Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
"Oh Astagah!"


__ADS_3

Wana mengedarkan pandangannya, ia sudah berada di sebuah Cafe yang dikabari oleh Dandi untuk pertemuan mereka berdua.


Ia melihat sosok itu sedang mengaduk ngaduk minuman yang dipesan, mungkin sudah lama menunggu dirinya.


Wana langsung saja menghampiri, ia duduk tanpa permisi di hadapan Dandi, "Ada apa?" tanyanya langsung saja.


"Apa kau begitu sangat terburu-buru hingga rasanya duduk saja tidak nyaman, ayolah anakmu sebentar lagi akan menikah, seharusnya kau mempunyai wajah yang menyenangkan bukan?" ledek Dandi.


"Aku sibuk dan sebenarnya tidak ada waktu untuk menemuimu!"


"Kau tidak berubah Wana, masih saja terlalu sombong!" ucap Dandy. Mantan istrinya itu memang selalu saja seperti itu namun anehnya Wana selalu saja menuruti apapun kemauannya, yah tentu saja karena Dandi adakah satu-satunya orang yang mengetahui kartu wanita itu.


"Raisa juga anakku, jika ia berhasil menjadi istri dari seorang Harun Aji Suryono maka bukankah sudah seharusnya kau membagi sedikit persenannya itu padaku? Aku sebenarnya tidak ingin menekankan lagi apa yang telah kulakukan untuk menyelamatkan putrimu, Ah maksudku Putri kita!" Dandi menekankan kembali jasanya.


"Kau juga tidak berubah, selalu saja bisa memanfaatkan orang lain demi kepentinganmu, apa yang kau mau?" tanya Wana cepat.


"Tidak banyak! Aku hanya ingin kau berikanlah aku tempat tinggal yang layak." pinta Dandi.


Amla membuang muka, lalu dengan berat ia berkata, "Aku perlu sebuah surat perjanjian supaya kau tidak memeras ku seperti ini lagi!" ucap Wana, ia sedikit kesal karena Dandi selalu saja begitu, memerasnya jika membutuhkan apapun dalam hidup pria itu.


"Apa? Kau bilang apa? Memerasmu, bukankah kata itu terlalu lucu?" ledek Dandi lagi.


"Dandi!" pekik Wana, ia geram sekali.


"Hei, ayolah, kau sudah menjadi orang kaya, wanita sukses, sosialita, harusnya kau bisa sedikit berbagi untuk hidup tuamu nanti, karena aku tidak yakin begitu semuanya mengetahui siapa dirimu, Argantara yang sangat kau cintai itu, bagaimana jika ia mengetahui tentang dirimu yang sebenarnya dan siapa Raisa! Apa kau bisa masih bisa menikmati hidup bermewah-mewahmu ini? Atau kau akan kembali bersamaku menjalani biduk rumah tangga di sebuah rumah yang saat ini engkau hadiahkan kepadaku, bukankah itu sebuah investasi yang menguntungkan?" ancam Dandi lagi.


"Dandi! Jaga mulutmu itu, jangan macam-macam, awas aja kalau bertindak di luar batas! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, camkan itu!" Wana menatap Dandi tajam.


Dandi acuh saja, ia tidak terlalu memusingkan ancaman Wana karena di sini meskipun dia tidak memiliki apapun Wana tetaplah menjadi bawahannya.


"Mau atau tidak?" tanya Dandi sekali lagi.

__ADS_1


"Aku akan mengurusnya!" sahut Wana.


Lalu, wanita itu bangkit tanpa pamit, ia meninggalkan Dandi, Wana begitu benci akan keadaan ini karena Dandi memegang satu kelemahannya maka ia harus selalu takluk pada pria itu, mantan suami yang sangat tidak berguna baginya.


Wana menghentikan langkahnya saat pikirannya tertuju pada sesuatu, kemudian ia menatap lagi Dandi yang tengah duduk di kursi dengan tenang, wanita itu tersenyum smirk dan berucap, "Tunggu dan lihat saja, kau pikir kau bisa terus-terusan memerasku seperti ini, aku tidak akan membiarkan ini berlarut semakin lama lagi sebuah bayaran yang mahal harusnya kau terima bukan! Dasar tidak berguna!" umpat Wana.


Wana menaiki mobilnya, menghidupkan mesin mobil dan berencana untuk pergi ke suatu tempat.


Dalam perjalanannya rona wajahnya nampak begitu senang ia tidak berhenti tersenyum karena menurutnya sebentar lagi ia akan bebas dari ancaman seorang Dandi.


...*** ...


Ayaz sampai di Italia saat hari sudah larut, ternyata Sam sudah menungguinya di Bandara, mau tidak mau Ayaz langsung saja mendekat ke arah Sam.


“Aku tidak akan menginap di rumah duka, besok pagi-pagi sekali kau kirimkan saja alamatnya” ucap ayah tanpa mengurangi rasa hormat.


