SISTEM PENGUASA

SISTEM PENGUASA
Perasaan Jiu Wei


__ADS_3

Di depan rumah...


Jiu Wei sedang duduk temenung diatas tangga sambil memikirkan perkataan Yan Liyan tadi. Terlihat dia menggertakan giginya pertanda dia sedang merasa sangat kesal terhadap sesuatu.


"Cih...


Jiu Wei Berdecak kesal, tapi terlihat jelas jika dia merasa sangat sedih.


Lalu tanpa dia sadari tiba-tiba saja air mata mengalir di pelupuk matanya. Jiu Wei sangat terkejut ketika melihat air matanya mengaliri.


"Ini... Apa aku sedang menangis?" rumit Pikiran Jiu Wei ketika melihat itu. Dia yang biasanya ceria kini sudah tidak terlihat lagi kecerian di ekspresi wajahnya.


"Sangat sakit." gumam Jiu Wei sambil memegang dadanya sendiri.


Dia tidak mengerti dengan apa yang sekarang dia rasakan saat ini. Sangat sulit untuk di jelaskan hanya dengan kata-kata.


Bing Hua kemudian menyandarkan wajahnya pada kedua lututnya lalu menangis tanpa suara sedikitpun.


"Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini, Jiu Wei." Tiba-tiba suara dari sosok anggun yang sangat dia kenali muncul dibelakangnya. Sosok itu memegang kedua bahu Jiu Wei lalu memeluknya dengan lembut untuk memberikannya perasaan tenang.


Jiu Wei hanya terdiam, sama sekali tidak memberikan respon atas perlakuan Mei Lin kepadanya. Ya... walaupun mereka berdua sangat sering bersitegang dan saling membalas ejekan, tapi hal tersebut tidak membuat mereka berdua saling membenci dan bermusuhan.


Daripada musuh, kata untuk mendefinisikan hubungan mereka berdua adalah rival.


Disaat Mei Lin sedang memeluk Jiu Wei, secara tiba-tiba Bing Hua muncul lalu duduk di samping mereka.


"Apa kau menyukai Yan Liyan?" tanya Bing Hua langsung pada intinya sekaligus untuk memastikan dugaanya.


"Aku sangat mencintainya, Dari awal aku sangat mencintai Yang Liyan. Aku selalu berusaha keras untuk membuktikan diriku lebih kuat daripada Mei Lin untuk membuktikan kekuatanku pada Yang Liyan agar dia lebih memperhatikanku, tapi aku sadar jika aku ini lebih lemah dari Mei Lin..


Sehingga aku mencari cara lain yaitu dengan selalu mengganggu dan menghina tuan untuk mendapatkan perhatianya.


Tapi.. tapi... Semua usahaku sama sekali tidak berguna. Dia sama sekali tidak mengerti dengan perasaanku selama ini!"


Hiks.. Hiks... Hiks...


Bing Hua mengungkapkan perasaan yang dia rasakan terhadap Yan Liyan kepada mereka berdua dengan isak tangis untuk menumpahkan semua emosinya yang selalu dia tahan selama ini.


Sedangkan Bing Hua dan Mei Lin hanya terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Jiu Wei. Mereka juga akhirnya tahu alasan kenapa selama ini Jiu Wei selalu menghina dan menganggu Yan Liyan padahal sebenarnya hal tersebut sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang bawahan sepertinya.

__ADS_1


Mei Lin juga akhirnya mengerti kenapa Jiu Wei selalu saja menantang dirinya padahal di pertarungan mereka sebelumnya Jiu Wei selalu kalah telak tapi tetap saja Jiu Wei sangat keras kepala untuk tidak mau kalah denganya.


Mereka berdua juga tidak menduga jika sosok yang mereka kenal sebagai sosok riang seperti Jiu Wei dapat menahan perasaan seperti itu, serta berpura-pura bahagia padahal dia paling tersakiti diantara mereka berdua.


"Jiu Wei.. Bagaimana jika kau mengungkapkan perasaanmu sekarang juga kepadanya." Bing Hua menyarankan hal itu agar perasaan sakit dan penuh harap dari Jiu Wei dapat terselesaikan.


Jiu Wei menoleh kearah Bing Hua lalu..


"Aku takut jika dia akan menolakku."


"Itulah sebabnya kau merasakan rasa sakit seperti itu, Jiu Wei. Kau berharap agar Yan Liyan memperhatikanmu, tapi satu hal yang harus kau ketahui Jika Yan Liyan terus memperhatikanmu dan juga kami berdua, tapi Yan Liyan tidak akan mengetahui perasaanmu jika kau tidak menyatakanya secara langsung.


Percayalah jika kau terus terpuruk seperti itu, maka tidak ada perubahan yang akan terjadi dan Yan Liyan tetap tidak akan mengetahui apa yang kau rasakan saat ini.


Dan jika seandainya kau di tolak olehnya, maka hal tersebut lebih baik daripada kau mengharapkan cinta kepada seseorang yang sama sekal itidak mengetahui perasaanmu."


