
Bing Hua, Jiu Wei, Dan Mei Lin memilih diam ketika melihat Yan Liyan tersenyum tipis seperti itu. Dari kata-kata penuh percaya diri darinya saja sudah bisa dipastikan jika Yan Liyan mempunyai suatu rencana.
"Mei Lin Awasi terus pergerakan mereka! Aku akan menyebarkan rumor tentang sisi buruk dari pemimpin serta para bangsawan di wilayah ini kepada masyarakat terlebih dahulu."
"Oh, aku sudah mulai mengerti dengan alur rencanamu." Mei Lin berdiri lalu pergi menuju halaman rumah yang mana dihalaman terdapat Qiao Mi dan Su Fengli yang sedang berlatih.
Terlihat mereka berdua mengayunkan pedang kayu sambil menghitung berapa kali mereka mengayunkanya.
Awalnya mereka berdua tampak biasa saja ketika pertama kali mengayunkan pedang, tapi setelah beberapa lama kemudian ayunan pedang mereka mulai melambat pertanda mereka berdua merasa kelelahan.
Bahkan Su Fengli sudah tidak mampu mengayunkan pedang lagi. Namun ketika melihat Qiao Mi masih mengayunkan pedangnya, dia kembali berusaha untuk mengayunkan pedangnya.
Bagaimanapun Su Fengli ingin lebih kuat daripada Qiao Mi agar dia mendapatkan perhatian Qiao Mi dan tentunya agar Dia dapat melindunginya.
Qiao Mi sendiri nampak sangat kelelahan, tapi dia tetap berusaha keras untuk mengayunkan pedang kayu itu. Disaat Qiao Mi ingin menyerah karena merasa kelelahan, Dia mengingat kembali mengingat masa lalunya. dimana keluarga dibantai di depan matanya sendiri sehingga hal tersebut membuatnya merasa penuh kebencian dan mendorongnya untuk mengayunkan pedang kebih keras dengan penuh amarah.
Mei Lin yang melihat Qiao Mi entah kenapa mengingatkanya pada seseorang.
"Dia sama sepertiku yang dulu ya...?" Bing Hua berdiri disampingnya sambil memandang kearah Qiao Mi.
"Ya.. Aku masih mengingat waktu di alam tingkat rendah dulu, tapi hal itu terjadi sebelum kau mengetahui Identitasmu yang sebenarnya." Mei Lin masih mengingat awal pertemuan tuanya dengan Bing Hua yaitu setelah mereka keluar dari dalam jurang kematian.
"Hmm.. Entah kenapa hal itu mengingatkanku kepada mereka berlima."
"Maksudmu para bawahan Liyan'gege yang lain?"
"Ya.. Menurutmu siapa lagi selain mereka."
Bing Hua menghela nafas panjang ketika mengingat 5 dewi terdahu itu, terutama Xiao Yi dan Mei Lin.
Dia sangat menyayangkan penghianatan mereka. Dia juga tidak menyangka gadis yang sangat manjah kepada Yan Liyan itu, pada akhirnya akan menghianti kakaknya padahal dari awal Yan Liyan selalu berbuat baik padanya.
"Terkadang sifat manusia dapat berubah seiring waktu. Melupakan jasa orang lain dalam hidup merupakan hal yang mungkin bisa saja terjadi tentunya ada beberapa faktor yang membuat kita melupakanya yaitu perubahan pola pikir."
"He.. Aku tidak terlalu mengerti dengan perkataanmu, tapi barusan kau terlihat seperti orang bijak." Mei Lin menggoda Bing Hua ketika mendengar perkataanya tadi.
Sedangkan Yan Liyan telah keluar rumah menuju keramaian untuk menyebarkan rumor seperti apa yang dia rencanakan.
"................... "
__ADS_1
Di Tempat Lain...
Lebih tepatnya di suatu dimensi khusus.
Terlihat seorang wanita sedang berdiri ditepi air terjun dengan pandangan kosong tertuju pada air yang mengalir dengan derasnya.
"Aku sudah tidak mempunyai tujuan hidup lagi." Gumam sosok itu dengan perasaan yang sangat sedih.
"Bahkan air mataku sudah tidak menetes lagi untuk mengekspresikan kesedihanku saat ini." Gumam sosok itu tertunduk lalu mengeluarkan sebuah belti dalam cincin penyimpananya.
"Mungkin ini adalah akhir hidup dari seorang penghianat sepertiku." sosok itu mengangkat belatinya lalu dengan gerakan yang sangat cepat sosok tersebut melesatkan belati itu ketubuhya.
"Selamat tinggal kehidupanku yang menyedihkan. Selamat tinggal Yan Liyan." ucap sosok itu yang tidak lain adalah Yan Lin.
Yan Lin menutup matanya dengan belati yang hampir mengenai tubuhnya. Namun...
Wuss...
Tiba-tiba muncul sosok lain. Sosok tersebut adalah Xiao Yi
Xiao Yi menahan gerakan tangan Yan Lin lalu dia membuang belati yang berada di tangan Yan Lin.
