
Fang Lin kini sedang tersenyum tipis saat melihat Jin Mu, Diri-nya saat ini sedang merencanakan sesuatu untuk kedepan-nya, "Hei kakek tua... Siapa atasan-mu?" Tanya Fang Lin dengan nada penasaran.
Jin Mu mendengus pelan mendengar pertanyaan itu, "Apa yang membuat-mu berpikir kalau aku akan menjawab-nya? Hahahaha... Jangan harap" Ucap Jin Mu lalu tertawa mengecek.
Fang Lin yang mendengar ucapan kakek tua didepan-nya hanya menggelengkan kepala-nya pelan, "Berhenti-lah keras kepala, Aku dapat membaca ingatan-mu tetapi aku tidak melakukan-nya karena aku masih menghargai-mu" Ucap Fang Lin pelan.
~Sringgg~
Tiba-tiba 4 rantai putih muncul dari tanah dan langsung mengikat kedua kaki dan tangan Jin Mu.
Jin Mu sendiri yang telat menyadari hal tersebut hanya bisa pasrah, Ia lalu mencoba membebas diri dari rantai yang mengikat tangan-nya, Namun itu adalah usaha yang sia-sia.
"Apa ini?! Kenapa kau mengikat-ku?!" Tanya Jin Mu berteriak marah.
Fang Lin mengorek kuping-nya ketika mendengar teriakan kakek tua di depan-nya, Ia lalu berjalan mendekati Jin Mu sambil tersenyum tipis, "Pantas saja wajah-mu berkeriput, Kau saja suka sekali marah" Ucap Fang Lin dan menghentikan langkah-nya.
Kini Fang Lin dan Jin Mu sudah saling berhadap-hadapan. Jin Mu hanya bisa menggertak-kan gigi-nya dengan kuat ketika melihat diri-nya dalam kondisi terpojok seperti ini, "Apa yang kau mau? Aku akan memberitahu semua-nya, Asalkan kau berjanji untuk membiar-ku hidup" Ucap Jin Mu yang mau tak mau harus mempertahan-kan hidup-nya.
Mendengar ucapan kakek tua dihadapan-nya Fang Lin hanya tertawa pelan, "Hahaha... Maaf, Tapi itu sudah terlambat" Ucap Fang Lin dan seketika pandangan Jin Mu menjadi gelap.
"B-bajing-" Ucapan Jin Mu terhenti saat diri-nya tidak dapat menahan kesadaran-nya.
Fang Lin menggelengkan kepala-nya pelan melihat Jin Mu ingin mengumpat diri-nya, "Bahkan disaat-saat terakhir, Kau masih ingin mengumpat-ku" Ucap Fang Lin sambil berdecak pelan.
Fang Lin kemudian mengaktif-kan mata dewa-nya untuk melihat ingatan dari kakek tua yang berada di hadapan-nya.
***
__ADS_1
Jin Mu adalah seorang bawahan kepercayaan dari Raja alam 100 pelangi, Ia di utus oleh sang raja untuk pergi ke Alam rendah seperti Alam Tanah Kultivator untuk mencari kultivator muda yang berbakat. Tentu tidak hanya Jin Mu saja yang diutus, Melainkan ada beberapa bawahan yang dipercaya raja untuk melaksanakan misi ini.
1 Tahun Yang Lalu.
"Sudah hampir 3 tahun aku pergi dari Alam 100 pelangi, Tetapi sudah selama itu aku baru menemukan beberapa orang yang berbakat saja" Gumam Jin Mu pelan sambil menggelengkan kepala-nya pelan.
Setelah Jin Mu pindah ke Alam Tanah Kultivator, Ia membuat organisasi Pasir Hitam. Sebuah organisasi yang memperjual belikan budak, Alasan diri-nya membuat organisasi seperti itu karena menurut-nya akan lebih mudah mencari anak-anak berbakat lewat jalur perbudakan.
Selain Jin Mu menjual para budak, Ia juga tidak segan untuk membeli para budak yang menurut-nya berbakat atau bisa diperkirakan akan mahal jika di jual.
Saat ini sudah hampir 15 anak-anak berbakat yang Jin Mu kumpul-kan, Termasuk budak wanita yang dapat menggunakan sihir, Meskipun begitu Jin Mu merasa kecewa karna tidak dapat mengumpulkan lebih banyak lagi.
