Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kau sudah berhasil membuat dia menjadi budak cintamu ternyata!


__ADS_3

"Rym... Kau kenapa?" Samudra kembali panik kala Rymi berlari cepat menuju toilet, terdengar suara dari dalam sana, sepetinya Rymi memuntahkan lagi kopi yang baru saja wanita itu minum.


Sam juga tampak heran, itu berarti mungkin perut Rymi lah yang bermasalah, jadi bisa dirinya simpulkan bahwa Rymi muntah tadinya itu bukan karena kopi yang dirinya berikan.


"Rym..." panggilnya dari luar.


"Hueekkk..."


"Hueekkk..."


"Rym... Buka pintunya, biar aku masuk!" ucap Sam gaduh, ia benar-benar khawatir tentang Rymi.


Tak lama Rymi membuka pintu kamar mandi, wanita itu tampak pucat dan lemas, mungkin karena tubuhnya yang bereaksi lain hari ini. "Sam..." lirih Rymi.


Rymi merasakan tubuhnya itu kini lemas sekali, ia bagai tidak berdaya bahkan hanya sekedar untuk bicara pun rasanya Rymi tidak sanggup.


"Ya, kau kenapa? Kau demam?" tanya Sam, ia juga bingung apa yang nantinya akan ia lakukan, membawa Rymi ke rumah sakit, tapi apa mereka sedekat itu?


Rymi tidak kuat, tanpa sadar tubuhnya ambruk di pelukan Sam, membuat Sam semakin dilanda panik.


"Rym, kau kenapa?"


Mata Rymi sudah terpejam, lalu dengan cepat Sam membawa Rymi menuju sofa, ia membaringkan wanita itu dan membangunkannya.


Beberapa penjaga ia panggil untuk membantunya menyadarkan Rymi.


"Apa dia mempunyai makanan yang tidak bisa dimakannya?" tanya Sam cepat.


"Maaf Tuan, kami tidak tau!" jawab salah satu penjaga.


"Bantu aku membawanya ke rumah sakit!" titah Sam. Ia kembali membawa tubuh Rymi menuju mobil, dan menyuruh salah satu penjaga itu menyiapkan segalanya.


Namun tindakannya itu terhenti kala salah satu penjaga mencegahnya.

__ADS_1


"Nona Rymi tidak bisa dibawa ke rumah sakit Tuan!" cegahnya.


Sam menatap penjaga itu tajam, "Lalu bagaimana? Kenapa? Kenapa dia tidak bisa dibawa ke rumah sakit?" tanya Sam garang.


"Emmm... Anu..." gagap penjaga itu.


"Kenapa?" tanya Sam lagi, ia sungguh tidak sabar.


"Biar kami telpon Tuan Marco dulu, karena Nona Rymi benar-benar tidak bisa dibawa ke rumah sakit." usul salah satu penjaga yang lainnya.


Rymi, Ayaz, dan Marco, adalah orang yang tidak bisa dibawa ke rumah sakit, karena suatu hal yang jika sampai pihak rumah sakit mengetahuinya maka Marco lah yang harus bertanggung jawab.


"Apa? Dia pingsan, dan kau malah mengusulkan untuk menanyakan pada Tuan Marco terlebih dahulu? Kalian gila? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"


"Tuan Samudra! Hal itu memang sudah menjadi perintah yang harus kami patuhi, lagi pula Tuan Marco adalah Ayah dari Nona Rymi, jika pun terjadi sesuatu pada Nona Rymi maka Tuan Marco lah yang akan bertanggung jawab." tutur penjaga itu, mereka tetap tunduk pada apa yang pernah diucapkan Marco, bahwa Rymi dan Ayaz jangan pernah sekali-kali dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadar.


Sam melepaskan gendongannya, ia membaringkan tubuh Rymi kembali di sofa, "Ya... Baiklah! Tuan Marco itu memang benar adalah ayahnya." ucap Sam, ia kesal sekali.


Sam duduk tak jauh dari Rymi, ia sedang berusaha menetralkan perasaannya, bagaimanapun kenyataan itu memang benar, Marco Arash itu benar adalah ayah dari seorang wanita yang tengah dikhawatirkannya ini.


"Bagaimana ini?" gumam penjaga itu bertanya pada sesama rekannya.


"Bagaimana?" desak Sam.


"Emmm, Tuan Sam, sepetinya Tuan Marco..."


