
1 Bulan berlalu sejak Yan Liyan mati mengorbankan dirinya untuk memusnahkan musuh.
Kesedihan menyelimuti orang terdekat Yan Liyan. Semenjak kematiannya. Suasana dan hubungan mereka tidak pernah sama lagi.
Bing Hua mengurung diri dalam kastil. Tidak ada seorang pun yang berani untuk menganggunya.
Yan Lin yang merupakan orang terdekatnya pun merasa ragu untuk masuk kedalam ruangannya.
Ya, mereka semua memang sedih dengan keputusan sepihak Yan Liyan pada saat itu. Tapi mau bagaimana lagi.. Semuanya telah terjadi dan tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Untuk Jiu Wei, dia bertugas menjaga kastil dari gangguan siapa pun. Ketika ada seorang mendekat kearah kastil bisa dipastikan orang itu akan mati mengenaskan di tangannya.
Terkadang emosinya tidak terkontrol setelah kepergian Yan Liyan yang merupakan tuanya sekaligus kekasih yang sangat dia sayangi.
Sehingga sifat asli dari ras rubah elemen telah muncul dalam dirinya. Selain Yan Lin dan Bing Hua tidak ada seorang pun yang bisa mengendalikanya ketika Jiu Wei dikuasai oleh amarah.
Bahkan Mei Lin yang menjadi rivalnya sekalipun kewalahan ketika mengatasi sifat membabi buta Jiu Wei.
Apa lagi Xian Ran. Dia bisa mati jika berniat menghadapi amarah Jiu Wei yang tidak terkendali.
"Kenapa! kenapa! kenapa!!!
Haaa!
Wusss!
Langit bergemuruh disertai sambaran petir dari segala arah. Suhu udara tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin membekukan benda apa pun yang berjarak ratusan mil dari kastil.
Mei Lin yang melihat itu mengehela nafas panjang dia sama sekali tidak terkejut. Sepertinya ini bukan pertama kalinya terjadi.
Mei Lin kemudian mengeluarkan aura Phoenix api miliknya untuk menekan aura dingin itu. Seketika suhu yang tadinya terasah sangat dingin kini perlahan menurun dan normal kembali.
Jika Mei Lin tidak melakukanya, maka bisa dipastikan mahkluk hidup yang tidak mempunyai kultivasi bisa mati dalam waktu dekat karena kedinginan ekstrim.
"Sudah cukup! Aku sudah bosan untuk menunggunya keluar dan melihat tingkah lakunya. Aku akan pergi kedalam dan menyeretnya untuk keluar dari dalam kastil!!"
Sebelum Xian Ran melangkah menuju kedalam kastil. Mei Lin menekan Xian Ran dengan aura miliknya.
Xian Ran seketika berhenti dan tidak bisa bergerak sama sekali. Tatapannya tertuju pada Mei Lin. Memang dia harus mengakui jika kekuatan Mei Lin berada jauh diatasnya, tapi apakah pantas menekannya seperti ini.
Tentu saja jawabannya tidak. Xian Ran berpikir jika Mei Lin ini terlalu arogan menindas orang dengan semaunya.
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan dan asal kau tahu saja jika sifat arogan memang sifat asli rasku, jadi jika kau tidak suka, maka aku tidak keberatan membakarmu dengan api Phoenix ini."
__ADS_1
Tatapan tajam dari Mei Lin diserta dengan ancaman membuat Xian Ran tidak bisa melakukan apa-apa.
Selain Jiu Wei, ternyata Mei Lin juga mulai menjadi-jadi. itulah hal yang dipikirkan oleh Xian Ran.
"Mei Lin..
Suara halus terdengar di sampingnya. suara halus itu berasal dari seorang gadis yang sangat cantik yang tidak lain adalah Yan Lin.
Jika dilihat dengan lebih teliti Aura kekuatan dari Yan Lin perlahan-lahan menghilang.
Walaupun dari luar Yan Lin terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya dari dalam dia merasa sangat hancur.
Kekasih sekaligus sahabat kecilnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Bagaimana mungkin dia bisa menerima hal tersebut dengan mudah.
"Tenang saja, Aku masih merupakan Mei Lin yang dulu. Aku berbeda dengan rubah itu." tangan lembut Mei Lin mengelus kepala Yan Lin untuk membuatnya tenang dan tidak merasa khawatir.
Yan Lin tersenyum mendengar ucapan Mei Lin.
Sangat menyedihkan rasanya ketika melihat Jiu Wei sering lepas kendali, jadi Yan Lin tidak ingin jika Mei Lin mengalami hal itu juga.
