System Sang Immortal

System Sang Immortal
Labyrinth of The Death V


__ADS_3

Setelah sampai di ujung jalan, mereka menemukan sebuah dinding besar yang menjulang tinggi.


"Kita kurang lebih membutuhkan setengah jam untuk sampai ke sini, jadi seharusnya kita hanya perlu menunggu sekitar 30 menit yang tersisa untuk perubahan pola jalur labirin." Gwen memberitahu hal ini pada satu grup, ia kemudian mengangkat tangan kanannya dan memunculkan sebuah cahaya biru di udara.


Perlahan, cahaya tersebut menciptakan es dan membentuk sebuah kubah perisai yang mencangkup seluruh anggota grup.


"Eh, kenapa kau menciptakan perisai?" Colin bertanya setelah kubah es menutupi mereka secara sempurna.


"Untuk berjaga-jaga, siapa tau perubahan jalur labirin ini berbahaya." Gwen menjawab dengan tenang.


Colin mengangguk paham, sementara yang lainnya mulai mengobrol satu sama lain.


Di sisi lain, Fang Lin memegang dinding es di dekatnya dan kemudian memperkuatnya secara diam-diam.


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi, tapi sosok yang mengawasi kami sejak awal mulai melakukan pergerakan." Fang Lin berkata dalam hati sembari menatap ke atas, "Fluktuasi energi di luar formasi sihir ini perlahan menjadi besar, apa dia mau melakukan serangan frontal?"


Ketika Fang Lin sedang memikirkan hal tersebut, Colin yang berada di sampingnya bertanya, "Ada apa, Fang Lin? Apa kau baru pertama kali melihat kubah es semacam ini?"


"Ah, begitulah. Aku jarang sekali melihat es, dan ini terlihat cukup indah." Fang Lin menjawab, tentu saja jawabannya adalah sebuah kebohongan besar.


Faktanya, Fang Lin adalah seorang pengguna es yang sangat luar biasa. Bahkan jika dibandingkan dengan seluruh mahluk di alam semesta ini, dia mungkin adalah yang terbaik di antara para terbaik.


"Oh, aku mengerti perasaanmu." Colin mengakhiri kata-katanya dengan tertawa kecil, lalu melanjutinya "Omong-omong, kalau kau mengangkat wajahmu seperti itu-- nanti bisa ketahuan oleh orang yang ada di depan, loh."


"Hahaha... Aku lupa." Fang Lin kembali menundukkan kepalanya, ia kemudian bertanya, "Colin, kau berasal dari mana?"


"Eh, kenapa tiba-tiba bertanya?" Colin tampak sedikit terkejut saat mendengarnya.


"Aku hanya penasaran saja, lagipula sekalian untuk mengisi waktu yang kosong." jawab Fang Lin cepat, lalu segera menimpalinya, "Namun jika kau keberatan untuk menjawabnya, tidak perlu memaksakan diri."


"Ah, bukan begitu..." Colin kembali berekspresi seperti biasanya, lalu menjawab pertanyaan Fang Lin sebelumnya, "Aku lahir di sebuah desa kecil, dan kemudian besar di tempat yang lain."


"Begitu, ya? Apa masa kecilmu menyenangkan?" Fang Lin bertanya karena penasaran.


Colin terdiam sejenak sebelum tertawa hambar, "Entahlah... Bisa dibilang menyenangkan, dan bisa juga tidak."


"Jawaban yang ambigu, ya." Fang Lin bergumam pelan dan hanya bisa didengar oleh dirinya seorang.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu, Fang Lin?" Colin bertanya balik.


"Masa kecilku, ya..." Fang Lin terdiam sejenak sembari mengingat masa lalunya, "Jawabannya mungkin sama sepertimu, tetapi setelah dewasa-- aku menerima sebuah keberuntungan yang membuatku sangat bahagia."


"Pasti itu perempuan, bukan?" Colin mencoba menebak sembari tersenyum tipis.


Fang Lin tersenyum dan wajah Yue langsung terlintas di dalam pikirannya, "Ya, begitulah. Dia adalah salah satu wanita tercantik yang pernah kulihat dalam hidupku."


"Hahahaha... Pasti dia sangat cantik mengingat dirimu yang tampan." Colin tertawa kecil saat mengatakan itu.


Fang Lin hanya mengangguk pelan untuk menanggapi itu, raut wajahnya menjadi sedikit serius saat merasakan getaran yang hebat.


Seluruh anggota grup menjadi sangat waspada ketika merasakan getaran hebat tersebut, Gwen meminta semua orang untuk tenang dan mengatakan kalau mereka akan aman.


Groooarrrrr!


Pada saat kondisi gempa, terdengar suara raungan yang memekakkan telinga semua orang, kecuali Fang Lin.


"Sialan!" Rian yang tidak tahan langsung menciptakan sebuah Barrier berwarna hijau, fungsinya bisa menghalau suara dari luar barrier.


