
"Pertanyaan macam apa itu? tentu saja ibu datang untuk membantumu karena aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Apa salah, jika seorang ibu menghawatirkan anaknya?"
Ibu Yan Liyan berjalan dan menghampiri anaknya dan memeluk Yan Liyan dengan sangat erat.
"Itu tidak salah, hanya saja aku sangat terkejut ketika melihat kedatangan ibu."
Pandangan ibu Yan Liyan tiba-tiba tertuju kearah Bing Hua yang melihatnya dengan ekspresi kebingungan..
"Hee... apa ini adalah calon menantuku?" Ibu Yan Liyan melepaskan pelukanya dan kemudian membelai Kepala Bing Hua.
"Lihatlah dia sangat canti dan penampilan kalian berdua tampak cukup mirip." dengan memegang rambut Bing Hua yang terurai membandingkanya dengan rambut putih Yan Liyan.
Bing Hua hanya terdiam ketika rambutnya dipegang sebenarnya dia ingin menolak karena merasa tidak nyaman diperlakukan seperti itu, tapi ketika menyadari identitas dari orang di depannya membuatnya hanya terdiam.
"Hei... Kau tidak perlu kaku seperti itu. Aku adalah ibu dari kekasihmu jadi kau harus memanggilku...
"I-Ibu." Suara kecil Bing Hua terdengar. Dia berkata terbata-bata dengan rona wajah yang memerah. Tentu saja dia tahu panggilan apa yang harus dia katakan pada ibu Yan Liyan.
Dan untuk memeberikan kesan Baik untuk ibu mertuanya itu, jadi dia mencoba untuk memberanikan diri untuk memanggilnya dengan sebutan ibu.
Ibu Yan Liyan tersenyum ketika melihat hal itu...
"Apa? Aku tidak mendengar suaramu. Apa kau bisa mengulanginya lagi." Dengan mendekat kearah Bing Hua sambil memandang mata biru safirnya.
"Berhenti untuk menggodanya ib..
"Diam." suara dingin serta pandangan tajam tertuju kepada Yan Liyan sehingga membuatnya bergetar ketakutan.
Sejak kecil, dia sering mendapatkan tatapan seperti itu jika dia melakukan kesalahan. Dan ketika mendapatkan tatapan itu lagi setelah sekian lamanya membuatnya bergetar ketakutan.
"Ba-baik." Yan Liyan menatap Bing Hua memberikan isyrat untuk menuruti perkataan dari ibunya.
"Aku adalah kekasih dari Yan Liyan. Kami berdua saling mencintai satu sama lain, jadi sebagai seorang menantu terimalah penghormatan tertinggi dariku ibu."
Bing Hua kemudian menggigit jarinya sehingga mengeluarkan darah segar. lalu dia mengulurkan tangannya kepada Ibu Yan Liyan.
Penghormatan seperti itu merupakan penghormatan tertinggi dari orang-orang yang berasal dari dimensi utara dimana seseorang merasa senang akan kehadiran orang yang dia hormati.
Pada umumnya penghormatan itu hanya dilakukan sekali dan ditunjukan pada saat pernikahan atau pertemuan khusus dengan keluarga dari sang kekasih. Hal itu dilakukan untuk membuat penerima penghormatan merasa tersanjung karena si oemberi penghormatan akan sedikit mengorbankan esensi darahnya.
'Itu terlalu berlebihan.' batin Yan Liyan ketika melihat apa yang dilakukan oleh Bing Hua.
"Kau gadis yang sangat ceriboh ya... Tapi aku menyukai sifatmu." ibu Yan Liyan mengulurkan tanganya juga lalu kemudian mengenggam tangan Bing Hua dengan erat.
__ADS_1
Darah yang menetes pada tangan Bing Hua berhenti mengalir. Darah itu kemudian kembali pada tubuhnya disertai aura berwarna putih yang masuk dalam tubuh Bing Hua.
"Terimalah, di masa depan nanti.. ini akan sangat berguna untuk mu." gumamnya lalu setelah itu dia melepaskan tangannya karena merasa sudah cukup telah memberikan kekuatanya pada Bing Hua.
"Pengendali waktu. Iu merupakan elemen ruang dan waktu yang dikendalikan secara sempurna." gumam Han Guang dengan sangat terkejut.
Dia melihat dengan sangat jelas jika sosok yang merupakan ibu Yan Liyan itu dapat mengendalikan waktu dengan sempurna tidak seperti Yan Liyan yang masih mempunyai kekurangan dan banyak celah dalam pengendalianya.
"Si-siapa sebenarnya...
"Oh, Aku terlalu sibuk dengan menantuku sampai-sampai Aku melupakan keberadaan kalian. Baiklah dengarkan aku baik-baik! Aku adalah Sosok yang dijuluki sebagai Dewi pengendali Ruang dan Waktu. Aku berasal dari Alam keabadian.
Tentu saja kalian tahu apa itu alam keabadian bukan?" Ibu Yan Liyan berjalan menuju 5 sosok dewi kematian. pandangannya tertuju pada sosok Yan Lin yang dari tadi menatapnya.
