
Beberapa jam berlalu..
Kini malam sudah semakin larut Namun terlihat di suatu tempat wilayah dimensi utara terdapat 4 orang yang sedang duduk di tepi api unggun.
4 orang itu tidak lain adalah Yan Liyan, Bing Hua, Mei Lin, dan Jiu Wei. Mereka berempat tampak membicarakan hal yang sangat penting hal itu bisa dilihat dari ekspresi wajah mereka yang sangat serius.
"Apa sebelumnya di dimensi ini mempunyai seorang kultivator yang berada di tingkat stengah dewa dan juga seorang ahli formasi tingkat Surgawi?" tanya Mei Lin pada Bing Hua.
Dia bertanya seperti itu dikarenakan orang yang dapat menciptakan aray formasi pelindung yang keberadaanya tidak disadari oleh gagak darah iblis merupakan orang yang tingkat kultivasinya sangat tinggi dan minimal dia merupakan seorang ahli formasi tingkat surgawi.
"Menurut pengetahuanku Sebelum aku mati di medan perperangan dulu. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kekuatan seperti itu, Bahkan dulu keberadaan ahli formasi tingkat surgawi hanya dua orang namun mereka mempunyai tingkat kultivasi yang rendah."
Bing Hua berkata sambil mengelus kepala Qiao Mi yang tertidur dipangkuanya.
Dia kekenyangan sehingga membuatnya tertidur dengan nyenyak dan tenang dipangkuan Bing Hua.
"Jika seperti itu maka tidak salah lagi, jika orang yang membuat aray itu adalah dua sosok yang kau sebutkan tadi. Ini hanya dugaanku, tapi ada kemungkinan mereka berdua meningkatkan kultivasi secara pesat lalu kemudian membuat aray pelindung yang cukup besar untuk melindungi ras manusia yang tersisa di dalam dimensi ini."
Meskipun itu hanya asumsinya tapi Mei Lin sangat yakin jika dugaan yang kali ini benar karena tidak ada petunjuk lagi selain itu.
"Itu terdengar sangat masuk akal. Lalu apa yang harus kita lakukan Mei Lin?"
"Yang harus kita lakukan adalah membuat mereka mengakui jika kau adalah putri dari Kekaisaran Dimensi utara yang dulu. Setelah itu mereka akan menunduk kepadamu dan mereka akan bersedia untuk menjadi warga dari Kekaisaran yang akan kau pimpin." ucap Mei Lin yang membuat Bing Hua mengernyitkan dahi.
"Itu tidak akan mudah, karena mungkin saja kisah akan Kekaisaran dimensi utara telah mereka lupakan lagipula aku ragu jika masih ada sosok yang hidup pada zaman itu yang mengetahui pemimpin yang sebenarnya dari dimensi ini."
"He... Aku tidak pernah berkata jika hal ini akan mudah, tapi jika cara itu tidak berhasil maka kita masih mempunyai cara yang kedua.
"Cara yang kedua?
"Ya.. Kita akan memanfaatkan prang yang terjadi dua hari yang lalu. Walaupun mereka tertutup tapi mereka pasti tahu jika telah terjadi perang besar di dimensi utara ini, jadi kita akan memanfaatkan itu untuk berkata jika kitalah yang telah mengalahkan dewa kegelapan dan seluruh bawahanya
Tentu saja cara itu harus diikut sertakan rencana yang baik serta bukti yang kuat agar mereka percaya." Mei Lin kemudian mengeluarkan bola api berwarna merah darah lalu mengarahkanya pada api unggun yang mulai padam sehingga menyebabkan api itu menyalah kembali.
"Kau mengerti maksudku bukan?"
"Ya, aku sangat mengerti, Aku juga baru menyadari ternyata kau itu cukup licik. " dengan penjelasan rinci dari Mei Lin tentu saja itu membuat Bing Hua mengerti.
__ADS_1
"Aku memang licik dan hal itulah yang dulunya membuatku menjadi sangat kuat sehingga dijuluki sebagai dewi Phoenix api."
Bing Hua yang mendengar itu hanya mengangguk, lagipula dia tidak terlalu mempermasalahkan sikap Mei Lin karena dia tahu temperamen dari ras Phoenix.
"Bagaimana menurutmu Liyan'gegge?" Bing Hua menoleh kearah Yan Liyan yang merasa terganggu dengan keberadaan Jiu Wei yang selalu menempel pada dirinya.
Ya.. Sejak Jiu Wei mengetahui jika Yan Liyan menyukai telinganya dia mulai bersikap manjah pada tuanya sehingga membuat Yan Liyan merasa risih karena dia tidak terbiasa dengan sikap Jiu Wei yang seperti itu.
