
Setelah Naga Es itu kembali kedalam tubuh Bing Hua.
Yan Liyan memandang kearah sisik naga es dan. mengangguk dengan senyum terukir diwajahnya.
"Bing Hua.. Ayo kita...
Ucapan Yan Liyan terhenti ketika dia melihat Bing Hua tertunduk dengan ekspresi sedih.
Yan Liyan lalu mendekat laku..
"Bangunlah!
Berkorban demi anaknya merupakan hal yang wajar yang dilakukan oleh seorang ibu bukan? tidak seharusnya kau berlarut dalam kesedihan. Lagi pula ibumu akan merasa sangat sedih jika sampai dia melihatmu sedih seperti itu."
Yan Liyan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Bing Hua tidak merasa sedih lagi.
Yan Liyan sadar jika saat ini cara terbaik untuk menenangkan Bing Hua adalah dengan kata-kata yang akan membuatnya lebih tenang.
Jika Yan Liyan memeluk Bing Hua seperti biasanya mungkin hal tersebut tidak akan membuat Bing Hua merasa tenang kembali.
Walaupun itu hanya pendapat pribadi Yan Liyan, tapi Yan Liyan merasa sangat yakin pada dirinya sendiri, jika dia bisa melihat keadaan hati seseorang untuk melakukan tindakan yang tepat.
"Liyan'gege bukankah sama saja aku yang telah membuat ibuku meninggal dalam artian aku telah membunuh...
Sebelum perkataan Bing Hua selesai, Yan Liyan langsung menutup mulut Bing Hua menggunakan tanganya.
"Ibumu berkorban karena hal itu merupakan pilihannya. Aku sangat yakin jika ibumu berkorban agar kau dapat hidup dengan bahagia, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri atas meninggalnya ibumu." Yan Liyan seperti biasa mengelus pucuk kepala Bing Hua.
Bing Hua mendongak keatas dan melihat Yan Liyan yang tersenyum kearahnya. Dalam hatinya Bing Hua merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Yan Liyan.
Orang yang selalu bisa diandalkan dan selalu menenangkanya disaat dia merasakan kesedihan seperti saat ini.
Bing Hua langsung memeluk Yan Liyan sehingga membuat Yan Liyan agak terkejut. Tidak biasanya gadis dingin dan pemalu seperti Bing Hua memeluknya seperti itu, kecuali jika Yan Liyan yang memulainya duluan.
"Terimakasih."
"............. "
Tidak lama kemudian...
Bing Hua melepaskan pelukanya. Bing Hua tidak berani memandang wajah Yan Liyan setelah melepaskan pelukanya, karena saat ini dia benar-benar merasa sangat malu atas tindakanya tadi.
Yan Liyan yang mengerti dengan hal itu hanya tersenyum. Dia sangat menyukai ekspresi Bing Hua saat ini.
"Ayo ikuti aku! kita akan pergi menuju ruang rahasia yang aku maksud tadi." Yan Liyan memegang tangan Bing Hua lalu mengiringnya menuju ujung dinding ruangan harta itu.
Yan Liyan melihat sisik naga es itu bersinar dengan sangat terang lalu muncul sebuah anak panah yang menunjukkan arah layaknya sebuah kompas.
Anak panah itu menujuk kearah ujung ruang penyimpanan harta dan tanpa menunggu waktu lagi Yan Liyan langsung mengikuti arah anak panah tersebut.
__ADS_1
Sesampainya mereka berdua di ujung ruangan penyimpanan harta Kekaisaran.
Yan Liyan kemudian menempelkan sisik naga
es itu pada dinding tersebut.
'Aku tahu jika cara ini sangat konyol, tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya, 'kan?'
Setelah Yan Liyan menempelkan sisik naga es pada dinding ruangan, alih-alih naga es itu terjatuh seperti yang dia pikirkan tadi. Sisik naga es itu malah menempel pada dinding dan kemudian sisik naga Es tersebut tiba-tiba saja mengeluarkan kristal es.
Kristal es tersebut berputar secara sentrifugal hingga tidak lama kemudian terdengar suara retakan pada dinding itu.
Muncul cahaya berwarna biru yang bersinar terang, yang membuat retakan itu semakin terdengar jelas.
Hingga tidak lama kemudian.. Dinding pada ruangan itu hancur dan memperlihatkan sebuah pintu yang terbuka dengan lebar. Dan dibalik pintu itu terdapat tangga yang menuju kebawah tanah.
"Menarik."
Lagi-lagi Bing Hua sangat terkejut dengan mekanisme keamanan seperti yang dilihatnya saat ini. Orang seperti apa ibu Bing Hua ini sehingga dapat memikirkan hal seperti itu.
Apa dia merupakan orang yang berasal dari peradaban yang lebih maju atau mungkin dia benar-benar sangat sangat jenius dalam segi intelektual dan pemahaman mekanik.
Yan Liyan kemudian berjalan menuruni tangga masih dengan mengiring Bing Hua.
