
Groarrr!
Raungan naga besar yang menggema kembali yang menimbulkan keributan di alam keabadian untuk yang kedua kalinya.
Naga besar itu kemudian melesat menuju kearah Yan Liyan bersama dengan 100 naga yang masih tersisa lainya.
Wuusss!
Booomm!
Ledakan kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya dimana efek dari ledakanya sampai menimbulkan banyak pohon yang berada 300 Km tumbang hampir tidak tersisa.
Sedangkan gunung tempat Yan Liyan menerobos tadi sudah menjadi sebuah jurang dalam dan besar bahkan sama sekalian tidak ada tanda-tanda jika ditempat itu dulunya merupakan berdirinya sebuah gunung yang kokoh.
Di dalam jurang itu sendiri terdapat seorang pemuda yang tebraring lemas dan sama sekali tidak memakai sehelai benang pun.
Pemuda itu tentunya adalah Yan Liyan yang baru saja menghadapi kesengsaraan surgawi naga dan keadaanya saat ini benar-benar mengenaskan dimana tubuhnya penuh dengan luka.
Darah mengalir dari seluruh tubuhnya dan kedua tangannya hampir saja putus serta aura kehidupanya semakin menipis sehingga membuat keadaan Yan Liyan benar-benar menipis, dan jika dibiarkan begitu saja maka kemungkinan besar Yan Liyan akan mati.
Tapi menjelang sore hari, ketika cahaya sore menerangi jurang yang baru saja terbentuk.
Keadaan Yan Liyan secara perlahan pulih, semua lukanya sembuh dengan perlahan, bahkan kedua tangannya tadi yang hampir putus kini kembali beregenerasi.
Dan tidak lama kemudian....
Yan Liyan membuka matanya melihat keadaan dan kondisi tubuhnya yang masih baik-baik saja membuat dirinya menghela nafas lega padahal tadi dia merasa jika dirinya akan mati setelah menghadapi ribuan kesengsaraan surgawi naga itu.
"Huh, syukurlah aku masih hidup."
Yan Liyan lalu berdiri dan sedikit terkejut ketika melihat tubuhnya yang polos saat ini.
"Tentu saja jubah Phoenix tidak akan mampu menahan energi sekuat tadi."
Yan Liyan kemudian memakai jubah Phoenix yang telah ditingkatkan kekuatanys oleh sistem dan terdapat pelindung sihir pada jubah itu, sehingga membuat Yang Liyan merasa sangat puas.
"Baiklah.. Sekarang waktunya untuk memulai petualangan di alam keabadian ini." Yan Liyan melesat keluar dari jurang lalu terbang menuju pemikiman yang berjarak paling dekat dari hutan tempat dia menerobos tadi.
".......... "
Di sisi lain tanpa dia sadari jika fenomena kesengsaraan surgawi tadi telah memancing beberapa kultivator kuat yang sangat penasaran dengan siapa yang memanggil kesengsaraan surgawai seperti itu.
__ADS_1
Di Aula sekte aliran putih yang bernama sekte pedang. Terlihat 3 orang yang berkumpul di aula dalam sekte dengan seorang yang sangat sepuh yang memimpin pertemuan tersebut.
"Pimpinan...
Sosok sesepuh itu mengangkat tangannya memberhentikan ucap dari orang yang berbicara tadi.
"Kalian semua pasti melihat sendiri fenomena yang terjadi tadi siang. Hanya ada satu kemungkinan untuk menjelaskan hal yang terjadi tadi siang.
Yang pertama, jika kejadian itu merupakan perangkat antar ras naga dan kemungkinan kedua dan paling masuk akal adalah jika kejadian itu merupakan kesengsaraan surgawi naga atau kesengsaraan naga surgawi.
Aku peringatan kepada kalian untuk tidak menyinghunh sosok itu jika kalian kebetulan bertemu denganya, tapi berusahalah untuk membujuknya secara halus agar bergabung dengan sekte aliran putih mana pun."
Jelas sosok itu yang tidak ingin jika anggota nya menyinggung dengan sosok yang dia maksud, karena tentu orang yang dapat memanggik kesengsaraan petir naga surgawi bukanlah orang sembarangan, setidak orang itu mempunyai kekuatan yang berada di atas dirinya.
Tentu sosok sesepuh itu tidak ingin jika sekte dan Kekaisaran bisa saja hancur hanya karena gara-gara menyinggungnya.
Tapi yang membuat sosok sesepuh tersebut khawatir adalah jika sosok yang telah memanggik kesengsaraan naga surgawi sampai terhasut oleh sekte aliran hitam yang mana itu akan menjadi sebuah ancaman besar untuk mereka.
Dua sosok yang ada di tempat itu mengangguk mendengar perkataan dari sosok sesepuh tersebut.
"Jian Hu anakku. Aku akan pergi untuk melanjutkan kultivasiku. Ingatlah perkataan ku tadi dan jaga sekte ini dan seluruh sekre aliran putih dengan baik."
"Baik, Aku mengerti Ayah."