Gwen terdiam sejenak, untuk pertama kalinya-- raut wajah dia terlihat sangat serius.


"Sepertinya Wyvern." ucap Gwen, nadanya terdengar ragu.


"Keluarkan aku dari sini! Jika itu benar-benar Wyvern, biar aku saja yang menghadapinya!" Tiger yang pertama kali bereaksi setelah mendengar ucapan Gwen, senyuman yang lebar terukir jelas di wajahnya.


"Bodoh, kalau kau mau bertempur, tunggu sampai situasi memungkinkan." Yohan membalas dengan nada sedikit kesal.


Tiger tidak menanggapi perkataan pemuda berambut coklat itu, matanya mengarah ke Gwen dengan berbinar.


"Apa yang dikatakan Yohan itu benar, aku hanya mencoba menebak monster dari suara raungan tadi. Belum tentu jika itu Wyvern sungguhan." Gwen menjawab.


"Cih, membosankan." raut wajah Tiger langsung berubah menjadi bosan, dia mengalihkan pandangannya ke arah berbeda.


Gwen hanya diam melihat tingkah Tiger, lalu matanya teralih pada Yuna dan berkata, "Yuna, gunakan sihir pendeteksi untuk mencari apa yang terjadi dalam jangkauan ratusan kilometer."


"Eh, itu akan membuatku kehabisan sebagian besar Mana yang ada. Apa tidak apa jika aku tidak akan berguna selama seharian?"

__ADS_1


"Tidak masalah, karena Kesadaran Mana tidak bisa menembus dinding labirin-- kita harus mengambil resiko yang ada." Gwen menanggapi sembari menganggukkan kepalanya.


"Baiklah..." Yuna hanya bisa patuh, lalu beranjak turun dari kudanya. Tangannya yang memegang sebuah tongkat berwarna kuning perlahan mengeluarkan cahaya emas, dan kemudian dia mengetuk keras lantai menggunakan tongkatnya itu.


Whooosh!


Dalam sekejap, aura kuning menyebar ke seluruh jalan labirin dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.


"Kalau dia menggunakan sihir yang ini, seharusnya dia bisa melihat wajahku, ya?" Fang Lin mencoba menebak-nebak dalam pikirannya, sihir pendeteksi yang kali ini jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, ia mengedarkan Kesadaran Spiritualnya untuk melihat kondisi wajah wanita berambut pirang itu, "Ah... Pipinya merah merona, sepertinya tebakanku benar."


Sebenarnya, belum tentu pipi Yuna yang merah merona diakibatkan oleh ketampanan Fang Lin, tetapi Fang Lin sendiri mempunyai kepercayaan diri yang luar biasa sehingga dirinya sangat yakin kalau wanita berambut pirang itu terpesona dengan rupanya.


Fang Lin terus menyombongkan ketampanannya ini di dalam hatinya, lalu beberapa saat kemudian-- sihir pendeteksi Yuna berakhir.


"Bagaimana, Yuna?" Gwen langsung bertanya sesaat setelah cahaya yang menyebar dari tubuh Yuna menghilang.


"Ah, i-itu... Aku hanya menemukan sekumpulan monster saja dan belum berhasil mencapai jalan keluar dari labirin ini." Yuna menjawab, nadanya sedikit gugup.


Gwen menyadari keanehan Yuna tetapi dirinya tidak bertanya lebih jauh, ia memegang dagunya dan bergumam, "Kalau jaraknya melebihi ratusan kilometer, kita mungkin akan membutuhkan waktu selama satu bulan dengan kecepatan yang sama seperti sekarang. Namun masalah tentang monster dan perubahan pola jalur labirin belum dihitung, jadi ada kemungkinan kita bisa terjebak di dalam labirin ini selama dua sampai tiga bulan-- atau bahkan lebih."


"Ini akan jauh lebih merepotkan dari yang kuduga." raut wajah Gwen sangat serius.


Merlin yang bisa melihat kegelisahan Gwen langsung berkata, "Jangan terlalu khawatir, aku membawa Kerberos. Dia pasti bisa membawa kita keluar dari labirin ini..."


"Kenapa kau tidak bilang padaku?!" Gwen tampak terkejut, nadanya terdengar sedikit marah.


"Kau tidak pernah bertanya. Lagipula, Kerberos sangat sulit untuk dikendalikan... Bahkan dia melawan padaku, yang seorang Tuannya." Merlin menjawab dengan raut wajah datar.


"Lalu bagaimana? Kalau kau tidak bisa mengendalikannya, maka kita akan terjebak di dalam sini dalam waktu yang lama."


Gwen mengatakan itu dengan nada sedikit khawatir, semua anggota grup ini membawa pasokan makanan yang terbatas-- kalau mereka terjebak terlalu lama maka ada kemungkinan grup ini akan pecah.


Merlin hendak menanggapi perkataan Gwen, tetapi ia mengurungkan niat saat menyadari kalau kubah penghalang suara milik Rian retak.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2