
Xian Ran tersenyum sambil memeluk erat Yan Liyan, dia benar-benar sangat merindukan kekasihnya itu.
Entah sejak kapan perasaan itu muncul, karena sama seperti Bing Hua dulunya Xian Ran merupakan sosok yang dingin terhadap siapa pun yang mendekatinya.
Tapi kali ini setelah dia bereinkarnasi Xian Ran merasakan perasaan baru ketika bertemu dengan Yan Liyan yang membuatnya keheranan dengan adanya perasaan tersebut.
"Liyan'gege..
Panggil mesrah Xian Ran yang kemudian merangkul leher Yan Liya, wajah Xian Dan memerah karena wajah mereka berdua saat ini sangat dekat.
Xian Ran tiba-tiba mendekat dan mencium bibir Yan Liyan. Kejadian itu begitu tiba-tiba sehingga membuat Yan Liyan terlambat untuk bereaksi.
Yan Liyan terdiam.. Dia tidak menyangka jika Xian Rana akan menciumnya yang mana hal itu merupakan ciuman bibir pertamanya.
Tidak lama kemudian....
Bibir merah mudah Xian Ran terlepas ketika Xian Ran mundur kebelakang dengan wajah yang memerah. Xian Ran juga menutup wajahnya karena saking malunya kepada Yan Liyan atas tindakan agresifnya tadi.
Yan Liyan masih terdiam dan memegang bibirnya merasakan sensasi semacam itu.
"Xian Ran kau...
"Liyan'gege jangan katakan kepada siapa pun.. termasuk Bing Hua." Xian Ran tidak bisa membayangkan bagaimana Bing Hua akan memarahinya karena telah merebut ciuman pertama Yan Liyan padahal seharusnya Bing Hua lah yang mempunyai hak untuk itu.
Dikarenakan dia merupakan kekasih pertama dari Yan Liyan.
"Aku mengerti." Yan Liyan tidak pernah menyangka jika dia akan menyembunyikan rahasia ini kepada Bing Hua, tapi Yan Liyan tidak mempunyai pilihan lain selain mengiyakan.
Yan Liyan kemudian memegang kepala Xian Ran dan kemudian mengelusnya.
"Kali ini Kau telah membuat ku berada di dalam masalah besar."
Yan Liyan memegang telinga runcing Xian Ran dan merasakan sensasi berbeda dengan telinga rubah Jiu Wei.
Telinga itu terasa nyaman untuk dipegang.
Pipi Xian Ran menggembung ketika Yan Liyan memegang telinganya tanpa seijinya hal tersebut semakin membuat Yan Liyan gemas dan kemudian mencubit pipi Xian Ran.
"Kau terlihat sangat imut."
"Benarkah?
Apa Kau tahu jika Kau merupakan sosok pertama yang memegang telingaku. Jika ada sosok lain yang memegangnya mungkin dia akan mati sebelum menyentuhnya."
Yan Liyan hanya tersenyum ketika mendengar itu. tentu saja Yan Liyan mengetahui apa arti memegang telinga runcing ras elf yaitu penandaan pasangan.
__ADS_1
"Aku sangat tahu dengan apa yang saat ini aku lakukan."
Bagi ras elf telinga runcing mereka sangat disakralkan dan menjadi keistimewaan bagi mereka sendiri.
Ras elf saling memegang telinga satu sama lain untuk menamdakan jika mereka berdua adalah sepasang kekasih yang artinya mereka saling memberikan keistimewaan.
Sedangkan Yan Liyan dan Xian Ran.. Xian Ran mengambil ciuman pertama Yan Liyan dan Yan Liyan menjadi sosok pertama yang diberikan keistimewaannya oleh Xian Ran yaitu memegang telinga rumcingnya.
"Ran'er sebaiknya kita akhiri ini terlebih dahulu."
"He.. Apa maksudnya itu? Liyan'gege kau telah menyentuh tingaku yang artinya kau telah resmi menjadi kekasihku. Aku sebagai seorang kekasih menuntut sedikit waktu yang kau miliki untukku." Masih dengan pipi yang menggembung Xian Ran berdecak kesal karena perkataan Yan Liyan tadi.
Yan Liyan mengehelah nafas panjang dengan sikap Xian Ran.
"Baiklah..
Apa kau ingin melihat-lihat wilayah ini. Aku akan mengajakmu berkeliling sambil menunggu yang lain selesai memasak."
"Hehhe.. Sepertinya itu merupakan ide yang bagus." Xian Ran tertawa kecil dan tanpa basa-basi dia langsung menggandeng tangan Yan Liyan.
Kedua sosok itu berjalan layaknya pasangan suami istri di wilayah yang akan dibuat pemukiman.
Sambil berjalan melihat orang-orang yang saling membantu untuk membuat rumah dari kayu yang telah Yan Liyan berikan.
Disaat itu juga Xian Ran menceritakan tentang kesepakatan yang dibuat oleh pemimpin tiga ras utama mengenai barang-barang yang akan mereka ekspor ke wilayah Kekaisaran dimensi es utara.
