
Yan Liyan mengumpulkan ketiga benda itu, lalu memandangnya sesaat dengan ekspresi rumit, karena dia tidak pernah menyangka jika sebuah buku teknik dapat digunakan dalam pembuatan senjata.
Bahkan dalam pengetahuan tentang penempaan tingkat dewa, tidak ada sesuatu yang tertulis seperti itu.
[Ding.. Tuan tidak perlu ragu, karena sistem telah memeriksa jika tiga benda itu memang benar merupakan bahan untuk membuat pedang dewi phoenix]
"Huh Baiklah, Aku akan memulainya." ucapnya lalu mengeluarkan sebuah tungku yang sama dengan tungku yang dia gunakan untuk membuat pil Teratai surgawi.
Tungku tersebut merupakan tungku dua fungsi yang memiliki fungsi dalam dua bidang profesi.
Yan Liyan kemudian mengalirkan Qi miliknya kearah tiga benda itu.
Wusss!
Tiga benda itu kemudian dilapisi oleh energi cahaya, lalu melayang mengelilingi tungku tersebut.
Yan Liyan lalu mengeluarkan api berwarna merah darah yang merupakan api phoenix dan mengarahkanya pada batu inti elemen api.
Yang kemudian api phoenix itu, menyelimuti batu inti elemen api dan berusaha untuk meleburkanya.
Tapi batu inti elemen api itu, seketika mengeluarkan api yang membara seolah menolak dengan kehadiran api phoenix tersebut.
Yan Liyan yang menyadari hal itu, semakin mengalirkan Qi kedalam api phoenix sehingga membuatnya semakin besar seperti bola api besar sehingga dapat menelan batu inti elemen.
Yan Liyan langsung berhenti mengalirkan energi Qi nya dan menariknya kembali.
Bola api itu juga secara perlahan mengecil lalu menghilang, setelah bola api itu menghilang. Terlihat sesuatu seperti cairan lava yang melayang ditempat itu.
Yan Liyan lalu mengendalikan lava tersebut menggunakan Qi nya menuju kedalam tungku.
Setelah itu Yan Liyan memandang kearah Permata Es yang merupakan bahan selanjutnya.
"Setelah ini maka akan ada bagian yang paling sulit." gumamnya
Lalu dia membuat segel tangan lagi.
wusss!
Muncul serpihan Es serta butiran salju yang terkumpul pada permata Es.
Krak!
Terdengar suara retakan yang berasal dari permata Es tersebut.
Setelah retakan itu terjadi. Muncul aura yang sangat dingin yang berasal dari permata Es itu.
Seluruh Aura yang sangat dingin itu melesat kearah Yan Liyan sebagai pusatnya.
Argkh!
Yan Liyan meringis kesakitan ketika aura dingin tersebut memasuki tubuhnya, dia seperti merasakan jika seluruh tubuhnya membeku dan dia juga merasakan perasaan dingin yang mencekam.
'Sial! Aura dingin macam apa ini?!' padahal dia telah menguasai berbagai macam jenis elemen Es bahkan Es menjadi teknik andalannya.
Namun sekarang ini dia merasakan aura yang dingin, bahkan lebih dingin dan mencekam dari Elemen Es miliknya.
Yan Liyan menggertakan giginya berusaha menahan rasa sakit itu, serta dia juga tetap mempertahankan teknik miliknya, karena jika tidak maka permata Es itu akan rusak, yang berarti penempaan pedang dewi phoenix akan gagal.
__ADS_1
Tidak lama kemudian. Perasaan dingin di dalam tubuh Yan Liyan perlahan mulai mereda, yang membuat Yan Liyan berangsur-angsur membaik, sehingga dia dapat mengembalikan konsentrasi pada permata Es di depanya.
[Ding... Selamat tuan, Elemen Es salju anda telah berevolusi menjadi elemen Es Yin]
Yan Liyan sangat terkejut ketika mendengar itu, karena siapa yang menyangka jika elemen Es nya kan berevolusi di saat-saat seperti ini.
Perlahan Elemen Es yang dikeluarkan oleh Yan Liyan berubah warna yang tadinya berwarna biru terang sekarang menjadi putih jernih dan mengeluarkan aura dingin yang sangat mengerikan.
Es Yin tersebut dengan mudahnya menghancurkan permata Es tadi, sehingga meleburkanya menjadi percahan kristal Es.
Pecahan kristal Es itu kemudian jatuh kedalam tungku bergabung dengan cairan lava tadi.
Kedua benda itu tidak dapat menyatu di sebabkan kekuatan yang mereka miliki sama-sama mendominasi.
Yan Liyan yang melihat itu langsung membuat segel tangan lagi.
Lalu muncul sebuah aray pembentuk di dalam tungku, aray itu membentuk dua elemen itu menjadi sebuah pedang dengan kendali Yan Liyan.
'Ini yang aku maksud bagian yang paling tersulitnya.' batin Yan Liyan dengan ekspresi rumit.
Tidak lama kemudian....
"Berhasil." gumam Yan Liyan dengan senyuman tipis.
Wusss!
Boom!
Terjadi sebuah ledakan besar di dalam tungku, dan secara tiba-tiba muncul sebuah pedang dengan warna berbeda pada dua sisinya.