Sosok sesepuh itu tersenyum puas lalu menghilang dari ala sekte.
Setelah sosok sesepuh tadi pergi....
"Bagaimana dengan pertarungan antar kultivator muda yang akan diadakan 10 bulan lagi patriark? Apa kita akan menundanya terlebih dahulu dan memfokuskan kerja sekte untuk menyelidiki sosok yang telah memanggil kesengsaraan naga surgawi?"
Tetua Agung bertanya dengan hormat kepada Jian Hu dimana semua orang akan menantikan keputusanya sebagai seorang patriark.
"Tidak, kita tidak akan menundanya. Setiap tahun kita telah menjadi tuan rumah dalam acara seperti itu. Akan sangat memalukan jika sampai saat kita gagal menjadi tuan rumah."
"Tapi patriark bagaimana dengan...
"Huh, Bagi tugas kepada seluruh tetua yang ada. Suruh dari sebagian mereka untuk menyelidiki orang yang menyebabkan fenomena itu dan sebagian lagi suruh mereka untuk menyiapkan urusan-urusan dilaksanakanya turnamen muda."
Jian Hu berpikir jika menangis dia tugas tersebut akan menjadi pilihan terbaik daripada menunda karena hal ini adalah masalah harga diri dan kebanggaan sebagai pemimpin sekte aliran putih.
Sedangkan untuk penyelidikan, Jian Hua juga sangat yakin jika bukan hanya sekte nya saja yang menyelidiki hal itu, tapi juga sekte lain juga termasuk sekte aliran hitam.
__ADS_1
Jadi akan banyak yang berlomba-lomba untuk mengajak sosok yang memanggil petir kesengsaraan Naga surgawi untuk bergabung di sekte mereka masing-masing untuk memperkuat kedudukan mereka pada sekte lain.
Tetua Agung yang mendengar perintah dari patriark langsung pergi dari tempat untuk melakukan perintah Jian Hu sesegera mungkin.
"............ "
Sedangkan ditempat lain..
Yan Liyan sedang berbaris di bersama dengan para pedagang yang akan memasuki sebuah kota.
Sebelumnya Yan Liyan keluar dari hutan dan menemukan pemukiman atau sebuah kota yang cukup besar berdiri disekitar wilayah hutan tempat dia menerobos tadi.
Kota itu bernama kota Hutan Qilin Emas yang merupakan salah satu kota tingkat menengah yang berada di Kekaisaran alam keabadian.
Kota Qilin emas terkenal akan sumberdaya tanaman herbal dan binatang buasnya yang sangat banyak karena dekat dengan hutan yang sangat luas bernama huta Qilin Emas, sehingga menyebabkan penduduk kota tersebut sangat makmur dan sejahtera.
Pada saat Yan Liyan sedang berbaris. Dia mendengar cerita-cerita dari para pedagang mengenai ledakan besar dan auman keras yang terjadi tadi siang.
Para pedagang itu berspekulasi jika kejadian tadi siang merupakan seekor naga dan seekor Qilin yang sedang memperebutkan kekuasaan dihutan Qilin Emas.
Ada juga yang berpendapat jika seekor Qilin Emas yang hanya ada di dalam legenda baru saja terbangun setelah tertidur lama di dalam hutan.
Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa terjadi pertarungan antara dua kultivator yang sangat hebat dan binatang kontrak mereka di dalam hutan.
Berbagai macam pendapat dan berita tersebar diantara para warga, Namun dari semua pendapat itu ada satu hal yang pasti dan masih membuat mereka khawatir saat ini.
Yaitu para sebagian besar kultivator muda sangat ketakutan masuk kedalam hutan untuk mencari sumber daya tanaman herbal atau berburu lagi semenjak kejadian tadi siang.
Hal tersebut membuat para pedagang khawatir karena hal tersebut akan membuat pasokan sumberdaya untuk diekspor ke wilayah lain tidak bisa untuk dilakukan.
Atau bisa dikatakan ekonomi kota Qilin Emas akan melambat, karena tidak adanya lagi barang untuk diekspor keluar wilayah untuk memenuhi kebutuhan warganya sendiri.
Yan Liyan mengetahui hal itu, hanya menggelengkan kepala.
Dia tidak pernah menyangka, jika pada waktu awal dia berada di alam keabadian ini akan menimbulkan masalah besar bagi sebagian orang.
Setelah itu Yan Liyan kemudian memasuki kota tersebut dengan membayar 1 batu kuno tingkat rendah atau setara dengan 1000 Batu roh tingkat tinggi.
Setelah itu Yan Liyan memutuskan untuk pergi makan malam terlebih dahulu disebua kedai untuk mengisi perut sekaligus mencari informasi yang mungkin penting dari para pelanggan yang sedang makan.
"Bawakan aku makanan dan minuman yang terenak ditempat ini." Yan Liyan mengeluarkan 1 batu kuno kepada resepsionisnya lalu duduk dimeja makan yang paling belakang sambil memasang telinga untuk mendengar pembicaraan orang-orang yang makan di tempat itu.
__ADS_1