"Aku akan membawanya ke rumah sakit." potong Sam, bagaimana ia bisa bersabar, Rymi mengalami muntah-muntah dan sekarang malah tidak sadarkan diri, apa orang-orang ini sudah gila menyuruhnya menunggu lebih lama lagi, sebentar pun Sam tidak yakin bisa melakukannya.


"Tuan Sam..." penjaga itu mulai membentak, "Nona Rymi benar-benar tidak bisa dibawa ke rumah sakit dalam keadaan dirinya yang tidak sadar, jika Tuan benar-benar ingin mengetahui alasannya, Tuan Sam bisa bertanya sendiri dengan Tuan Marco, kami hanya melakukan tugas kami sesuai perintahnya."


"Gila..." umpat Sam.


"Bagiamana jika kita memberitahukan ini pada Tuan Ayaz, Tuan Ayaz pasti bisa mengurusnya." usul salah satu penjaga lagi.

__ADS_1


"Tah kau benar." jawab yang lainnya menyetujui.


Mereka mulai menghubungi Ayaz, dan dalam panggilan ke dua Ayaz baru mengangkatnya.


Penjaga itu mengabarkan bagaimana kondisi Rymi, dan Sam mendengar Ayaz di seberang sana ana mengatakan kalau sebentar lagi pria itu akan menjemputnya.


Sam benar-benar tidak mengerti akan kehidupan Rymi, Ayaz dan Marco, sungguh kehidupan seperti apa yang ketiga orang itu jalani.


Dua puluh menit berlalu, tak lama terdengar suara mobil Ayaz dari luar, Ayaz berlari kecil menuju Rymi yang masih tidak sadarkan diri.


"Apa terjadi sesuatu padanya? Sam mengapa doa bisa seperti ini?" tanya Ayaz pada Sam, ia tidak bermaksud mencurigai Sam, namun sebagai seorang kakak ia sungguh mencemaskan Rymi.


"Rym... Rym..." panggil Ayaz, ia menepuk pelan pipi sahabat yang sekaligus adalah adik angkatnya itu.


Ayaz meringis melihat kedekatan Ayaz dan Rymi, bahkan ia melihat dengan jelas tatapan khawatir Ayaz yang seperti menghawatirkan seseorang yang berharga dalam hidupnya. Mungkinkah Ayaz dan Rymi memang memiliki perasaan yang sama, mereka terlihat begitu dekat, tak ubah seperti sepasang kekasih, pikirnya.


Sam ingin menghilangkan kecurigaannya, namun saat melihat Ayaz yang telah mendahului langkahnya untuk membawa tubuh Rymi, Sam sungguh patah hati lebih cepat dari dugaannya.


Mereka... Ayaz, apa kau mencintai Rymi?


Sam mengikuti langkah Ayaz, Saat Ayaz sudah membaringkan tubuh Rymi di kursi belakang mobil, Sam menanyakan akan di bawa ke mana Rymi, ke rumah sakit kah? Dan mengapa penjaga itu mengatakan Rymi tidak bisa dibawa ke rumah sakit?


"Apa kau akan ke rumah sakit?" tanya Sam, "Aku sudah ingin membawanya, tapi penjaga itu..."


"Rym memang tidak bisa dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tubuhnya yang tidak sadar, ini adalah sebuah rahasia kami, aku akan membawanya ke suatu tempat, kau bisa ikut jika kau mengkhawatirkannya!" ajak Ayaz, ia tau sahabatnya itu mempunyai perasaan lebih terhadap adik angkatnya ini.


Sam mengangguk, kemudian ia menuju mobilnya untuk mengikuti ke mana gerangan mobil Ayaz akan membawa Rymi.


Ayaz berbicara pada beberapa pengawal, Sam tidak bisa mendengar itu karena jarak mereka lumayan jauh. Dilihatnya Ayaz seperti sedang memerintah.


Ayaz masuk ke mobil dan kemudian mulai merayapkan mobilnya itu. Sam mengikutinya dari belakang, meski penasaran dan terselip rasa cemburu namun yang paling dominan dirasakan Sam kali ini adalah rasa khawatir takut terjadi sesuatu pada wanita pujaannya itu.


Ayaz melihat mobil Sam dari kaca mobilnya, "Kau sudah berhasil membuat dia menjadi budak cintamu ternyata!" ucap Ayaz pada tubuh Rymi yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2