SISTEM PENGUASA

SISTEM PENGUASA
Liontin Jiwa


__ADS_3

"Amarah sang naga Es.." teriak Bing Hua.


groaaarrr...


naga Es itu mengaum lalu terbang menukik kearah Yan Liyan.


"Teknik teratai es, tehknik pertama! kelopak teratai es."


wusss......


Boomm.....


Siluet kelopak teratai dan naga Es saling berbenturan menyebabkan ledakan yang besar.


Wusss....


Bing Hua keluar dari kabut tipis hasil benturan serangan tadi.


"Teknik Es abadi! tombak Es!"


Bing Hua mengeluarkan aura yang sangat dingin di tanganya lalu ditanganya muncul serpihan Es yang membentuk Es panjang dan runcing.


Tombak Es itu melesat dengan cepat kearah Yan Liyan.


Yan Liyan yang melihat itu, langsung menangkis tombak Es itu menggunakan pedangnya.


Disaat Yan Liyan sedang menangkis tombak Es, tiba-tiba muncul Bing Hua di belakangnya sambil mengarahkan belatinya kearah jantung Yan Liyan.


"Mati kau sialan!" teriak Bing Hua.


"Langkah cahaya."


Bing Hua yang mengarahkan belatinya hanya mengenai udara kosong.


Bing Hua memandang kesegala arah untuk melihat Yan Liyan.


Tiba-tiba muncul Yan Liyan di depanya dengan cepat sehingga Bing Hua tidak menyadarinya.


Yan Liyan mencekik leher Bing Hua lagi dan melemparkanya.


Boomm....


Coukgh...


Bing Hua memuntahkan darah lagi, tapi kali ini dia langsung bangun dan menatap Yan Liyan dengan penuh amarah.


"Teknik belati taring naga! tehknik gabungan, serangan seribu naga!!"


Bing Hua melemparkan belatinya keatas dan belati itu kemudian berpecah menjadi 100 belati dan 100 belati itu menjadi naga Es kecil yang mengarah kearah Yan Liyan.


Yan Liyan yang melihat itu hanya tersenyum senang.


"Teknik cahaya abadi! tehknik kedua. Pelindung cahaya!"


Wusss!


Boomm..


Boom....

__ADS_1


Boomm....


Ledakan terjadi karena benturan antara dua teknik.. kini di halaman mansion itu dipenuhi kawah kecil dan debu tebal beterbangan.


Bing Hua yang melihat itu tersenyum.


"Akhirnya kau mat..


sebelum ucapannya selesai terdengar suara dari depan Bing Hua.


"Siapa yang mati?" Yan Liyan mencekik leher Bing Hua lagi sehingga membuatnya tidak bisa bergerak dan melemparkanya dengan keras.


Boomm....


Ugkhh...


coukgh...


Suara ledakan dan rintihan kesakitan serta muntahan darah dari Bing Hua.


Wusss....


Yan Liyan muncul lagi di depan Bing Hua dan mencekik nya lalu melemparkanya sehingga terdengar suara ledakan lagi.


"Kau sangat lemah! apa kau beranggapan dengan kekuatan seperti ini, kau bisa membalaskan dendamu, jika kau beranggapan seperti itu, maka kau hanya mencari kematian."


ucap Yan Liyan melepaskan teknik ilusinya pada Bing Hua. karena melihat keadaanya yang memprihatinkan.


"Teknik cahaya abadi, penyembuhan cahaya." Yan Liyan mengeluarkan bolah cahaya kehijauan dan cahaya itu membungkus tubuh Bing Hua.


Tidak lama kemudian. Cahaya itu mulai meredup dan terlihat keadaan Bing Hua telah kembali pulih dan kesadaranya mulai kembali.


"Bisa bertahan dari setengah kekuatan seranganku, kau sangat lumayan dan juga bisa menggabungkan dua teknik, itu merupakan pencapaian yang bagus."


ucap Yan Liyan sambil menghilangkan pelindung yang dibuatnya.


"Tapi, kenapa tuan tadi mengatakan bahwa aku sangat lemah." Bing Hua memandang Yan Liyan.


"Aku mengatakanya untuk memprovokasimu agar kau memberikan perlawanan lagi, tapi keadaanmu sangat memprihatinkan, jadi aku menghentikanya." jelas Yan Liyan panjang lebar agar Bing Hua tidak salah paham padanya.


"Sudahlah... Sebaiknya kau beristirahat untuk memulihkan keadaanmu."


"Baik, aku mengerti." ucap Bing Hua lalu berjalan menuju kearah mansion.


