
Yan Liyan sedang duduk dikursinya sehabis membantai dan membakar mayat orang-orang yang ingin berbuat jahat padanya.
dia terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.
"kenapa lama s.....
sebelum ucapannya selesai tiba-tiba dia merasakan aura yang sangat akrab menuju kearahnya.
"akhirnya...." ucap Yan Liyan senang.
muncul dua sosok didepan Yan Liyan, sosok itu adalah orang berjubah hitam dan menggunakan topeng putih dan seorang gadis cantik disampingnya.
"Yan Lin." hanya kata-kata itu yang Yan Liyan ucapkan ketika melihat gadis cantik disebelah sosok berjubah itu yang tidak lain adalah Bing Hua.
sedangkan Yan Lin yang menoleh kedepan dan melihat orang yang menampilanya sangat berbeda dengan tuanya.
"siapa kau.? dimana tuanku.? tanya Yan Lin.
"orang di depanmu adalah tuanmu dan pakaian yang aku berikan tadi padamu adalah pemberianya." ucap Bing Hua.
Yan Lin yang mendengar itu menjadi keheranan.
"jangan membohongiku, aku sangat mengenal wajah dari tuanku." bantah Yan Lin.
Yan Liyan yang paham akan keadaan hanya tersenyum.
"aku adalah tuanmu Yan Liyan orang yang selalu kau lindungi." ucap Yan Liyan sambil memberikan kode pada Bing Hua agar meninggalkan mereka.
Bing Hua yang paham maksud tuanya hanya mengangguk dan melesat meninggalkan mereka berdua. setelah itu Yan Liyan melanjutkan pembicaraanya.
"pada waktu itu aku baru saja berumur 13 tahun didalam suatu kamar penuh dengan suara putus asah dariku seorang remaja dengan wajah yang penuh dengan darah dan lebam."
"disaat aku sedang putus asa dan akan menyerah akan hidup yang aku jalani sebagai tuan muda sampah."
"kau datang dan memberiku tujuan untuk hidup tidak hanya itu kau juga yang telah memberikan pakaian dengan motif bunga teratai baru mekar sebagai simbol agar aku punya harapan dan tujuan baru untuk hidup." ucap Yan Liyan memandang Yan Lin sambil tersenyum.
Yan Lin yang mendengar itu menjadi terkejut dan seketika dia membukuk.
"maafkan aku tuan, maafkan pelayan bodoh dan tidak tahu balas budi ini." ucap Yan Lin sambil menangis karena merasa bersalah pada Yan Liyan.
tentu saja Yan Lin mengetahui tentang hal yang diucapkan oleh orang didepanya.
pada waktu itu Yan Liyan baru saja di hajar oleh Yan Qiu bersama dua temanya dan dia terlambat untuk menolongnya.
dan pada saat dia ingin memasuki kamar Yan Liyan untuk mengobati luka-lukanya dia mendengar perkataan putus asah dari tuanya.
dia berusaha untuk mencoba menenangkan tuanya dengan memberinya semangat untuk hidup dan ternyata usaha itu sangat berhasil.
dan satu hari kemudian dia memberikan pakaian yang dia buat sendiri dengan corak bunga teratai yang baru mekar sebagai simbol tujuan dan harapan hidup baru untuk tuanya.
__ADS_1
sedangkan Yan Liyan yang melihat Yan Lin membukuk hanya menghela nafas merasa bersalah karena selalu merepotkanya.
"kau tidak perlu meminta maaf padaku, seharusnya aku yang meminta maaf dan berterimakasih padamu Yan Lin." ucap Yan Liyan mengangkat bahu Yan Lin yang masih membukuk.
"seorang tuan tidak perlu meminta maaf dan berterimakasih kepada pelayanya." ucap Yan Lin berdiri tegak dan memandang Yan Liyan.
Yan Liyan yang mendengar itu hanya tersenyum.
"kau memang benar tapi aku bukanlah tuan seperti itu, aku akan meminta maaf jika aku merasa bersalah." ucap Yan Liyan memandang ekspresi wajah Yan Lin yang terlihat bingung.
"apa ada sesuatu yang kau pikirkan.? tanya Yan Liyan yang melihat ekspresi Yan Lin.
"iya tuan, aku hanya sedikit bingung dengan penampilan tuan saat ini."
Yan Lin menatap Yan Liyan dari atas sampai bawah yang penampilannya sangat berbeda pada saat terakhir kali dia melihatnya.
"itu...."
kemudian Yan Liyan menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya pada saat Yan Lin tidak ada bersamanya waktu itu.
mulai dari Yan Qiu dan dua temanya ingin membunuhnya lalu masuk wilayah hutan dewi kematian dan jatuh ke dalam jurang lalu berlatih disana.
