
"Seperti itu ya." Jiu Wei akhirnya mengerti kenapa dia tidak dapat menggunakan elemen api Phoenix setelah mendengar penjelasan dari Mei Lin.
"Memangnya apa yang kau rencanakan jika kau memiliki elemen itu?"
"Hehehe.. Aku berpikir aku akan dapat mengalahkanmu dengan mudah jika saja aku memiliki elemen api Phoenix." Jiu Wei tertawa cengesan ketika mengatakan hal itu.
"Ayolah.. apa kau tidak lelah? Sebaiknya kau menyerah saja, karena kau tidak akan pernah mengalahkan ku."
"Mana mungkin aku menyerah! suatu hari nanti aku akan pasti membuktikan jika aku dapat mengalahkanmu."
"Ya.. Ya... terserah kau saja."
Mei Lin berbicara seolah tidak peduli sehingga hal itu membuat Jiu Wei bertambah sangat kesal.
"Kau!"
"Apa!"
"Cih, Kau sangat menyebalkan." Jiu Wei berdecak kesal ketika melihat Mei Lin yang seperti itu.
Jiu Wei juga menyesali apa yang baru saja dia pikirkan tadi, jika Mei Lin bukan orang yang menyebalkan seperti yang dia kira selama ini.
"..................... "
Keesokan harinya...
Yan Liyan dan Bing Hua telah sampai disebuah istana yang masih berdiri dengan kokoh namun dari luar istana tersebut terlihat sangat kotor dan tidak terawat, hal itu dapat dilihat dengan tumbuhnya lumut dan tanaman yang menjalar pada dinding istana.
Sebenarnya itu merupakan hal yang wajar karena istana tersebut telah ditinggalkan selama jutaan tahun dan tidak ada seorang pun yang merawatnya.
Melihatnya tetap berdiri kokoh seperti itu saja sudah merupakan keajaiban. Karena pada umumnya suatu bangunan akan mengalami kerusakan jika bangunan itu ditinggalkan tanpa sama sekali adanya perawatan untuk waktu yang sangat lama.
"Tempat ini benar-benar Mengingatkan ku pada masa laluku." Bing Hua melompat dari atas kepala serigala angin dan mendarat tepat di depan pintu gerbang istana.
Yan Liyan juga melakukan hal yang sama.
Bing Hua kemudian mengeluarkan aura elemen Es yang dia miliki pada pintu gerbang tersebut. Setelah itu, Pintu gerbang tiba-tiba saja terbuka dengan sendirinya seperti mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.
"Cukup canggih untuk suatu Kekaisaran kuno. " gumam Yan Liyan ketika melihat bagaimana cara Bing Hua membuka pintu gerbang istana.
"Aku hanya memastikan apakah pintu gerbang itu masih mengingat elemen Es sosok yang menjadi pemilik istana ini atau tidak. Jika tidak, maka pintu gerbang itu sudah tidak berfungsi lagi, tapi nyatanya pintu gerbang ini masih berfungsi dan sensornya juga cukup baik."
__ADS_1
"He.. jadi itu tujuanmu ya? lalu bagaimana cara orang lain memasukki istana ini?" Yan Liyan berpikir jika tidak mungkin istana tidak memiliki banyak pelayan untuk membantu menyiapkan keseharian dari anggota keluarga Bing dan perajurit yang akan menjaga istana.
Bagaimana cara mereka dapat masuk kedalam istan, jika pintu gerbang istana hanya mengizinkan orang yang memiliki aura es keluarga Bing Saja untuk masuk kedalam istana.
"Dulunya kami menggunakan sebuah token untuk itu. Ayahku mengalirkan sedikit aura milknya pada suatu token khusus dan kemudian diberikan pada orang-orang yang akan mengabdi pada istana sehingga mereka dapat keluar dan masuk istana sesuai dengan perintah.
Token tersebut juga akan langsung hancur setelah tidak berada lagi di tangan pemiliknya atau jika pemiliknya sudah tidak bernyawa.
Hal tersebut dilakukan bertujuan untuk mencegah adanya penyusup di istana." Jelas panjang Bing Hua yang membuat Yan Liyan sedikit kagum dengan mekanisme kompleks pada keamanan yang ada di istana ini.
Ayah dari Bing Hua pasti orang-orang yang sangat berhati-hati dan tentunya mempunyai banyak musuh sehingga membuat hal seperti itu.
Bung Hua dan Yan Liyan kemudian berjalan menuju pintu istana, lalu setelah itu Bing Hua membuka pintu tersebut dengan cara yang sama seperti yang tadi dia lakukan tadi.
Pintu itu langsung saja terbuka dan memperlihatkan sebuah ruangan yang dipenuhi dengan hiasan kristal es, Batu ruby berwarna biru terang yang dipajang dimana-mana.
Serta ornamen-ornamen berharga yang semuanya terbuat dari permata murni.
