
Di kediaman Yan Liyan...
Enam sosok sedang duduk dikursi meja makan dengan banyak makanan yang tersedia di depan mereka.
"Aku membuat makanan yang spesial malam ini untuk merayakan Jiu Wei yang telah menjadi seorang guru." Bing Hua tersenyum kepada mereka yang membuat Jiu Wei berbinar.
Jiu Wei tidak menyangka jika Bing Hua akan melakukan ini untuknya.
"Terimakasih Kakak Hua.. Aku mencintaimu!"
"Uhuk! jangan lupakan keberadaanku Jiu Wei dan Hua'er adalah milikku, jadi kau tidak boleh mengambilnya dariku."
Jiu Wei yang mendengar itu langsung menghentikan gerakan yang akan memeluk Bing Hua.
"Eh, Pfft.. apa kau merasa cemburu?" Jiu Wei menahan tawa ketika mendengar perkataan Yan Liyan tadi.
Jiu Wei ingin tertawa dengan keras namun dia sadar jika sekarang ini mereka berada di tempat yang tidak sesuai.
"Hentikan itu Jiu Wei! Makankah makanan kalian jika dibiarkan maka manan itu akan dingin. Apa kalian tidak merasa kasihan pada dua anak kecil itu yang sepertinya sudah merasa lapar." Mei Lin melirii kearah Qiao Mi dan Su Fengli yang ingin maka, tapi mereka masih menahan diri karena Yan Liyan belum memakan makananya.
Sebenarnya itu juga merupakan hal yang wajar karena mereka bukanlah seorang kultivator yang tidak membutuhkan makanan untuk waktu tertentu sesuai tingkat kultivasi mereka.
"Dan kau Liyan'gege! jangan bercanda dan bersikap seperti anak kecil! karena itu akan menurunkan wibawahmu di depan orang lain, Jika itu kami maka hal itu tidak masalah, tapi jika itu di depan orang lain maka itu akan menjadi masalah."
Yan Liyan tersenyum kecut ketika mendengar penjelasan dari Mei Lin. Meskipun Mei Lin adalah kekasihnya, tapi tetap saja dari segi usia jiwa. dia merupakan yang paling tua diantara mereka, jadi Yan Liyan sama sekali tidak masalah untuk ditegur seperti itu.
"Iya, Aku mengerti." Yan Liyan lalu mengambil sumpit lalu...
"Selamat makan."
Yan Liyan mengmbil mangkuk yang berisi sup lalu memakan sup itu.
"Kakak Hua! Masakanmu memang sangat...
Sebelum Jiu Wei menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba saja banyak pandangan dingin tertuju kepadanya. Hal itu disebabkan Jiu Wei berbicara pada saat makan yang mana hal tersebut merupakan perilaku yang tidak sopan.
" Mm.. Baiklah, Aku akan diam." memegang sumpitnya lalu memakan potongan daging panggang yang tersedia di depannya.
Bing Hua hanya tersenyum ketika melihat kejadian itu, Bing Hua menjadi sangat ingin jika semua ini akan seperti ini terus untuk selamanya.
Hidup dalam keadaan damai dan tidak ada yang menganggu.
"............... "
Setelah Mereka selesai makan malam...
__ADS_1
Yan Liyan dan Mei Lin sedang duduk diteras rumah sambil berbin-bincang. Yang mereka berdua bicarakan adalah mengenai informasi yang mereka dapat masing-masing.
Yan Liyan memberitahu tentang keluarga song pada Mei Lin serta kemungkinan berpihaknya keluarga song pada rencananya, sehingga hal tersebut akan sangat menguntungkan mereka.
"Seperti itu ya... sepertinya rencanamu akan berjalan dengan lancar, Aku juga tidak menyangka jika kau akan melibatkan salah satu keluarga bangsawan di wilayah ini."
Mei Lin kemudian memberitahukan tentang rencana dari pemimpin kota kepada Yan Liyan mengenai apa yang akan perajuritnya lakukan malam ini.
"Jadi seperti itu ya... purnama bulan biru tidak lama lagi akan muncul. tentu saja dia sangat khawatir jika pengorbananya akan kurang."
"Aku akan melenyapkan mereka malam..
"Tidak. Sebaiknya kau beristirahat dan biarkan aku saja yang akan mengurus para perajurit. Aku terlalu banyak merepotkanmu padahal kau telah menjadi kekasihku. Aku akan merasa bersalah karena Aku tidak menjadi kekasih yang baik jika kau terus saja melakukan tugas seperti ini, jjadi beristirahatlah! dan biarkan aku yang mengurusnya."
"Apa yang Liyan'gege katakan?! Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Malahan jika kau tidak memberikanku tugas lagi maka aku merasa akan menjadi beban bagimu." Mei Lin sangat bersungguh-sungguh dengan perkataanya tadi.
Yan Liyan terkekeh pelan ketika mendengar Mei Lin berkata seperti itu.
Dan secara tiba-tiba Yan Liyan mendekat kewajah Mei Lin.
"Perkataanmu tadi terdengar bukan seperti dirimu saja, Mei Lin."
