
Gelombang perang ke-2 kini sudah di mulai. Saat ini kedua kubu saling berperang dengan rasa semangat yang memenuhi raga mereka.
Kubu Alam 100 Pelangi kali ini mengeluarkan 10 Juta kultivator ranah Immortal, Sedangkan Kubu Alam Agung mengeluarkan 11 Juta kultivator ranah Immortal.
Memang selisih pasukan dari kedua kubu hanya berbeda 1 juta saja, Akan tetapi pihak Alam Agung melakukan sebuah kecurangan.
1 per 10 dari pasukan Alam Agung adalah kultivator ranah To God, Mereka menggunakan sebuah artefak untuk menyembunyikan ranah asli mereka.
Di sisi lain, Fang Lin yang mengetahui hal itu hanya diam saja, Walaupun ia tau kalau pihak Alam Agung melakukan kecurangan, Ia tidak akan turun tangan untuk mengadili kecurangan tersebut.
Meskipun begitu Fang Lin terkadang membunuh pasukan Alam Agung yang sedang menyamar, Ia melakukan ini hanya untuk meminimalisir korban dari Alam 100 Pelangi.
Sudah cukup lama perang gelombang ke-2 di mulai. Saat ini 90 hari telah berlalu, Kini pasukan dari kedua kubu sudah sama-sama menipis.
Pasukan dari Alam 100 Pelangi kini hanya tersisa 1 juta saja, Sedangkan Alam Agung tersisa 3 juta pasukan.
Kedua kubu saat ini masih terus berperang di area medan tempur, Mayat-mayat dari kedua kubu sudah sangat banyak bahkan ada sebuah gunung yang terbuat dari tumpukan mayat.
Di sisi lain, Dong Zhu dan Jung Xi terus mengamati pertempuran dengan tenang. Jung Xi sendiri sebelumnya sudah di nasehati oleh raja-nya untuk tidak terlalu memikirkan nyawa para pasukan.
"Hey Dong Zhu, Kita akhiri saja perang ini. Aku yakin pasukan kita yang tersisa sudah kehabisan stamina untuk berperang" Ucap Jung Xi lalu menimpali-nya dengan cepat, "Percuma juga kalau kita melanjutkan perang, Aku yakin pasukan kita tidak akan membunuh banyak pasukan musuh" Timpal Jung Xi menjelaskan.
Dong Zhu yang mendengar hal itu hanya menghela nafas panjang. Memang apa yang dikatakan Jung Xi adalah sebuah kebernaran, Perbedaan kekuatan pasukan milik mereka dengan musuh cukup jauh, Jadi akan percuma jika melanjutkan peperangan ini.
Dong Zhu melambaikan tangan kanan-nya ke samping dan sebuah terompet besar muncul di udara, Ia menarik nafas-nya cukup dalam lalu membunyikan terompet besar tersebut.
~TUUUUUUUUUUTTT~
__ADS_1
Suara terompet yang keras langsung terdengar di seluruh area medan tempur. Para pasukan yang berasal dari Alam 100 Pelangi seketika mundur dengan cepat ketika mendengar hal itu, Sedangkan pasukan Alam Agung masih terus menyerang para padukan Alam 100 Pelangi yang ingin mundur.
"Serang mereka! Jangan biarkan 1 orang-pun lolos dari medan tempur!" Teriak salah satu kultivator To God yang sedang menyamar dan membuat para pasukan Alam Agung terus menyerang dengan membabi buta.
Di sisi lain, Fang Lin yang merasa ada sebuah kejanggalan langsung berdiri dari duduk-nya, Ia mengaktifkan mata dewa-nya lalu mengalihkan pandangan-nya ke zona milik Alam Agung.
Di sana Fang Lin dapat melihat barisan-barisan pasukan kultivator dari ranah Immortal hingga Tyrant, "Apa yang ingin mereka lakukan? Apakah mereka ingin melakukan serangan penuh?" Gumam Fang Lin mencoba menebak.
Fang Lin menggelengkan kepala-nya pelan ketika memikirkan hal itu, "Tidak mungkin... Jika mereka melakukan pelanggaran dalam peperangan ini, Pasti Alam Tinggi tidak akan tinggal diam" Gumam Fang Lin kembali.