"Lalu bagaimana dengan ras Phoenix?" Xian Ran sangat penasaran dengan isi surat yang dikirimkan oleh Yan Liyan kepada ras Phoenix.
"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya."
"Hehe.. kau membuatku sangat penasaran, tapi itulah yang aku suka darimu." dengan senyuman indahnya Xian Ran menggoda Yan Liyan.
"Benarkah, jika seperti itu aku akan membuatmu terus saja membuatmu merasa penasaran."
"Hei, Apa yang kau katakan! itu terlalu kejam. Apa nantinya kau akan membuat kekasihmu ini menjadi jiwa yang penasaran?" ucap Xian Ran bercanda gurau.
Setelah mereka puas meliha-lihat suasana setempat, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang ke istana Kekaisaran.
Tapi ketika di perjalanan pulang..
"Tuan Nyonya.."
Di saat mereka berdua sedang berjalan tiba-tiba terdengar suara yang serak memanggil mereka berdua, suara tersebut berasal disebuah perumahan yang baru saja selesai dibangun.
Sosok yang memanggil mereka berdua adalah seorang nenek tua renta dengan tongkat kayu sebagai tumpuan untuk berdiri.
__ADS_1
"Iya, Ada apa nek?" Xian Ran mendekat kearah nenek itu dan bertanya dengan ramah.
Nenek tua itu tidak menjawab melainkan memegang tangan Xian Ran dan kemudian sosok tersebut melihat garis tangan Xian Ran.
"Anak muda Takdir yang akan kau jalani dimasa depan nanti akan penuh dengan rintangan dan dilemah, tapi kau akan dapat mengandapi semua itu jika kau mempunyai tekad yang kuat dan sosok yang orang terdekatmu akan terus membantu dan melindungimu di saat kau membutuhkan bantuan."
ucap nenek tua itu sambil melihat-lihat garis tangan Xian Ran.
Xian Ran dan Yan Liyan sangat terkejut ketika mendengar perkataan dari nenek tua tersebut. Mereka tidak menyangka jika sosok didepan mereka merupakan seorang peramal.
"Nenek apa kau bisa meramalkan aku akan menikah dengan siapa?" Xian Ran bertanya dengan antusia sekaligus penasaran dengan jawaban peramal tersebut.
Nenek tua itu hanya tersenyum dan melirik kearah Yan Liyan.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu itu bukan?"
"Sosok yang menjadi pasanganmu nantinya akan mempunyai takdir yang begitu rumit bahkan aku tidak bisa untuk meramalkanya. Namun akun sangat yakin jika dia akan menjaga dan mencintaimu dengan tulus."
"Hehehe.. Aku tahu itu, karena untuk pertama kalinya Aku telah memberikan keistimewaanku padanya dia juga seperti itu."
"kalian berdua sungguh pasangan yang serasi."
"Terima kasih." Xian Ran tersenyum ketika dipuji seperti oleh peramal itu.
"Ah, Nenek sampai jumpa lagi, Kami berdua harus pulang karena ada beberapa orang yang menunggu kedatangan kami." Xian Ran mengeluarkan 2 batu Qi tingkat tinggi dan memberikannya pada nenek itu.
Setelah itu dia pergi dengan menyeret Yan Liyan di gandenganya dan dari kejauhan dia melambaikan tangannya pada peramal itu.
"Sungguh sosok yang sangat misterius.. Garis takdirnya tidak dapat aku ketahui." gumam nenek peramal itu ketika melihat Yan Liyan dari kejauhan.
"................. "
Matahari mulai terbenam.. ketika matahari terbenam muncul aurora yang sangat indah dilangit malam.
Yan Liyan dan Xian Ran sangat menikmati pemandangan itu karena jarang sekali aurora muncul di dimensi lain.
Setelah mereka berdua sampai di istana..
Mereka disambut oleh Jiu Wei, Mei Lin, dan Bing Hua diatas meja makan serta banyak jenis makanan yang tersedia.
"Kalian terlalu lama! Apa kau tahu jika Aku telah menunggu kalian dari tadi." ucap Jiu Wei yang sudah tidak sabar memakan makanan yang tersedia di depannya.
"Maaf.. maaf membuat kalian menunggu lama. Tadi Kami berdua bertemu dengan sosok peramal, jadi kami berdua berhenti untuk meminta sosok itu meramal kami berdua." ucap Xian Ran tanpa rasa bersalah setelah itu dia duduk dikursi meja makan dan diikuti oleh Yan Liyan.
"Dimana kedua muridmu Jiu Wei?" ucap Yan Liyan karena dia tidak melihat keberadaan Qiao Mi. dan Su Fengli di tempat itu.
__ADS_1
"Mereka berdua menghadiri perjamuan makan yang diadakan para warga malam ini sebagai imbalan karena mereka membantu warga membuat rumah, jadi mereka berdua tidak bisa ikut makan malam bersama kita malam ini."