"Aku tahu. Tadi siang Bing Hua juga berkata seperti itu." Menempelkan tangannya di wajah Yan Liyan lalu mendorongnya menjauh dari wajahnya secara perlahan.
"Itu tidak ada hubunganya, tapi baiklah kau boleh pergi. Aku akan menjaga mereka disini."
"Sebenarnya kau tidak perlu menjaga mereka, karena aku telah memasang aray pelindung ditempat ini. Seseorang yang mempunyai niat jahat akan langsung hancur berkeping-keping jika memasuki wilayah kediaman ini selama dia berada di tingkat kultivasi yang lebih rendah dariku."
"Mm.. jika seperti itu, maka Aku akan beristirahat." dengan ekspresi datarnya Mei Lin berbalik menuju pintu rumah, tapi langkahnya terhenti ketika tangan Yan Liyan memegang tangannya.
Mei Lin langsung berbalik dengan wajah kesalnya, tapi kekesalanya itu langsung menghilang ketika Yan Liyan mencubit pipi Mei Lin.
"Terimakasih."
Wajah Mei Lin langsung memerah atas kejadian tidak terduga itu, tapi sebelum Mei Lin membalas ucapan Yan Liya. kekasihnya itu langsung menghilang dari tempat itu.
Berusaha menenangkan diri, Mei Lin kemudian tersenyum manis.
"Ya, Berusahalah."
".......... "
Di atap rumah perkotaan..
Terlihat banyak sosok yang berlarian diatasnya, sosok itu menggunakan topeng untuk menutupi identitas mereka. Mereka melakukan itu untuk mempermudah menemukan incaran.
__ADS_1
"Apa kau melihat seseorang yang dapat kita incar untuk dijadikan korban ritual."tanya sosok pada rekannya yang baru saja datang dari tempat lain.
" Tidak, sepertinya masih belum."
"Kita harus tetap menunggu jika tidak maka pemimpin akan menjadikan kita sebagai korban, tapi jika kita tidak menemukan seorang pun, maka terpaksa kita harus masuk secara paksa ke dalam rumah warga dan membawa mereka secara paksa, meskipun itu mempunyai resiko besar jika kita menghadapi seorang yang memiliki kultivasi yang kuat."
ucap sosok perajurit yang merupakan pemimpin kelompok perajurit itu.
Dia telah mempertimbangkan semua rencananya. Mencuri orang di tempat yang sepi dan pada saat dia sendirian merupakan rencana yang aman dan mempunyai sedikit peluang kegagalan.
Tapi jika rencana tersebut tidak membuahkan hasil maka mereka terpaksa menggunakan rencana kedua, Meskipun mempunyai hal itu mempunyai resiko besar. Namun tidak ada pilihan lain daripada di jadikan korban ritual bagi pemimpin mereka sendiri.
Kabur pun bukan pilihan yang bagus, karena satu-satunya tempat aman untuk kabur adalah diluar wilayah arah pelindung yang merupakan tempat yang sangat berbahaya.
Sedangkan di tempat ini dia akan langsung di jadikan sebagai buronan karena dianggap sebagai penghianar, sehingga sehingga para warga akan langsung mengenalinya jika mereka melihat keberadaanya dan setelah itu tentu saja orang-orang akan memburu mereka.
Di saat mereka sedang mengawasi setiap jalan dan tempat yang ada.. tiba-tiba ada sosok pemuda berambut putih yang terlihat tampak polos dan lugu sedang berjalan menyusuri jalan yang sangat sepi.
"Ini adalah suatu keberuntungan." gumam salah satu sosok dengan senyuman.
"Ya. Dia terlihat sangat lemah, mangsa yang sangat empuk."
"Serang dia!"
Dengan suara perintah tadi, 50 sosok itu melesat kearah Yan Liyan dengan pedang tajam mereka.
Wuss!
50 sosok itu muncul didepan Yan Liyan mengepungnya sehingga Yan Liyan berada di tengah-tengah mereka.
"Apa Ibumu tidak pernah memberitahumu untuk tidak berjalan sendirian di malam har,i anak muda?" salah satu sosok mengejek Yan Liyan.
"Mm.. Aku rasa Ibuku tidak pernah bilang seperti itu, lagi pula kata-kata seperti itu pada umumnya di katakan kepada anak perempuan bukan?
Dan juga kalian ini siapa paman aneh." Yan Liyan berkata dengan ekspresi polosnya sehingga membuat perajurit yang menghina Yan Liyan tadi menjadi sangat marah.
"Kau Bocah sialan! Asal kau tahu saja jika kami adalah dewa kematianmu." sosok itu melesat kearah Yan Liyan dengan kecepatan penuh diikuti dengan yang lainnya.
"Ingat! jangan sampai kalian membunuhnya! hal itu karena Pemimpin tidak bisa mengorbankan orang yang suda tidak bernyawa."
"Ya, Kami mengerti."
Yan Liyan langsung mengeluarkan aura kematian dari dalam tubuhnya ketika melihat mereka sudah mulai bergerak.
"Aku tidak akan menahan diri."
__ADS_1