
Fang Hai sekarang sedang mengendap-endap setelah keluar dari ruangan itu, ia berdecak pelan karena tidak ada celah untuk bersembunyi dan menyerang bandit itu secara diam-diam.
Hanya ada satu cara yang bisa Fang Hai pikirkan saat ini. Ia melangkah kakinya dan kemudian memperlihatkan dirinya pada bandit tersebut.
"Oho? Ada anak kecil rupanya." bandit itu bisa melihat tatapan polos Fang Hai, ia tersenyum lebar dan berkata, "Apa kamu tau siapa aku?"
"T-tidak paman, a-aku tidak tau..." Fang Hai terbata-bata saat mengatakan itu.
"Hehehehe.... Aku adalah ayahmu, kemarilah." ucap bandit sambil melambaikan tangannya seolah memberi tanda untuk anak laki-laki itu datang padanya.
"B-benarkah? T-tapi ibu bilang ayah sudah tiada semenjak aku berada dalam kandungan."
"Ah..." bandit itu sedikit tidak menyangka dengan jawaban Fang Hai, senyum lebar semakin terukir di wajahnya, "Selama ini ibumu berbohong. Jadi, kemarilah dan aku akan membelikanmu permen."
Fang Hai tidak mengatakan apa-apa, tetapi ia mulai berjalan pelan ke arah bandit itu.
Bandit yang melihat Fang Hai berjalan mendekatinya diam-diam tertawa kecil, "Benar... Kemarilah..." ucap bandit dengan suara pelan.
Ketika jarak di antara mereka mereka berdua hanya terpisag satu meter saja, sang bandit langsung mengangkat Fang Hai menggunakan kedua tangannya-- ketika ia ingin mengatakan sesuatu, matanya melebar karena ia tiba-tiba saja kehilangan kendali atas tubuhnya.
"Eh.." bandit pria itu berusaha mencerna situasi, dan matanya melebar ketika baru menyadari pandangannya terbalik, "A-apa yang terjadi..."
"Paman... Seharusnya kau tidak melemahkan penjagaanmu meskipun aku adalah seorang anak kecil." Fang Hai menggunakan pisau Qi untuk memenggal kepala bandit tersebut.
Fang Hai kemudian menatap dari balik jendela, dan nafasnya langsung tertahan saat melihat ada sekumpulan bandit yang sedang membunuh para warga desa.
Perasaan marah muncul seketika di hati Fang Hai, ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat lalu mengeluarkan sebilang pedang di udara kosong, "Sebagian besar dari mereka hanya berada di ranah Pendekar dan sisanya ada di ranah Pendekar Elit." Fang Hai menganalisa kekuatan tempur bandit-bandit tersebut, dan sekarang ia mulai memikirkan skenario untuk membunuh mereka semua.
Setelah selesai, Fang Hai kembali ke ruangan tempat Wang Yao dan putrinya berada. Ia kemudian meminta pria paruh baya itu untuk segera pergi dari sana bersama putrinya.
"Tapi Tuan muda, rumah ini tidak ada pintu belakang dan jalan satu-satunya untuk keluar hanyalah pintu depan saja." ucap Wang Yao memberitahu.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Pada saat perhatian mereka teralih padaku, paman cepat-cepat pergi dari rumah ini." ucap Fang Hai dengan raut wajah serius, "Kalau seandainya keberadaan paman langsung diketahui, paman berusaha secepat mungkin berlari ke hutan dan aku akan berusaha menghalangi mereka selama mungkin."
Mendengar itu membuat hati Wang Yao merasa gelisah, bukan karena ia takut tertangkap akan tetapi dirinya merasa sangat khawatir jika harus meninggalkan Fang Hai bersama bandit-bandit itu.
Fang Hai yang melihat raut wajah khawatir Wang Yao langsung meyakinkannya sekali lagi, "Percayalah padaku, paman. Rencana ini tidak akan gagal..."
Wang Yao mengepalkan kedua tangan dengan erat selama beberapa saat, lalu berbalik dan menggendong putrinya di belakang punggung.
"Baiklah. Ayo kita pergi, Tuan muda." jawab Wang Yao dengan nada tegas.
Fang Hai tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan, "Bagus..." ucap Fang Hai, dan ia lebih dulu berjalan ke luar ruangan tersebut.
