
"Apa kau yakin?" tanya Marco, saat ini dirinya dan Rymi sedang berada di sebuah rumah, segala perlengkapan untuk kebutuhan transfusi darah sudah ia siapkan, hanya tinggal memastikan saja apa darah pria itu akan cocok untuk Ayaz.
"Dia bilang Rhesus negatif, kita lihat saja." jawab Rymi.
"Tunggu dia bangun!" ucap Marco lagi.
"Aku tidak ingin melakukan kejahatan untuk darah yang akan dipakai anakku, kita beri dia kesempatan untuk berbicara, kita akan jelaskan apa yang terjadi sebenarnya, jika dia tetap menolak aku bisa apa? Bukankah kita tidak punya jalan lain!"
"Aku harus melewati banyak keluhan untuk membuatnya berada di sini, tolong jangan serahkan dia padaku, aku tidak berani jamin!" ucap Rymi acuh. Jelas saja, Rymi tidak mempunyai kesabaran yang luas untuk menghadapi orang yang banyak tingkah, dia akan menyerah jika bukan karena Ayaz. Maka dari itulah saat Samudra Rangga mempermainkannya waktu itu, dari situlah ia menjadi benci terhadap pria itu. Dan Samudra harus menanggung akibat dari perlakuannya saat itu.
"Ya! Baiklah Tuan Putri, kau bisa istirahat kali ini, haruskah aku mengucapkan terimakasih dan membungkuk? Kau yang terbaik!" goda Marco.
"Heh!" Rymi memiringkan sudut bibirnya, "Aku akan sangat senang sekali melihatmu melakukan itu, setidaknya kau sekarang tau cara menghargai usaha orang lain!" sindir Rymi.
"Terimakasih... Atas kebaikan ada Tuan Putri!" Marco membungkuk sebagai tanda penghormatan, Rymi malah melotot tidak percaya, sungguh dirinya hanya bercanda, bagaimana bisa Marco menganggap serius perkataannya dan lalu benar-benar melakukan itu? Apa benar ini Marco? Ayah angkatnya yang tidak akan tunduk pada siapapun?
"Daddy! Apa kau ingin menunjukkan betapa durhakanya aku?" ucap Rymi.
"Whoaaa, kau terlalu perasa, aku sedikit kecewa mendengarnya!" lirih Marco mengeluh.
"Kecewa? Itu kata mengerikan!"
Marco menatap putrinya dengan senyum, "Rym... Kau sudah dewasa, aku bahkan tidak menyangka bisa membesarkanmu sampai sebesar ini, mengatakan perihal kecewa, aku yakin kau pernah kecewa denganku, entah itu kapan, tapi aku beruntung kau masih tetap menerimaku!"
"Maaf! Maaf untuk semuanya, maaf belum bisa menjadi ayah yang baik, sosok figur yang baik untukmu, tidak peduli apapun, kau tetaplah anakku Rym, sebelum aku mendapati Ayaz adalah anak kandungku, kau bahkan kuanggap satu-satunya harapanku, jika Ayaz tidak bisa menerimaku nanti, yaahh, karena bagaimana pun aku tidak bisa mengharapkannya, aku cukup tau diri kan!"
"Suatu hari nanti, jika Tua Bangka ini mempunyai masalah dengan jantungnya, atau sedikit sakit di persendiannya, maukah kau menengoknya sesekali, sesekali saja aku tidak akan meminta lebih!"
Rymi menoleh ke arah Marco, mengapa rasanya aneh sekali saat Marco mengatakan itu?
__ADS_1
"Dad!" lirihnya. Rymi menatap lekat wajah Marco, tanpa berkedip, ini sungguh tidak benar baginya, gelenyar aneh tiba-tiba saja menyeruak, "Bukankah itu salah satu ucapan orang yang akan mati? Daddy menakutiku!"
"Jika hari ini aku baik-baik saja, masih bisa berdiri tegak tanpa bantuan orang lain, tapi suatu hari nanti bukan tidak mungkin aku membutuhkan penopangku, orang untuk menyapihku, rasanya meski aku sudah memiliki segalanya, uang bisa membeli jasa apapun, tapi bisa berkesempatan untuk dirawat oleh tanganmu ini, adalah suatu kebanggaan dalam diriku!"
"Sesekali saja, kau bisa mengunjungi rumah ayahmu ini, melihat bagaimana harinya, maaf jika aku sedikit egois akan permintaan ini..."
"Brakkk!"
