
"Teknik Alam! pengikat!"
Wuss!
Muncul akar pohon besar dari dalam tanah, akar pohon itu menjalar menuju kearah 50 sosok yang melesat kearah Yan Liyan.
"Menghindar!" pemimpin dari 50 sosok itu memerintahkan para bawahannya untuk mundur.
Mereka langsung langsung mundur mengikuti arahan pemimpinya. Namun akar itu menjalar mengikuti mereka kemanapun mereka menghindar.
"Waspada! Dia sangat kuat. kita terlalu meremehkanya!" sosok yang mengejek Yan Liyan tadi menggertakan giginya karena merasa sangat kesal.
Karena dipenuhi oleh kemarahan, sosok tersebut langsung melesat kearah Yan Liyan tanpa perintah dari atasannya.
"HIIYYAA! MATI KAU SIALAN!"
"Ceroboh." pemimpin mereka berdecak kesal ketika melihat salah satu bawahannya bertindak sesukanya seperti itu.
Sedangkan Yan Liyan tersenyum sinis ketika melihat tindakan bodoh dari sosok yang mengejeknya tadi.
Yan Liyan kemudian mengarahkan akar pohon untuk mengikatnya. Namun sosok itu bisa menghindarinya walaupun harus mengalami luka.
Setelah jarak antara sosok itu dengan Yan Liyan, sosok tersebut kemudian melompat dengan pedang berkilau bersiap untuk menebas Yan Liyan secara horizontal.
"Aku Akan membunuhmu!"
Wuss...
"Langkah cahaya."
Slaass!
Yan Liyan tiba-tiba saja muncul di belakang sosok itu lalu menusuknya dari belakang menggunakan pedang yang diselimuti Oleh elemen api.
"Apa kau pernah mendengar perkataan orang bijak jika terkadang amarah bisa membuatmu hilang kendali dan kemungkinan terburuknya adalah terbunuh." gumam Yan Liyan dengan seringai lebarnya.
"K-kau Iblis." sosok itu menatap Yan Liyan dengan pandangan horor pertanda saat itu dia merasakan ketakutan yang mendalam.
Argkh!
Api pada Pedang yang Yan Liyan gunakan untuk menusuk sosok itu tiba-tiba berubah warna menjadi berwarna merah darah.. lalu dengan sangat cepat api tersebut membakar sosok yang mengejek Yan Liyan tadi hingga menjadi abu.
Yang Yan Liyan gunakan kali ini adalah pedang Dewi Phoenix milik Mei Lin.
Alasan pedang itu berada ditangan Yan Liyan, karena Mei Lin berkata jika pedang itu rusak dan Mei Lin tidak tahu apa penyebabnya, jadi Mei Lin memberikan pedang itu kepada Yan Liyan untuk di perbaiki.
"Sebenarnya pedang ini tidak rusak hanya saja... Ada sesuatu hal yang kurang sehingga menyebabkan kekuatan dari pedang ini menurun."
Dengan pandangan tajam kearah sosok yang tinggal berjumlah 49. Mereka semua menatap Yan Liyan dengan penuh kebencian.
"Bunuh Dia!"
"Ya!"
"Hehehe... Bagus Datanglah! akan aku jadikan darah dan kebusukan jiwa kalian sebagai bahan untuk memperkuat senjata ini."
Yan Liyan kemudian menghentikan teknik alamnya sehingga para perajurit itu melesat kearahnya tanpa keraguan karena sudah tidak ada lagi halangan yang menganggu gerakan mereka.
"Teknik pedang Phoenix! Seni pembantaian!"
Pedang Dewi Phoenix milik Yan Liyan tiba-tiba saja mengeluarkan aura hitam yang sangat panas serta mengeluarkan hawa kematian yang pekat.
__ADS_1
Wuss!
Bagaikan bayangan yang tidak terlihat dalam kegelapan malam. Yan Liyan melesat dengan sangat cepat menuju kearah 49 sosok itu.
Slaass..
Yan Liyan muncul secara tiba-tiba dibelakang salah satu sosok itu dan dengan cepat Yan Liyan langsung menebasnya.
Argkh!
Suara kesakitan yang memilukan terdengar di kegelapan malam, cipratan darah keluar dari sosok itu, namun pedang Phoenix langsung menyerapnya hingga Hanya menyisahkan kulit dan tulang.
"Ib- Iblis!" sosok pemimpin sangat ketakutan ketika melihat kekejaman dari Yan Liyan.
"Lakukan serangan formasi gabungan!"
"Baik." jawab perajurit itu secara bersamaan.
Mereka kemudian membentuk formasi pola berbentuk perisai.
"Jika aku disebut iblis karena membunuh orang seperti kalian, Lalu apa sebutan yang paling cocok untuk kalian yang membawah paksa orang lemah untuk dijadikan sebagai pengorbanan?! Bukankah Sifat kalian lebih iblis dibandingkan denganku."
Api berwarna hitam semakin berkobar di pedang Phoenix.
"Apa kau masih membutuhkan darah orang seperti mereka? jika seperti itu, maka nikmatilah!"
Yan Liyan melesat lagi kearah mereka yang membentuk suatu formasi.
"Sekarang!" pemimpin dari 50 sosok yang menyerang Yan Liyan tadi berteriak kepada para bawahnya.
Sebenarnya formasi itu merupakan teknik pamungkas yang dimiliki oleh pasukan elite pemimpin kota yaitu..
Mereka membuat segel tangan dan mengarankan energi yang mereka miliki pada satu titik dan tiba-tiba saja dari dalam formasi berbentuk Perisai itu muncul cahaya kecil yang mengeluarkan aura yang menekan.
