Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Menikah.


__ADS_3

"Seperti ini saja!" ucap Ayaz, kedua tangannya memeluk erat tubuh Yaren.


"Ayaz!"


"Aku akan mengabulkan permintaanmu. Bukankah kau ingin menikah?" tanya Ayaz memastikan.


Deg,


Yaren menegang, apa maksudnya tiba-tiba Ayaz mengatakan itu.


"Meski tidak saling cinta, meski hanya sebatas teman ranjang, yang terpenting bagimu adalah status kan." jelas Ayaz.


"Apa maksudmu, kau akan menikahiku?" tanya Yaren.


"Sesuai permintaan!" jawab Ayaz.


Hening, Yaren terdiam, benarkah yang baru saja Ayaz katakan, itu berarti sebentar lagi dirinya akan menjadi istri dari seorang Ayaz.


"Aku punya satu pertanyaan." ucap Yaren.


"Katakan saja!"


"Jika kita menikah, kau akan meninggalkanku seperti malam kemarin?" tanya Yaren hati-hati.


"Harus bagaimana lagi? Itu adalah pekerjaanku!" sahut Ayaz.


"Jika aku hamil..."


"Usahakan jangan sampai hamil!" jawab Ayaz, bahkan sebelum Yaren selesai mengajukan pertanyaannya.


Hati Yaren bagai ditampar rasanya, mendengar pernyataan Ayaz yang begitu mencabik-cabik perasaannya.


"Ayaz!"


"Yaren, aku tidak mau dengar, aku tidak akan mau punya anak!" jelas Ayaz.


Yaren tertunduk. Yah, sudahlah, yang terpenting dirinya tidak masuk ke dalam zina, tidak merajut hubungan yang haram.


"Besok pagi, kau bersiaplah! Aku akan membawamu ke kota menemui seseorang, kita akan menikah di sana, dan kau... Jangan coba-coba untuk kabur dariku." titah Ayaz sembari memberi peringatan.


"Baiklah!" jawab Yaren pelan.


"Ayo tidur!" ajak Ayaz.


Keduanya berjalan menuju kamar, tidur satu ranjang lagi.


Ayaz mulai memeluk Yaren, Yaren bisa membuatnya lebih cepat tertidur.


Semoga keputusanku tepat!


...***...

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, Yaren sudah mandi dan bersiap-siap. Terbesit dalam pikirannya bagaimana jika dirinya mencoba kabur saja saat sudah sampai di kota. Apa Ayaz akan lagi-lagi mengampuninya jika ia tertangkap? Atau malah akan membunuhnya saat itu juga.


Ayaz berada di luar, menghubungi seseorang untuk dimintainya bantuan.


"Kau makanlah, nanti saat sudah berada di kota kau akan menginap di hotel, aku akan menemuimu lagi saat malamnya." suruh Ayaz.


"Iya!"


Yaren menuju dapur, dilihatnya di meja makan memang sudah tersaji dua piring nasi goreng, Yaren mencoba sarapan, mengisi tenaganya barang kali dirinya benar-benar akan kabur nanti saat sampai di kota.


Ayaz menyusulnya, pria itu juga mulai lahap menyantap sarapannya.


Setelah sarapan, keduanya berangkat ke kota. Kali ini menggunakan mobil. Yaren ingin sekali bertanya bahwa ini mobil siapa, namun urung dirinya lakukan dan memilih menebak-nebak saja barangkali mobil milik rekannya Ayaz.


Ayaz melajukan mobilnya, menyusuri rindangnya hutan yang menyapa mereka. Selama jalan menuju persimpangan, Yaren benar-benar memperhatikan dengan teliti arah yang ditempuh, banyaknya kelokan membuatnya bingung sendiri.


"Bagaimana? Kau sudah bisa menghafalnya?" tanya Ayaz, melihat gerak-gerik Yaren yang tidak mengalihkan pandangannya pada setiap jalan membuatnya tau apa yang sedang dilakukan Yaren.


"Ah, emm sepertinya sulit, mengapa jalan menuju rumah dibuat seperti itu!" tanya Yaren.


Saat ini mereka sudah melewati persimpangan, memasuki jalan yang sepi menuju kota.


Ayaz hanya tersenyum menatap Yaren, tidak berniat untuk menjawab.


Satu jam setengah berlalu, mobil Ayaz sampai di sebuah hotel. Cukup mewah, namun nampaknya hotel ini bukanlah hotel ternama.


"Masuklah dulu, ini kuncinya!" suruh Ayaz. memberikan kunci kamar pada Yaren, yang saat ini adalah calon istrinya.


Sementara Ayaz, pria itu hilang tanpa jejak. Yaren sudah memperhatikan ke arah luar, namun mobil Ayaz juga sudah pergi menjauh nampaknya.


