Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bisakah kita bertemu?


__ADS_3

"Mengapa? Mengapa kalian tidak bisa menemukannya? Ini gila! Oh suamiku!" Amla terus saja menangis saat pihak kepolisian mengabarkan tidak bisa menemukan Sian. Bagaimana bisa, rasanya Amla berpikir tidak mungkin, di mana Ayaz menyembunyikan Sian sebenarnya, mengapa sampai hari ini pun tidak terdengar kabar dari suaminya itu, hidup ataupun mati.


"Maafkan kami nyonya, tim kami masih berusaha untuk terus melakukan pencarian, jika terdengar kabar ataupun petunjuk kami pasti akan selalu mengabari Nyonya."


"Lakukan! Lakukan apa saja untuk menemukan suamiku! Oh suamiku..." deru tangis yang menyesakkan, Amla memang layak memenangkan piala Oscar untuk bakat terbaiknya itu.


"Tolonglah, aku tidak akan bisa terus berdiam diri seperti ini, oh ya Tuhan, lama-lama aku bisa gila jika belum juga mendengar kabar darinya, suamiku... Pulanglah!" ratap Amla.


Sedang di sebuah ruangan, Marco menatap wajah babak belur Sian, sudut bibirnya terangkat saat melihat betapa menderitanya tubuh yang sudah hampir tidak bernyawa itu.


"Kau masih mengenalku?" tanya Marco, namun yang ditanya seakan tidak bisa mendengar apapun, Sian benar-benar bagai orang yang sedang menunggu kematiannya.


"Aku pernah menghabisimu waktu itu, jika aku tau hal yang akan kau lakukan untuk menjaga Tuan Putriku, aku tidak akan membiarkanmu hidup waktu itu!"


Marco menjambak kasar rambut Sian, di sisa-sisa tenaganya, Sian mengerang pelan, dia sungguh kesakitan.


"Kau ingin aku membunuhmu?" tanya Marco.


Sian mengangguk pelan, dalam hatinya ia juga berharap kalau dirinya bisa mati saat itu juga.


"Benarkah?" tanya Marco lagi, "Hahahahaha!" lalu tertawa keras seperti orang gila.


"Kau kira akan semudah itu?" lanjutnya lagi.


"Atau kau ingin aku membiarkanmu hidup? Aaa, seperti membebaskanmu! Kau mau?"


"Kau ingin hidup?"


Sian memalingkan wajahnya, ia enggan menatap pria yang ia ketahui adalah ayah kandung Ayaz itu.


"Sebenarnya aku bisa membebaskanmu, namun tentulah dengan satu syarat, tapi aku tidak yakin kau bisa melakukannya!"


Sian langsung saja menatap Marco, matanya syarat akan pengampunan. Jika itu benar, memang seharusnya ia benar-benar berharap. Namun, apa pria di hadapannya ini sudah gila ingin membebaskan musuh.


"Hahahahahaha!" Marco tertawa lagi, ia seolah tidak akan pernah puas untuk menertawakan hidup Sian yang dianggapnya begitu menyedihkan.


...***...

__ADS_1


"Apa sudah kalian periksa kalau itu benar-benar rumahnya?" tanya Sam, hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang, Dokter juga tidak perlu khawatir karena keluarga Donulai pasti akan merawat anak mereka dengan baik.


"Sudah Tuan!"


Sam memang menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Ayaz, tapi nyatanya orang kepercayaannya tidak juga bisa menemukan di mana keberadaan sahabatnya itu, hanya sebuah rumah yang mereka laporkan adalah kediaman Ayaz.


"Apa kalian melihat dia di sana?"


Salah satu orang kepercayaannya menggeleng pelan, "Rumah itu tampak kosong, hanya saja salah satu tetangga di situ mengatakan bahwa benar sepasang suami istri memang mendiami rumah itu, hanya saja sudah beberapa hari ini mereka tidak pulang, sebagian berasumsi mungkin sedang ada acara keluarga, mereka semua yang bertetangga juga tidak mengetahui di mana keberadaan Tuan Muda Ayaz dan istrinya.


"Apa kalian menanyakan sesuatu lagi?"


"Mereka hanya mengenal Nona Yaren, sedang untuk Tuan Muda Ayaz, mereka mengatakan tidak begitu dekat hingga mereka juga tidak mengetahui namanya."


Sam tertunduk, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Ayaz dan istrinya tidak bisa ditemukan keberadaannya.


"Apa ada perintah selanjutnya?"


"Kalian terus saja mencari, ah iya cari juga keberadaan Sian, kalian tau Sian pemilik SN Group? Ada laporan bahwa pengusaha kaya raya itu dikabarkan hilang, kalau bisa kalian harus lebih dulu menemukan keberadaannya sebelum pihak kepolisian menemukannya?"


