
"Aku sangat merindukanmu Hua'er."
Yan Liyan berkata dengan lemah lembut dan sesekali mengigit bahu Bing Hua, memperlihatkan sisi lain dari Yan Liyan yang manjah dan lemah lembut.
Bing Hua tersipu malu dan tersenyum manis, meski dia merasa agak kesakitan ketika Yan Liyan menggigit bahunya.
"Aku juga merindukanmu Liyan'gege." ucapnya dengan suara hampir tidak terdengar.
Yan Liyan yang melihat itu semakin menyukai Bing Hua apalagi dengan sifat pemalunya yang natural.
Saking gemasnya Yan Liyan kemudian memeluk erat Bing Hua dan menempelkanya di dinding ruangan kediaman.
Bing Hua yang mendapati perlakuan seperti itu, tentu merasa sangat kaget bukan kepalang dengan tindakan tiba-tiba dari Yan Liyan.
"Liyan'gege A.. apa yang kau lakukan?" Bing Hua bertanya dengan gugup saat wajah Yan Liyan mendekat kearah.
Yan Liyan hanya tersenyum melihat ekspresi dari Bing Hua.
"Aku ingin memakanmu!"
"Ap..
Plak!
Sosok Xue Yu tiba-tiba keluar dari dalam tubuh Bing Hua dan kemudian menyentil Yan Liyan dengan keras.
Yan Liyan terpental cukup keras sampai menabrak dinding yang kediaman yang membuatnya terhenti.
"Kalian harus menikah terlebih dahulu sebelum melakukannya." Xue Yu memandang tajam Yan Liyan memberinya peringatan untuk tidak melakukan hal itu lagi sebelum mereka menikah.
Yan Liyan terkejut dengan kekuatan calon ibu mertuanya yang mempunyai kekuatan sekuat itu hingga bisa menghempaskanya dengan mudah.
[Xue Yu merupakan penghuni alam keabadian, jadi setelah dia berada di alam ini, maka kekuatanya akan kembali semula sama seperti sebelum dia turun ke alam tingkat tinggi, jadi tuan tidak perlu kebingungan.]
Yan Liyan menhela nafas lega mendengar pemberitahuan dari sistemnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika mendengar teguran calon mertuanya tadi.
"Cih, Dasar anak muda zaman sekarang."
Xue Yu lalu masuk lagi kedalam dunia jiwa Bing Hua lagi.
Bing Hua sendiri menahan tawa melihat ekspresi lucu Yan Liyan sehabis dimarahi oleh ibunya.
Yan Liyan yang melihat itu bukanya marah, tapi malah jongkok di depan Bing Hua, sehingga membuat Bing Hua kebingungan.
"Naiklah, Aku akan menemanimu untuk mengelilingi kediaman kita sambil menggendongmu."
Bing Hua lagi-lagi terkejut dengan tindakan kekasihnya itu, tapi dia tidak bisa memungkiri jika dia menginginkanya.
__ADS_1
Dan tanpa basa-basi Bing Hua memeluk leher Yan Liyan, kemudian Yan Liyan berdiri tegak, menggendong Bing Hua yang berada di punggungnya.
"Liyan'gege.. Apa kau tahu jika kita berdua bukan anak kecil lagi." Bing Hua menenggelamkan wajahnya di bahu Yan Liyan karena merasa malu.
"Hua'er.. Aku hanya memenuhi janjiku di alam tingkat rendah dulu. Mm Apa kau masih mengingatnya?"
Yan Liyan bertanya dan berjalan secara perlahan membawah Bing Hua untuk melihat-lihat kedimaan mereka.
"Aku masih mengingatnya, tapi waktu itu Aku mengira jika kau hanya bercanda dan memengaruhi pikiran polos Xiao Yi."
Bing Hua masih mengingat kejadian di penginapan alam tingkat rendah, dimana waktu itu mereka bertiga akan mengikuti suatu pelelangan dimana saat itu Xiao Yi kecil marah kepada Yan Liyan sehingga membuat Yan Liyan mengancam dengan memilih menggendong dirinya daripada Xiao Yi.
Tentu saja Xiao Yi tidak ingin dan secara paksa dia menghilangkan egonya dan naik ke punggung Yan Liyan agar Yan Liyan tidak menggendong Bing Hua.
"Pada saat itu aku memang bercanda, tapi pada saat itu aku tidak akan menduga jika kau akan menjadi kekasihku, oleh karena itu Apa salahnya untuk menepati janji yang aku buat waktu itu."
Bing Hua terdiam dan memikirkan perkataan Yan Liyan baik-baik.
"Hei, Hua'er.. Apa kau pernah berpikir jika semua ini berjalan begitu cepat?
Aku masih mengingat waktu aku menolongmu di sekitar wilayah hutan dewi kematian dulu dan sekarang kau telah menjadi kekasihku.
Dan setelah aku menyelesaikan tugasku di dimensi kekosongan, maka kita akan hidup dengan tenang tanpa ada hal yang diurus lagi."