Yaren berperang dalam batinnya. Dirinya tidak tau sedang berada di daerah mana, ponselnya juga sudah tidak bisa digunakan, jika dirinya kabur ada beberapa kemungkinan buruk yang akan dirinya lalui, namun jika dirinya tidak kabur hari ini mungkin ia sudah resmi menjadi istri dari Ayaz.


Duh, aku harus gimana?


Tanpa terasa langkahnya sudah sampai di depan sebuah kamar, dengan nomor yang sama pada kartu yang dipegangnya.


Yaren membuka kunci kamar itu menggunakan kartu, dilihatnya kamar yang akan ia tinggali, cukup luas. Seketika sebuah pemikiran yang entah mengapa bisa datang di otaknya itu membuatnya malah melamun.


Apa aku akan melakukan malam pertama di sini dengan Ayaz?


Tanyanya pada diri sendiri, Yaren sukses menjadi geli sendiri membayangkan malam panasnya dan Ayaz.


"Ah, apa sih aku ini?" gumamnya heran.


Tok, tok!


Sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunan Yaren, dirinya mendesah pelan. Pikirnya Ayaz sudah berada di balik pintu.


Ceklek,


Mata Yaren membulat kala melihat siapa yang datang, ditemani satu orang kiyai dan dua orang laki-laki lainnya. Ada juga wanita yang pernah ditemuinya di sebuah pusat perbelanjaan barang branded waktu itu. Tapi, Yaren hanya berfokus pada satu orang saja di hadapannya itu.

__ADS_1


"Papa!" lirihnya tidak percaya. Papanya datang, apa Papanya sendiri yang akan menjadi wali nikahnya.


"Yaren!" sahut Argantara. Pria paruh baya itu sejujurnya juga merindukan putrinya, namun melihat wajah Yaren yang begitu banyak membuatnya sakit hati, Argantara seakan tidak bisa menerima putrinya begitu saja.


Yaren hendak memeluk pria paruh baya itu, namun tertahan kala Argantara, Papanya itu malah terlihat menolak perlakuannya.


"Kita selesaikan urusanmu!"


"Memalukan, sudah tidur bersama laki-laki lain, malah sekarang minta dinikahkan, jangan harap aku bisa memperlakukanmu dengan baik!" bisik Argantara.


Seketika hatinya sakit sekaligus puas berkata begitu pada putri sulungnya. Padahal, Yaren adalah cinta pertamanya, cinta pertamanya dengan almarhumah sang istrinya dulu.


"Papa!" lirih Yaren, hatinya sakit mendengar itu. Air mata yang memang sudah akan jatuh kini lancar saja mengalir, namun kali ini bukan sebab rindu akan seseorang yang sangat dicintainya, melainkan air mata kekecewaan.


Yaren sungguh kecewa, meski dirinya sempat membenci, namun Yaren tidak berharap hubungannya dan sang Papa akan berakhir menyedihkan seperti ini.


"Di mana nak Ayaz?" tanya seorang Kiyai itu pada Yaren.


"Dia..."


"Dia pergi keluar sebentar Kiyai, nanti akan segera kembali!"


Belum sempat Yaren menjawab, ucapannya sudah terpotong oleh seorang wanita. Wanita yang pernah dijumpainya di pusat perbelanjaan waktu itu. Sebenarnya siapa dia? Apa hubungannya dengan Ayaz? Batin Yaren menerka.


"Hai, kakak ipar!" sapa Rymi.


Yah wanita itu adalah Rymi, saat ini Ayaz sedang menjemput Marco untuk menjadi salah satu saksi nikah pria itu juga.


"Hah!" bingung Yaren.


"Kita pernah bertemu sebelumnya, siapa namamu?" tanya Rymi antusias.


"Eh, Yaren!" gagap Yaren menjawab dengan keraguan.


"Aku Rym, begitu Ayaz biasanya memanggilku, ternyata kau adalah wanita beruntung itu, selamat yaaa akhirnya kau bisa mendapatkan hati seorang Ayaz, hati-hati... Dia cukup ganas!" bisik Rymi pelan menggoda Yaren.


"Hah, apa maksudnya?" tanya Yaren lagi.


"Silakan duduk dulu Pak, sebentar lagi Kakakku akan segera sampai!" ucap Rymi tanpa menjawab pertanyaan mengganjal Yaren.


"Kakak?" tanya Yaren.


"Sini, sebentar, emm kau gantilah bajumu, pakai ini, tidak mungkin kan kau menikah dengan menggunakan hoddie seperti ini. Aku harus mengambil foto kalian beberapa nantinya, dan itu akan sangat buruk!" cetus Rymi.


"Ah iya!" Yaren mengambil baju yang disodorkan Rymi, yang dirinya kira adalah adiknya Ayaz. Begitu banyak misteri yang belum dirinya ketahui tentang Ayaz, termasuk keluarga, siapa saja keluarga Ayaz, dengan siapa saja Ayaz berinteraksi sehari-hari, atau apa sebenarnya pekerjaan Ayaz.


Dirinya sungguh belum bisa masuk dalam dunianya seorang Ayaz.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2