Rymi tidak bisa menahan air matanya, wanita itu langsung saja memeluk erat Marco.
"Daddy, jangan katakan itu, aku hanya bercanda saat menyuruhmu mati lebih cepat, aku hanya bercanda saat mengumpatimu gila, sumpah! Daddy, kau seorang bajingan seharusnya tidak membuatku merasa sedih seperti ini kan?" Rymi sudah terisak, jika membayangkan Marco akan pergi dari sisinya, rasanya ia sungguh tidak akan sanggup.
"Maaf jika suatu hari nanti aku akan merepotkanmu!" lirih Marco lagi.
"Tidak Daddy, tidak... Sama sekali tidak!"
"Jangan katakan itu, kau orang yang kuat, aku tidak yakin sakit begitu bisa melumpuhkanmu, tapi... Jika hari itu benar terjadi, aku berjanji, akan menjagamu, merawatmu dan berusaha menjadi yang terbaik sebagai anakmu, dan juga Ayaz... Ayaz pasti akan menerima Daddy sebagai ayah kandungnya, Ayaz akan menerimamu, pasti!" ucap Rymi.
Marco menoleh, ternyata Mike, pria itu sedang berdiri di ambang pintu. Tersenyum ramah pada keduanya.
"Maaf, jika saya mengganggu moment, tapi... Pria itu sudah sadar, Tuan perlu menemuinya!" ucap Mike.
Marco mengangguk, ia langsung saja masuk ke ruangan untuk menemui pria bernama Dennis itu.
Sementara Rymi, wanita itu memilih duduk di kursi, menjauh dari ruangan itu, dia tidak mau mendengar jika saja pria bernama Dennis itu menolak mendonorkan darahnya. Ia tidak punya cukup kesabaran untuk itu.
"Kau sudah sadar?" tanya Marco berbasa basi, Dennis menatap ke arahnya, seperti canggung atau mungkin juga sedikit ketakutan.
"Aku, tidak akan menyakitimu!" ucap Marco lagi.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa berada di sini? Di mana wanita itu?" tanya Dennis, ia cukup geram saat berkata menanyakan 'wanita itu'.
Dipandanginya sekeliling ruangan itu, ruangan yang seperti ruang rawat di rumah sakit, atau mungkin saja dirinya memang benar tengah berada di rumah sakit. Dilihatnya juga ada seorang dokter yang berada tidak jauh darinya, Dennis merasa bersyukur untuk itu.
"Wanita? Apa maksudmu Rymi? Dia tidak sedang di sini..."
"Aashhh, syukurlah! Lalu, di mana aku, apa aku di rumah sakit? Wanita itu benar-benar keterlaluan, beraninya dia memukulku dan menipuku, ahh untung saja dia tidak membawa kabur aku!"
"Wanita gila itu, benar-benar gila..." Dennis menghentikan umpatannya tentang Rymi karena seketika sadar akan satu hal.
"Tapi... Kau mengatakan apa tadi? Apa, kau mengenalnya?" tanya Dennis, ia tiba-tiba saja tersadar, bukankah tadi pria itu baru saja menyebutkan nama wanita gila yang dianggapnya penipu tadi.
Marco mengangguk, sembari tersenyum ia berkata, "Ya! Sayangnya dia putriku!" Marco sulit sekali rasanya menahan senyumnya.
"Putrimu? Apa benar begitu?"
Apa aku baru saja mengatai putrinya, mati aku!
"Kau tidak perlu canggung, putriku memang begitu, seperti yang baru saja kau katakan, dia memang agak sedikit gila!" ucap Marco. Mencoba mencairkan suasana, dirinya akan meminta bantuan dari pria ini, bukankah tidak baik jika menyinggungnya.
"Aku... Aku..." gugup Dennis.
"Jadi Tuan Dennis, aku tidak akan berbasa-basi lagi, sama seperti yang diminta oleh putriku, kami memang memerlukan darah RH- AB, jika kau bisa membantu... Maka kami akan sangat berterimakasih, dan jika kau mau kami juga akan membayar mahal untuk itu." ucap Marco langsung pada intinya.
"Jadi, itu memang benar?" tanya Dennis.
Marco mengangguk, "Putraku sedang dirawat di rumah, kami memiliki dokter pribadi serta alat-alat yang lengkap, aku bisa membawamu ke rumahku jika itu bisa membuatmu percaya, aku sangat berharap kau bisa mendonorkan darahmu!" ucap Marco, seperti sangat tulus, bak orang tua yang begitu mengkhawatirkan putranya.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...