
Setelah melakukan diskusi panjang, mereka semua akhirnya sepakat untuk mengalahkan Wyvern itu bersama-sama jika dia datang lagi.
Meskipun hal tersebut bukan keputusan yang tepat mengingat nyawa setiap anggota grup terancam, tetapi ini jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.
Malam kemudian tiba dan yang berjaga kali ini adalah Yohan, Colin dan juga Fang Lin. Mereka bertiga duduk di dekat api unggun, tidak ada satupun percakapan di antara mereka dan hanya keheningan yang menyelimuti udara.
"Kenapa kau masih mengenakan mantelmu, pemula? Apakah kau tidak pernah merasakan kepanasan sedikitpun?" Yohan bertanya dan memecahkan keheningan tersebut.
"Bukankah kau sebelumnya sudah berjanji untuk tidak menggangguku lagi?" Fang Lin bertanya, suaranya terdengar tenang.
Yohan berdecak pelan dan bergumam, "Cih, membosankan."
Melihat itu, Fang Lin hanya tersenyum tipis dan kemudian melepaskan kupluk mantelnya. Karena semua orang sudah tertidur selain mereka bertiga, ia rasa tidak ada salahnya untuk memperlihatkan wajah aslinya.
Yohan dan Colin sedikit tersentak melihat Fang Lin membuka kupluk mantelnya, keduanya menatap wajah dirinya dengan tatapan serius.
"Geh... Ketampananmu memang benar-benar tidak manusiawi, pantas saja Yuna terpikat denganmu." ucap Yohan yang jelas sangat iri.
"Tak kusangka kau jauh lebih tampan dari bayanganku, sangat melampaui ekspetasiku..." Colin menimpali, dia terlihat cukup terkejut tetapi itu hanya sekadar akting saja.
Fang Lin tidak mengetahui alasan Colin bertindak demikian, dia hanya tersenyum tipis dan berkata, "Aku ini tidak pernah berbohong tentang masalah rupa. Sudah kubilang kebenarannya, tetapi kalian malah menertawakanku."
"Kau masih mengingat kejadian waktu itu? Hahahaha..." Yohan tertawa terbahak-bahak, lalu melanjutinya, "Lagipula kau memang kelewatan narsis, kok. Coba kau berada di posisiku saat itu, bagaimana tanggapanmu?"
"Yah... Aku tidak akan percaya." Fang Lin menjawab dengan cepat, karena ia merasa cukup yakin kalau di Alam Semesta ini tidak ada yang bisa melampaui ketampanannya-- jika ada orang yang mengaku lebih tampan dari dirinya maka kemungkinan besar dia adalah seorang pembual.
"Benarkan? Kau juga pasti akan menertawakannya, itu adalah reaksi yang normal." Yohan melipat kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum.
Fang Lin memasang ekspresi datar ketika mendengar itu.
"Omong-omong, dari mana asalmu, pemula?" Yohan bertanya karena penasaran, "Mempunyai wajah seperti itu, setidaknya latar belakangmu bukanlah orang biasa."
"Hahaha... Apanya yang bukan orang biasa? Aku hanyalah seorang anak petani dari sebuah desa terpencil tanpa nama." Fang Lin tertawa kecil dan menjawabnya tanpa ragu.
"Oh... Salah, toh? Kupikir tebakanku akan benar atau paling tidak mendekati." Yohan bergumam pelan.
"Fang Lin, kau ini Warrior atas Penyihir?" Colin bergabung ke dalam percakapan.
"Hm, aku seorang Penyihir."
__ADS_1
"Penyihir, ya. Kalau boleh tau, sihir apa yang sudah kau pelajari?" tanya Colin penasaran, dan dengan segera melanjutinya, "Ah, kau berhak untuk tidak menjawabnya jika merasa keberatan atas pertanyaanku."
"Oh, tidak apa." Fang Lin tersenyum tipis, lalu mengangkat telapak tangan kanannya ke atas, "Aku baru menguasai satu sihir saja, bola api."
Whooosh!
Fang Lin menciptakan bola api seukuran telapak tangannya.
Yohan dan Colin memperhatikan bola api tersebut dalam diam, lalu menganggukkan kepala secara bersamaan.
"Kau berbakat, pemula. Karena bola api tersebut berada di tahap sempurna." ucap Yohan memuji.
"Ya, itu benar, mengingat kau adalah seseorang di tingkat Bronze, bola api itu sangatlah luar biasa." Colin menambahkan sembari tersenyum.
"Benarkah? Itu luar biasa, kalau begitu-- haruskah aku memfokuskan diriku untuk mempelajari sihir api saja?" Fang Lin bertanya untuk mendapatkan saran.
Yohan memegang dagunya selayaknya orang sedang berpikir, sedangkan Colin langsung menjawab, "Boleh juga, mungkin kau bisa menjadi seorang Sage terkenal di masa depan nanti."
