SISTEM PENGUASA

SISTEM PENGUASA
Telinga Rubah


__ADS_3

"Hei.. Apa masih jauh tempat tujuan kita? seingatku dulu wilayah dimensi Utara tidak seluas ini." ucap Jiu Wei dengan lesuh karena sudah beberapa hari ini mereka berjalan untuk mencari keberadaan istana Kekaisaran Dimensi Utara, tapi mereka belum menemukannya.


"Bersabarlah Jiu Wei, menurut ingatanku jika tempatnya sudah berada tidak jauh lagi dari tempat ini. Kira-kira membutuhkan waktu sehari perjalanan lagi untuk sampai di tempat tujuan." ucap Bing Hua lalu berhenti karena melihat matahari mulai terbenam.


"Kita beristirahat terlebih dahulu, lagipula kita belum beristirahat selama dua hari penuh." ucap nya lalu dia pergi untuk mengumpulkan kayu bakar.


Yang Liyan dan Mei Lin yang melihat itu langsung memandang tajam Jiu Wei.


"Menyusahkan."


"Benar, Dia sangat merepotkan sehingga membuatku heran kenapa tuan memiliki bawahan sepertinya." Mei Lin menanggapi perkataan Yan Liyan sambil menatap sengit kearah Jiu Wei karena disebabkan Jiu Wei mengeluh terus menerus menyebabkan Bing Hua menghentikan perjalanan padahal mereka masih mempunyai banyak tenaga untuk melanjutkan perjalanan.


Jiu Wei yang mendengar perkataan dari Mei Lin Dan Yang Liyan langsung menoleh kearah lain.


"Aku tidak peduli dengan apa yang kalian katakan, lagipula aku hanya berkata jujur saja. Apa kalian tahu, jikaaku belum beristirahat sama sekali setelah perang dua hari yang lalu berakhir dan hal itu membuatku merasa kelelahan dan sedikit lapar."


Jiu Wei berjalan menuju kearah Bing Hua ketika melihatnya membawa setumpuk ranting kayu. Dengan menggunakan elemen apinya Jiu Wei kemudian membuat api unggun.


"Hei.. Beri aku daging!" Jiu Wei mengulurkan tangannya kepada Yang Liyan untuk meminta daging binatang buas darinya.


Yan Liyan langsung mengeluarkan setumpuk daging binatang buas tingkat mistik dari dalam cincin penyimpananya lalu setelah itu mereka membakar daging tersebut dengan menaburkan bumbu seadanya.


Sambil menunggu daging itu matang mereka berbincang terlebih dahulu hanya untuk menghilangkan keheningan.


"Hei Jiu Wei.. Apa kau bisa menghilangkan telinga rubah mu itu."


"Ya, Aku bisa saja menghilangkanya, tapi Memangnya kenapa tuan menyuruhku untuk menghilangkanya? Aku sangat menyukai keberada telinga ini." ucap Jiu Wei sambil menggerakkan telinganya.


Yan Liyan yang melihat itu menahan tangannya untuk tidak lepas kendali.


'Sialan! dia terlihat sangat imut.'


"Apa tuan ingin menyentuhnya?" tanya Mei Lin secara tiba-tiba yang membuat Yan Liyan sangat terkejut.


"Ti-tidak. Hei.. Mana mungkin aku ingin menyentuhnya. Jangan berbicara sembarangan Mei Lin." Yan Liyan menyangkal hal itu lalu kemudian dia memalingkan wajahnya ketika Bing Hua memandangnya dengan penuh kecurigaan.


"Tuan tidak perlu berbohong, Lagipula hal tersebut sangatlah wajar bagi sebagian orang."


"Hei... Aku tidak seperti yang kau pikirkan jadi berhentilah berbicara seperti itu."


"Benarkah? Dua hari yang lalu tuan menarik telinga Jiu Wei dengan sangat keras bukan karena tuan merasa sangat marah kepada Jiu Wei bukan? tapi tuan ingin merasakan sensasi mencekram telinga rasa rubah elemen bukan? Tuan mengaku saja, karena Aku bisa mengetahui dari ekspresimu yang terlihat menikmati sensai itu." ucap Mei Lin yang membuat Yan Liyan semakin terpojok.

__ADS_1


"Apa benar seperti itu?" kini giliran Jiu Wei yang bertanya. Sekarang dia mengetahui alasan kenapa Yan Liyan mencekram telinganya dengan kuat dua hari yang lalu sehingga membuatnya meringis kesakitan.


"Apa itu benar Liyan'gege?"


Yan Liyan yang mendengar semua itu, menghela nafas panjang dan kemudian..


"Ya, Aku mengaku jika Apa yang dikatakan oleh Mei Lin adalah benar. Aku merasa sangat malu memintahnya secara langsung jadi...


"Jadi kau memanfaatkan keadaan dan mencari kesalahanku untuk mencoba menyentuhnya. Cih.. dasar licik padahal aku akan mengijinkan mu untuk menyentuhnya jika kau meminta baik-baik kepadaku." Jiu Wei berdecak kesal atas tindakan dari Yan Liyan.