"Baik Tuan Muda!"


"Lakukan ini secara rahasia, kalian mengerti?"


"Mengerti Tuan Muda!"


Selain untuk menemukan Ayaz, aku harus tau apa pesan yang dimaksudkan mengenai foto ini, apa Ayahku berada di tangan Sian, kalau memang benar begitu... Aku tidak akan membiarkannya hidup! Dasar keparat Sian!


Sam menatap foto seorang pria di foto yang waktu itu pernah Ayaz berikan padanya, ia baru menyadari kalau foto itu adalah foto Ayahnya, meski samar namun Sam entah mengapa begitu yakin kalau pria di foto itu adalah benar ayah kandungnya.


Jaket itu, ia ingat Ibunya yang membelikan jaket itu untuk Ayahnya, lalu... Apa mungkin telah terjadi sesuatu dengan Ayahnya? Sam semakin didera kekhawatiran, tidak cukup mengkhawatirkan Ayaz yang tidak ada habisnya, karena foto itu malah dirinya harus memikirkan bagaimana keadaan Ayahnya saat ini, dia telah berpikir begitu mudah, yang sebenarnya Sam menganggap Ayahnya baik-baik saja selama ini.


Di tengah-tenah pemikirannya yang berkecamuk, tiba-tiba saja ponselnya berdering, Sam menyeringit saat melihat siapa yang menghubunginya, ada apa?


^^^"Bisakah kita bertemu?"^^^


"Kau yakin?"

__ADS_1


^^^"Aku butuh bantuanmu!"^^^


^^^"Kau di mana? Biar aku yang pergi menemuimu?"^^^


"Setelah mengabaikanku, kau malah dengan tidak tau malunya ingin mengajak bertemu? Sebenarnya apa maumu?"


^^^"Kau pikir aku mau bertemu denganmu jika bukan karena terpaksa? Bahkan kau tau, aku juga tidak mau menghirup udara yang sama denganmu, aissshhh... menyebalkan!"^^^


"Aaa begitu? Heh, dia bilang aku menyebalkan, yaaa apa rumahmu tidak punya kaca?"


"*Bahkan k*au lebih-lebih menyebalkan dariku kau tau!"


^^^"Aku tidak ingin berdebat Rangga, jadi... Jangan menguji kesabaranku, di mana kau?"^^^


"Hahahaha, ya baiklah, kalau kau ingin sekali bertemu denganku!"


^^^"Katakan kau di mana?"^^^


"Aku penasaran jika ini sungguh penting bagimu? Kau seharusnya bisa berusaha untuk mencari keberadaanku kan!"


^^^"Sial!"^^^


"Dia mengumpat!"


Sam hanya menatap layar ponselnya, panggilan itu baru saja diakhiri oleh wanita di seberang sana yang sepertinya tidak punya stok kesabaran yang banyak, Sam sedikit tersenyum membayangkan betapa menggemaskannya Rymi saat sedang kesal, ah Sam saja masih tidak percaya entah mengapa ia bisa menyukai wanita kasar seperti Rymi.


Jika mengingat kembali pertemuan awalnya dengan Rymi, Sam tidak bisa menahan untuk tersenyum, seorang pria biasanya selalu saja mengganggu wanita yang dia sukai, dan itu juga berlaku untuk dirinya, saat ia menyuruh Rymi untuk membuatkan kopi untuknya waktu itu, jujur saja saat itu mungkinkah ia sudah jatuh cinta pada wanita itu, hanya saja ia tidak bisa untuk mengungkapkannya.


Begitu menggemaskan saat pertemuan pertama, Rymi yang menabraknya dan waktu itu dengan segera meminta maaf, wanita itu juga tidak mengenalnya dan tanpa ragu mengatakan supaya mereka bisa bekerja sama dengan baik, ah saat itu Sam seolah kehilangan kata-katanya karena Rymi yang sudah lebih dulu mengambil apa yang seharusnya dirinya ucapkan.


Lalu, yang lebih membuatnya begitu menyayangi Rymi saat wanita itu telah dengan berani menciumnya, meski itu dilakukan saat mabuk namun bagi Sam, Rymi sudah berhasil membuatnya benar-benar jatuh cinta.


Malam itu, ia kira Rymi akan menjadi miliknya saat penyatuan yang disertai erangan itu menggema di kamar hotel tempat di mana ia membawa Rymi. Malam itu, Rymi yang memintanya untuk melakukan itu, namun wanita itu, paginya dengan mudah dan seolah tidak pernah terjadi apapun, mengatakan untuk menyuruhnya melupakan apapun yang terjadi, itu gila, hal itu benar-benar gila, hal yang hanya bisa dilakukan oleh wanita yang juga gila.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2