.....
"Sepertinya untuk sekarang kita aman." Fang Hai bisa melihat kalau sudah tidak ada siapapun di luar sana selain mayat-mayat yang berserakan.
__ADS_1
Fang Hai melangkahkan kakinya ke luar dan Wang Yao mengikutinya dari belakang. Setelah itu, mereka berlari di pinggir rumah-rumah warga agar tidak ketahuan.
"Wahahahaha.... Tangkapan hari ini sungguh banyak! Kita bisa menjual mahal mereka di tempat penjualan budak!"
Suara tawa menggema dan membuat Fang Hai serta Wang Yao menghentikan langkah mereka.
"Sepertinya mereka sedang berkumpul di satu tempat, Tuan muda. Ada baiknya kita mencari jalan lain untuk pergi dari desa ini..." bisik Wang Yao hati-hati.
Fang Hai mengangguk setuju, dan pada saat mereka kembali berjalan-- tiba-tiba saja putri Wang Yao terbangun dan ia memberontak sembari mengeluarkan teriakan kencang.
Tentu saja hal tersebut langsung menarik perhatian para bandit, masing-masing dari mereka mulai mengeluarkan pedang yang tersarung di pinggang dan berjalan mendekati sumber teriakkan itu.
"Paman! Cepat lari dari sini, jangan pernah menoleh ke belakang!" Fang Hai berkata dengan suara panik.
Wang Yao mengangguk cepat, "Aku akan kembali secepat mungkin, Tuan muda!" ucap Wang Yao, dan tanpa berkata lebih jauh lagi-- ia langsung berlari sembari memperkuat gendongan pada putrinya.
Kepergian Wang Yao tentu saja disadari oleh para bandit, ketika mereka hendak mengejarnya-- muncul seorang bocah berumur 8 tahun dan menghalangi jalan mereka.
"Bocah? Tangkap dia!" salah satu pria yang mempunyai perawakan besar berkata, "Ayo kejar pria tua tadi!"
Ketika pria berperawakan besar itu hendak pergi dari sana bersama teman-temannya, matanya melebar saat orang yang ia suruh untuk menangkap Fang Hai terpenggal kepalanya.
"Apa-apaan?!" pria berperawakan besar tidak bisa untuk tidak terkejut melihatnya, "Dia seorang kultivator, tapi... Dia bisa membunuh seorang pria dewasa dalam sekejap?" ucapnya dengan suara tak percaya.
"Kepung dia dan bunuh anak itu! Kita akan mengejar pria tua tadi setelah membunuh bocah ini!"
Fang Hai mendengus dingin saat menyaksikan itu, mereka sangat tidak tau malu sampai berani mengeroyok seorang bocah yang umurnya baru menginjak 8 tahun.
"Sword-Qi..." pedang Fang Hai dilapisi dengan aura kuning cerah, dan ia langsung melesat maju dengan cepat.
Pertarungan antara bocah berumur 8 tahun dan tujuh orang bandit akhirnya terjadi. Di awal pertarungan, Fang Hai merapatkan giginya karena ia langsung berada dalam posisi bertahan-- meskipun begitu dirinya unggul dalam senjata dan jurus.
Fang Hai sendiri memfokuskan serangannya pada bandit yang paling lemah, dan tentu saja karena hal itu ia berhasil membunuh satu dari ketujuh bandit yang menjadi lawannya.
"Bocah keparat! Bagaimana bisa dia bertahan sampai sejauh ini?!" bandit berperawakan besar tidak bisa untuk tidak mengumpat, di saat yang sama ia merasa malu dengan kemampuannya sekarang ini.
Fang Hai tidak menanggapi hal tersebut, ia fokus menyerang bandit yang terlemah setelah kematian bandit sebelumya.
Beberapa waktu berlalu, satu-persatu bandit mulai terbunuh dengan cara yang berbeda-- dan sekarang hanya menyisakan tiga bandit saja.
Walaupun para bandit itu sudah melemah, bukan berarti kemenangan ada di tangan Fang Hai-- sebab ia sendiri sudah terluka cukup parah dan telah kehabisan sebagian besar Qi miliknya.
"Sialan kau bocah.... Sekarang kau sudah lemah, tidak ada kesempatan bagimu untuk menang dalam pertempuran ini." ucap bandit berperawakan besar, ketika ia dan dua bandit lainnya ingin menyerang Fang Hai-- langkah mereka terhenti ketika Wang Yao muncul.