8 Bulan Kemudian.
Di sebuah lapangan rumput yang cukup luas, Jin Mu saat ini sedang melatih ke-15 anak berbakat yang sudah dia temukan sebelum-nya, Akan tetapi Jin Mu mengerutkan kening-nya saat melihat anak perempuan yang dapat melakukan sihir hanya melakukan latihan fisik.
Jin Mu menyuruh anak kecil tersebut berhenti latihan dan menyuruh-nya untuk mendekat, "Sylvia... Hentikan latihan-mu dan mari ke sini" Ucap Jin Mu memerintah.
"Ya guru, Kenapa anda memanggil saya?" Ucap Sylvia sambil menangkup-kan tangan-nya
"Kenapa akhir-akhir ini kau melakukan latihan fisik? Bukan-kah kau biasa-nya latihan menggunakan sihir?" Tanya Jin Mu dengan nada heran.
Sylvia yang mendapati pertanyaan itu tidak menjawab melainkan menunduk-kan kepala-nya kebawah, "I-itu... Karena aku ingin" Jawab Sylvia dengan terbata-bata.
Jin Mu yang mendengar jawaban bohong Sylvia hanya menghela nafas panjang, "Berhenti-lah berbohong... Bukan-kah kau berjanji tidak akan berbohong jika aku tidak menanyakan dari mana asal-mu?" Ucap Jin Mu sambil mengusap kepala Sylvia.
Sylvia hanya bisa menggigit bibir bawah-nya pelan, Ia saat ini sedang berpikir untuk memberitahu salah satu rahasia-nya atau tidak.
__ADS_1
.....
Beberapa detik berpikir, Sylvia mengambil nafas-nya cukup dalam lalu menghela nafas-nya dengan panjang, "Haah... Sebenarnya aku sudah tidak mempunyai 'Mana' lagi, Jadi selama aku tidak mempunyai Mana maka aku tidak dapat mengeluarkan sihir" Jawab Sylvia menjelaskan.
Jin Mu yang mendengar jawaban Sylvia seketika mengerutkan alis-nya, "Mana? Apakah sebuah energi semacam Qi?" Batin Jin Mu mencoba menebak-nebak.
"Kenapa kau tidak mengisi Mana-mu kembali agar dapat menggunakan sihir, Bukan-kah disini banyak sekali energi melimpah?" Tanya Jin Mu dengan nada heran.
Sylvia menggelengkan kepala-nya pelan, "Aku tidak dapat menyerap energi lain selain Mana, Aku sudah mencoba-nya setiap waktu luang tetapi energi yang biasa disebut Qi tidak dapat memasuki tubuh-ku" Jawab Sylvia dengan wajah memelas.
Jin Mu hanya bisa menghela nafas panjang ketika mendengar jawaban Sylvia, "Kalau begitu lanjut-kan latihan-mu. Sementara, Aku akan mencari solusi yang tepat untuk permasalahan-mu" Ucap Jin Mu pelan.
Sylvia hanya mengangguk-kan kepala-nya dan mulai berjalan menuju kelapangan, Ia mulai melanjutkan latihan fisik yang sebelum-nya tertunda.
Sedangkan Jin Mu yang melihat Sylvia latihan sendiri hanya menggelengkan kepala-nya pelan, Ia dapat melihat kalau anak-anak yang lain menjauhi Sylvia karena kuping aneh yang dimiliki-nya.
"Semoga aku dapat menemukan solusi-nya" Gumam Jin Mu menghela nafas pelan lalu dengan segera menghilang dari sana.
.....
2 Bulan Kemudian.
Di Sebuah Perpustakaan Yang Besar, Jin Mu menutup sebuah buku lalu menghela nafas-nya cukup panjang, "Sudah hampir 2 bulan aku mencari solusi untuk Sylvia, Akan tetapi tidak ada satupun buku yang menjelaskan tentang energi Mana" Gumam Jin Mu menggelengkan kepala-nya pelan. Diri-nya sudah hampir menyerah, Namun dia tidak dapat melakukan itu karena tugas utama-nya adalah mencari anak-anak berbakat dan tentu selain mencari dia harus melatih anak-anak tersebut.
"Apakah dengan Pil pemulih Qi dapat memulih-kan Mana-nya?" Gumam Jin Mu kembali sambil mengelus-eluskan dagu-nya.
"Tidak ada salah-nya untuk mencoba" Ucap Jin Mu mengangguk-kan kepala-nya. Ia segera menuju ke tempat Sylvia dan mencoba beberapa eksperimen yang dapat memulihkan Mana-nya.
__ADS_1
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.