"Baiklah!" sahut Sam yang juga hanya bisa menurut.


Sam sudah mendengar sendiri pengakuan dari bibi Daslah selaku neneknya Ayaz, ia bisa menimbang bahwa mungkin keadaannya saat itu memang tidak memungkinkan.


"Aku akan mengurus bagianku! Kau tidak perlu khawatir!" sahut Ayaz.


Sam mengangguk patuh.


Yaren baru pertama kali mengunjungi luar negeri, semasa ia hidup ia tidak pernah sama sekali bepergian ke luar negeri, ini adalah kali pertama baginya, meski tujuannya kali ini adalah untuk menghadiri pemakaman salah satu keluarga Ayaz namun baginya tetap saja yang pertama memang selalu mengesankan.


Tidak lama Ayaz, Marco dan Yaren sampai di sebuah hotel ternama di kota itu, para pekerja hotel begitu tunduk saat melihat Sam. Sam dengan bahasa italinya mengabarkan pada seluruh pekerja hotel yang sedang bertugas saat itu bahwa Ayaz adalah pewaris satu-satunya keluarga donulai maka sejak saat itu juga para pekerja di hotel itu langsung tunduk melihat Ayaz.


Ayaz mengerti bahasa Itali, Marco pun juga, hanya Yaren yang melongo karena tidak mengerti apapun.


"Mereka mengatakan apa?" tanya Yaren berbisik pada Ayaz.

__ADS_1


"Tidak tahu!" jawab Ayaz berdusta.


Yaren mengerucutkan bibirnya namun pikirnya ia bisa menebak mungkin para pekerja di hotel ini memiliki kebiasaan yang begitu baik selalu hormat pada tamu yang datang.


Yaren dan Ayaz menempati satu kamar sementara satu kamar lagi tersedia untuk Marco, Ayas akan menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat sebaik-baiknya.


Saat keduanya sampai di sebuah kamar entah kenapa Ayas terpikir lagi akan ucapan Marco yang menyuruhnya untuk berlibur bersama Yaren seperti berbulan madu, sebenarnya apa yang disarankan Marco menurutnya tidak begitu buruk namun entahlah setelah menghadiri pemakaman Daslah Donulai, neneknya besok pagi barulah Ayaz akan memikirkan apa rencana mereka selanjutnya.


Ayas menyuruh Yaren untuk mandi terlebih dahulu dirinya akan menghubungi Rymi sebentar.


Yaren menurut, ia mengambil pakaian gantinya dari koper, Ayaz mengatakan bahwa pakaian gantinya sudah disiapkan di koper berwarna pink terang itu, jadi Yaren pikir mungkin benar saja.


Mata yaren membulat saat melihat apa yang terisi di koper yang katanya adalah miliknya, "Ayaz!" serunya pada sang suami.


Ayas menoleh, "Ada apa?" namun matanya lagi-lagi membulat kala Yaren membidar satu buah mini dress berwarna merah marun yang terlihat begitu se*y.


"Astaga!" pekik Ayaz.


"Apa kau sudah gila, kau bilang aku tidak perlu membawa baju karena kau sudah menyiapkannya, namun apa ini Ayaz? Bagaimana aku besok menghadiri pemakaman nenekmu jika yang tersisa di koper ini hanya pakaian seperti ini?" tanya Yaren, ia tidak percaya kepergiannya ke luar negeri kali ini sedikit tidak mengena.


Ayaz sedikit kesal pada Marco, ia berkata pada Yaren, "Jjujur saja, sebenarnya bukan aku yang menyiapkan pakaianmu itu, tapi Tuan Marco!" Ayaz masih memanggil Marco dengan embel-embel Tuan di hadapan Yaren, ia tidak tahu harus jujur secepat itu apakah tidak tentang statusnya dan Marco yang adalah Ayah dan Anak pada Yaren, "Itu adalah pakaian Rymi yang mungkin tersisa di rumahnya, kau tahulah Rymi dia memang suka memakai pakaian seperti itu!" lanjut Ayaz.


"Lalu aku harus memakai apa?" tanya Yaren lagi, ia menelusuri lagi isi dari koper itu, namun benar dugaannya rata-rata pakaian yang disiapkan oleh Ayaz dan Marco hanyalah pakaian serba mini, Yaren sungguh tidak biasa mengenakannya.


"Kau mandi saja! Nanti selesai mandi pakai saja bathrobe, aku akan menyuruh Sam untuk mempersiapkan pakaian untukmu besok paginya." ucap Ayaz.


Yaren mengangguk, lalu ia benar-benar beralih menuju kamar mandi untuk merilekskan tubuhnya, mengkontaminasi tubuhnya dengan air supaya lebih ringan dan nyaman.


Ayaz melihat lagi ke arah koper yang masih terbuka dengan beberapa mini dress milik Rymi sebagai isinya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Ayaz sungguh menyesal menyerahkan tugas sepele itu pada Marco, "Oh Astagah!" keluhnya.


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2