Fang Hai sendiri yang melihat punggung pria paruh baya tersebut langsung melambaikan tangannya ke samping, "Paman! Pergilah, kau akan mati jika melawan mereka!"
Wang Yao tersenyum tipis dan berkata, "Tuan muda, anda sudah menyelematkan saya berkali-kali hari ini dan sekarang sudah saatnya bagi saya untuk menyelamatkan anda.
__ADS_1
Wang Yao mengambil pedang bekas mayat bandit yang ada di dekatnya, ia memegang pedang tersebut dengan kedua tangannya dan melakukan posisi kuda-kuda yang sangat rapuh.
"Hoo... Ternyata kau adalah pak tua yang tadi." bandit berperawakan besar menyeringai mengejek, "Kau hanya seorang manusia biasa, tapi kau berani menghadapi tiga orang kultivator? Sungguh keberanian yang luar biasa..."
Bandit berperawakan besar terkekeh pelan, ia melirik keadaan Fang Hai dan melihat bocah itu hanya diam karena luka parah yang dideritanya.
"Aku akan membunuhmu, pak tua." bandit berperawakan besar tidak banyak bicara lagi dan langsung melesat ke arah pria paruh baya yang hanya berjarak beberapa belas meter saja.
Wang Yao menggertakkan gigi, "Tuan muda, sekarang adalah saatnya untuk melarikan diri." Wang Yao berseru lantang dan ia maju ke arah bandit besar itu.
"Hyaaaaaa~"
Slash!
Belum sempat mengayunkan pedangnya, tubuh Wang Yao terbelah menjadi dua bagian. Bandit besar itu tertawa lantang melihatnya, dan ia bisa melihat raut wajah Fang Hai yang menunjukkan kemarahan.
"Hahahahaha..... Manusia biasa tetaplah manusia biasa, kau pikir akan mendapatkan kekuatan jika mengorbankan diri dan berteriak seperti itu?" bandit berperawakan besar sekali lagi tertawa kencang, namun tawanya itu berlangsung sesaat saja ketika merasakan aura mengerikan di dekatnya.
"Kau sudah membuat kesalahan besar..." suara berat keluar dari mulut Fang Hai, matanya mengarah ke bandit besar itu dan tatapannya mengandung hawa membunuh yang sangat kuat.
"A-ah..." bandit berperawakan besar mundur beberapa langkah, ketakutan menyelimuti hatinya, "Serang dia! Bocah itu pasti sudah melemah! Dia tidak akan sanggup membunuh kita bertiga!"
Dua bandit lainnya yang mendengar itu sebenarnya enggan untuk maju, tapi mereka tidak ada pilihan lagi karena yang menyuruh adalah ketua sementara yang dipilih oleh bos besar mereka
Ketika kedua bandit itu hendak maju menyerang Fang Hai, tiba-tiba saja kepala mereka terputus dan mengeluarkan air mancur darah.
Domain Terbatas, Membunuh Satu Inci.
Bandit berperawakan besar mematung sejenak ketika dua bandit lainnya terbunuh dalam sekejap, pada saat dirinya ingin berbalik-- pandangannya tiba-tiba saja memutar.
"A-apa..." kepala bandit besar itu terpenggal seketika.
Fang Hai masih diam di tempatnya setelah kematian tiga bandit itu, perlahan aura mengerikan yang merembes keluar dari tubuhnya menghilang.
Brug.
Fang Hai bertekuk lutut dan memuntahkan darah segar dari mulutnya, ia melihat mayat Wang Yao yang berada tidak jauh dari tempatnya dan berdecak kesal.
Tidak berbicara lebih banyak, Fang Hai melakukan posisi meditasi dan ia mengeluarkan sebuah pil hijau dari udara kosong.
Fang Hai menelan pil tersebut dan ia mulai menyerap esensi pil-nya, perlahan luka-lukanya mulai disembuhkan dan hal itu membutuhkan waktu sampai sepuluh menit lebih agar semua lukanya sembuh total.
"Paman..." Fang Hai bangkit berdiri, dan berjalan mendekati mayat Wang Yao yang sudah pucat, "Maafkan aku, paman."
Bersambung....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1