"Tapi tetap saja! Bing Hua harus...
"Tenang saja! Seminggu ini aku telah mencari memanggil seseorang yang akan mengeluarkan Bing Hua dari dalam kastil dan akhirnya aku berhasil menemukanya.
Dan seseorang ini berkata jika masih ada harapan untuk menghidupkan kembali Yan Liyan!"
Yan Lin dan Xian Ran terkejut ketika mendengar itu. Jika Jiu Wei yang berbicara mungkin mereka akan menganggapnya sebagai lelucon, tapi berbeda dengan Mei Lin yang tidak pernah mengucapakan hal omong kosong.
"Benarkah! siapa orang kau maksud itu Mei Lin?"
Seperti di terpa oleh angin segar di tengah gurun. Senyuman Yan Lin yang telah lama ini menghilang kini terlihat lagi.
Senyuman dan tatapan yang menunjukkan sebuah harapan besar.
"Sebentar lagi dia akan datang dan kalian pasti mengetahui orang ini."
Tidak lama setelah Mei Lin mengatakan itu, sebuah celah dimensi tiba-tiba muncul berada tidak jauh dari mereka.
Dari dalam celah dimensi itu keluar seseorang yang sangat mereka kenali.
Orang itu mengenakan gaun hitam, dan rambut hitam gelap yang kontraks dengan pakainya.
Mata merah darah yang menyalah serta Aura kematian yang mengelilingi tubuhnya menunjukkan jika dia merupakan sosok dewi kematian.
__ADS_1
Sosok itu merupakan sosok yang sangat ditakuti di alam ini dan orang itu tidak lain adalah Xiao Yi si penyerap jiwa yang juluki sebagai dewi kematian.
Mei Lin tersenyum melihat kedatangan Xiao Yi sedangkan Yan Lin merasa kebingungan. Dan bertanya tanya Apa orang yang dimaksud oleh Mei Lin tadi adalah Xiao Yi?
"Sudah lama kita tidak bertemu Yan Lin." suara yang masih sama dari terakhir kali Yan Lin dengar.
Xiao Yi kemudian melihat kearah kastil...
"Sudah separah ini ya...
"Kau!" saat Yan Lin akan memberi pelajaran pada Xiao Yi.
Aura Xiao Yi keluar dari dalam tubuhnya dan menekan Yan Lin agar tidak bergerak. Aura itu sama sekali tidak menyakitinya hanya membuat Yan Lin tidak bergerak.
"Jangan banyak bergerak atau..
Xiao Yi memegang dagu Yan Lin Dan pandanya tertuju ke perutnya.
"Benih kehidupan yang ada dalam perutmu ini mungkin bisa terluka dan aku tidak ingin jika hal itu terjadi."
Xiao Yi melepaskan Yan Lin Dan menoleh kearah Mei Lin.
"Antar aku keruangan gadis dingin itu burung kecil..
"Tcih jangan memanggilku seperti itu."
Di saat Mei Lin dan Xiao Yi akan memasuki kastil, dari arah belakang mereka tiba-tiba muncul seorang gadis dengan 9 ekor rubah.
Gadis itu di kelilingi oleh banyak bola elemen dan mengeluarkan aura yang sangat kuat dan bergerak dengan kecepatan penuh menuju kearah Xiao Yi.
"Beraninya kau menginjakan kakimu di sini setelah apa yang kau lakukan dasar penghianat!!"
Haaa!
Saat Jiu Wei akan melakukan serangan pada Xiao Yi. Seseorang dari dalam kastil tiba-tiba keluar. Ya, orang itu adalah Bing Hua.
Bing Hua keluar dari dalam kastil dan mendarat tepat di hadapan Xiao Yi sehingga menghalangi Jiu Wei.
Jiu Wei seketika berhenti melakukan serangan ketika melihat Bing Hua. Bagaimana pun Bing Hua adalah orang yang dia patuhi setelah Yan Liyan.
"Apa tujuanmu datang kesini Xiao Yi!!" Aura yang sangat dingin keluar dari dalam tubuh Bing Hua.
Terlihat Wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan, kemarahan, dan rasa putus asa yang di pendam.
__ADS_1
Semenjak Kematian Yan Liyan, Bing Hua terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakmampuanya untuk melindungi orang yang berharga baginya.
Bing Hua bahkan pernah berniat untuk melakukan bunuh diri, tapi hal itu dia batalkan karena memikirkan Yan Lin dan anak yang sedang dikandungnya. Bagaimana pun dia harus tetap hidup untuk memastikan anak Yan Liyan lahir dan tumbuh dengan sehat.