
Satu minggu berlalu.
Hari ini adalah hari di mana semua murid tahun ajaran berkumpul di satu tempat untuk melakukan pertandingan akhir semester pertama.
Di sebuah arena yang mirip seperti Colloseum, semua murid dari berbagai tahun ajaran duduk di kursi penonton. Sebagian besar dari mereka kini sedang memperhatikan semua Guru dan Instruktur yang sedang berdiri di tengah lapangan arena.
Di sisi lain, Fang Lin duduk di antara Finn dan William. Mereka berdua sepertinya tidak berniat mengatakan sesuatu dan menatap lurus ke depan dengan tenang.
"Aku bisa merasakan Kesadaran Mana yang sangat banyak sedang diarahkan padaku, ini sedikit membuatku tidak nyaman." ucap Fang Lin dalam hati, tentu saja itu semua berasal dari para murid perempuan yang kagum dengan ketampanannya.
Sementara itu, Dulhan yang berdiri tegak di antara para Guru dan Instruktur berjalan dua langkah ke depan lalu berkata sembari tersenyum, "Selamat pagi, murid-murid sekalian. Aku adalah Dulhan, seorang Kepala Sekolah dari Akademi Bintang ini." ucap Dulhan, dan dengan segera melanjutinya, "Pertandingan antar tahun ajaran akan dimulai sebentar lagi. Omong-omong, karena tahun ajaran pertama baru pertama kali mengikuti pertandingan seperti ini maka aku akan menjelaskannya secara rinci."
Dulhan terdiam sejenak usai menyelesaikan kata-katanya, kemudian melanjutkan, "Lawan kalian hari ini sampai tiga hari ke depan adalah murid dari tahun ajaran yang berbeda. Tahun ajaran pertama, kedua dan ketiga... Kalian adalah musuh di pertandingan ini."
"Pertandingannya adalah, setiap murid harus bertahan hidup selama tiga hari dan mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya dari membunuh monster di sebuah wilayah yang sudah ditetapkan. Setiap monster mempunyai enam level, semakin tinggi levelnya maka akan semakin kuat monsternya tetapi poin yang akan kalian dapatkan akan semakin banyak." ucap Dulhan, lalu menambahkan, "Semua poin yang telah didapatkan akan otomatis bertambah di tabel dari masing-masing tahun ajaran."
Dulhan kemudian mengangkat tangan kanannya ke depan, kemudian gelang hitam muncul di pergelangannya lalu menampilkan layar biru kotak di atasnya, "Gelang ini bisa memperlihatkan seberapa banyak poin yang telah tahun ajaran kalian kumpulkan, tentu saja itu hanya berlaku untuk di tahun ajaran kalian saja dan tidak bisa melihat poin yang telah dikumpulkan tahun ajaran yang lain." ucap Dulhan menjelaskan, lalu melanjutinya, "Tetapi jika kalian mempunyai teman dari tahun ajaran yang berbeda, kalian bisa melihat poin mereka jika sudah disetujui oleh pihak terkait."
"Namun, setiap jumlah poin tahun ajaran kalian akan langsung dikurangi sepuluh poin jika dengan sengaja diperlihatkan pada tahun ajaran lain." ucap Dulhan dengan tenang, lalu menambahkan, "Tentu saja tindakan kesengajaan seperti memperlihatkan poin kalian pada tahun ajaran lain secara berulang kali atau semacamnya akan langsung didiskualifikasi."
Karena para Guru dan Instruktur akan mengamati mereka semua dari sisi yang berbeda, semua gerak-gerik siswa tidak akan bisa lepas.
Dulhan kemudian menjelaskan beberapa peraturan penting yang tidak boleh dilanggar oleh para siswa dari semua tahun ajaran, seperti membunuh, melukai lawan sampai menghancurkan Mana Circle-nya, lalu melakukan tindakan senonoh pada lawan jenis.
Masih ada banyak lagi peraturan yang Dulhan akan beritahukan, dan hal itu memakan waktu hampir tiga puluh menit lamanya.
......................
Setelah Dulhan selesai, ia terdiam sejenak dan seketika kubah sihir yang mencakup seluruh sisi arena muncul.