"Aku tidak mempunyai tujuan hidup lagi Xiao Yi. Sebaiknya biarkan aku pergi dan beristirahat dengan tenang."
"Tidak! jangan katakan hal bodoh semacam itu Yan Lin." Xiao Yi tahu apa yang sedang dirasakan oleh temannya itu saat ini. Dia juga merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri karena telah salah mengambil keputusan.
Seandainya waktu itu dia lebih memilih berkerja sama dengan Yan Liyan mungkin hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
"Jika kau ingin melampiaskan kemarahanmu maka lakukan saja kepadaku! Sebab keputusankulah yang menyebabkan semua ini terjadi! jadi jika...
Sebelum perkataan Xiao Yi selesai, Yan Lin menampar wajah Xiao Yi dengan lembut dan kemudian Yan Lin menggeleng.
"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu! ini juga merupakan kesalahanku, Jika saja dari awal aku mengungkapkan perasaan yang aku miliki pada Yan Liyan mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri Xiao Yi."
Yan Lin mengerti jika Xiao Yin mengambil keputusan dengan niat agar menjauhkan Yan Liyan dari segala ancaman, karena akan sangat berbahaya jika Yan Liyan yang dulu bersama mereka, tapi sayangnya itu semua merupakan cara yang salah.
Yan Lin mengerti akan hal itu, jadi dia tidak ingin menyalahkan Xiao Yi dan membuat pemimpin sekaligus teman baiknya itu merasakan perasaan bersalah seumur hidupnya.
Sedangkan Xiao Yi yang mendengar perkataan Yan Lin membuatnya merasa terharu, sehingga membuat Xiao Yi berjanji dalam hati, jika dia akan berusaha untuk menyatuhkan kembali antara Yan Lin Dan Yan Liyan.
__ADS_1
Ya.. walaupun itu sangat sulit untuk dilakukan namun dia tetap akan berusaha.
"................. "
Kembali di halaman rumah tempat tinggal Yan Liyan dan yang lainnya..
Terlihat Su Fengli telah terkapar lemah karena merasa tidak kuat lagi untuk mengayunkan pedang Kayunya.
Qiao Mi masih mengayunkan pedangnya walaupun dengan gerakan yang sangat lambat dan bisa terlihat jika Qiao Mi akan terjatuh kapan saja.
"Latihan untuk hari ini telah selesai! Hentikan ayunan pedang kalian dan beristirahatlah!" Jiu Wei menghentikan mereka ketika hari sudah main siang.
Qiao Mi dan Su Fengli dilatih oleh Jiu Wei atas perintah dari Yan Liyan dan dengan senang hati Jiu Wei melatih mereka.
Ya.. Setelah sarapan pagi.. Jiu Wei menyuruh Qiao Mi dan Su Fengli mengayunakn pedang kayu dan jika dihitung mereka mengayunkan pedang selama 5 jam penuh tanpa henti.
Sungguh latihan yang sangat keras untuk anak seumuran mereka, tapi untuk menjadi kuat memang harus membutuhkan latihan extra.
Qiao Mi berhenti mengayunkan pedangnya ketika mendengar perkataan Jiu Wei. Dia tersenyum senang karena telah berhasil, lalu Qiao Mi tumbang karena merasa sangat kelelahan.
"Kau perlu berlatih lebih keras lagi rambut kuncir! Apa kau tidak merasa malu dikalahkan oleh seorang gadis yang seumuran denganmu? Bagaimana kau bisa melindunginya jika kekuatanmu seperti itu!" Jiu Wei memarahi Su Fengli karena kekuatanya yang lemah. Jiu Wei juga memberikan julukan rambut kuncir pada Su Fengli karena memang Su Fengli menguncir rambutnya kebelakang sehingga terlihat agak aneh bagi Jiu Wei.
"Baik, aku akan berusaha lebih keras lagi." Ucap Su Fengli tersenyum kecut ketika diberikan julukan semacam itu.
"Baguslah jika kau mengerti."
Jiu Wei kemudian menoleh kearah Qiao Mi. Jiu Wei tersenyum kearahnya. Jiu Wei mengangkat ibu jarinya memberikan pujiannya pada Qiao Mi.
"Kerja bagus Qiao Mi dan tingkatkan lagi kedepannya. Staminamu cukup kuat ya.. dengan begini aku sangat yakin jika kau dapat menjadi kultivator yang sangat hebat dimasa depan nanti."
"Terimakasih Guru." setidaknya dia mempunyai harapan besar untuk menjadi kultivator hebat selama berada di bawah bimbingan Jiu Wei.
Jiu Wei yang dipanggil guru membuatnya tersenyum karena hal ini merupakan pertama kalinya ada yang memanggilnya seperti itu.
"Ya... Kalian berdua istrahat terlebih dahulu."
Qiao Mi dan Su Fengli mengangguk lalu mereka berdua berteduh di bawah pohon lalu meminum air minum yang telah disediakan.
"Bagaimana menurutmu dengan pelatihan yang dilakukan oleh Jiu Wei, Bing Hua?" tanya Mei Lin yang berada di samping Bing Hua.
__ADS_1
"Pilih kasih."