Yan Liyan menceritakan semua yang dialaminya di dalam jurang sampai dia keluar tapi dia tidak menceritakan tentang keberadaan sistem yang ada di dalam dirinya.
Yan Liyan terpaksa berbohong mengenai alasan tentang rambutnya berwarna putih dikarenakan dia membakitkan Elemen Es pada saat didalam jurang, bukan karena tubuh spesial.
"jadi sekarang biarkan aku yang melindungimu." ucap Yan Liyan sambil tersenyum.
Yan Lin yang mendengar itu hanya membalas senyum tuanya.
"terimakasih." ucap Yan Lin.
'harapanku waktu itu adalah untuk menjadi kultivator yang hebat dan tujuanku adalah untuk melindungimu.' batin Yan Liyan.
"......................."
disuatu penginapan mewah terlihat kepala keluarga Du sedang duduk dengan ekspresi marah sekaligus kesal.
"hanya mengurus bocah ingusan seperti mereka kau tidak bisa diandalkan." teriak Du Ming pada orang didepanya yang merupakan sala satu tetua.
"maaf pemimpin tapi kemampuan bocah itu memang hebat dan itu terbukti dengan terbunuhnya seluruh kultivator rana raja bumi awal sampai akhir yang kita kirim untuk menangkap mereka."
Du Ming yang mendengar itu mengernyitkan keningnya.
"apa mereka mempunyai seorang pelindung dibelakangnya.? tanya Du Ming karena berpikir tidak mungkin tiga orang bocah bisa membunuh seluruh kultivator yang dia kirim.
"kami tidak tahu pemimpin." ucap tetua keluarga Du
"cari tahu segala informasi dan identitas tiga bocah itu.! perintah Du Ming pada seorang tetua didepanya.
__ADS_1
"baik." ucap tetua itu lalu melesat untuk melaksanakan perintah dari Du Ming.
"....................."
sedangkan dikedalaman hutan yang berada sangat jauh di ibukota terlihat Yin Su sedang mengawasi sebuah bangunan yang ada di dalam hutan.
bangunan itu jaga oleh banyak kultivator tingkat tinggi sehingga membuat Yin Su sulit untuk mendekat.
Jiu Wei yang menyadari hal itu hanya diam dan sedikit menyalurkan Qi nya ketubuh Yin Su.
seketika tubuh Yin Su dipenuhi cahaya yang temaram dan detik kemudian dia menghilang dari tempat itu.
beberapa menit kemudian dia sampai diatas atap bangunan itu.
Jiu Wei langsung memanipulasi angin disekitarnya dan membuat pelindung kubah yang transparan dan membuat aura keberadaan mereka tidak diketahui.
para kultivator akan hanya melihat udara dan kekosongan jika mereka melihat kearah mereka.
sedangkan Yin Su yang menyadari semua yang dialaminya tadi adalah perbuatan rubah yang ada dibahunya ingin bertanya tapi dia urungkan ketika menyadari suatu tugas yang penting.
Yin Su langsung duduk diatas atap itu dan mendengarkan pembicaraan sekitar tiga orang didalamnya.
sedangkan didalam bangunan itu terdapat tiga orang yang tidak lain adalah Yan Sui, Mo Lang dan Gui Hong.
"saudaraku kapan kita akan menyerang sekte Es." tanya Mo Lang yang tidak lain adalah pemimpin keluarga Mo
sedangkan Gui Hong hanya tersenyum.
"setelah turnamen selesai, kita akan langsung menyerang sekte Es." ucap Gui Hong yang tidak lain adalah patriak sekte iblis.
Yan Sui yang mendengar itu keheranan.
"kenapa kita tidak menyerang mereka secepatnya.? tanya Yan Sui dan diangguki oleh Mo Lang.
"karena kita akan menunggu matriak sekte Es tiba disektenya lalu kita menyerang mereka."
"lagi pulah kita perlu waktu untuk menyiapkan strategi dan para kultivator yang kuat dalam penyerangan."
"soal alasan kenapa kita menunggu matriak sekte Es, kalian tidak perlu tahu." ucap Gui Hong.
Yan Sui dan Mo Lang hanya mengangguk dan pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa.
sedangkan Yin Su yang mendengar percakapan mereka tadi.
'apa dia mengira kalau aku mendengar berita kehancuran sekteku maka aku akan lari sehingga dia menungguku tibah disekte Es terlebi dahulu.' batin Yan Sui.
Penjelasan:
soal balas budi yang dimaksud Yan Lin pada Yan Liyan nanti akan dibuat chapter khusus tapi bukan sekarang atau besok.
__ADS_1