
Setelah beberapa lama Mei Lin mengawasi dan mengikuti para perajurit itu, akhirnya dia telah sampai di suatu tempat yang berada di ujung ruangan bawah tanah.
Tempat itu terdapat ruangan penjara yang sangat besar, terlihat penjara yang lai terdapat orang-orang yang nampak lesu dan putus asa seperti tidak mempunyai tujuan hidup.
Dua perajurit itu kemudian memasukan gerombolan orang-orang yang dirantai itu kedalam penjara yang satunya.
Semua orang tampak pasrah, mereka masuk kedalam penjara itu tampa melakukan perlawanan karena mereka mengetahui jika melawan atau berteriak meminta tolong merupakan hal yang sia-sia dan juga mereka bisa saja dibunuh karena melakukan hal tersebut.
"Tugas kita telah selesai, jadi Ayo kita minum arak diluar!"
"Ya! Aku akan minum sampai puas!"
Kedua perajurit itu keluar sambil tertawa, sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang barusan mereka lakukan.
Mei Lin keluar dari tempat persembunyiannya setelah tidak merasakan aura keberadaan lagi disekitarnya, namun dia tetap waspada dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi.
Mei Lin meliha-lihat benda yang berada di ruangan itu. Banyak sekali benda-benda unik yang berada di tempat itu sehingga mirip dengan ruang penyimpanan artefak.
Mei Lin melihat sebuah tombak yang dipenuhi ukiran burung gagak di setiap ukirannya.
"I-ini.. kalau aku tidak salah tombak ini berguna untuk membantu tingkat keberhasilan dalam penyerapan aura kehidupan mahkluk hidup. Ya... tidak salah lagi tombak ini adalah tombak ritual kematian.
Nama yang sangat mengerikan untuk diberikan pada suatu senjata, tapi jika mengetahui tombak ini berguna untuk melakukan ritual tabu itu. Aku rasa nama itu tidak terlalu berlebihan untuk diberikan pada senjata ini."
Mei Lin kemudian mengeluarkan selembar kertas dari dalam cincin penyimpananya, kertas tersebut berwarna merah darah dengan hiasan bulu burung phoenix yang sangat indah serta rune-rune kuno yang pada setiap sisi kertas itu.
Mei Lin kemudian menaruh kertas tersebut diatas tombak dan..
Wuss!
Tampak sedikit kabut berwarna putih muncul ditempat itu, tidak lama kemudian kabut tersebut menghilang dan terlihat dua buah tomba ritual kematian berada di tempat itu.
"Hehe.. ternyata buku teknik pemberian dari salah satu leluhur ku sangat berguna dalam kehidupanku yang sekarang ini." Mei Lin dengan senyuman manis terukir diwajahnya tampak sangat kegirangan dengan suara hal.
Dia kemudian memasukkan tombak ritual kematian yang asli ke dalam cincin penyimpananya.
Setelah itu pandanganya tertuju pada orang-orang yang berada di dalam sel.
"Aku ingin sekali menyelamatkan kalian, tapi sekarang ini bukanlah saatnya. Tunggulah beberapa hari lagi. Disaat malam purnama bulan merah aku akan menyelamatkan kalian." Gumam Mei Lin dengan ketidak berdayaan.
Jika Mei Lin menyelamatkan mereka saat ini juga maka rencananya akan sia-sia dan mungkin saja hal tersebut akan membahayakan dirinya sendiri.
Mei Lin menghilangkan aura keberadaanya lagi lalu menghilang dari tempat itu.
__ADS_1
Di suatu restoran yang sangat mewah...
Terlihat sosok gadis yang sangat cantik sedang makan dengan elegan.
Gadis itu tidak lain adalah Mei Lin yang baru saja keluar dari bangunan tempat pemimpin wilayah aray pelindung. Sekarang ini dia sedang makan direstoran sambil mendengar pembicaraan orang lain yang berada disekitarnya.
Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan informasi lain yang dapat diberikan pada Yan Liyan.
"Huh... Tidak ada informasi yang berguna yang aku dapatkan disini. Sebaiknya aku kembali saja untuk memberikan informasi yang aku dapatkan tadi kepada Liyan'gege."
Mei Lin menaru 2 baru Qi tingkat rendah di atas meja makan setelah itu Mei Lin langsung keluar dari restoran mewah itu.
Mei Lin melesat menuju rumah tempat tinggal mereka. Tanpa membutuhkan waktu yang lama dia langsung tiba tepat berada diatap rumah tempat tinggal mereka.
Mei Lin lalu menyelinap masuk ke jendela lantai dua. Terlihat seorang pemuda tampan yang tertidur dibawah cahaya bulan yang bersinar menembua kaca jendela, pemuda itu tidak lain adalah Yan Liyan yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.
