
Yan Liyan langsung berhenti ketika melihat sosok pria paruh baya yang ada di depannya.
"Apa kau mempunyai suatu urusan denganku, Sehingga kau dengan beraninya menghentikanku?"
"Kakek!" teriak Xu Yue yang membuat Yan Liyan paham dengan maksud orang di depannya itu.
"Dia ingin melenyapkan kami, Aku ingin agar dia dihukum dengan sangat berat!!" Xu Yue mengadu pada kakeknya itu.
Dia juga sangat yakin jika kekuatan kakeknya berada sangat jauh dari Yan Liyan.
Sedangkan sosok pria paruh baya itu menghiraukan ucapan Xu Yue, karena dia sangat yakin jika sosok didepanya tidak sesederhana kelihatannya.
"He.. Ternyata kau hanya seorang gadis yang sangat naif, apa kau tidak keberatan jika aku melenyapkanya setidaknya itu akan menghilangkan beban kalian berdua."
"Kau! Sia...
"Diam! Xu Yue!" teriak Xu Dongjie yang menghentikan perkataan adiknya itu.
"Anak muda, sebaiknya kita bicarakan ini dengan baik-baik." ucapnya mencoba untuk bernegosiasi.
"Serahkan benda peninggalan dari leluhur phoenix api maka tuanku akan membiarkan kalian untuk hidup." ucap Mei Lin dengan dingin, dia menduga jika merekalah yang telah membuat aray penghalang tadi.
Pria paruh baya itu langsung memandang kearah Mei Lin.
"kami sama sekali tidak mengetahui tentang peninggalan dari leluhur ras phoenix api."
"Cih, jangan berbohong! jika memang seperti itu, kenapa kalian membuat aray penghalang ditempat itu."
"Itu karena aku diperintahkan oleh pemimpin ras phoenix Es untuk melindungi tempat ini." jawabnya, sebenarnya hal ini merupakan informasi yang sangat rahasia namun dia harus terpaksa untuk memberitahukan kepada sosok didepanya.
"Pemimpin Phoenix Es, Apakah nama pemimpin kalian adalah Chi Ziran?"
Pria paruh baya itu sangat terkejut ketika mendengar jika sosok di depanya mengetahui nama asli dari pemimpin mereka.
Hal itu disebabkan hanya orang yang paling penting di istana saja yang mengetahui nama asli pemimpin ras phoenix Es termasuk dirinya. Sedangkan untuk yang lain, mereka hanya mengenal julukanya saja yaitu Dewi phoenix Es.
"Hmm, Dari ekspresi yang kau tunjukkan sudah tentu jika dialah yang menyuruh kalian.
Cih.. Dasar rubah tua itu selalu saja bertindak sesukanya." Mei Lin sedikit kesal dengan tindakan dari Chi Ziran yang merupakan teman lamanya.
"Apa kau mengenal pemimpin kami?"
"Ya. Aku sangat mengenalnya daripada yang lain, dan ya. sampaikan padanya jika teman lamanya telah kembali dan ingin bertemu dengan si rubah licik!"
Pria paruh baya itu hanya mengangguk, dikarenakan hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat mudah apalagi mengingat posisinya di istana, lagipula dia hanya perlu menyampaikanya saja.
"Apa sekarang kau bisa melepaskan mereka berdua?"
"Apa kau menganggap kami bodoh? tentu saja tidak. Sampaikan pesanku terlebih dahulu dan setelah itu, aku akan membebaskan mereka berdua." ucap Mei Lin sebenarnya dia sangat percaya dengan ras phoenix Es namun dia harus tetap berjaga-jaga.
Karena tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya Pria paruh baya itu setuju dengan syarat yang diberian oleh Mei Lin. Dia kemudian menoleh kearah dua cucunya yang terikat.
"Kalian tunggulah sebentar! Aku akan segera kembali untuk membebaskan kalian berdua." ucapnya lalu menghilang dari tempat itu.
__ADS_1
Sebenarnya dia ingin melawan Yan Liyan namun resikonya terlalu besar. jika dia sendiri yang menanggungnya maka hal itu tidak akan masalah baginya. Namun jika cucunya ikut terlibat akibat kesalahanya maka dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Yan Liyan hanya tersenyum ketika melihat tindakan dari pria paruh baya itu, tidak gegabah, berpikir panjang, dan tidak sombong.
"Hmm.. kalian berdua sangat beruntung memiliki kakek sepertinya." Yan Liyan lalu menghilangkan akar kayu yang mengikat mereka berdua.
"Ikuti Aku!"
"Eh..
Mereka berdua sangat terkejut ketika Yan Liyan membebaskan mereka berdua, karena sekarang ini mereka dapat bergerak dengan leluasa.
"Kenapa kau membebaskan kami?"
"Apa kau tidak takut jika kami berdua akan lari atau membunuhmu?"
Yan Liyan memandang sinis kearah mereka berdua.
"Aku tidak ingin menunggu disini, karena itu sangat membosankan. Dan juga... Apa kalian mempunyai kemampuan untuk melakukan hal itu?" ucap Yan Liyan kembali berjalan menuju ke dalam aray yang telah dia hancurkan tadi.
Sedangkan Xu Dongjie hanya terdiam dan mengikuti Yan Liyan dari belakang, karena akan sangat berbahaya jika mereka melakukan tindakan gegabah yang dapat membahayakan diri.