Di sisi sebelah bilah pedang itu memiliki warna merah darah bagaikan api phoenix, sedangkan di sisi yang satunya lagi memiliki warna putih seperti elemen Es Yin.
Tiba-tiba saja buku teknik semesta terbuka dan mengeluarkan seluruh tulisan yang ada di dalamnya.
Tulisan itu berupa semua teknik tabu yang ada di dalam buku semesta yang kemudian melesat dan menempel pada seluruh bilah pedang dan gangang pedang dewi phoenix yang masih belum dalam bentuk sempurnanya.
Yan Liyan sangat terkejut ketika melihat hal tersebut, dia tidak pernah menyangka jika hal tersebut dapat terjadi.
"Bagaimana Mungkin?!"
Mengabaikan keterkejutanya, Yan Liyan membuat segel tangan lagi sebagai langkah terakhir dari pembuatan pedang dewi phoenix.
"Teknik aray! Pemanggilan roh!"
Wusss!
Angin berhembus dengan sangat kencang di dalam gua, dan secara perlahan terasa aura panas dan dingin serta mencekam di tempat itu.
Wusss!
Tiba-tiba saja muncul dua burung phoenix yang berbeda ras, ke-dua burung Phoenix tersebut memiliki penampilan yang transparan.
Kiak!
Kiak!
Kedua phoenix itu membentang kedua sayap menunjukan keindahanya mereka, setelah itu dua burung Phoenix itu kemudian melesat menuju kearah pedang dewi phoenix.
__ADS_1
Mereka berdua melesat dan masuk kedalam pedang, setelah itu muncul ukiran dua phoenix berbeda ras di kedua sisi bilah pedang dewi phoenix.
Ganggang yang tadinya tampak biasa-biasa saja, kini dipenuhi dengan ukiran bulu phoenix serta tulisan-tulisan kuno yang berasal dari teknik tabu.
"Huh! Akhirnya selesai juga." ucapnya lalu berjalan menuju kearah pedang dewi phoenix yang masih melayang.
Yan Liyan memperhatikan pedang dewi phoenix itu dengan lekat-lekat, setelah itu Dia mengangguk puas.
"Menarik." gumamnya lalu memasukan pedang itu kedalam cincin penyimpananya.
Krak...
Terdengar suara retakan setelah Yan Liyan memasukan pedang dewi phoenix itu kedalam cincin penyimpananya.
Yan Liyan melihat kearah tungku, dan dengan tatapan datarnya ketika melihat tungku dua fungsi miliknya terbelah menjadi dua bagian.
Yan Liyan sedikit menyayangkan tungku itu. Namun sebenarnya Yan Liyan telah menduga jika hal itu akan terjadi, hal itu di sebabkan menyatukan energi yang berlawanan akan menyebabkan tekanan yang sangat besar pada tungku dua fungsi.
Yan Liyan menghelah nafas lega, Dia kemudian tertidur karena kelelahan akibat kekuatan jiwa dan Qi nya sangat terkuras ketika menempa pedang dewi phoenix itu.
".........."
Pagi harinya....
Yan Liyan sekarang ini sedang duduk bersilah untuk memulihkan seluruh kekuatan miliknya.
Wusss!
Tiba-tiba muncul Jiu Wei dibahu Yan Liyan yang membuatnya kening Yan Liyan berkerut, karena dia menduga jika Jiu Wei akan membuat masalah lagi denganya.
"Ada apa?" tanya Yan Liyan dengan lembut.
"Cih, jangan pura-pura tidak tahu." ucap Jiu Wei sambil berdecak kesal.
'Huh, Sudah kuduga jika dia akan membuat masalah lagi.'
"Apa yang kau inginkan?" tanya Yan Liyan, Yan Liyan menduga jika Jiu Wei menginginkan sesuatu. Dia sangat tahu dengan sifat binatang kontraknya itu.
"Hmmp... Dasar tuan pilih kasih! Kenapa hanya Mei Lin saja yang mendapatkan sumberdaya yang berharga?" Jiu Wei merasa iri dengan Mei Lin yang diberikan sumberdaya peningkatan kultivasi sedangkan dia tidak.
Yan Liyan akhirnya mengerti dengan maksud dari Jiu Wei.
"Apa yang kau maksud adalah benda ini?" ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil mirip dengan kotak yang pernah dia berikan kemarin pada Mei Lin.
"Itu...
"Ya. Aku juga menyimpanya untukmu, jadi ambilah!"
Jiu Wei ingin menerimanya, tapi merasa malu sebab tadi dia telah memarahi Yan Liyan.
Yan Liyan hanya tersenyum, mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Jiu Wei
"Ambilah! jika tidak, aku akan mengembalikannya..
"Ba-baiklah aku akan menerimanya, tetapi tetap saja jika aku masih menganggap tuan itu pilih kasih."
Jiu Wei lalu mengambil kotak itu dan masuk kembali ke dalam ruang invetory sistem tanpa mengatakan ucapan terima kasih pada Yan Liyan.
__ADS_1
Yan Liyan hanya tersenyum ketika melihat sikap dari Jiu Wei. Yang menurutnya sangat ke kanak-kanakan.