Meskipun dari luar istana Kekaisaran Es tampak sangat kotor, tapi bagian dari dalam istana terlihat cukup bersih.
"Mengagumkan. Aku sangat yakin jika Kekaisaran es dulu merupakan Kekaisaran yang sangat makmur."
"Liyan'gege belum melihat yang lainya saja. Dan apa yang kau katakan tadi Memang benar jika Kekaisaran es dulu merupakan Kekaisaran yang sangat makmur."
Hingga tidak lama kemudian...
Mereka berdua telah sampai di ruangan aula istana. Dia aula itu terdapat dua singgasana yang terlihat sangat mewah.
"Dulunya dua singgasana merupakan singgasana Ayah dan Ibuku dulu."
"Ibu? Bisakah kau menjelaskan tentang ibumu?" Yan Liyan bertanya dengan sangat penasaran karena dia juga tidak pernah mendengar tentang ibu Bing Hua.
"Sayangnya Aku juga tidak terlalu tahu mengenai hal itu, dikarenakan ibuku meninggal setelah melahirkan diriku, tapi ayahku berkata jika ibu merupakan sosok yang sangat baik seperti Aku."
Bing Hua mencoba untuk tetap tersenyum ketika mengatakan hal itu, sebenarnya dia sangat sedih ketika mengingat masa lalunya.
"Ah, maaf..Aku tidak tahu jika..
"Tidak mengapa. Aku mengerti."
"Kita akan ke ruangan selanjutnya. Aku sangat yakin jika Liyan'gege akan menyukai ruangan berikutnya"
__ADS_1
"Benarkah? Apa yang membuat mu sangat yakin jika itu benar-benar akan membuatku sangat menyukainya?"
"Hanya firasat."
Bing Hua kemudian berjalan lagi menuju ruang selanjutnya. Kali ini ruangan yang mereka tuju sangat terpisah dari ruangan sebelumnya.
Yan Lihan menduga jika ruangan yang akan mereka tuju merupakan ruang rahasia.
Tidak lama kemudian...
Mereka berdua telah sampai disebuah pintu yang berukuran sangat besar. Bahkan besar dari pintu itu hampir sama dengan ukuran iblis raksasa yang Yan Liyan lawan kemarin.
Kali ini Bing Hua tidak lagi menggunakan aura elemen yang dia miliki, melainkan Bung Hua yang langsung menyayat tanganya sehingga mengeluarkan darah segar disertai munculnya simbol seekor naga es yang melilit pedang di dahi Bing Hua.
Simbol tersebut mengeluarkan cahaya yang sangat terang yang membuat pintu yang berukuran sangat besar itu langsung terbuka.
Setelah pintu itu terbuka...
Yan Liyan dapat melihat, jika di balik pintu besar tadi terdapat ruangan yang penuh dengan kristal Qi dan batu Qi dari berbagai macam tingkatkan yang menggunung di tempat itu.
Serta ada juga berbagai macam artefak senjata dari berbagai jenis dan tingkatkan.
Mulai dari pedang, tombak, busur, gada, palu, kapak dan lainnya tertata rapi ditempat itu, yang rata-ratanya senjata tersebut berada ditingkat surgawi tingkat tinggi sampai tingkat dewa.
"Walaupun aku tidak kekurangan semua benda ini, tapi entah mengapa melihatnya membuatku merasa sangat senang.. Ya, mungkin saja ini merupakan sifat serakahku." gumam Yan Liyan sambil tersenyum kecut ketika Bing Hua terus saja menatapnya.
"Bagaimana? Aku lebih kaya daripada dirimu bukan?" dengan bangganya Bing Hua berkata seperti itu, sehingga membuat Yan Liyan ingin tertawa dengan sangat keras.
Yan Liyan mempunyai sistem yang bisa menukar apa saja asalkan ada poin sistem. Dan dia mempunyai 7 M poin sistem. Yan Liyan tidak bisa membayangkan berapa jumlah harta yang akan dia miliki jika dia menukar semua poin sistemnya.
"Ya, kau lebih kaya dariku Hua'er, tapi bukankah semua harta ini juga akan menjadi milikku." ucap Yan Liyan yang langsung membuat Bing Hua terdiam.
Bing Hua baru tersadar jika dia menjadi pemimpin Kekaisaran Es untuk sementara, berarti Yan Liyan akan menjadi seorang raja, itu pun jika Yan Liyan tertarik dengan jabatan semacam itu.
"Kau sangat menyebalkan Liyan'gege."
'Eh, kenapa aku jadi yang salah.'
[Sistem mendeteksi jika ditempat ini ada keberadaan potongan artefak roda takdir, tuan. ]
Yan Liyan terkejut ketika mendengar pemberitahuan tiba-tiba dari sistemnya, karena sekarang ini Dia sama sekali tidak merasakan aura keberadaan dari potongan artefak roda takdir.
__ADS_1
[Artefak Potongan roda takdir itu berada di dalam ruang tersembunyi yang ada di tempat ini tuan.]