Berbeda dengan Xu Yue, Dia menggertakan giginya sangat kesal dengan sikap Yan Liyan yang meremehkan mereka berdua.
Namun ketika melihat pandangan tajam dari Xu Dongjie. Xu Yue langsung terdiam dan mengangguk, tentu saja dia mengerti arti dari pandangan tajam itu.
Setelah Yan Liyan memasuki tempat yang dimaksud oleh Mei Lin, mereka hanya melihat pernak-pernik perhiasan yang sangat indah yang tergeletak disekitarnya.
"Hmm, sepertinya dia telah menyembunyikan benda utama yang ada ditempat ini." gumam Mei Lin ketika melihat tempat itu tidak seperti dulu lagi.
"Perhiasan? Sepertinya kalian berdua telah salah paham, perhiasan bukanlah tujuan utamaku untuk masuk kedalam tempat ini."
Ya. Walaupun dia sedikit tertarik dengan keindahan perhiasan yang ada ditempat itu, namun dia sama sekali tidak ingin mengambilnya.
'Aku hanya mengambil yang menurutku pantas untuk diambil.'
"Apa kau mengincar sesuatu yang telah diambil pemimpin waktu itu?" kini giliran Xu Dongjie yang bertanya.
"He... Mungkin saja itu benar." jawab Yan Liyan.
Yan Liyan kemudian menoleh kearah Mei Lin.
"Teruslah berjalan! ada sebuah prasasti yang berada diujung tempat ini."
Yan Liyan berjalan lebih cepat agar sampai diujung tempat itu.
Tempat mereka berada saat ini seperti dasar jurang yang dalam yang memiliki ukuran yang kecil dan memanjang.
Di perjalanan Yan Liyan sama sekali tidak menemui rintangan yang berarti kecuali ocehan dari Xu Yue yang terus mengutuk dirinya.
Walaupun suaranya sangat kecil, tetapi Yan Liyan bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Hingga akhirnya mereka telah sampai diujung tempat itu, terlihat sebuah tembok alami yang terbuat terbentuk dari bebatuan yang meleleh yang menyatuh, sehingga terlihat sangat kokoh.
__ADS_1
"Aku harap jika benda ini masih dapat mengenali suaraku." gumamnya.
"Terbukalah!"
Wusss!
Setelah Mei mengatakan hal itu, tiba-tiba saja tembok tadi terangkat keatas dan memperlihatkan sebuah ruangan rahasia yang berisi sebuah prasasti.
"Hmm, Menggunakan mekanisme suara ya... cara yang sangat unik mungkin lain kali aku akan menggunakan teknik formasi seperti itu juga." gumamnya.
Yan Liyan lalu berjalan memasuki ruangan itu dan melihat batu prasasti di hadadapanya. terlihat jika di prasasti itu terdapat huruf kuno di dalamnya.
"Apa kau mengetahui sesuatu tentang prasasti ini, Mei Lin?"
Mei Lin menggeleng...
"Entahlah... Aku tidak tahu pasti, Aku hanya ingin mengambil dan menyimpan peninggalan para leluhurku agar tidak jatuh kenangan orang yang salah."
[Ding.. Prasasti kuno merupakan suatu pecahan dari pedang dewi phoenix]
Yan Liyan sangat terkejut ketika mendengar hal itu, siapa yang menyangka jika benda itu meruapakan pecahan dari suatu senjata.
Yan Liyan kemudian memasukan Prasasti itu kedalam cincin penyimpananya.
'Apa kau bisa menyebutkan pecahan yang lain?'
[Permata Es, batu inti elemen api, dan sebuah buku teknik yang memiliki keterkaitan dengan pedang dewa phoenix]
"Keterkaitan?"
[Ya. Tuan dan salah satu buku teknik yang memiliki keterkaitan dengan pedang itu adalah buku teknik penguasa.]
Yan Liyan lagi-lagi sangat terkejut ketika mendengar pemberitahuan dari sistemnya.
Bagaimana mungkin buku yang berisi teknik tabu dan terkutuk itu dapat memiliki keterkaitan dengan pedang dewi phoenix.
Yan Liyan mengehelah nafas lalu menoleh kearah Mei Lin.
"Sepertinya dimasa depan nanti kau akan mengalami keberuntungan."
"Aku? keberuntungan seperti apa yang tuan maksud?" tanya Mei Lin dengan sangat penasaran.
"Kau akan mendapatkan sebuah pedang yang sangat mendominasi di masa depan nanti."
Mei Lin yang tidak mengerti, ingin bertanya lagi. Namun terhenti, dikarenakan Yan Liyan pergi keluar ruangan.
Sesampainya di luar, Yan Liyan melihat dua orang kakak adik itu sedang memandangnya dengan keheranan.
"Aku rasa kakek kalian akan membutuhkan sedikit waktu untuk kembali, jadi kita akan menunggunya terlebih dahulu ditempat ini." ucap Yan Liyan.
"Memangnya...
Sebelum perkataan Xu Yue selesai langsung dipotong oleh Yan Liyan.
__ADS_1
"Kalian berdua, pergila berburu! untuk makan malam kita hari ini." ucap Yan Liyan lalu kembali masuk kedalam ruangan itu untuk beristirahat.