
Melihat jurus yang dipakai oleh Yinhua membuat Fang Lin berdecak kagum, "Gelombang api yang dikeluarkan oleh Yinhua tadi bisa membakar Roh jahat juga... Yue mengajarinya dengan baik."
Fang Lin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum puas, ia jelas bangga mempunyai anak-anak yang mempunyai bakat luar biasa.
"Setelah semua ini selesai, aku akan memberikan hadiah pada mereka..." Fang Lin melipat keduanya tangannya di depan dada, ia duduk bersandar dan mengawasi kelima anaknya lewat layar-layar di depannya.
***
Di Hutan belantara.
Fang Hai duduk di atas sebuah batu besar sembari memakan daging ayam yang ia beli di kota sebelumnya.
Ketika sedang menikmati makanannya, alis Fang Hai sedikit terangkat saat mendengar sebuah teriakan dari kejauhan.
"Teriakan?" Fang Hai mengedarkan pandangannya untuk memastikan dari mana arah datangnya suara tersebut.
"Tolong~! Tolong~!"
Suara teriakan pria mulai terdengar jelas di telinga Fang Hai, ia menyimpan daging di tangannya ke cincin penyimpanan lalu melompat turun dari atas batu.
"Huup..." Fang Hai kemudian melesat dengan cepat ke arah sumber suara tersebut.
Kurang dari satu menit, Fang Hai bersembunyi di balik pohon ketika dirinya melihat seorang pria paruh baya dikejar oleh segerombolan Hyena yang tampaknya sangat lapar.
"Sepertinya makhluk buas itu hanya hewan biasa..." Fang Hai bergumam, dan kemudian sebuah panah muncul di tangan kirinya, "Ada enam ekor makhluk buas, jika aku membunuh satu-persatu mereka akan langsung menyadarinya." Fang Lin memasang raut wajah serius dan memutar otaknya.
Pada saat Fang Hai sedang berpikir, ia tersentak ketika melihat pria paruh baya itu terjatuh saat berlari dan kini sudah dikepung oleh keenam Hyena.
"Aku tidak bisa berpikir lebih jauh!" Fang Hai buru-buru menciptakan enam anak panah yang terbuat dari Qi, tidak perlu lama-lama ia langsung melepaskan tali busurnya dan membuat keenam anak panah tersebut melesat di udara dengan sangat cepat.
Whooosh!
Dalam sekejap dua dari enam Hyena mati, sedangkan sisanya terluka dan langsung kabur dari sana sesegera mungkin.
"Sial! Ternyata mustahil untuk membunuh enam hewan buas itu sekaligus dengan kekuatanku yang sekarang..." Fang Hai berdecak kesal, ia kemudian menghampiri pria paruh baya itu yang tampaknya kebingungan.
__ADS_1
"Paman! Apa kau baik-baik saja?" Fang Hai bertanya ketika sudah sampai di dekat pria paruh baya itu.
"Kau... Apa kau baru saja menyelamatkanku?"
"Benar, paman."
Pria paruh baya itu tertegun mendengarnya, ia melihat Fang Hai dari atas sampai bawah dan menemukan kalau orang yang baru saja menyelamatkannya adalah seorang bocah tampan dengan wajah polos.
"Terima kasih, Tuan muda! Saya bersyukur karena anda telah sudi untuk menyelamatkan saya!" ucap pria paruh baya itu sembari bersujud, ia tau kalau Fang Hai adalah seorang Kultivator-- maka dari itu dirinya harus bersikap sesopan mungkin karena takut menyinggungnya.
"Aduh paman, jangan bersujud di hadapanku!" Fang Hai hampir tak habis pikir, ia buru-buru membangunkan pria paruh baya itu ketika dirinya sudah menyimpan senjatanya di cincin penyimpanan.
"Saya tidak mempunyai apa-apa, Tuan muda! Jadi saya tidak tau harus berterima kasih dengan cara apa selain ini." sahut pria paruh baya itu yang berusaha kekeh untuk bersujud.
Namun karena Fang Hai adalah seorang Kultivator, ia bisa mengangkat pria paruh baya yang bersujud itu dengan mudah.
"Paman, kamu jangan terlalu berlebihan. Aku menyelamatkanmu karena aku mau dan sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun, jadi tolong bersikaplah sewajarnya." ucap Fang Hai dengan suara tegas.
pria paruh baya itu termenung sejenak ketika mendengarnya, ia menghela nafas panjang dan mengiyakan ucapan Fang Hai.