Setelah Dia berdiri di depan Bing Hua....
"Apa kau masih mengenalku Jiao Lin?"
Yan Lin yang mendengar itu hanya mengangguk dengan kepala yang menunduk.
Ibu Yan Liyan kemudian memegang dagu dari Jiao Lin lalu mengangkatnya keatas sehingga membuat Jio Lin mendongak. Dia menatap Ibu Yan Liyan dengan ekpresi bersalah.
"Apa Kau masih mengingat tugas yang aku berikan padamu setelah kepergianku waktu itu?" dengan aura intimidasi yang kuat membuat Yan Lin merasa tertekan, tapi meskipun begitu dia tetap mengangguk untuk menanggapi perkataan Ibu Yan Liyan.
"Se-selalu melindungi Yan Liyan dan terus berada di sisinya untuk melindunginya dari orang-orang yang akan memanfaatkan dirinya."
"Ternyata kau masih mengingatnya dengan baik, lalu apa yang kau lakukan saat ini?"
Yan Lin yang mendengar itu langsung terdiam... Dia tidak tahu harus berkata apa saat ini.
"Aku....
Wusss!
Cougkh!
Hembusan aura yang sangat kuat keluar dari tubuh ibu Yan Liyan. Aura itu merembes lalu menekan tubuh Yan Lin sehingga membuat dirinya memuntahkan darah segar.
Bruk....
Yan Lin kemudian terjatuh dan tertunduk dengan nafas yang tersengal. Sedangkan 4 dewi lainnya yang ingin membantu Yan Lin tiba-tiba merasakan tubuh mereka tidak bisa digerakkan karena ditekan oleh suatu aura yang sangat kuat.
"Ini adalah hukuman untukmu, tapi ini masih belum selesai...
__ADS_1
Ibu Yan Liyan mengeluarkan sebilah pedang dari dalam cincin penyimpananya lalu kemudian mengarahkan pedang tersebut ke arah Yan Lin.
"Ini adalah hukuman yang pantas untuk penghianat dan tidak tahu Terima kasih sepertimu!"
Wuss!
Trang!
Pedang yang melesat kearah Yan Lin tiba-tiba terhenti ketika Yan Liyan muncul dan menahan serangan pedang tersebut.
"Sudah Cukup! Ibu tidak perlu membunuhnya." Ucap Yan Liyan dengan tatapan memohon kepada ibunya.
"Kenapa kau mengasihani penghianat ini Liyan'er? Apa kau masih senaif itu."
"Tidak, tidak seperti yang ibu pikirkan. Dia memang telah menghianatiku, tapi tetap saja dia telah melindungiku sejak kecil, jadi ibu tidak perlu sampai membunuhnya."
Ibu Yan Liyan yang mengerti dengan kedekatan mereka berdua sejak mereka kecil dulu hanya menghela nafas panjang. Selain itu dia merasa jika Yan Liyan terlalu Lembut.
'Ya, mungkin sifat itu adalah sifat turunan dari ayahnya.'
"Huh... Baiklah terserah dirimu saja Liyan'er." Ibu Yan Liyan kemudian menurunkan pedangnya lalu memasukannya kembali ke dalam cincin penyimpananya dan Setelah itu dia pergi menuju Kearah Bing Hua.
"Yan Liyan..." terdengar suara parau sambil menahan rasa sakit dari Yan Lin yang berusaha untuk memanggil Yan Liyan.
Dia merasa senang ketika Yan Liyan melindunginya, tapi perasaan senang itu hilang seketika disaat dia melihat Yan Liyan menatap tajam dirinya.
"Anggap saja selama ini kita tidak pernah bertemu Yan Lin. Dan ya... mungkin ini merupakan terkahir kalianya aku berbicara padamu. Oleh karena itu, aku mengucapkan terimakasih karena telah menjagaku disaat waktu kecil dulu, Aku tidak akan. pernah melupakan hal itu, tapi bukan berarti kita dapat bersama." ucap Yan Liyan lalu berjalan menuju kearah Bing Hua.
"Tunggu aku Yan Li...
Argk!
Uhukk!
Cougkh!
Yan Lin kembali memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya, Dia merasa sangat menyesal karena meninggalkan Yan Liyan dulu, tapi penyesalan itu kini sudah tidak ada gunanya lagi ketika mendengar Yan Liyan tadi.
Yan Liyan yang melihat itu hanya mengabaikanya karena Dia yakin jika Yan Lin tidak akan mati dengan mudah karena dia memiliki api hijau yang dapat menyembuhkanya.
"Seandainya saja dulu kau tidak menghianatiku, mungkin saat ini kita dapat bersama dalam sebuah ikatan khusus." gumamnya dengan perasaan sedih.
Yan Liyan kemudian memandang kearah Xiao Yi dan yang lainnya dengan acuh.
__ADS_1
"Hiduplah sesuka kalian dan jangan pernah muncul di hadapanku, karena aku sudah tidak peduli lagi."