Yan Liyan yang melihat itu hanya tersenyum kecut


'Terkadang rasa kekalahan akan membuat orang lebih kuat dari sebelumnya.' batin Yan Liyan lalu berdiri sambil memandang langit.


"Latihan tadi memang sangat kejam, tapi itu adalah cara yang terbaik."


"Bukankah begitu Jiu Wei?" Yan Liyan melihat kearah pohon tinggi yang berada disebelah mansion. diatas pohon itu terdapat seekor rubah yang duduk memperhatikan pertarungan mereka dari tadi.


Jiu Wei hanya mengangguk lalu melompat kebahu Yan Liyan.


"..................."


Malam hari di dalam sebuah mansion.


Xiao Yi dengan ekspresi senangnya memandang Yan Liyan dari tadi sambil membicarakan sesuatu.

__ADS_1


"Apa kakak Liyan tahu, tadi aku bersama Kakak Yin membeli pakaian mewah di tokoh dan...


Xiao Yi terus menceritakan tentang suasana jalan-jalan yang dialaminya pada Yan Liyan.


Sedangkan Yan Liyan hanya mengangguk sebagai tanggapan dengan ekspresi bosan.


Yan Liyan kemudian pergi kearah dapur dan terlihat Bing Hua sedang memotong bahan-bahan masakan yang berupa rempah-rempah.


Yan Liyan yang melihat itu langsung membantu Bing Hua memotong daging menjadi bentuk kotak.


Bing Hua yang melihat tuanya membantunya dalam memasak hanya diam, sehingga suasana diantara mereka berdua menjadi sedikit canggung.


hanya terdengar suara pisau yang memotong daging dalam ruangan itu.


"Hei Bing Hua. Apa kau membenci tuanmu ini?" tanya Yan Liyan yang masi memotong daging tanpa menoleh kearah Bing Hua.


"Aku tidak membenci anda tuan, tapi aku hanya kecewa pada diriku sendiri. Kenapa aku masih tetap lemah setelah aku berlatih dengan keras." Bing Hua dengan ekspresi sedih.


"Kau terlihat lemah, karena kau tidak bisa mengalahkan rasa amarah dan kebencian yang ada dalam dirimu, sehingga kau dikendalikan oleh perasaan itu."


"Ini ambilah, anggap itu sebagai hadiah bonus dari kontribusimu." Yan Liyan memberikan sebuah liontin berwarna merah dengan bulu phoeniks yang menggantung.


"Itu adalah artefak yang akan melindungimu dari tehknik ilusi atau serangan apapun pada jiwamu, aku menyebut Liontin itu sebagai Liontin jiwa." ucap Yan Liyan.


Bing Hua memandang liontin pemberian tuanya dan pandanganya tertuju kepada bulu berwarna merah terang yang menggantung di liontin itu.


"Bulu itu sama dengan gantungan seruling milik Xiao Yi." ucap Yan Liyan melihat pandangan dari Bing Hua.


"Terimakasih tuan." Bing Hua kemudian memakai liontin jiwa itu.


Yan Liyan yang melihat itu tersenyum.


"Kau terlihat sangat cant..


Ah.. maksudku, ayo kita selesaikan masakan ini sebelum Xiao Yi marah karena menunggu lama." ucap Yan Liyan memfokuskan dirinya kepotongan daging.


"Terima kasih tuan." gumam


Bing Hua yang mengerti dengan apa yang akan diucapkan tuanya tadi.


Yan Liyan hanya mengangguk sebagai tanggapan.


Setelah mereka memasak, Bing Hua langsung menyajikan semua makanan yang mereka buat diatas meja makan.


"Nukankah ini terlihat sangat enak?"


"karena besok kita mengikuti turnamen maka aku dan Bing Hua membuat masakan yang banyak untuk kita berempat." ucap Yan Liyan.


Xiao Yi yang mendengar itu hanya tersenyum....


"Terimakasih telah memasakan makanan yang banyak hari ini, Aku akan serius dalam turnamen besok." ucap Xiao Yi dengan semangat.


"Tidak perlu adik Yi."


'Aku berharap tidak ada orang bodoh yang memancing amarahnya dipertandingan nanti.' batin Yan Liyan.


Mereka berempat kemudian makan dengan lahap. Setelah makan, mereka langsung pergi menuju kamar masing-masing untuk tidur, karena perintah dari Yan Liyan dengan alasan agar mereka memiliki kondisi Yang baik saat tampil turnamen besok.


Xiao Yi , Bing Hua, dan Yin Zu hanya mengangguk mengikuti perintah dari Yan Liyan.

__ADS_1


__ADS_2