya menatap cermin yang menampilkan gambaran dirinya.

__ADS_1


"Daddy, ini semua tidaklah mudah, tapi... lebih baik Daddy tidak menyembunyikan ini terlalu lama, meski apapun yang akan Ayaz perbuat padamu nanti, menurutku Ayaz tidak akan bisa membencimu terlalu, Daddy jujur saja bagaimana keadaannya dulu, bagaimana bisa terjadi seperti itu." Rymi mengusap punggung yang sempat bergetar tadinya.


"Aku juga berpikir begitu Rym, akan lebih baik jika aku menghadapinya, tapi... Lidah ini tiba-tiba kelu begitu saja, aku bahkan tidak bisa menatap wajahnya terlalu lama." jelas Marco.


"Daddy bisa katakan apa yang terjadi sebenarnya, ceritakan pada Ayaz serinci-rincinya, aku akan membantu Ayaz keluar dari kekecewaannya, pasti."


"Kita, pasti bisa menghadapinya Dad."


"Aku tidak takut mati di tangan Ayaz Rym, aku hanya takut dia tidak memaafkanku, sampai aku mati nanti, aku berharap dia bisa menganggapku sebagai Daddynya juga, tidak apa jika aku tidak pernah mendengarnya memanggilku begitu, tapi setidaknya dalam hatinya Ayaz sudah bisa menerima."


"Rumit sekali, aku bahkan tidak percaya kalau kisah Ayaz begitu rumit."


"Lalu, apa yang Daddy katakan tentang balas dendam?"


"Aku juga sudah memutuskan untuk itu, aku pasti akan membantu Ayaz membalaskan dendamnya, karena kali ini target kami benar-benar sama, pecundang itu harus mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang menimpa Nindi dan Ayaz dulunya."


"Perintahkan saja apapun padaku, aku siap membantu!" ucap Rymi, wanita itu juga menaruh dendam pada Sian setelah mendengar cerita Ayaz waktu itu, apalagi ditambah dengan cerita Marco, Rymi tidak bisa membayangkan bagaimana Nindi berjuang untuk hidup setiap harinya.


"Apa kau jadi berhenti?" tanya Marco tiba-tiba.


"Ya?"


"Apa kau jadi berhenti bekerja di DN Company?"


"Iya, aku sudah menyelesaikannya, meski harus membayar ganti rugi, tapi tidak apa, aku tidak menyesalinya." jawab Rymi.


"Rym, sebenarnya kau bisa saja masih tetap bekerja, dari pada harus membayar ganti rugi." Marco menyayangkan itu, seseorang yang gila harta sepertinya bagaimana bisa kehilangan uang dengan cuma-cuma.


"Kali ini bukan masalah uang Dad, aku benar-benar merasa tidak bisa." ucap Rymi lirih. Wanita itu menatap jendela kaca di ruangan itu, harusnya ia bahagia saat itu, sudah terlepas dari semua yang dianggapnya sebagai beban.


"Kenapa? Apa karena Rangga?"


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2