Namun untuk berjaga-jaga Fang Lin langsung ke tempat Zhang Wei berada, Ia ingin menanyakan hal ini lebih detail kepada-nya.
Di sebuah ruangan, Saat ini Zhang Wei serta ke-empat pria paruh baya lain-nya sedang mengobrol biasa sembari meminum teh di dekat sebuah meja.
Saat mereka berlima sedang mengobrol, Tiba-tiba saja Fang Lin muncul di dekat Zhang Wei dan membuat mereka berlima terkejut, "K-kau.... Kenapa ada disini?" Tanya Zhang Wei dengan nada terkejut.
~Whooshhhh~
Tiba-tiba saja sebuah kaca besar muncul di atas meja dan membuat kelima pria paruh baya tersebut terkejut kembali.
Mereka menatap kaca besar tersebut sesaat lalu menatap Fang Lin kembali dengan tatapan meminta penjelasan.
Fang Lin yang mengerti arti dari tatapan mereka langsung menunjuk kaca besar yang berada di tengah-tengah meja, "Aku ingin kau jelaskan tentang maksud dari itu" Ucap Fang Lin dengan nada tenang dan membuat mereka mengalihkan pandangan secara bersamaan ke arah kaca besar di dekat mereka.
Mereka berlima sedikit melebarkan mata ketika melihat sebuah barisan yang berisi puluhan juta pasukan.
Keterkejutan mereka semakin menjadi ketika mereka menyadari kalau puluhan jutaan pasukan tersebut berasal dari kubu Alam Agung.
__ADS_1
"Apa ini? Mereka ingin melakukan serangan penuh?" Tanya pria paruh baya berjubah ungu dengan nada penasaran.
Zhang Wei yang mendengar itu langsung mengangguk-kan kepala-nya pelan, "Sepertinya iya..." Jawab Zhang Wei dengan raut wajah serius.
"Tapi untuk apa mereka melakukan hal ini? Bukan-kah itu sama saja melanggar peraturan yang ada?" Tanya pria berjubah kuning dengan nada heran.
Zhang Wei yang mendengar-nya langsung terdiam selama beberapa saat, "Kemungkinan mereka tidak takut melanggar peraturan karena berpikir kalau mereka akan diberikan sanksi ringan saja" Jawab Zhang Wei cepat dan membuat mereka ber-empat mengangguk-kan kepala paham.
Fang Lin sendiri yang mendengar-nya sedikit mengerut-kan alis-nya, "Sepertinya Alam Agung membuat perjanjian dengan beberapa Alam Tinggi" Gumam Fang Lin lalu teringat dengan ingatan Pi Yu di masa lalu.
"Jika itu benar, Maka pantas saja Alam Tinggi tidak pernah menegur Alam Agung yang terus membuat peperangan selama beberapa ribu tahun terakhir" Gumam Fang Lin kembali dengan pelan.
Saat Fang Lin bergumam seperti itu, Tiba-tiba saja sebuah gulungan surat muncul di depan Zhang Wei.
Zhang Wei sendiri langsung menangkap gulungan kertas tersebut, Ia dengan segera membuka segel yang mengikat gulungan tersebut dan dengan segera membuka-nya.
Saat membaca-nya, Zhang Wei langsung mengerut-kan kening-nya. Beberapa saat kemudian, Ia menarik nafas cukup dalam dan melhat ke arah teman-temannya, "Ketua Gun Jiao menyuruh kita untuk tidak campur dalam pelanggaran perang yang di lakukan oleh Alam Agung" Ucap Zhang Wei dan membuat ke-empat teman-nya terkejut.
"Jadi Alam Agung benar-benar ingin menyerang Alam 100 Pelangi dengan kekuatan penuh?" Tanya pria berjubah kuning memastikan.
Zhang Wei mengangguk-kan kepala-nya pelan untuk menanggapi hal itu, Ia lalu melirik ke arah Fang Lin yang berada di dekat-nya, "Pertanyaan-mu sebelum-nya sudah terjawab bukan?" Tanya Zhang Wei memastikan.
Fang Lin yang mendengar-nya hanya tersenyum tipis, Ia tau kalau gulungan kertas tersebut tidak menuliskan hal itu saja.
Bersambung...
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1