"Sudah aku duga, padahal perkataanku tadi hanya asumsiku saja. Aku tidak menyangka jika tuan merupakan seorang yang penyuka telinga rubah." ucap Mei Lin dengan nada menghina.


Yan Liyan yang mendengar hal itu merasa jika harga dirinya telah diinjak-injak oleh bawahannya sendiri.


Sedangkan Bing Hua yang mendengar perkataan Yan Liyan tadi merasa sangat terkejut karena dia baru mengetahui sifat lain dari Yan Liyan. dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu lalu dia berusaha memberanikan diri untuk mencoba bertanya kepada Yan Liyan.


"Liyan'gegge..


"Ya." Yan Liyan Mensggapi panggilan dari Bing Hua. Dia memandang kearah Bing Hua yang ingin bertanya tapi terlihat keraguan serta perasaan malu pada kekasihnya itu.


"Katakan saja Hua'er."


Yan Liyan yang mendengar itu hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Bing Hua yang membuat suasana di tempat itu kembali sunyi.


Tidak lama kemudian...


Suasana kini menjadi normal dikarenakan Bing Hua yang tidak memaksa Yan Liyan untuk menjawabnya. Sedangkan Mei Lin hanya menahan tawa ketika melihat ketidak berdayaan tuanya sekarang ini.


"Hmm.. Ini sangat enak." ucap Jiu Wei sambil mengunyah daging bakar.


"Kau terlihat seperti anak-anak saja Jiu Wei. Makanlah dengan pelan jangan tebeuru-buru seperti itu! jika sikapmu terus seperti itu maka Kau akan membuat malu ras mu sendiri yang terkenal akan tata krama mereka yang sopan."


"Iya-iya. Aku mengerti."


Jiu Wei kemudian makan secara perlahan, tapi tentu saja banyak porsi daging yang bertumpuk di depannya sehingga membuat Mei Lin menggeleng pelan.


Di saat mereka sedang makan...


Yan Liyan tiba-tiba merasakan suatu keberadaan yang berada tidak jauh dari tempat mereka.


Yan Liyan menoleh kearah Mei Lin Dan Bing Hua yang tampak merasakan hal yang sama sepertinya.

__ADS_1


Yan Liyan kemudian mengeluarkan sebuah belati dan mengarahkan belati ke arah tempat aura itu berasal.


Wuss!


Boomm!


Belati itu melesat dengan sangat cepat dan menabrak batu besar yang berada tidak jauh dari tempat mereka, sehingga menimbulkan sedikit ledakan.


Yan Liyan lalu melesat menuju kearah ledakan itu. Sesampainya di sana dia melihat seorang gadis kecil yang meringuk ketakutan sedang berlindung di belakang bagian batu besar yang tidak terkena belati milik Yan Liyan.


'Mengejutkan ternyata tempat ini masih dihuni oleh beberapa orang.'


Yan Liyan kemudian menunduk mesejajarkan tinggi badannya dengan anak gadis kecil tersebut.


"Siapa namamu gadis kecil?" tanya Yan Liyan dengan suara lembut yang membuat gadis kecil itu menoleh kearahnya.


"Apa kau akan membunuhku?" tanya gadis itu menatap Yan Liyan dengan ekspresi ketakutan.


Yan Liyan yang melihat ekspresi dari gadis itu menjadi sangat terkejut karena dia bisa melihat jika gadis kecil itu sepertinya mempunyai suatu trauma yang mendalam.


"Tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu." ucap Yan Liyan yang ingin mengelus kepala gadis tersebut, tapi tangannya terhenti ketika dia merasakan seseorang melesat kearahnya.


"Lepaskan dia." terlihat seorang anak laki-laki yang melesat kearahnya dengan pedang ditanganya.


"Akhirnya kau keluar juga. Aku pikir kau akan terus bersembunyi."


"Apa yang kau lakukan! pergilah biarkan aku mati disini jangan membahayakan dirimu sendiri!" gadis kecil itu berteriak namun anak laki-laki itu tidak memperdulikanya.


"Aku akan menyelamatkanmu!"


Teriaknya sambil mengarahkan pedangnya kearah Yan Liyan namun serangan itu dapat dengan mudah ditahan oleh Yan Liyan.


Yan Liyan kemudian mendorong anak laki-laki itu dengan sedikit kekuatan fisiknya sehingga membuatnya terhempas.


Gadis kecil yang melihat itu menjadi sangat marah kepada Yan Liyan.


Dia kemudian mengeluarkan sebuah belati lalu mengarahkanya ke leher Yan Liyan Namun serangan itu dapat ditahan oleh Yan Liyan dengan memegang tanganya sehingga membuat gadis kecil itu tidak bisa bergerak.


Gadis kecil tersebut kemudian menoleh kebelakang.


"Pergilah! aku akan mengulur waktu."

__ADS_1


__ADS_2