Cahaya itu perlahan membesar dan semakin membesar hingga membentuk aray transparan dan mengurung mereka di dalamnya.
"Dengan ini, maka kau akan segera berakhir." gumam pemimpin sosok itu dengan senyuman penuh kemenangan terukir diwajahnya.
"Pengekang!"
Wusss!
Aray itu mengecil dengan sangat cepat dan berpusat pada Yan Liyan.
Wusss..
Boomm
Ledakan yang cukup besar terjadi di udara sehingga membuat mereka tersenyum karena telah mengalahkan musuh yang telah membunuh dua orang teman mereka.
Namun senyuman itu tiba-tiba berubah menjadi ekpresi ketidak percayaan ketika melihat kobaran api berwarna hitam membakar aray yang mereka bentuk tadi.
Wusss..
Slas!
"Formasi Dewa? Bukankah nama itu terlalu berlebihan untuk diberikan pada teknik lemah seperti itu."
Yan Liyang lalu menghilang lagi..
Slas!
__ADS_1
Yan Liyan bergerak dengan sangat cepat membantai mereka dengan wajah datarnya dan terkadang ekpresi Yan Liyan berubah-ubah ketika sedang melakukan pembantaian.
Yan Liyan terus melakukan pembatalan sampai 49 sosok tadi hanya menyisahkan dua sosok saja penutup muka mereka terbuka dan memperlihatkan wajah asli mereka berdua.
Bagi rakyat biasa akan mengenali sosok itu sebagai salah satu perajurit terkuat yang melindungi pemimpin kota sedangkan yang satunya merupakan perajurit baru.
Mereka berdua langsung kabur ketika ketika Yan Liyan tidak mengincar mereka berdua.
Sedangkan Yan Liyan hanya terdiam tidak mencoba untuk mengejar sosok yang lari itu, karena dia memang sengaja membiarkan mereka. lari.
"Hah.. Tugasku telah sele...
Sebelum perkataan Yan Liyan selesai tiba-tiba saja pedang yang ada di tangannya mengeluarkan api hitam tanpa dia sadari.
Yan Liyan kemudian menekan api hitam itu menggunakan elemen es Phoenixnya sehingga membuat api hitam itu tenang.
"Sesuatu yang kurang dari pedang dewi Phoenix ini adalah Darah kultivator Es."
Yan Liyan kemudian melukai tangannya sendiri sehingga darah segar keluar menetes di bilah pedang Phoenix. Pedang yang awalnya sepenuhnya berwarna merah darah kini telah kembali pada penampilan semula, yaitu warna putih kebiruan dan merah darah pada setiap sisi bilahnya yang menandakan simbol elemen api Phoenix api dan Elemen Es Phoenix Es.
Dan Juga ruby merah yang berada di ganggang pedang Dewi Phoenix berubah menjadi huruf-huruf kuno menjalar ditengah bilah pedang dan menjadi pemisah antara dua warna sekaligus dua elemen yang belawanan. Huruf-huruf kuno tersebut berfungsi untuk mengikat dua elemen agar tidak saling mendominasi.
"Pedang Dewi Phoenix ini telah sempurna sepenuhnya." gumam Yan Liyan lalu memasukkan pedang tersebut ke dalam cincin penyimpananya.
"Mm.. Aku harus memberikan sesuatu peda Mei Lin agar dia dapat mengendalikan elemen Es pada pedang ini, tapi apakah mungkin hal itu bisa dia dilakukan?"
Yan Liyan kebingungan karena Mei Lin merupakan seorang kultivator yang berasal dari ras Phoenix api yang tentunya memiliki elemen api khusus.
Sangat mustahil untuk menyuruhnya agar dapat mengendalikan elemen es.
[Sebenarnya hal itu tidak mustahil tuan, karena elemen es yang akan Mei Lin kendalikan berasal dari sebuah senjata bukan berasal dari dalam tubuhnya . Dengan usaha dan latihan yang keras bukan suatu kemustahilan untuk Mei Lin dapat mengendalikan elemen es.]
Yan Liyan merasa lega ketika mendengar pemberitahuan dari sistemnya.
Karena dia sempat berfikir untuk menghentikan Mei Lin untuk menggunakan pedang Dewi Phoenix karena hal itu bisa saja melukai dirinya sendiri dan mungkin jika dia melakukan hal tersebut maka akan sangat mengecewakan Mei Lin.
"Baiklah, tugas malam ini telah selesai saatnya tugas selanjutnya."
Yan Liyan melirik ke suatu bangunan tinggi, Yan Liyan melihat sosok laki-laki dan perempuan yang melihat pertempurannya dari tadi.
Yan Liyan menghilang secara tiba-tiba lalu muncuk dibelakang dua sosok itu dan memegang bahu mereka.
"Apa sekarang kau sudah percaya dengan apa yang aku katakan."
Eh..
Dua sosok itu sangat terkejut dengan kemunculan Yan Liyan yang tiba-tiba.
Mereka mundur tampak sangat waspada.
"He... tenanglah ini aku."
Cahaya bulan mulai muncul dari gelapnya awan sehingga membuat tempat itu di sinari oleh cahaya temaram.
Trlihat wajah dari dua sosok tadi yang merupakan dua bangsawan yang Yan Liyan temui tadi siang.
"Aku sudah percaya dan aku akan bersiap untuk membantu mu dalam melakukan rencanamu." Sosok perempuan yang tidak lain adalah Song Qie berkata tanpa keraguan.
Song Lao hanya menghela nafas pasrah ketika melihat tindakan tunanganya.
"Baik, Aku juga akan membantu dalam rencana yang akan aku lakukan."
__ADS_1