Yan Liyan berpikir bahwa setelah dia memasuki istana kekosongan dan berhasil mengendalikan tubuh kekosongan maka tugasnya akan selesai dan pada saat itu kehidupan bahagia dan tenangnya akan dimulai.
"Hmm.. Aku juga berpikir seperti itu, Apakah era kita akan segera berakhir setelah kau menyelesaikan misimu?"
"Ya, sepertinya memang seperti itu."
Setelah mendengar jawaban dari Yan Liyan, Bing Hua kembali terdiam dan ditempat itu suasana menjadi hening hanya terdengar derap langkah kaki dari Yan Liyan.
"............ "
Di sisi lain...
Xian Ran yang ingin memasuki kedimaan Yan Liyan setelah menyelesaikan beberapa hal yang harus siap urus.
Xian Ran menghentikan langkahnya karena melihat sosok berjubah hitam yang sedang mengawasi kediaman kekasihnya dari kejauhan.
"Semut penganggu? Hmm sepertinya aku harus membereskannya terlebih dahulu."
Wusss!
Xian Ran menghilang dan tiba-tiba muncul dibelakang sosok itu. Dia langsung mengeluarkan senjata belatinya dan menempelkanya di leher sosok tersebut.
"Apa kau bawahan dari tetua sekte naga hitam tadi?!" tanya Xian Ran dengan dingin dan menempelkan belatinya keluar sosok itu hingga menimbulkan luka tipis dengan darah yang menetes.
__ADS_1
Sosok itu bergetar ketakutan karena tidak bisa melawan serangan dari Xian Ran, tubuhnya seolah kaku untuk digerakan serta ada aura sedikit membunuh yang dia rasakan menekankanya semakin kuat.
Tapi ketika mendengar pertanyaan dari sosok yang mengancamnya, sosok itu menggeleng dan menjatuhkan sesuatu dari jubahnya.
Benda yang jatuh dari jubah sosok itu merupakan palakat berwarna putih dengan gambar awan, yang merupakan simbol dari Kekaisaran Surgawi.
Xian Ran yang mengetahui itu langsung melepaskan sosok tersebut.
"Apa tujuan Kekaisaran Surgawi mengutusmu untuk memata-matai kediaman dari kemasihku?!" Xian Ran melepaskan belatinya, tapi masih waspada, khawatir jika sosok di depannya ini mempunyai rencana licik.
"Aku merupakan pelayan dari putri Kekaisaran Surgawi, Aku diutus ketempat ini untuk menyampaikan sesuatu kepada pemilik kediaman ini."
ucap sosok pelayan itu menatap tajam Xian Ran, berharap jika Xian Ran akan takut setelah mengetahui identitasnya.
Tapi tidak seperti yang dia harapkan, Xian Ran malah tampak biasa-biasa saja seolah tidak takut dengan identitasnya.
"Cih, itu tidak akan mempan padaku, tapi baiklah..
Ikuti aku!"
Xian Ran melompat turun dari atas pohon tinngi dan kemudian berjalan menuju pintu gerbang kediaman Yan Liyan yang tertutup.
Sosok pelayan tadi hanya mengikuti Xian Ran dari belakang meskipun tadi dia kesal akan perkataan dari Xian Ran tadi.
Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya ketika mereka berdua akan masuk, pertanda Yan Liyan sudah mengetahui keberadaan mereka berdua.
Dan benar saja mereka berdua melihat Yan Liyan dan Bing Hua sedang duduk di gazebo dengan memandang ke arah mereka.
"Aku telah menunggu kalian berdua" Yan Liyan melirik kearah pelayan Biao Qiaolin.
"Apa kau benar-benar merupakan pelayan pribadi dari Biao Qiaolin? kemampuan menyembunyikan dirimu buruk sekali."
Yan Liyan mengejek kemapuan dari pelayan itu, karena sejak di pelelangan tadi siang, dia sudah menyadari jika pelayan itu selalu mengawasinya.
Pelayan itu semakin emosi menerima semua penghinaan yang Xian Ran Dan Yan Liyan katakan. Ingin sekali rasanya pelayan itu untuk menghajar mereka berdua, Namun pelayan itu menahan emosinya karena mengingat misi dari tuanya dan juga dia tidak yakin, jika dia bisa memang melawan mereka berdua.
"Aku datang kesini untuk membawa pesan dari calon pemimpin..
"Aku sudah tahu, tapi jika dia ingin untuk menyewaku, Dia harus datang ketempat ini dan dia juga harus meminta sendiri kepadaku secara langsung." ucap Yan Liyan meotong perkataan dari pelayan itu.
Pelayan yang mendengar itu membuat emosinya semakin memuncak, menurutnya Yan Liyan sudah keterlaluan dengan berbicara seperti itu.
"Beraninya kau!
Apa kau tahu siapa yang kau perintah!"
"Ya, Aku sangat mengetahuinya."
__ADS_1