"Ah, Menurutku kita tidak bisa terlalu cepat mengambil keputusan meskipun rencana itu sangat masuk akal tapi tetap saja kita tidak seharusnya bertindak gegabah." ucap Yan Liyan lalu beranjak dari tempat duduknya menuju ke samping Bing Hua.
Jujur saja dia tidak tahan dengan sikap Jiu Wei yang terlihat sangat aneh.
"Tuan benar, tapi hanya itu saja rencana yang dapat aku pikiran dan kemungkinan keberhasilannya dari rencana itu cukup besar. Lalu Bagaimana denganmu Tuan? apa kau juga mempunyai suatu rencana?" tanya Mei Lin dengan sangat penasaran.
"Entahlah.. aku harus melihat keadaan secara langsung terlebih dahulu sebelum aku menyusun sebuah rencana."
"Kau memang seperti itu."
"Tentu saja." Yan Liyan mengelus pucuk kepala Bing Hua dan kemudian tertidur dan bersandar di bahu Bing Hua.
"Hei... hentikan adegan romantis ini dan segeralah tidur, karena besok kita akan melakukan perjalanan menuju wilayah pelindung." ucap Mei Lin lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Bagaimana denganmu? Bukanlah kau juga harus beristirahat."
"Aku akan tetap terjaga, Aku bahkan tidak perlu tidur untuk seumur hidupku jadi jangan menghawatirkanku." Mei Lin melompat keatas pohon yang berada tidak jauh dari tempat itu.
Dia duduk di sana sambil memperhatikan indahnya malam yang mana hal tersebut merupakan kebiasaan Yan Liyan dulu.
"............ "
Pagi harinya....
Terlihat Qiao Mi sedang memberikan sebuah pil kepada sosok anak laki-laki yang mencoba menyelamatkanya waktu itu.
Dia juga telah menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi untuk membujuk anak itu untuk meminum pil penyembuh.
Sosok anak laki-laki itu kemudian meminumnya dengan sedikit paksaan dari Qiao Mi.
__ADS_1
Setelah anak laki-laki itu meminumnya, tubuhnya yang tadinya penuh dengan luka kini telah sembuh dan dia juga bisa bergerak normal.
"Aku benar-benar sembuh." gumamnya dengan tidak percaya.
"Kau benar-benar keras kepala ya? padahal tadi malam aku sudah menyuruhmu untuk lari."
"Aku tidak akan mungkin lari begitu saja dan membiarkanmu disaat seperti itu, Qiao Mi." ucapnya dengan penuh kesungguhan. Terlihat jelas jika anak laki-laki itu mempunyai perasaan terhadap Qiao Mi.
"Terima kasih, tapi lain kali kau juga harus menghawatirkan dirimu sendiri Su Fengli." Qiao Mi berkata dengan senyuman tulus sehingga membuat wajah Su Fengli memerah.
"Ba-baik, Lain kali aku akan mempertimbangkanya." ucapnya dengan gugup.
"Sepertinya anak laki-laki itu menyukai Qiao Mi." Jiu Wei berkata kepada Yan Liyan yang berada di sampingnya. Kini mereka berdua berada di balik pohon sambil mendengarkan percakapan antara Qiao Mi dan Su Fengli.
"Kau benar dari ekspresi wajahnya saja aku sudah tahu." ucap Yan Liyan lalu berjalan menuju kearah mereka berdua.
"Maaf menganggu kalian berdua, tapi kita harus melanjutkan perjalanan. Aku sudah membicarakan hal ini denganmu Qiao Mi.
Sedangkan kau makanlah terlebih dahulu setelah itu kita akan pergi." Yan Liyan mengeluarkan daging bakar dari dalam cincin penyimpananya lalu memberikannya pada Su Fengli.
Su Fengli yang telah mengetahui jika Yan Liyan merupakan orang baik dengan senang hati menerima daging itu dan kemudian memakannya dengan lahap.
"Kau juga Qiao Mi." Yan Liyan meberikan daging bakar juga kepada Qiao Mi.
"Ummm.. Terimakasih."
"............... "
Setelah mereka berdua makan....
Yan Liyan dan yang lainnya telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Yan Liyan kemudian mengeluarkan pedang besar dari dalam. cincin penyimpananya lalu meletakanya di depan Qiao Mi dan Su Fengli.
"Naiklah Di atas pedang itu! pedang itu merupakan sebuah artefak yang dapat membawa kalian berdua terbang dengan cara menyesuaikan pikiran kalian dengan pedang untuk menentukan arah kemana pedang itu terbang."
Qiao Mi dan Su Fengli hanya mengangguk tanpa banyak bertanya. Pedang itu kemudian terbang menuju kearah selatan dengan kendali pikiran Qiao Mi.
Sedangkan Yan Liyan dan yang lain mengikuti mereka berdua dari belakang.
__ADS_1