"Sage, ya?" Fang Lin menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Kau mempunyai potensi yang cukup besar, pemula. Meskipun mencapai gelar Sage terlalu berlebihan untukmu, tetapi kau bisa menjadi seorang Penyihir hebat jika mempunyai Guru yang sama hebatnya juga." Yohan berkata, raut wajahnya terlihat sedikit serius.
"Hahaha.... Kau terlalu formal, pemula. Santai saja." Yohan tertawa kecil, raut wajahnya yang serius langsung berubah dengan cepat.
......................
Pagi akhirnya tiba, Yuna mulai melakukan sihir pendeteksi untuk mencari tau jalan labirin yang tidak buntu. Kemudian, mereka semua kembali melanjutkan perjalanan sesaat setelah Yuna memberitahukan arah jalan yang benar pada Gwen.
Selama di perjalanan, mereka bertemu banyak segerombolan monster-monster dengan berbagai macam jenis, dan Tiger adalah satu-satunya orang yang selalu membantai mereka semua.
......................
Kini, lima hari telah berlalu usai kemunculan Wyvern itu. Dia tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya sekalipun, padahal Gwen beserta yang lainnya sudah berada dalam kondisi prima.
"Sudah saatnya, ya." Fang Lin bergumam pelan, dan ia diam-diam mengganti dirinya yang saat ini sedang menunggangi kuda dengan Boneka Bayangannya.
Fang Lin melayang di udara menggunakan sihir Stealth miliknya, ia sejenak memandangi rombongan Gwen yang sedang melaju cepat ke depan, "Mau sampai kapanpun kalian tidak akan bisa keluar dari labirin ini, orang yang menciptakan formasi sihir ini selalu mengubah jalurnya tanpa kalian sadari." Fang Lin berkata, lalu menelepati boneka bayangannya yang menggantikan dirinya sekarang ini, "Jaga mereka tetap aman, jangan sampai ketahuan dan tidak boleh meninggalkan jejak."
"Hamba mengerti, Raja." Boneka Bayangan menjawab dengan cepat.
__ADS_1
Fang Lin tidak menanggapinya lebih jauh dan kemudian kepalanya mendongak ke atas, "Aku akan menyelesaikan ini secepat mungkin."
Whoosh!
Sesaat setelah Fang Lin bergumam demikian, dia menghilang dalam sekejap mata.
***
Di luar formasi sihir yang jangkauan luar biasa, terdapat sebuah dimensi luas yang hanya terdapat daratan kering. Berbeda dengan di labirin, langit dimensi ini berwarna merah darah dan ada banyak awan gelap sehingga suasana di sekitar terasa sangat dingin juga menegangkan.
"Tidak ada banyak kehidupan di sini, hanya ada beberapa makhluk yang mempunyai kekuatan cukup besar." Fang Lin berkata dalam hati ketika Kesadaran Spiritualnya sudah menyebar ke seluruh penjuru arah sejauh jutaan kilometer.
Di dalam Kesadaran Spiritualnya itu, Fang Lin bisa menemukan sebuah Istana yang jaraknya tidak jauh dari luar formasi sihir.
Hanya ada sebelas makhluk di sana, dan salah satu di antara mereka ada yang sebanding dengan bawahan intinya.
"Sepertinya ini akan mudah." Fang Lin tersenyum tipis, lalu menghilang dari tempatnya dengan cepat.
Dalam waktu beberapa detik saja, Fang Lin sudah sampai di halaman Istana tersebut. Karena sihir Stealth-nya, keberadaan dia tidak diketahui oleh siapapun yang ada di dalam istana.
"Ayo, munculah." Fang Lin mengatakan itu sesaat setelah sihir Stealth-nya dibatalkan.
Whooosh!
Whooosh!
Tiba-tiba berbagai serangan datang ke tempat Fang Lin berada, ia tidak bergerak sedikitpun dan semua serangan itu meledak sebelum sampai ke dirinya.
"Bukankah kalian terlalu kasar pada seorang tamu?" Fang Lin menyeringai tipis.
Tidak ada serangan yang berhenti di arahkan padanya selama beberapa waktu, semua serangan yang terbuat dari berbagai jenis energi dan elemen terus berdatangan bagaikan tsunami yang menghantam kota.
"Tsk, padahal aku sudah cukup sabar." Fang Lin berdecak pelan, aura keemasan perlahan merembes keluar dari tubuhnya, "Hentikan serangan heboh kalian!"
Whoooosh!
Aura emas yang merembes keluar dari tubuh Fang Lin menyebar dengan cepat sampai radius sepuluh kilometer, dan area yang termasuk dalam jangkauan auranya langsung membentuk kubah mengerikan layaknya lubang Neraka.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.