Mei Lin Menatap pemuda yang merupakan kekasihnya itu dengan senyuman manis. Mei Lin membatalkan niatnya untuk menyampaikan informasi yang dia dapatkan kepada Yan Liyan untuk saat ini, karena dia tidak ingin menganggu tidur kekasihnya itu.
Mei Lin segera ingin pergi dari tempat itu dan memilih untuk menyampaikan informasi yang dia dapat besok saja.
Tapi, ketika Mei Lin ingin keluar dari jendela, tiba-tiba Yan Liyan membuka matanya. Tangannya memegang tangan Mei Lin sehingga membuat Mei Lin berhenti.
"Kau mau kemana?" Yan Liyan menarik Mei Lin Dan kemudian memeluknya dengan sangat erat.
"Temani aku tidur untuk malam ini." Yan Liyan berbisik kepada Mei Lin.
Mei Lin yang mendengar itu menjadi sangat gugup.. Terlihat rona merah pada wajahnya karena merasa sangat malu.
"A-aku belum sipa Liyan'gege...
"Aku hanya memintamu untuk menemaniku tidak lebih dari itu, jadi sebaiknya jauhkan pikiranmu yang aneh-aneh itu. Aku tidak akan melakukanya sebelum kita resmi menjadi pasangan." Yan Liyan sangat mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Mei Lin saat ini, jadi dia mengatakan hal itu untuk menenangkanya dan tidak membuatnya salah paham.
Mei Lin yang mendengar perkataan dari Yan Liyan hanya terdiam. Mei Lin kini lebih tenang dari sebelumnya.
Secara perlahan Mei Lin membiasakan diri lalu dia kemudian tertidur dipelukan Yan Liyan. Mei Lin sangat mempercayai kekasihnya itu.
Sedangkan Yan Liyan hanya tersenyum lalu secara perlahan matanya terpejam dan kemudian tertidur dengan Mei Lin berada di pelukanya.
"............. "
Keesokan harinya.....
Mei Lin terbangun dari tidurnya. Dia tersenyum ketika melihat Yan Liyan masih tertidur.
__ADS_1
Mei Lin melepaskan diri dari pelukan Yan Liyan lalu pergi menuju pintu kamar untuk pergi ke kamarnya untuk segera mandi.
Tapi ketika Mei Lin akan membuka pintu tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan terlihat Bing Hua dan Mei Lin berdiri di depan pintu memandang dirinya dengan ekspresi terkejut.
Bing Hua menutup mulut ketika melihat Mei Lin berada di kamar Yan Liyan.
"Ups.. Apa kami berdua datang diwaktu yang kurang tepat?" Bing Hua berkata dengan nada yang menggoda sehingga membuat Mei Lin sangat terkejut.
Tentu saja Bing Hua akan salah paham dengan keberadaannya di kamar Yan Liyan.
"Ti-tidak.. Kalian berdua salah paham. Kami berdua tidak melakukanya! sungguh!"
"Eh.. Melakukan apa?" Gumam Jiu Wei keheranan ketika mendengar kata-kata ambigu dari Mei Lin.
"A-apa maksud bukan seperti itu... Tapi..
"Sudahlah.. kami berdua mengerti."
Mei Lin langsung keluar ketika mendengar ucapan Bing Hua karena merasa tidak ada gunanya menjelaskan kepada mereka.
Dia juga mengutuk atas tindakan Yan Liyan tadi malam.
"Huft." mengehelah nafas panjang lalu pergi menuju kamarnya.
".......... "
Di teras rumah..
Terlihat Yan Liyan dan yang lain sedang berbincang-bincang sambil meminum teh hangat. Mereka baru saja sarapan pagi.
Yan Liyan menjelaskan kejadian semalam kepada Bing Hua dan Jiu Wei karena terus ditanyai mengenai keberadaan Mei Lin dikamarnya.
Yan Liyan menjelaskan semuanya sehingga menghilang kesalahan pahaman mereka berdua.
Mei Lin merasa lega ketika kesalah pahaman itu selesai tapi tetap saja mereka berdua sangat iti kepadanya.
Mei Lin kemudian menyampaikan informasi yang dia dapatkan tadi malam kepada Yan Liyan. dia menjelaskan tentang orang-orang yang dibawah keruang bawah tanah bangunan pemimpin aray pelindung lalu tentang ritual penyerapan aura kehidupan serta tombak ritual kematian.
Mei Lin menjelaskan semuanya dengan jelas dan terperinci.
"Begitu Ya.... Jika memang begitu maka Rencana untuk menjatuhkan pemimpin wilayah aray pelindung dan mengembalikan kejayaan kaisar Es dari dimensi utara akan lebih mudah daripada yang aku perkirakan." Gumam Yan Liyan dengan senyuman tipis.
Dia telah menyiapkan rencana yang pas untuk menjatuhkan pemimpin wilayah aray pelindung.
__ADS_1