"Ada tiga warna gelang yang akan membedakan murid tahun ajaran, jadi tidak perlu bingung jika bertemu dengan orang asing yang tidak kalian kenali." ucap Dulhan, lalu melanjutinya, "Kalau begitu, sampai jumpa lagi."
Ketika Dulhan menyelesaikan perkataannya, pandangan semua murid menjadi buta selama satu detik.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Fang Lin bisa merasakan kalau dirinya telah berpindah dimensi saat teleportasi berlangsung.
"Daratan, ya?"
Fang Lin bergumam sembari mengedarkan pandangannya, di sekitarnya tidak ada banyak orang dan sebagian besar dari mereka bukanlah teman sekelasnya.
Finn dan Albert mulai menghampiri teman sekelas mereka termasuk Fang Lin.
Saat ini, Fang Lin, Fin, Albert, Andrew, Keisha, Melisa dan Hansen sedang berkumpul di satu tempat.
"Kita harus membentuk kelompok, hal ini akan jauh lebih menguntungkan bagi kita daripada bergerak sendiri-sendiri." ucap Finn yang mengajukan usulan pertama kali.
"Ya, aku setuju. Bersama peringkat satu akan membuat diriku aman." Andrew sama sekali tidak mengeluh, begitupula dengan Melisa dan Hansen.
"Aku menolak. Lebih baik pergi sendiri karena itu jauh lebih fleksibel daripada harus berkelompok." Keisha berkata dengan acuh tak acuh.
Sebenarnya Keisha mau saja jika berkelompok dengan orang lain, tetapi dirinya tidak suka kalau Finn harus bersamanya.
"Kau jangan meremehkanku, apa kau pikir aku selemah itu?!" Keisha melotot, jelas sekali kalau dirinya sedang marah.
"Tidak, bukan begitu... Hanya saja, kau yakin dengan keputusanmu?" Finn bertanya untuk memastikan.
"Ya, tentu saja." jawab Keisha ketus.
Mendengar itu membuat Finn menghela nafas panjang lewat mulut, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Fang Lin dan bertanya, "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga sendiri." jawab Fang Lin singkat.
"Apakah kau juga ingin bergerak fleksibel seperti Keisha?" tanya Finn penasaran.
"Begitulah." Fang Lin menganggukkan kepalanya sekali.
__ADS_1
Finn terdiam sejenak sebelum berkata, "Baiklah, berhati-hatilah..."
Finn tidak berniat memaksa pemuda itu lebih jauh, meskipun dengan kehadirannya akan sangat membantu kelompok tetapi ia mempunyai firasat untuk tidak mengganggu Fang Lin.
Fang Lin sendiri tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya, "Ya, kau juga sama."
Fang Lin kemudian berjalan pergi dari sana, Keisha juga melakukan hal yang serupa akan tetapi arah yang mereka tuju adalah berlawanan.
"Kupikir dia akan bergerak bersamaku untuk sementara waktu, ternyata tidak, ya." pikir Fang Lin tanpa menoleh ke belakang.
***
Di kedalaman hutan yang luas.
Fang Lin sekarang sedang berdiri di hadapan seekor beruang hitam yang tingginya lebih dari lima meter.
"Kau mirip Zu, apakah kalian satu jenis?" Fang Lin bertanya.
Beruang itu tampak tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh manusia di depannya, dia meraung keras sebelum bergerak cepat ke arah Fang Lin.
Fang Lin sendiri tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, ketika jarak di antara mereka berdua sudah memendek, ia langsung meninju perut beruang hitam itu dan membuatnya terpental ke belakang sehingga menabrak pohon besar sampai hancur.
Bruggh!
Pohon tersebut tumbang, beruang hitam yang tergeletak di tanah langsung mati seketika pada saat batang pohon itu menimpanya.
Fang Lin mengangkat tangan kanannya dan menemukan kalau layar biru muncul di atas gelang hitamnya.
Layar tersebut hanya menampilkan angka '+50' saja.
"Ah, sepertinya beruang yang baru kubunuh hanya level satu." gumam Fang Lin pelan, lalu memegang dagunya, "Hm, sepertinya ini akan sulit bagi orang-orang yang bergerak sendiri sepertiku."
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.