Jelas Bing Hua panjang lebar seolah dialah yang paling berpengalaman dalam hal ini dan mengetahui semua tentang perasaan Jiu Wei.


Mei Lin hanya mengangguk. Dia juga tampak kagum dengan penjelasan serta saran Bing Hua yang menurutnya sangat masuk akal.


Sedangkan Jiu Wei terdiam untuk sesaat untuk mempertimbangkan saran dari Bing Hua tadi. Tidak lama kemudian terlihat dia sedikit bersemangat dan mempunyai tekad kuat.


"Baiklah, Aku akan menyatakan perasaanku pada Yan Liyan sekarang juga!" Jiu Wei kemudian berdiri dari tempatnya tadi dengan penuh semangat sehingga hal itu membuat Bing Hua dan Mei Lin tersenyum.


Mereka juga sudah tidak melihat kesedihan dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Jiu Wei.


Di saat dia ingin membuka pintu rumah...


Tiba-tiba Yan Liyan membuka pintu tersebut sehingga membuat Jiu Wei sangat terkejut dengan kemunculan Yan Liyan yang tiba-tiba.


"Tuan... Se-sejak kapan anda berada disini?" tanya Jiu Wei dengan gugup.


"Sejak tadi."


Mendengar jawaban dari Yan Liyan membuat wajah Jiu Wei memerah sehingga membuat telinga rubahnya bergerak kesegala arah.


Dia juga memainkan jari tangannya karena merasa sangat gugup sekaligus merasa sangat malu kepada Yan Liyan.


"A-apa tuan mendengar apa yang sedang kami bicarakan tadi?"

__ADS_1


"Ya.. Sejak awal Aku mendengar apa yang kalian bertiga bicarakan tadi dengan sangat jelas." Yan Liyan berkata dengan tatapan sayu kepada Jiu Wei. Dia tidak pernah menduga jika Bing Hua mampu bersikap dewasa seperti itu.


Tetap pura-pura bahagia meskipun merasa tersakiti bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan.


"A-apa.... Tunggu.. itu semua tidak seperti yang kau pikirkan..


A-aku sangat mengantuk. Aku akan pergi terlebih dahulu!" Jiu Wei dengan wajah memerahnya berjalan dengan sangat cepat menuju Pintu lalu masuk kedalam rumah meninggalkan mereka bertiga.


"Aku tidak menyangka jika dia juga merupakan seorang yang sangat pemalu seperti itu." gumam Yan Liyan ketika ketika melihat Jiu Wei yang ingin menghindar darinya.


Sedangkan sudut Bibir Mei Lin Dan Bing Hua berkedut ketika melihat apa yang dilakukan oleh Jiu Wei tadi, karena hal tersebut berada di luar dugaan mereka berdua.


"Apa Liyan'gege mengikuti kami berdua dan berniat untuk menguping pembicaraan kami?" tanya Bing Hua dengan sengit. Menguping pembicaraan tiga wanita merupakan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh Yan Liyan meskipun mereka merupakan kekasihnya, karena menurutnya hal tersebut merupakan suatu tindakan yang sangat tidak sopan.


"Ah.. tidak seperti yang kau pikirkan..."


"Bukankah di ruang makan tadi Liyan'gege bilang jika kau akan beristirahat terlebih dahulu? Lalu kenapa Liyan'gege tiba-tiba berada di tempat ini?" Kini giliran Mei Lin yang menginterogasi Yan Liyan.


Rencana mereka berdua untuk membuat Jiu Wei menyatakan perasaanya menjadi hancur berantakan Akibat kemunculan tiba-tiba dari Yan Liyan.


"Hei.. tenanglah dengarkan dulu penjelasanku!


Tadi aku memang akan tidur tapi tiba-tiba aku teringat akan satu hal yang harusnya aku katakan kepadamu tadi, Mei Lin..


Jadi aku mencari keberadaanmu.


lalu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian bertiga, karena sepertinya pembicaraan kalian sangat sensitif jadi aku hanya memilih diam saja." Yan Liyan menjelaskan kronologi dari kemunculannya yang tiba-tiba.


"Oh, Seperti itu ya.. Baiklah. Apa yang ingin Liya'gege bicarakan denganku?" Karena tidak ingin memperpanjang topik akhirnya Mei Lin langsung bertanya pada intinya yaitu mengenai tujuan Yan Liyan.


Yan Liyan mengeluarkan suatu gulungan dari dalam cincin penyimpananya lalu melemparkannya kepada Mei Lin.


Mei Lin yang melihat itu langsung saja menangkap gulungan tersebut.


"Itu adalah sebuah peta wilayah aray pelindung. Itu akan sangat membantumu dalam menjalankan tugas yang akan aku berikan."


"Tugas ya... sudah lama sekali kau memberikanku sebuah tugas. Memangnya tugas seperti apa yang harus aku lakukan."


"Tugasmu adalah mengintai kediaman pemimpin dari wilayah aray pelindung ini serta kumpulkan informasi lain yang menurutmu sangat menarik."

__ADS_1


__ADS_2