"Oh, benarkah!" Fang Hai tersenyum senang karena ia akhirnya menemukan sebuah pemukiman setelah berhari-hari keluar dari kota, "Kalau begitu, ayo kita ke desa paman!"
"Ah, baik, Tuan muda." jawab Wang Yao, dan ia melanjutinya, "Saya akan menuntun anda ke desa."
Fang Hai tersenyum dan menganggukkan kepalanya cepat.
Selama di perjalanan, Fang Hai memperkenalkan dirinya dan memberitahu kalau ia adalah seorang pengembara.
Tentu saja ketika mendengar itu membuat Wang Yao terkejut, "Tuan muda, maaf jika lancang-- tetapi sekarang anda umur berapa?" tanyanya penasaran.
"Umurku baru 8 tahun, paman. Ada apa memangnya?" jawab Fang Hai cepat.
"Ah... Umur Tuan Muda sepantaran dengan putri saya di rumah."
"Oh, paman ternyata punya seorang putri..." Fang Hai mengangguk pelan, dan ia bertanya, "Omong-omong, kenapa paman ada di Hutan? Bukankah tempat itu sangat berbahaya?"
__ADS_1
Wang Yao menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menjawab, "Putri saya sedang sakit Tuan muda, dan saya membutuhkan sebuah tanaman untuk menyembuhkannya."
"Tanaman?"
"Ya, Tuan muda. Tanaman tersebut katanya bisa menyembuhkan sebagian besar penyakit yang terjadi pada organ Hati."
"Malang sekali nasib putrimu, paman. Aku harap dia bisa sembuh secepatnya..."
"Hahahaha... Terima kasih, Tuan muda."
Mereka kemudian mengobrol panjang lebar selama di perjalanan, sampai akhirnya keduanya tiba di sebuah desa kecil yang ada banyak sekali orang beraktivitas.
Tidak jauh dari desa tersebut ada sebuah Danau yang luas, dan di tengah-tengahnya terdapat Gunung aktif yang bisa meletus kapan saja.
"Mungkin saat menginjakkan kaki di Desa, Tuan muda akan mendapatkan berbagai tatapan yang menyeramkan. Tapi tenang saja, itu hanya berlaku sementara waktu saja karena pada dasarnya mereka semua adalah orang-orang yang baik." ucap Wang Yao memberitahu, ia tidak mau jika Fang Hai tersinggung karena tatapan para warga dan membantai mereka semua yang ada di desa.
"Baiklah, paman." jawab Fang Hai sambil tersenyum.
Benar saja dengan apa yang dikatakan oleh Wang Yao sebelumnya, ketika mereka berdua melangkahkan kaki di desa-- ada banyak sepasang mata yang mengawasi.
"Mereka sepertinya sangat waspada dengan orang baru... Apakah di desa ini pernah terjadi suatu kejadian yang buruk?" tanya Fang Hai penasaran.
Wang Yao sendiri terdiam sejenak mendengar itu, awalnya ia cukup ragu untuk menceritakannya tetapi akhirnya ia memutuskan untuk bercerita.
"Dulu sekali ada seorang pengembara yang sama persis seperti Tuan muda sekarang, dia mempunyai sifat baik serta penolong dan membuat dirinya disukai oleh para warga." Wang Yao terdiam sejenak sebelum melanjutinya, "Tapi pada suatu ketika, pengembara tersebut dipergoki oleh salah satu warga karena hendak memperkosa seorang perempuan. Tentu saja itu memancing kemarahan warga, dan mereka langsung bekumpul untuk mengusir pengembara tersebut dari desa."
Wang Yao langsung diam usai menceritakan hal tersebut, sedangkan Fang Hai menganggukkan kepalanya dan merasa kalau cerita tersebut cukup menarik.
Ketika Fang Hai ingin mengatakan sesuatu, ia langsung mengurungkan niatnya saat melihat Wang Yao berhenti di depan sebuah rumah sederhana.
"Kita sudah sampai, Tuan muda. Mari masuk... Biarkan saya menyajikan anda sesuatu yang enak." Wang Yao tersenyum dan mempersilahkan anak kecil itu masuk ke dalam rumahnya.
Fang Hai sendiri menganggukkan kepala dan ia langsung memasuki rumah tersebut dengan cepat.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.