"Sebaiknya Liyan'gege harus waspada, karena mungkin saja ada banyak jebakan yang telah dipasang di tempat ini."
Ketika Yan Liyan memunculkan bola cahaya, Yan Liyan dan Bing Hua dapat melihat Disisi dinding ruangan itu terdapat obor yang berjejer di dinding ruangan. Yan Liyan langsung saja mengeluarkan elemen apinya untuk menyalahkan obor tersebut.
Setelah itu mereka menyusuri ruangan tersebut dengan penuh kehati-hatian jika saja ada sebuah perangakap yang tiba-tiba saja aktif Akibat langkah mereka yang salah atau sejenisnya.
Tidak lama kemudian.....
Yan Liyan dan Bing Hua telah sampai diujung ruangan. ujung dari ruangan itu hanya dinding penahan lagi atau bisa disebut itu merupakan jalan buntu.
Mereka berdua berjalan dengan santainya tanpa ada yang mengganggu, yang awalnya mereka mengira ada banyak jebakan ternyata sama sekali tidak ada jebakan di tempat itu.
Yan Liyan kemudian mengeluarkan mengeluarkan sisik naga es dan melakukan hal yang sama seperti tadi.
Wusss!
Dinding penahan itu terangakat keatas dan memperlihatkan sebuah altar besar yang berada dibalik dinding yang baru saja terbuka tadi.
Ruangan kali ini benar-benar merupakan ujung dari ruangan rahasia. hal itu ditandai dengan tidak bergeraknya lagi anak panah pada sisik naga es.
Yan Liyan memandang altar yang mempunyai simbol Yin dan Yang yaitu biru dan merah yang saling terpisah.
"Apa yang akan kita lakukan Liyan'gege?"
"Entahlah, tadi naga es itu berkata jika sisiknya merupakan sebuah kunci yang berarti..
__ADS_1
"Bing Hua ambil sisik naga ini dan letakan diatas altar itu!"
"Aku?
"Ya, menurutku sisik naga es ini merupakan kunci untuk mendapatkan barang-barang yang ada ditempat ini seperti yang dikatakan oleh naga es tadi,
dan juga kau merupakan keturunan langsung dari orang yang telah membuat ruang rahasia ini. Mungkin dia telah mengatur mekanisme tertentu agar suatu hari nanti anaknya dapat membuka ruang rahasia ini."
Walaupun ini hanya sekedar asumsinya saja, tapi Yan Liyan benar-benar merasa sangat yakin dengan hal itu.
"Mm.. Baiklah, tapi..
"Tenang saja.. Aku akan selalu menjagamu." Yan Liyan kemudian menempelkan benang Qi pada seluruh tubuh Bing Hua agar dia dapat langsung menyelamatkan Bing Hua jika saja keberadaan dari altar tersebut hanyalah sebuah jebakan.
'Sistem apa kau bisa membantuku?'
[Tuan tenaga saja.. jika Altar tersebut memang merupakan sebuah jebakan, maka sistem akan langsung memasukkan Bing Hua kedalam ruang inventory sebelum jebakan itu mengenai dirinya.]
Yan Liyan mengehseah nafas lega ketika mendengar jawaban sistemnya, setidaknya dia telah mengatur kemanan ganda untuk menyelamatkan Bing Hua dari bahaya. Bagaimana pun Yan Liyan tidak ingin jika kekasihnya itu berada dalam bahaya.
Kembali pada Bing Hua...
Bing Hua merasa tidak khawatir lag ketika mendengar perkataan Yan Liyan. Bing Hua merasa sangat yakin jiha percaya dengan kekasihya itu.
Bing Hua kemudian berjalan menuju altar dengan sisik naga es ditangannya.
Sesampainya Mei Lin ditengah altar.
Bing Hua duduk dan mencoba untuk berkonsentrasi.
Setelah belasan menit berlalu..
Tidak ada pertanda apa pun mengenai adanya bahaya yang akan menimpa Bing Hua.
Malahan sekarang ini tubuh Bing Hua mengeluarkan cahaya berwarna biru serta simbol di dahinya juga muncul kembali.. Sisik naga es itu menempel pada bagian altar berwarna biru dan setelah itu muncul huruf-huruf kuno pada lambang warna biru tersebut.
Yan Liyan yang melihat itu ingin segera menarik Bing Hua namun..
[Tuan tenang saja, tidak ada tanda bahaya yang akan menimpa Bing Hua.]
Wusss!
Dari dalam segel itu tiba-tiba saja muncul siluet seorang wanita yang sangat cantik yang memiliki wajah yang hampir mirip dengan Bing Hua.
Sosok siluet itu membuka matanya secara perlahan. Sosok tersebut kemudian tersenyum ketika melihat keberadaan Bing Hua.
Sosok itu kemudian duduk di depan Bing Hua lalu setelah itu sosok tersebut memegang pipi Bing Hua.
"Putriku." ucap sosok itu dengan nada suara yang sedikit parau.
__ADS_1